Logical fallacy didefinisikan sebagai kesalahan dalam penalaran yang menyebabkan suatu argumen menjadi tidak valid. Kesalahan ini dapat dibagi dua menjadi formal fallacy dan informal fallacy

Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada ada atau tidaknya kaitan dengan konteks dan konten suatu argumen. Formal fallacy merupakan kesalahan logika yang tidak berkaitan dengan tata bahasa dan konteks argumen. 

Untuk mengetahui apakah suatu argumen terbebas dari formal fallacy, seseorang hanya perlu memperhatikan struktur argumen tersebut tanpa mengevaluasi konteks. Sementara itu, informal fallacy merupakan kesalahan logika akibat konten dan konteksnya ketimbang bentuknya.

Dalam bukunya, Illustrated Book of Bad Arguments, Ali Almossawi memaparkan contoh-contoh kesalahan logika yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik formal maupun informal. 

Contoh untuk kesalahan formal yang dibahas dalam buku ini hanya satu, yaitu affirming the consequent. Kesalahan ini terjadi karena seseorang salah dalam memahami struktur sebuah argumen yang valid. Misalnya saja pada pola argumen berikut:

Jika A, maka C (A ; maka C). Berdasarkan pola tersebut, maka dalam kasus ini:

  • Jika air mendidih pada permukaan laut, maka suhunya paling tidak adalah 100°C
  • Segelas air ini mendidih pada permukaan laut
  • Suhu segelas air ini paling tidak adalah 100°C


Namun, pada keseharian kita, sering kali orang-orang salah mengambil kesimpulan dengan memanfaatkan pola berikut. Pola yang salah sebenarnya, tetapi tidak disadari.

Jika A, maka C (C; maka A). Misalnya pada argumen berikut:

  • Orang-orang yang kuliah lebih sukses dalam hidup
  • Joni adalah orang yang sukses
  • Joni pasti sudah kuliah


Kesimpulan seperti ini tentunya tidak bisa diterima karena sukses atau tidaknya seseorang itu tidak hanya ditentukan oleh perkuliahan. Bisa saja dipengaruhi faktor kerja keras atau kepribadiannya yang baik. 

Sementara itu, berikut adalah beberapa macam informal fallacy beserta contoh yang diilustrasikan dalam buku karya Ali Almossawi ini:

1. Argument from consequences; ini terjadi ketika seseorang mendukung atau menentang sebuah pernyataan dengan memanfaatkan akibat jika pernyataan tersebut diterima atau ditolak. 

Baca Juga: Logika Iman

Misalnya, untuk menentang argumen Para ahli setuju bahwa limbah kotoran sapi dapat merusak planet ini, seseorang lalu mengatakan, Jika tidak ada sapi di planet ini, berarti kita harus berjalan ke mana-mana dan hal itu sangat buruk bagi kita. Jadi, emisi sapi tidak merusak planet ini.

2. Straw man;  ini terjadi ketika seseorang mengubah suatu argumen dengan sengaja dengan tujuan menyerang argumen yang sudah diubah tersebut ketimbang argumen yang sebenarnya.

Argumen straw man biasanya lebih absurd dibandingkan dengan argumen sebenarnya, sehingga lebih mudah untuk diserang.

Misalnya, seseorang yang menentang teori evolusi dengan mengatakan, Lawan saya mencoba meyakinkanmu bahwa kita berevolusi dari monyet yang berayun di pepohonan, benar-benar pernyataan yang menggelikan. Kenyataannya, menurut teori evolusi, yang dianggap berkerabat dekat dengan manusia adalah kera, bukan monyet.

3. Appeal to irrelevant authority; ini terjadi saat seseorang merasa kurang berpengetahuan dalam suatu permasalahan, sehingga merujuk pendapat orang lain yang lebih paham. Sayangnya, pendapat yang dijadikan rujukan ini berasal dari mereka yang bukan ahlinya.

Sebagai contoh: Berabad-abad yang lalu, orang-orang biasa tidur selama 9 jam semalam. Berarti, kita juga harus tidur selama 9 jam pada zaman ini.

4. Equivocation; ini terjadi ketika seseorang menggunakan ambiguitas bahasa dalam mengemukakan pendapat untuk mendukung suatu kesimpulan. Misalnya penggunaan kata tanya ‘mengapa’ dalam diskusi sains dan agama. 

Kata tanya ‘mengapa’ dalam sains digunakan untuk mencari ‘penyebab’ terjadinya sesuatu, sedangkan ‘mengapa’ dalam agama umumnya digunakan dalam memahami ‘tujuan’ atau ‘alasan’ keberadaan sesuatu.

Sains tidak dapat menjelaskan mengapa sesuatu dapat terjadi. Mengapa kita ada? Mengapa kita harus bermoral? Karena itu, kita membutuhkan sumber lain untuk menjelaskan mengapa sesuatu dapat terjadi.

5. False dilemma; merupakan argumen yang menghadirkan dua kategori yang mungkin serta mengasumsikan bahwa segala sesuatu yang berada dalam topik yang dibahas pasti termasuk dalam salah satu kategori tersebut. Jika 1 kategori ditolak, kategori lainnya harus diterima.

Misalnya pada kisah seorang lelaki yang membeli burung kakaktua dari sebuah toko karena burung tersebut tidak dapat berbicara. Setelah beberapa kali kunjungan ke toko itu, sang pemilik toko akhirnya mengatakan:

Ah, tentu saja! Anda menginginkan burung kakaktua yang dapat berbicara. Aku telah memberikan burung kakaktua yang mampu berpikir.

