Konon hiduplah seorang pujangga cinta yang beralih profesi menjadi pengarang surat cinta. Profesi ini telah dijalaninya begitu lama. Tapi profesi ini berjalan secara sembunyi-sembunyi. 

Hanya orang-orang tertentu melalui jaringan ‘bawah tanah’ yang dapat berhubungan dengan seorang pengarang surat cinta ini. Dan hanya orang-orang yang menyukai petualangan cinta yang punya hubungan dengannya.

Ada aspek mistik yang menggerakkan niat dari sang pujangga untuk menjadi pengarang surat cinta. Konon turun sebuah isyarat pada suatu malam saat ia sedang bermeditasi. 

Isyarat itu memintanya agar menjadikan kemampuannya mengarang surat cinta sebagai jalan untuk menumbuhkan kehidupan yang penuh cinta di sebuah kampung yang kian gersang dari cinta karena setiap orang tua mengedepankan soal-soal materiil dalam hubungan cinta anaknya.

Kampung ini dikutuk oleh para dewa. Sebab para orang tua mengabaikan cinta-cinta yang tulus. Mereka telah terjebak pada gemerlap kemewahan duniawi. 

Sehingga setiap orang tua selalu mendahulukan pertimbangan status sosial ekonomi dalam urusan cinta kasih anaknya. Apakah kau mengerti wahai anak muda?

“Baiklah, aku mengerti wahai siapa pun engkau yang mengirimkan isyarat ini.”

Bagus. Aku ingin setiap orang tua menyadari itu. Tugasmu adalah melawan secara diam-diam keadaan yang buruk ini. Bantulah tiap pemuda yang jatuh cinta secara tulus agar dapat meyakinkan kekasihnya melalui surat cinta.

“Surat cinta?”

Betul. Nanti kukirimkan kepada engkau sebuah pena emas dan kertas pilihan. Kemampuanmu meracik kata-kata melalui pena itu dan di atas kertas itu akan sanggup membuat setiap perempuan leleh hatinya. 

“Baiklah, aku mengerti wahai engkau yang tidak aku mengerti wujudnya.”

Baiklah. Oh satu lagi. Tugasmu ini harus dilakukan secara rahasia. Tak boleh sampai di telinga para lelaki ‘playboy’. Nanti ini bisa disalahgunakan.

“Baiklah.”

***

Profesi itu telah ia jalani bertahun-tahun. Semakin hari semakin banyak orang yang mengetahui kemampuannya. Sehingga sekarang makin banyak orang-orang yang memohon jasanya itu. Seiring itu, dia melupakan pesan dari isyarat itu untuk berhati-hati.

Suatu hari, dia menerima seorang pemuda tampan yang memang dikenal sebagai seorang ‘playboy’.

“Aku tidak menerima dirimu,” pujangga itu tegas.

“Mengapa?”

“Aku hanya mengarangkan surat cinta untuk lelaki yang cintanya tulus kepada seorang perempuan.”

“Oh tuhan. Demi apa pun, cintaku tulus.”

Pujangga itu menentang mata pemuda itu dan membuatnya tertunduk.

“Kau berani mengatakan memiliki cinta yang tulus, hah? Oh bagaimana mungkin itu dikatakan cinta yang tulus. Kau mengatakan cinta kepada lebih dari satu orang. Kau bergiliran menjanjikan masing-masing kekasihmu dengan cinta sejati. Kau membuat mereka bahagia sebelum akhirnya terluka.”

Pemuda itu diam. Dia sedang berpikir keras bagaimana cara meloloskan permintaannya. Akhirnya dalam tunduknya, dia tersenyum. Dia menemukan pikiran yang menarik. Mula-mula ia beranikan diri menatap pujangga itu. Lalu beberapa saat pemuda itu menitikkan air mata dan menimbulkan rasa haru.

“Mengapa kau menangis? Tolong jangan menangis,” mohon pujangga itu dengan hati kasihan sembari mendekati pemuda itu. Tapi pemuda itu terus menangis.

