Dalam sebuah video yang viral, Anies Baswedan secara terang-terangan membagikan sembako kepada warga demi kemenangan pilkada DKI 2017. Secara eksplisit, Anies telah gagal menciptakan model kampanye dengan proses dialog, adu visi-misi dan strategi yang kreatif.

Anies justru menggunakan politisasi sembako sebagai senjata ampuh untuk memenangkan Pilkada di detik-detik akhir. Padahal, semua itu sungguh merupakan suatu sikap penodaan terhadap demokrasi yang bersih, jujur, dan adil.

Menodai demokrasi

Kita tahu, prinsip di dalam demokrasi, tidak boleh menyuap suara rakyat dengan berbagai bentuk intrik uang dan sembako. Karena money politic atau pembagian sembako merupakan sikap curang di dalam prinsip demokrasi. Sikap seperti itu sungguh telah menodai demokrasi itu sendiri.    

Masih hangat dalam ingatan kita semua, betapa kencangnya Anies menjual isu bagi-bagi sembako murah, seolah hal tersebut dilakukan tim lawan. Padahal yang melakukan justru Anies Baswedan dan timnya sendiri. Bahkan Partai Perindo yang dipimpin Hary Tanoe, sebagai partai pendukung Anies-Sandi juga terlibat dalam pembagian sembako.

Artinya, politisasi sembako ini sangat berjalan massif, sistematis, dan terstruktur. Ironisnya, pembagian sembako ini tidak hanya dilakukan oleh tim Anies, melainkan juga dilakukan sendiri oleh Anies yang tertangkap kamera sedang membolak balikan karung beras untuk masyarakat. Strategi seperti ini sebenarnya merupakan boomerang bagi Anies Baswedan.

Pilgub DKI Jakarta yang kita harapkan dapat berjalan secara bersih, jujur dan adil, malah dinodai oleh sikap Anies dan timnya yang beberapa hari belakang malah ditemukan beragam kasus politik uang berupa pembagian sembako di masyarakat. Padahal, bentuk money politik berupa bagi-bagi sembako itu sama artinya dengan melakukan tindak korupsi.

Sungguh sangat disayangkan, di saat kita seharusnya mengajak masyarakat melawan politik uang, justru Anies bertingkah sebaliknya, dengan membagi-bagikan sembako.

Kita tahu, Indonesia sedang memperkokoh pondasi demokrasinya. Sehingga demokrasi harus dibangun atas azaz kejujuran dan tanpa intimidasi terlebih jika menyuap masyarakat dengan bentuk bagi sembako. Bangsa ini sedang membangun demokrasi, kalau hal seperti money politik terjadi massif di Jakarta, maka ini berlawanan dengan proses pendewasaan demokrasi.

Pilgub DKI Jakarta harus berjalan dengan baik dan berkualitas, sehingga money politic harus disikapi dan tidak boleh dibiarkan. Jika money politic dibiarkan, maka itu sama saja kita sedang menulis sejarah suram pilkada di Indonesia.

Pandai berkata-kata

Memang, sejak mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI periode 2017-2022, ia semakin menunjukkan ambisi politiknya. Anies memang pandai bertutur kata. Namun, ucapannya tak selalu sesuai dengan kenyataan. Sebagaimana ia mengatakan bagi-bagi sembako tidak akan merubah hati rakyat Jakarta, padahal ia sendiri yang membagi-bagikan sembako.

Anies seperti halnya seorang motivator yang pandai beretorika manis namun nihil prestasi yang dilakukan. Begitu juga dengan program kerja yang disampaikannya tidak bisa direalisasikan melalui kebijakan yang nyata. Anies kerap menampilan ketidakpuasaan warga namun faktanya semua data yang ditunjukkannya tidak dapat dipertanggung jawabkan. Namun demikian, sebagai calon gubernur, ia tak segan untuk memojokkan lawan politiknya untuk memperoleh hati publik.

Bahkan hasil riset Indonesia menunjukkan bahwa Anies belum teruji kepemimpinannya. Salah satu poin menarik dalam riset tersebut adalah kepribadian Anies yang dinilai bagus, namun miskin realisasi kebijakan yang membanggakan.

Bahkan menurut Direktur Lingkar Madani untuk Demokrasi, Ray Rangkuti, terobosan yang dilakukan Anies saat menjabat sebagai Mendikbud tidak menonjol. Ini menunjukkan bahwa sosok Anies yang terlihat santun dan intelektual progresif ternyata tidak bisa mengimplementasikan ke dalam kebijakan yang riil.

Sungguh sikap Anies dengan membagi-bagi sembako ini telah membentur akal sehat karena merusak demokrasi yang bersih di negeri ini. Namun, kita beruntung, publik di Jakarta telah rasional. Mereka  tidak akan memilih Anies hanya karena telah membagi-bagi sembako. Publik Jakarta akan memilih pemimpin yang bekerja nyata.