Raihlah cita - cita mu setinggi langit, apabila kamu gagal, kamu akan jatuh diantara bintang - bintang. 

Pepatah tersebut mengajarkan kepada manusia untuk terus berusaha mengejar cita - citanya setinggi mungkin. Cita - cita berasal dari imajinasi manusia yang datang dari akal. Manusia berekspetasi jika ia berhasil menempuh cita - citanya, maka tujuan hidupnya akan terpenuhi.

Manusia tidak akan pernah lepas dari kegagalan. Kegagalan merupakan masalah terbesar yang menghalangi tercapainya cita - cita. Oleh karena itu pepatah ini juga mengajarkan kepada manusia agar selalu bangkit dari kegagalan dan terus berusaha karena tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. 

Namun, kita sering menemukan teman, sahabat atau seseorang yang berekspetasi sangat berlebihan. Seperti contoh seseorang yang sering berkhayal tentang masa depan. 

Selain itu, kita juga menemukan seseorang yang memiliki sifat mudah menyerah, tidak fokus terhadap tujuan utamanya, dan sering kecewa ketika ada masalah yang menimpa dirinya atau orang lain. 

ketiga sifat di atas dapat timbul ketika manusia menaruh hatinya pada puncak harapan yang tertinggi. Seolah - olah ekspektasi terlepas pada masalah yang bisa datang kapan saja. 

Alangkah lebih baik jika manusia mengubah mindset bersama filsafat stoikisme tentang cara menghadapi kehidupan bahwa realita tidak selamanya manis. Filsafat ini menciptakan cara berpikir positif agar mencapai kehidupan yang sejahtera. 

Selain filsafat Stoikisme, agama Islam juga mengajarkan tentang berpikir positif. Keduanya percaya bahwa dengan berpikir positif, hati akan menjadi tenang dan tentram.  

Filsafat Stoikisme dan Agama islam memiliki keterkaitan satu sama lain, namun apa yang dimaksud dengan Filsafat stoikisme ? 

Filsafat Stoikisme, stoisisme, atau stoic merupakan salah satu mahzab ilmu filsafat yang lahir pada tahun 301 SM di Athena oleh Zeno. Zeno merupakan pedagang yang lahir di Citium, Cyprus pada 334 SM. Ayahnya bernama Minasseas yang juga merupakan seorang pedagang di Athena. 

Zeno meneruskan pekerjaan ayahnya pada abad ke - 3 SM. Zeno melakukan perdagangan dari pelabuhan satu ke pelabuhan lainnya. Atas kerja kerasnya, Zeno berhasil menjadi pedagang yang kaya raya. 

Pada suatu hari, Zeno melakukan perdagangan menuju pelabuhan Peiraeus, salah satu pelabuhan di Athena. Namun pada pertengahan perjalanan, Zeno terkena musibah yang membuat kapal dan seluruh kekayaannya hilang karena tenggelam. Beruntungnya nyawa Zeno berhasil diselamatkan. 

Zeno meneruskan kehidupan miskinnya di Athena. 

Sungguh malang nasib Zeno, dari pedagang yang kaya raya dan berubah 360 derajat menjadi orang miskin. Namun Zeno tetap sabar dalam menjalani kehidupan miskinnya. 

Pada suatu hari, Zeno pergi ke toko buku dan menghabiskan waktunya untuk membaca. Disana ia menemukan buku yang sangat menarik berjudul "The Memorabilia, Menopon" karya Socrates. 

Buku ini berhasil menarik perhatian Zeno, dan membuatnya sangat kagum kepada pemikiran Socrates tentang hakikat kehidupan manusia dengan pendekatan rasionalisme. 

Zeno pun bertanya kepada sang penjual buku tentang seseorang yang memiliki pemikiran serupa dengan Socrates. Sang penjual buku pun menjawab seseorang itu bernama Crates from Thebes. Zeno pun mencari dan bersemangat untuk mendalami ilmu filsafat bersama Crates. 

