Ketika itu, ada keluarga yang mengalami duka yang berat. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak. Salah seorang putra mereka, yang bernama Ramli, ditangkap oleh kerumunan massa. Caci maki keluar dari mulut kerumunan itu. Kesedihan menyelimuti keluarga itu, terlebih sang ibunda yang menyaksikan putra kesayangan mereka digeret layaknya seekor sapi menuju tempat penjagalan.

Gambaran tersebut dirangkai penulis untuk mengabstraksi kisah dari film dokumenter yang berjudul Senyap. Film itu mengisahkan tentang seorang pria yang sudah berkeluarga. Pria itu menelusuri jejak para eksekutor simpatisan Partai Komunis Indonesia. 

Duka mendalam keluarga ternyata masih membekas hingga sekarang, hingga mendorong pria itu mengorek-ngorek informasi dari para saksi, bahkan orang yang dianggap koordinator utama pembunuhan masal keji tersebut.

Apa sebenarnya yang mendorong para pelaku pembunuhan itu? Menurut penjelasan dari beberapa orang yang mengaku sebagai koordinator massa, ia mengakui aksi itu merupakan aksi heroik. Ia mengaku bahwa tindakan yang ia lakukan itu memang benar. Tindakan itu sudah sewajarnya dilakukan demi menjaga kedaulatan negara. Perintah yang mereka terima dari komando, mereka eksekusi segera sebagai bentuk ketaatan terhadap atasan.

Kita akui saja ada pandangan buruk masyarakat terhadap orang-orang komunis. Mereka menganggap orang-orang seperti itu sesungguhnya orang ateis, orang yang tidak punya agama. Orang yang tidak beragama itu orang yang buruk, tidak bermoral, dan merusak lingkungan sosial masyarakat. Padahal, apakah benar demikian? Atau pandangan itu dibuat-buat saja demi kepentingan kelompok elite tertentu?

Mari kita bandingkan tragedi enamlima dengan tragedi serupa yang terjadi di Eropa. Kita sebut saja tragedi Nazi. Pada masa Perang Dunia Pertama, jutaan orang Yahudi disiksa, dipenjara tanpa pengadilan, dan bahkan dimusnahkan. Kejadian itu tetap menimbulkan luka bagi orang-orang Yahudi. Seorang reporter, bernama Hannah Arendt meliput pengakuan salah seorang prajurit Nazi yang mengaku bahwa ia tidak membunuh, di depan pengadilan negara.

Sebuah pengakuan yang sangat mengejutkan. Realitas berbanding terbalik dengan pengakuan prajurit itu. secara pribadi, tindakan itu dinilai sebagai tindakan benar. Prajurit itu telah melaksanakan perintah yang diberikan padanya. 

Lalu, jika demikian, apakah ia dapat dikenai sebuah sanksi atas tindakannya itu? Tidak ada penyesalan sedikitpun dari prajurit itu. Sebab ia telah taat dalam melaksanakan perintah atasan. Penyesalan menurutnya ialah tidak mendapat kenaikan jabatan.

Tindakan prajurit itu mirip sesuai dengan konsep banalitas milik Arendt. Sebuah perilaku dianggap sangat keji atau banal ketika seseorang melakukan sesuatu tanpa sadar yang ia lakukan itu buruk. Tindakan pembunuhan massal yang terjadi di kedua tragedi sejarah itu memiliki kesamaan. Orang-orang yang melakukannya tidak merasa bersalah atas tindakan itu. Malahan mereka merasa diri seorang pahlawan yang patuh demi Tanah Air.

Prajurit yang diceritakan itu hanya satu orang dari sekian banyak prajurit lain. Ada kemungkinan seluruh prajurit memiliki hati yang mati, tetapi mungkin juga beberapa di antaranya mengalami dilema moral. 

Apakah saya sungguh-sungguh harus membunuh orang-orang ini seperti yang dilakukan prajurit lain? Dilema itu menunjukkan hati nurani yang mendorong pada perbuatan yang benar, setidaknya secara obyektif, mendorong seseorang untuk keluar dari tindakan kolektif para prajurit.

Seseorang dapat dengan mudah mengikuti arus kerumunan tanpa tahu apa yang dilakukan. Ketika banyak orang melakukan hal yang sama, seseorang dapat berasumsi bahwa tindakan itu lumrah dan benar. 

Pola pikir seperti ini menyesatkan seseorang kepada tindakan yang mungkin justru sebaliknya (buruk). Tujuan pribadi dapat tergeser karena tujuan kolektif. Pola pikir kolektif ini mungkin juga terlintas di benak orang-orang dalam beberapa tragedi lain akhir-akhir ini, seperti 212, Korupsi massal Pemkot Malang, dan sebagainya.

Tujuan pribadi seharusnya ditentukan oleh diri sendiri. Aku memilih sesuatu yang sesuai dengan keinginan diriku, bukan keinginan orang lain. Segala tindakan yang dilakukan diri sendiri mengandaikan tanggung jawab pribadi.

Menurut Kierkegaard, seorang filsuf asal Denmark, seseorang mempunyai kebebasan mengaktualisasikan diri. Keputusan itu harus bebas, tetapi ia sendiri dapat memberi alasan bertanggung jawab atas pilihan itu. Pilihan eksistensial tidak dapat dipengaruhi oleh dunia luar. Jika dipengaruhi dari luar, maka orang itu sebenarnya gagal menjadi dirinya sendiri. Ia tidak melakukan pilihan eksistensialnya, tetapi melakukan pilihan-pilihan orang lain.

Maka, setiap orang harus menentukan pilihan bagi dirinya sendiri. Ibarat seorang bayi, apabila ia tidak pernah belajar untuk berjalan, maka ia akan terus mengemis bantuan orang lain agar membantunya berjalan.