“Percayalah padaku cintaku yang ini tulus. Aku mencintai perempuan itu. Tolong jangan hakimi aku dari cinta-cinta yang gagal di masa lalu. Perempuan-perempuan itu kucintai dengan tulus hati, tetapi mereka memilih pergi.”

Pujangga itu terdiam. Ada rasa iba di dalam hatinya. Dia lalu terbawa pada masa lalunya. Dia melewati banyak kisah gagal cinta pada banyak perempuan. Dia berjanji untuk membantu agar tak ada orang yang gagal dalam cinta seperti dirinya.

“Tapi kau seorang ‘playboy’?” pujangga itu masih menyelidiki kemungkinan dia berbohong. Tapi pemuda itu tak kalah cara. Dengan terus menangis, dia berbicara lagi.

“Oh Tuhan. Apakah masa lalu lebih penting dari masa kini? Apakah kesalahan masa lalu lebih diperhitungkan ketimbang keinginan yang tulus di masa kini? Wahai pujangga yang bijaksana, jika setiap orang seperti aku diadili atas masa lalunya karena ‘playboy’ tanpa diberi kesempatan bertobat di masa kini untuk menemukan cinta sejati sebagai penebusan, maka tidak akan pernah ada dalam sejarah tentang kisah pertobatan seorang ‘playboy’. Mohon kebijaksanaan hatimu.”

Pujangga itu menimbang-nimbang dalam hatinya. Ada kebenaran dalam ucapan pemuda ‘playboy’ itu. Dia membenarkan bahwa seseorang tak boleh dihukum karena masa lalunya. 

Hatinya yang baik dan bijaksana membenarkan itu. Tak ada keraguan untuk membantu pemuda itu menemukan cinta sejatinya. Seburuk-buruknya seorang ‘playboy’ harus dimaafkan di masa kini saat dia memutuskan untuk bertobat dan menemukan cinta sejatinya.

Permintaan pemuda itu diloloskan. Pemuda itu senang dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Dalam hatinya ia tersenyum menang: “Oh tuhan, pujangga yang baik dan bijaksana. Suratmu ini begitu berharga”.

Di luar pengetahuan sang pujangga, pemuda itu menggunakannya untuk menaklukkan banyak perempuan. Hasrat playboy-nya tak pernah mati. Seluruh ucapannya kepada sang pujangga yang bijaksana hanyalah permainan kata-kata.

***

Di hari berikutnya, pujangga itu lagi-lagi melakukan kesalahan akibat kelengahannya. Dia menerima seorang lelaki yang sudah punya istri. Tapi dia segera menyadari untuk mengusir tamunya. Tanpa banyak pertimbangan, pujangga itu langsung melakukan niatnya.

“Pergilah dari sini. Aku tahu kau sudah punya istri. Aku tidak mau kepengaranganku soal surat cinta dipergunakan oleh lelaki-lelaki tidak bertanggung jawab. Kau sudah punya istri.”

Lelaki itu bersikukuh untuk tak pergi. Dia tetap diam dalam duduknya dan memohon-mohon kepada pujangga itu.

“Pergilah. Aku akan panggil orang-orang untuk menyeretmu keluar dari rumahku ini.”

“Maafkan aku, wahai pujangga yang bijaksana. Aku punya maksud baik datang ke sini.”

“Aku tidak percaya. Cepat pulang. Atau aku bunuh kau.”

Lelaki itu tetap tak beranjak pergi. Pujangga itu tak dapat mencegah marahnya. Dia terpaksa menggunakan tangannya sendiri untuk menyeret dan melemparkan lelaki itu keluar. Dan dia segera menutup pintunya dari dalam. Masih beruntung aku tidak benar-benar membunuhmu, gerutunya dengan marah.

“Maafkan aku wahai pujangga yang bijaksana.”

Hah! Rupanya suara itu tak asing. Itu suara lelaki yang tadi telah dilemparnya. Suara itu muncul dari arah dapur dan kian dekat menuju ruangan di mana tadi dia duduk sebelum terlempar keluar. 