Setelah Zeno berhasil mempelajari ilmu filsafat bersama Crates, Zeno mengajar di Stoa Poikile, sebuah bangunan besar yang memiliki tiang besar dan teras di Athena. Kata "stoa" pada Stoa Poikile digunakan untuk menyebut istilah filsafat Stoikisme, Stoik, Stoisisme. 

Filsafat Stoikisme berkembang sangat pesat di Yunani dan Romawi Kuno. Hal ini disebabkan oleh 3 murid utama Zeno yang menjadi awal penyebaran filsafat Stoik. Ketiga filsuf itu bernama Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius. 

Filsafat Stoikisme mempelajari tentang perkembangan logika seperti retorika, dialektika, politik, fisika, dan teologi. Namun yang lebih menonjol dari stoikisme adalah etika, dan cara mengontrol diri manusia. 

Filsafat stoikisme percaya bahwa manusia menggunakan akal dan logika secara penuh untuk memilah sesuatu yang pantas masuk ke pikirannya. Seperti apa yang dikatakan oleh Marcus Aurelius

You have power over your mind, not outside events. 

Kekuatan logika merupakan kekuatan terbesar yang ada didalam diri manusia. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan munculnya ekspetasi, etika atau perilaku manusia . 

Namun terkadang akal dan logika manusia yang berlebihan akan menciptakan bias bagi etika manusia itu sendiri.

Filsafat Stoikisme percaya bahwa manusia tidak dapat melakukan sesuatu yang berada di luar kendali manusia, oleh karena itu seperti yang dikatakan oleh Epictetus

Manusia terganggu bukan oleh sesuatu, tetapi oleh pandangan yang dia ambil. 

Alangkah lebih baik jika manusia tetap fokus terhadap tujuan utama yang bisa dikendalikan oleh akal dan logika manusia itu sendiri. 

Namun ingat, bahwa manusia hanya bisa berangan - angan dan berusaha. Kegagalan adalah bagian dari tantangan. 

Kehidupan manusia layaknya sebuah permainan di dalam game.

Semakin tinggi level yang dicapai, maka semakin susah tantangan yang dihadapi. Agar dapat menyelesaikan permainan dengan baik, alangkah lebih baik jika kita fokus terhadap 1 level terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke level berikutnya.

Filsafat stoikisme sangat mempercayai keberadaan tuhan sebagai penguasa alam semesta. Tantangan kehidupan muncul dari kehendak tuhan itu sendiri. Selain itu, manusia juga berusaha dan memperjuangkan kehidupannya atas dasar tuhan.

Dapat  kita asumsikan bahwa ajakan untuk selalu berpikir positif, optimisme, dan terus berjuang merupakan bagian dari pemikiran filsafat stoikisme. 

Oleh karena itu filsafat stoikisme sangat sejalan dengan ajaran agama Islam, seperti yang dikutip dalam Qs. At Taubah 40 : 

Artinya : “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita” (Qs. At – Taubah 40) 

Selain itu juga terdapat pada Qs. Ali Imran 139 : 

Artinya : “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang – orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman” (Qs. Ali Imran 139) 

Kedua ayat di atas sangat menggambarkan bahwa agama Islam dan Filsafat Stoikisme memiliki ajakan yang serupa untuk selalu berpikir positif, optimisme, dan terus berjuang atau ikhtiar.

Ikhtiar merupakan jalan kebaikan manusia. Karunia Allah SWT akan datang kepada manusia yang bekerja keras atas usaha yang dilakukan. 

Apapun hasil yang diperoleh umat manusia bukan menjadi suatu permasalahan, karena mereka percaya bahwa Allah SWT adalah yang mengatur rezeki kepada hamba - hamba - Nya.

Oleh karena itu, agama Islam dan filsafat stoik percaya bahwa kunci perdamaian dan ketentraman hati adalah berpikir positif, dan mendekatkan diri dengan Allah Swt.