Padahal kenyataannya tidak selalu orang yang cerdas adalah orang yang pendiam, dan tidak selalu orang yang banyak berbicara adalah orang yang bodoh.

6. Not a cause for a cause; kesalahan ini terjadi ketika seseorang mengasumsikan kejadian yang mendahului kejadian lain bertindak sebagai penyebab, meski kenyataannya dua kejadian tersebut tidak memiliki hubungan sebab akibat.

Misalnya seseorang yang berkomentar seperti ini: Peretas itu mengacaukan situs perusahaan kereta api dan ketika aku mengecek jadwal kereta yang tiba, kalian tahu tidak? Semua kereta tersebut tertunda kedatangannya!

7. Appeal to fear; hal ini terjadi saat seseorang menakut-nakuti lawan bicara dengan memberikan bayangan mengenai suatu masa depan yang menakutkan jika suatu pernyataan diterima.

Misalnya: Jika kandidat X dari FISIP terpilih sebagai rektor, dia pasti akan memprioritaskan fakultas asalnya, sehingga pembangunan FMIPA menjadi tersendat. Karena itu, pilihlah saya, perwakilan terbaik dari FMIPA ini!

8. Hasty generalization; kesalahan ini terjadi karena penarikan kesimpulan yang mengandalkan jumlah sampel yang tidak mewakili populasi. Misalnya:

Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan terhadap 10 warga Jakarta, disimpulkan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia tidak setuju dengan kebijakan tax amnesty yang diberlakukan akhir-akhir ini.

9. Appeal to ignorance; merupakan asumsi bahwa suatu pernyataan adalah benar karena tidak ada yang membuktikan pernyataan tersebut salah, atau kurangnya kemampuan seseorang dalam membuktikannya.

Sebagai contoh: Bagaimanapun, mustahil membayangkan bahwa bumi itu bulat. Karena itu, bumi pastilah datar.
 
10. No True Scotsman; terjadi saat seseorang secara acak membuat definisi baru tentang siapa saja yang termasuk dalam suatu kategori atau kriteria tertentu. Kesalahan ini disebutkan oleh Antony Flew dalam bukunya, Thinking about Thinking. Dia memberikan contoh yang belakangan menjadi dasar dalam penamaan kesalahan logika ini:

Hamish sedang membaca surat kabar dan tiba pada sebuah kisah tentang orang Inggris England) yang melakukan kejahatan mengerikan. Hamish bereaksi dengan mengatakan, Tidak mungkin orang Skotlandia melakukan hal seperti itu.

Besoknya, saat Hamish menemukan kisah seorang Skotlandia yang melakukan kejahatan yang lebih mengerikan, ia berkata, Tidak mungkin orang Skotlandia ‘sejati’ melakukan hal seperti itu.

11. Genetic fallacy; terjadi saat suatu argumen dibantah atau dipertahankan semata karena sejarahnya. Misalnya: Karya-karya angkatan Pujangga Baru tidak bisa lagi dijadikan acuan bagi kesusastraan Indonesia pada saat ini.

12. Guilt by association; merupakan suatu upaya mendiskreditkan argumen dengan menyatakan bahwa ide yang sama juga dimiliki oleh kelompok tertentu yang dianggap sebagai musuh.

Sebagai contoh: Lawan saya mengajukan suatu sistem pelayanan kesehatan yang menyerupai sistem di negara-negara sosialis. Tentu saja hal itu tidak bisa diterima.

13. Appeal to hipocrisy; kesalahan ini melibatkan upaya penyanggahan suatu tuduhan dengan tuduhan lain, alih-alih langsung menyanggah masalah yang sedang dibahas. 

Misalnya: Lelaki ini salah karena ia tidak punya integritas, tanyakan saja padanya mengapa dirinya dipecat dari pekerjaannya baru-baru ini.

Yang disanggah dengan: Begitukah? Bagaimana dengan bonus besar yang kau terima tahun lalu padahal perusahaanmu melakukan PHK waktu itu?

14. Appeal to the bandwagon; terjadi saat seseorang mengajukan argumen dengan memanfaatkan fakta bahwa sejumlah orang, bahkan mungkin mayoritas orang mempercayai suatu hal, sehingga argumen tersebut pasti benar. 

Kesalahan ini sering digunakan dalam iklan maupun kampanye politik. Misalnya: Semua lelaki keren menggunakan gel rambut, jadilah seperti mereka! dan Orang cerdas pasti pilih partai Z.

15. Ad hominem; argumen ad hominem menyerang karakter seseorang alih-alih argumen yang bersangkutan dengan tujuan mengalihkan arah pembicaraan sekaligus mendiskreditkan argumen tersebut. 

Terdapat dua tipe argumen ad hominem, yaitu abusif dan sirkumstansial. Argumen ad hominem abusif menyerang lawan tanpa memberikan dampak menguntungkan bagi si penyerang. Sementara itu, argumen ad hominem sirkumstansial menyerang seseorang secara sinis dengan menilai niat pihak lawan. Misalnya:

  • Kamu bukan ahli sejarah, urus saja bidangmu sendiri. (ad hominem abusif)
  • Kamu sebenarnya tidak peduli dengan upaya penurunan kriminalitas di kota ini, kamu hanya ingin orang-orang memilihmu (ad hominem sirkumstansial)


Setelah membaca penjelasan di atas, rasanya setiap argumen yang akan kita utarakan harus diperhatikan baik-baik agar bebas dari kesalahan logika. Karena tak jarang kesalahan tersebut justru berawal dari keinginan untuk menyanggah argumen pihak lain tanpa memiliki bukti yang memadai atau justru terbawa nafsu sesaat untuk sekadar memenangkan perdebatan.

Semoga penuh manfaat.

Referensi: