Pendidikan, sama seperti objek besar lain di negeri ini, selalu menjadi bahan pembahasan oleh setiap orang. Khusus yang satu ini, mungkin sudah terkumpul berjuta jejak digital yang berupa dukungan, komentar, saran kritik atau hujatan dari setiap golongan. Dari pakar pendidikan sendiri, politisi, mahasiswa, artis, tokoh agama sampai komedian.

Ada yang berfokus pada lembaga sekolahnya, kinerja gurunya, juga sebagai advokat para siswa yang sepertinya belakangan ini didorong agar jangan belajar terlalu keras, tetapi belajar dengan bahagia. Semua itu tidak salah, melainkan bukti bahwa banyak orang yang masih peduli dengan arah laju pendidikan di negeri ini.

Penulis pun adalah salah satu di antara mereka yang telah disebut di atas. Kala masih menjadi mahasiswa dulu, penulis tak habis referensi dan ide baru untuk memberi sumbangsih berupa saran dan ide bagi pendidikan secara umum. Satu di antaranya diunggah di laman qureta ini beberapa tahun lalu. Yang lain diutarakan di berbagai diskusi.

Semua saran dan kritik itu berada di atas fondasi bahwa penulis sekalipun kuliah di jurusan pendidikan, makin mengkritik makin memberi ide semakin pula memudarkan minat menjadi guru. Entah karena mungkin penulis beranggapan bahwa sudah terlalu banyak masalah di dalam sana.

Atau, barangkali alam bawah sadar penulis menganggap akan terkesan lebih cerdas jika tetap di posisi outsider lalu terus memberi saran serta kritik. Itu juga cara yang lebih mudah untuk dilakukan.

Namun arah laju takdir menuntun juga penulis ke sebuah Madrasah Aliyah swasta. Sebagai guru. Singkat cerita, penulis lekas kehilangan daya kritik-sarannya. Bukan lantaran penuhnya guru dengan urusan administrasi di luar mengajar. Tetapi saat masuk ke sekolah, penulis tidak lagi menggunakan kacamata jernih, melainkan kacamata realita. Penulis menjadi Insider.

Sekolah besar barangkali mengalami masalah, namun tidak krusial untuk nasib sekolah itu kedepan. Tetapi sekolah kecil akan selalu mengalami masalah yang beresiko kedepan untuk siapapun di sekolah tersebut.

Pertama adalah tentang finansial sekolah. Ketika penulis masuk pertama kali dan menghadap Kepala Madrasah, dia berpesan agar berjuang. Kata berjuang untuk sekolah kecil berpengertian sangat harfiah, untuk setiap hal.

Sekolah kecil tidak lain adalah hutan belukar. Siapapun yang mengajar di sana tak lain tengah babad alas. Di sana guru harus bertarung dengan dua hal: kualitas dan kuantitas. Bukan hanya di dalam, namun dengan sekolah sederajat lain  yang berdekatan.

Contoh ketika pemerintah provinsi membebaskan biaya SPP untuk siswa SMK, sekolah kecil seperti sekolah penulis makin tak dapat berbuat banyak. Kebijakan pemerintah itu secara tak langsung mengarahkan pilihan siswa pada SMK, SMA Negeri (karena Zonasi), serta sekolah swasta yang bagus, atau sekolah dibawah naungan pesantren. Sekolah kecil hari ini hampir seperti sebuah Decoy Effect.

Barangkali akan ada tanggapan, “Sebaiknya sekolah anda membuat berbagai inovasi agar menarik siswa serta orangtuanya.” Maka percayalah, penulis beserta rekan guru lain pun memikirkan hal yang sama dan sesanggupnya dilaksanakan. Tentang apa saja upaya nyata, penulis tak perlu ungkapkan.

Mungkin saja ada tanggapan lagi, “Mengapa ‘hanya’ sesanggupnya? Bukankah Bapak menteri sudah menginstruksikan bahwa presentase dana bos yang dialokasikan untuk guru diperbesar jumlahnya?” itu benar, namun besaran dana bos setara dengan jumlah siswa.

Sedangkan masalah utama sekolah kecil adalah kuantitas siswa, yang, guru pertahanakan dengan cara door to door ke rumah calon siswa. Sebuah strategi yang tampaknya hanya digunakan oleh sekolah yang berada di tepi akhir. Sekolah kecil adalah tentang babad alas dan berjalan di tepi akhir dalam waktu yang bersamaan.

Sebuah masalah yang hampir musykil diurai, ketika pemerintah dengan segala daya upaya mendorong anak-anak untuk terus bersekolah tanpa memikirkan biaya. Dengan pembebasan SPP, dengan KIP, dengan BOS. Tetapi di saat yang sama, kualitas sekolah sangat jauh dari merata—itu adalah kenyataan intersubjektif yang hidup di setiap orang.

Meskipun ada wacana tandingan yang terkesan idealis bahwa sekolah di manapun sama saja, faktor penentu adalah kesungguhan dari siswa. Tetapi penulis berpendapat wacana itu dapat benar-benar diterapkan kala kualitas dan kuantitas sekolah merata. Karena bersekolah juga tentang kemudahan, akses, koneksi, dan mungkin juga gengsi?

Menyedihkan ketika melihat kebijakan pemerintah berefek tidak sepadan satu sekolah dengan sekolah lain. Dengan ini, maka sekolah kecil bukan hanya bersaing dengan sekolah lain, melainkan juga dengan pemerintah secara tak langsung.

Tangan pemerintah sudah dapat menuntun siswa sejak dari dalam kamarnya. Sementara kepada lembaga sekolah masih bersifat transaksional—akan diperhatikan jika memang lembaga tersebut terlihat cukup menjanjikan.

Namun secara jujur penulis mendukung kebijakan altruistik pemerintah tersebut. Sebuah langkah baik harus dilakukan. Apalagi untuk kebaikan anak-anak. Tetapi dengan penuh rasa ingin tahu penulis mempertanyakan, “Apakah sekolah kecil berada di luar radar kebijakan?” Mungkin ada yang menjawab, “Tidak, pemerintah pasti memikirkan semua sekolah.”

Namun kala sekolah kecil memang berada di dalam radar, dengan respon seperti apakah pemerintah melihatnya? Berhubung sekolah kecil hampir seperti Decoy Effect, apakah sekolah kecil tetap dibiarkan untuk terus ada, namun dengan kadar minimal di setiap hal?

Maka siapa yang berani mempersalahkan ketika sekolah kecil pada kebanyakan kasus ‘hanya’ menjadi batu loncatan atau bahkan pengisi waktu luang para guru muda selama menanti tes CPNS? Karena agaknya di sekolah kecil, ketahanan nafas guru tidak hanya diuji oleh bagaimana cara mengajar yang baik, namun juga oleh iklim kerja, sarpras, dan tentu finansial.

Sehingga mengharapkan inovasi dari guru muda yang ‘hanya’ menjadikan sekolah kecil sebagai pengisi waktu menunggu tes CPNS hampir seperti sia-sia. Karena dataran yang mereka tempati kurang menjanjikan.

Dan dengan penuh kesadaran, lembaga sekolah sangat permisif jika sang guru kadang memilih mementingkan sesuatu yang sifatnya pribadi alih-alih mengutamakan mengajar. Karena meminta lebih sedangkan tak dapat memberi agaknya sebuah pemerasan.

Di hari pendidikan nasional ini, sekali waktu boleh untuk dirayakan, untuk selanjutnya direnungkan. Permasalahan di sekolah kecil tidak diumpakan seperti tumpukan sampah yang dapat diambil satu demi satu dan akan bersih perlahan.

Tetapi lebih seperti rumput liar yang ranggas. Satu sisi disiangi, sisi lain tetap merimbun. Ada yang memberi saran, “Habiskan sampai akarnya.” Dengan membaca tulisan ini, sepertinya pembaca dapat menyimpulkan apa saja akar masalah di sana.

Diperlukan sambatan besar-besaran untuk mengentaskan sekolah kecil. Terkesan tidak worth it, namun bukankah investasi selalu menjanjikan keuntungan di masa  depan yang jauh?

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

*Decoy Effect: Ketika satu titik harga diselipkan supaya konsumen tertarik membeli produk berharga lebih mahal.