Ketegangan antara Turki-Yunani kembali memanas. Hubungan kedua negara tersebut menegang dalam persoalan eksplorasi gas bumi di Laut Mediterania timur. 

Sebelumnya antarnegara juga mengalami hubungan yang tidak harmonis, yakni terkait alih status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid. Pihak Yunani tak terima upaya alih status yang dilakukan Recep Tayyib Erdogan. Yunani menilai hal itu telah memutus hubungan dengan Barat.

Kini persoalan kedua negara kembali mencuat. Perebutan eksplorasi gas bumi di Laut Mediterania timur menjadi pemicu ketegangan antar kedua negara. Pihak Yunani mengklaim bahwa Turki telah melewati batas kontinental negaranya. Tetapi, Turki bersikeras bahwa tindakannya tersebut tidak melewati batas kontinental negaranya. 

Situasi pun memanas, ketika pesawat F-16 Yunani melewati daerah Turki. Kementerian Pertahanan Turki merilis sebuah video menunjukkan bagaimana sistem radar angkatan udara Turki mendeteksi enam pesawat F-16 Yunani yang berangkat dari Pulau Kreta menuju Siprus. Upaya memberi peringatan diberikan kepada sesama pesawat keluaran Amerika Serikat (AS) namun beda pemilik itu.

Menurut laporan US Geological Survey, Laut Mediterania timur memiliki cadangan minyak sebanyak 1,7 miliar barel. Sementara gas sebesar 3,5 triliun meter kubik. Turki mengirimkan kapal penelitiannya Oruc Reis sejak 10 Agustus.
 


Turki memang tengah gencar mencari sumber energi, mengerahkan kapal penelitian di dekat Pulau Kreta. Hal ini dilakukan sejak 10 Agustus lalu hingga kini. Kapal tersebut juga didampingi Angkatan Laut negeri itu.

Yunani berang dan menganggap Turki masuk wilayahnya. Bahkan negara itu menanggapi Turki dengan meratifikasi perjanjian maritim dengan Mesir. Yunani menilai area eksplorasi Turki, berada di teritorinya. Ia tak terima eksplorasi Turki bakal mengeruk ladang gas bumi di Laut Mediterania timur tersebut. Meski demikian, Turki tetap melakukan eksplorasi gas bumi yang menjadi pemicu ketegangan kedua negara tersebut.

Eskalasi Sengketa Mediterania

Turki dan Yunani sebenarnya merupakan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Eskalasi keduanya dikhawatirkan membahayakan Eropa ke simpanan energi baru dengan jumlah yang cukup besar. 

Keduanya juga saling mengancam untuk melibatkan Libya yang dilanda perang dan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah. Tidak ada pihak yang tampak siap untuk mundur dari konflik di perairan Mediterania tersebut. Sedangkan dalam konflik tersebut bakal melibatkan banyak angkatan laut dari kekuatan Eropa dan Amerika Serikat.

Informasi terbaru, Uni Eropa (UE), dimana Yunani bergabung disebut sedang mempersiapkan sanksi terhadap Turki. Rencana sanksi akan diputuskan akhir September mendatang. Menteri Luar Negeri Yunani juga mendukung seruan sanksi UE terhadap Turki. Pihaknya mengatakan Turki mewakili 'ideologi neo-Ottoman' dan mencoba 'ekspansionisme tanpa batas' di Laut Mediterania timur.

Meski begitu, tampaknya tidak ada tanda-tanda ketegangan keduanya akan mereda. Saat ini, baik Yunani dan Turki saling meningkatkan ketegangan dengan melakukan latihan angkatan laut secara besar-besaran. Sementara itu, Turki mengatakan akan melakukan latihan militer tembak langsung hingga pertengahan September di zona di lepas kota selatan Turki, Anamur, tepat di utara Siprus.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell mengatakan Brussel bertekad untuk menunjukkan solidaritas dengan Yunani dan Siprus. Berdasarkan informasi dari Middle East Eye, perwakilan Eropa Josep Borell menyebut langkah-langkah tersebut dimaksudkan untuk membatasi kemampuan Turki untuk mengeksplorasi gas alam di perairan yang Mediterania. Karena dianggap dapat mempengaruhi individu, kapal, atau penggunaan pelabuhan Eropa.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya kedua negara tegang. Turki dan Yunani juga memanas soal pengungsi Suriah. Yunani mengecam pembukaan pintu Turki untuk pengungsi daerah konflik itu. Hal tersebut membuat makin banyak pengungsi masuk ke Eropa, padahal menurut Yunani, sudah ada kesepakatan penghentian sebelumnya. 

Perang Terbuka Turki-Yunani, Mungkinkah?

Ketegangan antara Turki-Yunani menjadi babak baru hubungan kedua negara. Pasalnya, ini terkait persoalan eksplorasi gas bumi. Kepentingan nasional masing-masing negara menjadi alasan mengapa kedua negara saling "ngotot" mempertahankan eksplarasi di Laut Mediterania timur. Cadangan minyak dan gas bumi menjadi faktor mengapa Turki dan Yunani harus mati-matian mendapatkannya.

Situasi yang semakin memanas menimbulkan pertanyaan besar. Mungkinkah akan terjadi perang terbuka antar kedua negara? Pertanyaan ini butuh kalkulasi jawaban yang tak mudah. Mengingat masing-masing negara juga memiliki alat tempur dan militer yang kuat. Sedangkan, cost untuk melakukan perang terbuka menjadi alasan dan penyebabnya, jika memang terjadi perang terbuka. Siapa yang menjadi pemenangnya?

Ditengah sengketa antar kedua negara. Turki dan Yunani juga tengah melakukan latihan militer di Laut Mediterania. Ini artinya mereka sedang bersiap-siap dan berjaga-jaga jika sewaktu-waktu nanti akan ada perang terbuka. Poros Turki dan para pendukungnya akan saling membantu dalam urusan eksplorasi gas bumi di Laut Mediterania tersebut. Yunani juga demikian, tidak akan menyerah mempertahankan garis kontinentalnya dan bakal didukung oleh negara-negara pendukungnya, utamanya Prancis dan Amerika Serikat.

Segalanya sangat mungkin terjadi dalam persoalan perebutan eksplorasi sumber daya alam. Puncaknya adalah keuntungan yang bakal dinikmati negara yang mampu mengeksplorasi sumber daya tersebut. Apalagi minyak dan gas bumi merupakan sumber pendapatan yang menguntungkan dan tentunya akan menambah devisa negara di bidang sumber daya alam. 

Kita tengah menunggu apa skenario yang terjadi mengenai sengketa eksplorasi gas bumi kedua negara. Turki atau Yunani yang akan memenangi sengketa ini? Entahlah, hanya waktu yang mampu menjawabnya.