Benar saja lelaki itu yang kembali. Lelaki itu tetap memaksa diri untuk meminta bantuan sang pujangga. Oh Tuhan, apakah ini bagian dari ujian dari tugas ini, gumam pujangga itu dengan kemarahan yang tertahan.

“Baiklah, apa sebenarnya kemauanmu?”

“Aku ingin menikahi satu lagi seorang perempuan, wahai pujangga yang bijaksana. Berilah aku kesempatan yang berharga ini.”

“Apa? Rakus sekali dirimu. Aku saja belum menikahi satu perempuan di kampung ini, dan kau memintanya satu lagi. Rakus sekali dirimu.”

“Oh tuan pujangga yang bijaksana. Jika dilihat dari sudut tuan, mungkin aku rakus. Tapi pertimbangkan dari sudut pandangku, tuan. Perempuan itu mencintaiku. Aku juga mencintainya. Tak ada sesuatu yang bisa mencegah cinta yang datang begitu saja. Semula aku menganggap ini sekedar cinta biasa. Tapi kita berdua terus merasakan itu.”

“Lalu kau akan mencintai dua orang? Oh Tuhan. Mengapa kepengaranganku dipergunakan untuk orang-orang seperti ini.”

“Tuan, bukannya tugas tuan untuk menyatukan cinta yang sejati?”

“Betul. Itu tidak salah.”

“Bukannya tugas tuan membantu cinta menemukan jalannya?”

“Betul.”

“Dari sudut pandang ini, cinta kami sejati, tuan. Cinta kami harus menemukan jalannya. Aku membutuhkan tuan dalam hal ini. Tuan dihadirkan untuk kemuliaan ini.”

“Tapi dari sudut pandangku, kau salah. Kau akan menikahi dua orang perempuan. Bagaimana kau akan berbuat adil pada keduanya?”

“Tuan, mohon pertimbangkan sudut pandangku pada perkara ini. Perempuan itu akan jatuh pada lelaki yang bejat, tuan. Dia tak mencintai lelaki yang akan menikahinya itu. Sebab cinta sejatinya itu padaku. Menikahinya berarti merebutnya agar tak jatuh pada lelaki itu. Dari sudut pandang ini, aku menolongnya dari kesulitan perempuan itu.”

“Sekarang jawab bagaimana kau bisa berbuat adil?”

“Tuan, aku akan berbuat adil. Tapi tuan jangan menilai ketidakadilan itu dari sekedar sudut pandang perasaan kedua istriku. Tiap perasaan menginginkan keadilan. Di dunia ini, tak ada seorang pun yang bakal mencapai keadilan yang sepenuhnya diterima oleh setiap orang. Selalu ada kekecewaan di antara mereka. Tapi lihatlah ikhtiar dan usahaku ini untuk berbuat adil, tuan.”

Pujangga itu hanya diam. Dengan perasaan yang berat, dia harus meloloskan permintaannya.

***

Pada suatu pagi, terdengar berisik sekali di depan pagar rumahnya. Sang pujangga itu terbangun karena suara-suara itu. Dia membuka pintu rumahnya.

“Dia orangnya”, pekik salah seorang di antara gerombolan ibu-ibu yang sudah berdiri di depan pagar itu. Sang pujangga itu kaget. Dia belum menyadari maksud kedatangan ibu-ibu itu. Dia membawa spanduk bertuliskan: Aliansi Mak-Emak untuk Keadilan. Disingkat AMUK. Pujangga itu bingung.

“Orang ini biang keladi yang memperjualbelikan karangan surat cinta. Orang ini yang membuat banyak anak perempuan patah hati. Orang ini sumbernya. Orang ini harus dimusnahkan.”

Pujangga itu berusaha mencegah dan mengatakan sesuatu.

“Tolong, jangan ada kekerasan di tempat ini. Mari selesaikan secara baik-baik.”

“Enak saja minta baik-baik setelah kami dirugikan. Setelah kesalahan bertahun-tahun, sekarang kau minta kami baik-baik. Surat cinta yang kau karang telah dijadikan alat oleh para lelaki hidung belang untuk mengelabui banyak perempuan. Kami tidak terima. Sumber masalah ini harus dihancurkan.”

“Tapi, mohon dimengerti dari sudut pandang saya. Tidak ada niat buruk dari saya. Jika itu terjadi, itu di luar kendali.”

Massa AMUK itu merangsek masuk membobol pagar bambu yang tak kokoh. Dalam sekejap, pagar itu telah roboh dan terinjak-injak oleh amarah emak-emak yang bergerak mendekati sang pujangga. Massa ibu-ibu itu terus bergerak makin dekat dan dekat. Sang pujangga masih berpikir untuk menjelaskan. 

Tapi segera dua orang datang dari arah yang tak terduga dan dengan secepat dan segesit mungkin membawanya lari melewati pintu belakang. Mereka menariknya menjauh.

Massa emak-emak itu kecewa tak menemukan sang pujangga yang sudah meloloskan diri dari mereka. Kekecewaan dilampiaskan kepada rumah dan seluruh barang yang ada di dalamnya.

Dari tempat persembunyiannya, sang pujangga bersedih menatap rumahnya yang ambruk setelah dilahap oleh kobaran api. Tak butuh lama api-api yang merah itu membuatnya ambruk. Besok pagi, rumah itu telah rata dengan tanah. Yang tertinggal hanyalah abunya.

Dalam dua hari, sang pujangga itu memusatkan dirinya dalam meditasi. Pada hari ketiga, dia menyelesaikan meditasinya. Pada hari itu, dia baru sadar untuk menanyakan identitas kedua orang yang menolongnya dari kejaran emak-emak.

“Terima kasih kalian telah menyelamatkanku. Ngomong-ngomong kalian ini siapa ya?”

Kedua lelaki itu tidak langsung menjawab. Mereka berdua tersenyum bercampur malu-malu.

“Kok?”

Sang pujangga mencoba menyelidiki gerangan apa yang membuat mereka tersenyum. Aha! Dia seolah mengenalnya.

“Oh jadi kalian sumber dari masalah itu. Kalian yang sudah mengelabui saya.”

“Maafkan kami,” keduanya kompak menjawab.

Sang pujangga tidak tahan lagi. Dia hendak melampiaskan amarahnya dengan tangannya dikepalkan keras. Ada ingin untuk meninju wajah dari kedua orang itu. Satu...dua...

“Tuan yang baik hati, tolong pertimbangkan dari sudut pandang ini. Kami berbuat salah. Tapi kami juga berbuat sesuatu yang menyelamatkan nyawa tuan. Apa tuan masih tega mengadili kesalahan masa lalu yang ditebus dengan cara lain di masa kini?”

Tangan sang pujangga tertahan di udara. Tinjunya masih mengepal. Kebenciannya tertahan. Segera dalam beberapa detik, ia diliputi suatu pikiran yang lain untuk memaafkan kedua orang itu. Perasaan kasihan pun mengalir dalam dirinya. 

Oh tuhan, mengapa aku memiliki hati yang begitu kuat untuk memaafkan. Oh tuhan, sekali-kali berilah aku kekuatan untuk membenci biar sekali-kali tinju ini mengenai dua orang ini.

Oh tidak. Kau diciptakan sebagai pujangga yang punya kehalusan budi. Kau ditugaskan untuk menebarkan cinta bukan kemarahan. Apakah kebijaksanaan itu hendak Kucabut darimu dan kau selamanya jadi orang jahat?

“Oh baiklah, Tuhan. Maafkan aku. Tetaplah berilah aku kebijaksanaan dan kebaikan itu”.

Pujangga itu akhirnya duduk letih menyandarkan dirinya pada pohon. Sedangkan kedua lelaki itu saling bertatapan merasakan hal aneh yang ada pada tuan pujangga itu.

***

Selama di tempat persembunyiannya, kedua lelaki itu membantu tuan pujangga itu. Kedua lelaki itu benar-benar mengabdikan diri untuk melayani seorang yang menurutnya punya kelebihan itu. Mereka tidak lagi membicarakan karangan surat cinta yang membawa mala petaka itu. Tak ada sedikit pun pembicaraan itu kecuali kejadian lain yang muncul di hari ini.

Seorang pelayannya datang tergopoh-gopoh menghadapnya. Ada seorang perempuan begitu cantik ingin bertemu sang pujangga. Informasi itu segera membuat kesehatannya kembali normal. Dia segera lupa dengan kesialan yang telah terjadi. Perempuan itu dipersilakan berjumpa sang pujangga.

“Aku mencintai seorang lelaki karena jatuh hati dengan karangan surat cintanya kepadaku. Aku tidak tahu bagaimana dia memperoleh kata-kata yang begitu kuat dan terasa tulus sekali dalam surat itu.”

Sang pujangga tak dapat menghindar dari kecantikan perempuan itu. Kedua pelayan yang mengintipnya dari luar tersenyum bahagia mendapati tuannya kini bergairah lagi untuk menjalani hidup.

“Sungguh aku kagum. Dan belakangan, aku tahu. Kalau orang yang sesungguhnya menuliskan surat itu adalah anda. Bagaimana anda begitu pandai membuat aku jatuh cinta?”

Pujangga itu gelagapan untuk menjawab. Sang pelayan masuk tanpa pamit dan memberinya segelas air kepada tuannya. Sehabis air itu ditenggaknya, sang pujangga itu menjawab sambil matanya terpaku pada wajah perempuan itu.

“A...aku menulisnya dengan kejujuran dan kemurnian hati. Aku berusaha memasuki wilayah perasaan perempuan yang begitu cantik, membuatku terpesona. Aku membayangkan perempuan itu adalah pilihan yang membuat lelaki mana pun tak ingin melepaskannya. 

Aku membayangkan matanya begitu indah. Setiap pandangannya melahirkan kekuatan yang memikat hati tiap laki-laki. Aku menuliskannya dengan segenap kejujuran hati.”

“Kau membayangkan aku seperti itu?”

“Iya. Aku membayangkan seperti itu.”

“Apakah aku benar-benar persis seperti dalam bayanganmu?”

“I...iya. Oh.. ti..tidak.”

“Tidak?”

“Tidak.”

“Pasti lebih cantik apa yang ada di dalam imajinasimu?”

“Oh tidak. Justru kau lebih cantik dari yang ada di imajinasiku. Kau melebihi itu semua.”

“Terima kasih, aku tersanjung. Dan aku telah dibuat terpukau oleh karangan surat cintamu. Aku jadi jatuh cinta.”

Pujangga itu merasa hari itu berada di surga. Tempat pengasingan itu, yang hanya berupa gubuk kotor, tiba-tiba tersulap jadi istana yang indah. Perempuan yang duduk di hadapannya seperti seorang bidadari. Dia membayangkan duduk berdua dihujani oleh bunga-bunga yang baunya hanya ada di surga. 

Kedua orang pelayan di luar itu tak masuk dalam perhitungannya dalam imajinasi itu. Dua lelaki itu tetaplah seorang pelayan yang membuatnya hidup sial. Tapi perempuan di hadapannya.... imajinasi itu berlansung terus hingga seseorang datang dari luar: seorang lelaki gagah dan ganteng.

“Hai, pujangga ini?”

“Kenalkan, ini suamiku. Berkat karangan cinta yang kau buat, kita jadi jatuh cinta.”

Setelah berbasa-basi, suami istri itu mohon pamit pulang. Sang pujangga tak dapat menahan kagetnya. Seperti patung, dalam beberapa menit ia tak tergerak dengan mulut menganga. Kedua pelayannya segera masuk dan membantu merebahkan dirinya.

Hari itu juga, muncul suara yang hanya terdengar dalam meditasi pujangga itu.

Maafkan aku, ada satu lagi yang harusnya aku sampaikan tetapi itu terlupakan. Sebagai pujangga, tugasmu hanya menata dan menebarkan cinta. Kau boleh jatuh cinta. Tapi kau ditakdirkan bernasib sebatang kara selamanya.