Apa yang lebih sunyi dari sunyi? Satu yang bisa kita masukkan nominasi adalah mereka yang mencintai dalam diam. 

Mereka yang tak bisa mengekspresikan tuntutan hatinya menjadi sebuah realitas nyata. Selalu mendekap ragu dan berkawan dengan sunyi. Mencintai dalam diam itu adalah sebuah keberanian yang hanya dimiliki oleh mereka yang paham bahwa cinta adalah manifestasi dari kesabaran dan integritas.

Hati mereka yang sedang mencintai dalam diam adalah sebuah gejolak yang sebenarnya tak pernah tampak. Tampilan luar terlihat datar, namun isi hati selalu bergetar. Mereka yang mencintai dalam diam seolah mereka yang dikenal cupu, pengecut, dan pecundang. 

Mereka yang dicap produk gagal dalam menjabarkan cinta yang sesungguhnya. Mereka ini adalah sesuatu yang terlihat hina di mata para penyombong yang sok tahu tentang cinta. Mereka yang mencintai dalam diam dianggap sampah.

Bagaimana tidak, “Bukankah isi hati akan lebih baik jika diterus-terangkan?” ujar mereka yang sok tahu. 

Tapi ingat, kawan, mencintai dalam diam itu lebih rumit dari apa yang kalian pikirkan. Lebih kompleks dari rangkaian kalimat ejekan yang kalian lontarkan. Mencintai dalam diam itu berarti harus berani menanggung semua sakit tanpa sebab yang jelas. Semua sakit hanya dirasakan dalam sunyi; kalian kuat?

Sunyinya mereka yang mencintai dalam diam inilah yang pernah dirasakan kawan saya. Dua tahun menaruh rasa terhadap seorang wanita, dua tahun itu pula ia hanya bisa menceritakan kecantikan, kekagumannya terhadap si wanita, dan rasa cintanya yang baginya tak perlu ia tunjukkan kepada si wanita. 

Ketika saya bertanya mengapa ia tak mau show up menyoal perasaannya, dia berujar, “Aku ngerasa gak pantas eh, gimana ya. Dianya gitu, masa akunya gini?”

Mungkin kalian menganggap teman saya adalah orang lemah yang sudah kalah sebelum bertarung. Tapi tunggu dulu, pasrahnya dirinya adalah hasil dari berbagai percobaan berkali-kali dari chat yang coba ia lancarkan namun tak kunjung dapat respon yang positif.

Ketika chat diakhiri dengan kalimat “wkwk”, maka kesunyianlah yang menaungi diri teman saya. Sunyi sebuah chat yang tak pernah lagi berbalas. Sakit? Tentu. Sedih? Pasti.

Rasa prihatin pastinya saya berikan kepada teman saya tersebut. Melihatnya selalu memandang si wanita yang ia cintai yang tak pernah mau mengusik barang sedikit pun perasaannya. Hingga jalan terakhir yang teman saya lakukan adalah berdamai dengan perasaannya. 

Mencoba bersabar walau hati tak kunjung berhenti berdebar ketika berpapasan barang 1 menit dengan si wanita. Kawan saya memilih menuju jalan sunyi dengan mencintai dalam diam. Baginya, inilah caranya untuk tetap menjaga kewarasan cintanya walau ia sadar bahwa tidak ada garansi kebahagiaan di dalamnya.

Kawan saya dan tentunya banyak orang di luar sana memilih menghilang dari keramaian cinta dan terus menjaga asa yang naik-turun. Menjaga sebuah api yang kadang bisa sangat redup. Menjaga sebuah rasa cinta di balik keramaian. Begitulah mereka yang mencintai dalam diam.

Hingga seperti apa yang Boy Candra katakan di Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang terjadi, “Memendam perasaan sering kali menimbulkan penyesalan.” Akan lahir penyesalan-penyesalan yang menyayat hati bagi mereka yang memilih jalan sunyi mencintai dalam diam. 

Ketika melihat sang pujaan hati berfoto dengan orang lain sambil diiringi senyum di wajah serta dibubuhi caption romantis, hati seolah dihujam belati. Ingin cemburu namun tidak ada hak sedikit pun. Ingin marah tapi dengan alasan apa? Ingin menangis tapi tak tahu apa yang ingin ditangisi.

“Sekuat-kuatnya seseorang memendam, akan kalah oleh yang menyatakan.” Sekuat apa pun dirimu berkubang di kesunyian mencintai dalam diam, kamu tetap akan kalah dengan mereka yang berani menyatakan. Begitu tepatnya apa yang ditulis Fiersa Besari di bukunya Garis Waktu.

Kesunyian-kesunyian yang dihasilkan dari proses mencintai dalam diam menjadi sebuah rongga waktu untuk mereka yang merasa bahwa cintanya adalah sebuah kegagalan mutlak. 

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Karena cinta bukanlah sebuah paksaan. Cinta itu sebuah opsi tanpa jalan keluar bagi pecandunya. Sebuah bentuk dari memorandum yang telah disepakati antara akal, hati, dan sikap bahwa cinta seharusnya adalah sebentuk kebebasan yang tak bisa diganggu gugat.

Ada kemerdekaan di dalamnya. Ada sebuah demokrasi yang menuntut setiap orang berhak berpendapat tentang cinta dan perasaannya. Dan barang tentu kita tidak bisa menjadi seorang diktator yang semena-mena terhadap perasaan. Harus ada sesuatu yang kita jaga, harga diri. 

Sebuah integritas yang harus kita jaga kehormatannya ketika cinta kita bukanlah pilihannya. Ketika perasaan kita bukanlah apa yang ia cari. Integritas inilah yang pada akhirnya memilih jalan damai dan mewujud menjadi sebuah sekte kesunyian yang bernama mencintai dalam diam.