Tulisan Imron Maulana di Qureta yang berjudul Lembaga Penindas Rakyat itu Bernama Tuhan dan Negara menarik untuk disimak. Dapat dikatakan Imron merangsang perdebatan di publik Indonesia soal pemikiran anarkisme yang dapat dipakai sebagai (salah satu) lensa untuk membaca realitas. 

Imron sendiri dalam tulisannya memulai dengan kisah mengenai whatsapp grup kampungnya yang “panas” dengan perdebatan mengenai carut marut pengelolaan negara di tingkal lokal.  Dapat dikatakan Imron kemudian mencoba mengabstraksikan masalah tersebut seraya mencari jawabannya dalam kerangka anarkisme.

Pilihan Imron pada anarkisme bukan suatu yang mengherankan khususnya jika mencermati tren “naik daunnya” pemikiran anarkisme khususnya di kalangan aktivis dan kaum muda Indonesia. Sejumlah buku bertema anarkisme dicetak oleh sejumlah penerbit yang cukup terkemuka di Indonesia seperti Marjin Kiri. Anarkisme seakan menjadi “oase” baru yang cukup “menjanjikan” di mata kalangan sejumlah aktivis dan pemuda tersebut karena menawarkan cara baca yang tidak kalah radikal dari marxisme.

Kembali kepada tema yang disoroti oleh Imron dalam artikelya yakni soal Tuhan dan negara yang dianggap sebagai biang kerok problematika manusia selama ini. Dengan segera Imron merujuk pada Bakunin, seorang tokoh anarkis yang sangat terkemuka secara global. Memang jika kita merujuk pada karya Bakunin “God and State” maka kita dapat menemukan tendensi yang negatif pada spiritualitas. 

Mirip dengan Marxisme klasik yang menganggap bahwa agama adalah “candu”, bagi Bakunin agama dan keyakinan pada Tuhan menegasi kebebasan manusia. Sebuah logika yang sejalan dengan keyakinan Sartre, seorang filusuf eksistensialis terkemuka dari Perancis.

Hanya saja ada satu hal yang mesti diperhatikan disini. Sebagaimana kasus Marxisme yang kemudian melahirkan tokoh semacam Tan Malaka yang notabenen melihat ada spirit antikolonialisme yang kuat pada agama (khususnya Islam) dan kalangan eksistensialis yang juga religius seperti Kierkegaard, jangan sampai pemahaman kita pada anarkisme terkurung atau tereduksi sedemikian rupa pada karya Bakunin. 

Sebagaimana Marxisme dan eksistensialisme, gerakan pemikiran anarkisme juga mengalami perkembangan di sana sini dan melahirkan banyak varian pemikiran yang berbeda satu dengan lainnya. Salah satu aliran anarkisme yang mestinya tidak boleh dilupakan adalah “aliran spiritualis”, dimana mereka menganggap bahwa tidak ada pertentangan antara menjadi seorang anarkis tetapi pada saat yang sama mempertahankan sisi spiritualitas mereka.

Artikel ini akan mencoba mengetengahkan salah satu pemikir anarkis paling terkemuka namun tetap mempertahankan sisi spiritualitasnya yakni Leo Tolstoy. Nama Tolstoy mungkin cukup familier bagi sebagian kalangan (khususunya penikmat novel) di Indoensia karena sejumlah novelnya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia seperti Ana Karenina dan Haji Murat. 

Sebenarnya selain menulis novel Tolstoy juga giat menulis karya non fiksi salah satunya berjudul “Kingdom of God is within you” yang dianggap sebagai salah satu karyanya yang mengandung spirit anarkisme kuat. Selain karya tersebut Tolstoy sejatinya menulis sejumlah karya lain seperti “What I Believe?” yang dianggap oleh Alexandre Christoyannopoulos -akademisi pengkaji anarkisme kristen- sebagai karya Tolstoy yang lebih terstruktur dari karya “Kingdom of God” (Christoyannopoulos: 2011).

Sebagaimana Bakunin, Tolstoy misalnya melakukan kritik keras pada negara yang dipahaminya sebagai realitas yang tidak “seromantis” sebagaimana dibayangkan banyak orang –ide negara sebagai pengayom rakyat-. Sebaliknya Tolstoy mengidentifikasikan berbagai strategi negara untuk memastikan rakyat patuh pada kekuasaannya yakni intimidasi ,korupsi, dan hipnotis yang memungkinkan rakyat menjadi “subyek patuh” yang nantinya digunakan untuk menjadi “tentara” bagi negara untuk menindas rakyat secara umum (Higgs: 2105).  

Kritik tajam Tolstoy ini mungkin sangatlah relevan terlebih ketika mencermati kondisi zamannya dimana ia hidup dimasa feodalisme Russia yang dalam sejarah dikenal dengan opresinya yang kuat terhadap rakyat.

Tetapi meskipun Tolstoy melakukan kritik tajam terhadap negara dia tidak lantas melakukan serangan terhadap agama, dalam arti bahwa ia kemudian memilih menjadi ateis misalnya. Bagi Tolstoy ajaran Yesus dalam alkitab justru penuh dengan prinsip-prinsip moral yang revolusioner yang justru diperlukan untuk “mengobati” patologi di sekelilingnya tersebut. 

Tetapi memang tidak bisa ditampik bahwa meskipun Tolstoy memegang kuat agama Kristen tetapi tidak berarti dia “diam” terhadap posisi gereja yang eksis saat itu. Tolstoy terbilang aktif menentang gereja yang dianggapnya tidak lagi berpedoman pada ajaran Yesus dalam alkitab (Christoyannopoulos: 2011).

Jika memperhatikan sikap Tolstoy diatas terhadap agama dapat disimpulkan bahwa Tolstoy membedakan antara institusi agama dan ajaran agama “asli” itu sendiri. Bagi Tolstoy ajaran Yesus tidaklah salah tetapi tidak dengan gereja yang bisa saja menyimpang dari ajaran "asli" Yesus. 

Di sini kita bisa melihat perbedaan dengan ide Bakunin yang coba diringkas oleh Imron dalam artikelnya dimana Bakunin mengecam institusi agama yang bersekutu dengan negara untuk menindas rakyat.  Bagi Bakunin realitas itu menunjukkan agama jelek secara total, tapi bagi Tolstoy bukan agamanya yang rusak tetapi institusi agama (gereja) yang menyimpang dari ajaran “asli” Yesus.

Spiritualitas Tolstoy menyebabkan ia menempuh jalan yang berbeda dari “anarkis pada umumnya” yang cenderung mengambil langkah revolusi. Bahkan karena “inherennya” jalan revolusi pada kalangan anarkis yang berkembang saat itu menyebabkan Tolstoy tidak menyukai idenya digolongkan sebagai anarkisme (Christoyannopoulos: 2011).

Alih-alih jalan kekerasan, Tolstoy berupaya menempuh jalan pasifisme yang menurutnya sejalan dengan alkitab (Christoyannopoulos: 2011).  Jalan anti kekerasan Tolstoy inilah yang dikemudian hari mempengaruhi tokoh besar dunia seperti Gandhi misalnya dengan jalan pasifismenya dalam menentang pendudukan Inggris (Higgs: 2105).

Kesimpulan yang dapat diambil dari kisah Tolstoy tersebut adalah salah jika mereduksi anarkisme pada sosok Bakunin semata. Anarkisme telah berkembang sedemikian rupa dengan berbagai pemikir dan idenya masing-masing yang kompleks. Sehingga menjadi sebuah reduksi jika kita kemudian membayangkan jika membicarakan anarkisme khususnya sebagai lensa untuk memandang realitas lalu kita menyimpulkan bahwa spiritualitas adalah suatu hal yang patut dihancurkan dengan alasan itulah “obat mujarab” ala anarkisme. Sosok Tolstoy misalnya justru memiliki “diagnosis” berbeda bahwa yang bermasalah bukan spiritualitasnya an sich tetapi  justru mengingkaran terhadap spiritalitas yang “asli” tersebut.

Tentu saja Tolstoy bukanlah satu-satunya tokoh “anarkis religius”. Masih banyak tokoh lain baik dari tradisi kristen atau non kristen yang memiliki idenya masing-masing dalam melihat anarkisme dan spiritualitas tidak secara biner. Adanya tokoh-tokoh yang beragam tersebut tentunya membuat kita paham bahwa anarkisme sebagai sebuah body of knowledge sangatlah luas. 

Sebagimana marxisme, secara akademis kita tidak boleh berhenti pada satu atau dua tokoh saja tetapi beragam tokoh yang muncul dalam tradisi marxisme bahkan postmarxis sehingga pengetahuan kita terhadap kajian anarkisme menjadi semakin luas dan mendalam. Hal ini tentunya semakin berguna ketika kita ingin memakainya sebagai kacamata untuk melihat realitas, dimana kita dapat menghindari cara pandang “kacamata kuda” yang melihat realitas secara parsial saja.