Bagi sebagian orang, profesi guru dianggap sebagai profesi yang rendahan dan juga dipandang sebelah mata. Guru dianggap profesi yang tidak memiliki prestise yang tinggi. Apalagi jika hendak dibandingkan ataupun disejajarkan dengan profesi-profesi lain yang memberikan kesempatan luas untuk dapat menimbun kekayaan --yang bersifat materi, semisal profesi: karyawan sebuah perusahaan, pegawai bank, pengacara, konsultan, dan lain-lain sebagainya.

Dalam pola interaksi keseharian masyarakat kita, profesi guru juga mendapat semacam “stigma” yang mau tidak mau, diakui atau tidak, anggapan tersebut lebih mengarah pada konotasi negatif.

Menyebut profesi guru sebagai identitas, maka yang yang terlintas dibenak orang ialah manusia culun, berkutat dengan buku, memegang kapur atau spidol disertai dengan rol, dan dari segi pendapatan hidupnya pas-pasan. Ya, setidaknya begitulah gambaran umum yang sudah “melembaga” pada masyarakat kita.

Namun demikian, bagi saya, profesi guru tidaklah serendah atau seburuk kesan yang diberikan oleh orang kebanyakan –sebagaimana tersebut ditas. Profesi guru, dalam pandangan saya --dengan tanpa menafikan profesi lain, merupakan sebuah profesi yang sangat mulia. Setidaknya jika kita melihat peluang untuk melakukan korupsi, maka tidak ada profesi guru bersih dari tindakan keji tersebut, kecuali korupsi jam mengajar.

Di samping itu, dengan menjadi guru, secara tidak langsung kita telah berada pada salah satu dari tiga golongan yang jika merunut pada sabda Nabi Muhammad SAW termasuk kedalam golongan yang beruntung, karena mulia disisi Allah.

Ya,  benar guru merupakan profesi yang termasuk kedalam golongan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, bahwa terdapat tiga golongan di dunia ini yang kelak menjadi golongan paling mulia di sisi Allah. 

Ketiga golongan tersebut yakni; golongan pengajar (yang menyebarkan ilmu kepada yang lainnya), golongan pembelajar (yang menuntut ilmu saban waktu) dan terakhir golongan yang berada diantara kedua golongan yang disebutkan tadi –dalam artian lain dikatakan golongan terakhir ini sebagai golongan yang suka menghadiri majelis ilmu.

Dari hadis ini, kita bisa memahami, jika ingin mendapat posisi mulia di sisi Allah SWT maka profesi guru menjadi alternatif yang sangat tepat.

Jujur, saya sangat tersentuh dan termotivasi dengan hadits tersebut. Hingga menekuni profesi guru menjadi pilihan saya dalam berkarir. Dan bagi saya, merupakan sebuah kebanggaan pula (tanpa melupakan syukur kepada Allah) tepat tanggal 29 Agustus 2018 ini, usia “keaktifan” saya sebagai seorang guru genap berumur 2 tahun.

Adalah sekolah Sukma Bangsa Pidie yang menerima saya menjadi seorang guru untuk membidangi salah satu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu Sosiologi. Sebuah ilmu yang lahirnya pada abad ke-18 disebabkan oleh serangkaian peristiwa besar yang terjadi di Eropa, hingga oleh bapak Selo Soemardjan membawanya ke Indonesia pada tahun 1970an.

Sebenarnya menjadi seorang guru merupakan sebuah jalan yang “tersesat” bagi saya. Kenapa saya katakan demikian? Sebab basic ilmu yang saya tempuh di Perguruan Tinggi bukanlah bidang pendidikan atau keguruan, melainkan sebaliknya.

Saya kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Dan program studi yang saya ambil adalah Sosiologi (bukan FKIP Sosiologi). 

Sosiologi adalah sebuah ilmu yang berbicara tentang masyarakat. Tersebab itu, yang kami pelajari dibangku kuliah ya semua tentang masyarakat. Mulai dari pola perilakunya hingga teori untuk memahami pola perilaku masyarakat tersebut. Sedangkan mengenai tehnik-tehnik mengelola kelas (sebagaimana diajarkan oleh jurusan keguruan) tidak saya dapatkan sama sekali.

Namun yang menariknya, di awal semester delapan atau beberapa minggu menjelang pelaksanaan sidang untuk karya tulis ilmiah (skripsi) saya, saya mendapat sebuah informasi dari seorang kawan, bahwa di sekolah Swasta Sukma Bangsa Pidie dibutuhkan seorang pengajar untuk mata pelajaran Sosiologi. (selanjutnya saya tulis dengan nama sekolah Sukma saja)

Saat itu saya mulai berpikir dan menghayal akan impian kecil saya yaitu menjadi seorang guru. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar dan setelah melewati tes dalam beberapa tahapan, saya dinyatakan lulus dan diterima sebagai pengajar atau guru di sekolah Sukma. Saat itu merupakan titik bersejarah dalam hidup saya. Dan saya masih ingat betul, hari dan tanggal saya resmi menjadi seorang guru di Sekolah Sukma (Sabtu, 29 Agustus 2016).

Sekolah Sukma memang tidak begitu mempermasalahkan jika seorang guru itu basic-nya pendidikan atau non pendidikan. Bagi sekolah Sukma, yang terpenting bagi seseorang (khususnya menjadi guru) ialah memiliki keinginan untuk terus belajar, belajar dan belajar, guna meningkatnya kualitas individu guru tersebut. Yang kegunaannya tidak hanya bagi individu guru tersebut, melainkan memenuhi tuntutan untuk menjadi guru seutuhnya bagi siswa.

Karena itu, pasca diterima sebagai seorang guru, saya tidak pernah berhenti membaca buku-buku yang berkenaan dengan cara-cara mengajar yang baik, cara mengelola kelas yang efektifi, cara memahami karakter siswa, hingga cara membuat perangkat administratif seorang guru –singkatnya disebut RPP.

Di samping itu juga, guna menambah wawasan dan membuat siswa senang dengan aktivitas pembelajaran bersama saya, saya mendalami ragam buku yang berkaitan dengan mata pelajaran Sosiologi. Tujuan saya, jika mereka menanyakan sesuatu, jawaban-jawaban yang saya berikan membuat mereka puas. Dan jika ada materi yang rumit untuk mereka pahami, saya mencari beragam cara untuk menyampaikan dengan bahasa-bahasa yang mudah untuk mereka pahami.

Bagi saya, kondisi tersebut dengan serangkaian aktivitas yang saya lakukan dalam “menikmati” profesi guru memberikan tantangan yang luar biasa menyenangkan. Dan, saya berkeyakinan yang saya lalui tersebut merupakan cara saya menjadi guru seutuhnya.

Saya juga tidak bisa menampik, dan benar seperti kata orang bijak, bahwa tidak ada hal yang tidak bisa untuk kita kerjakan di dunia ini kecuali kita tidak mau belajar. Segala sesuatu akan dapat dilalui dengan mudah asal kita mau belajar. Karena belajar merupakan pangkal dari segala keilmuan yang akan kita dapat.

Maka dari itu, proses perjalanan saya menjadi seorang guru dapat saya katakan sebagai jalan sesat bagi hidup saya dan hari ini membawa kebanggaan tersendiri bagi saya. Jalan sesat ini mampu saya lewati dengan baik dengan cara terus belajar dan belajar. Wallauhu’alam.