Hidup dalam entitas yang dualistis acapkali merajang disparitas perspektif. Dualisme manusia dan alam membuat sistem kosmik menjadi tidak seimbang tamsil dua raja dalam satu kerajaan. Paradigma antroposentris mengklaim alam semesta sebagai bagian dari koloni. Menerka alam sebagai objek.

Sementara alam mendesain hukumnya sendiri. Manusia hanya partikel kecil dalam kehampaan akbar. Hal itu mengisyaratkan bahwa biarlah politik semesta meri’ayah keberlangsungan hidup manusia.

Argumentasi yang dikotomis membuat manusia berpotensi merusak kemurnian alam. Begitu juga sakralisasi alam yang hiperbolis memproduksi masyarakat primitif yang membonsai tuhan melalui alam. Pandangan dikotomi mengartikulasi manusia untuk menghegemoni.

Manusia dengan kapasitas akal mengelaborasi ilmu pengetahuan. Menelusuri enigma yang dikandung oleh alam. Mulailah praktek menjajah berdalih eksplorasi. Dalam proses penaklukan, manusia mengeksploitasi fasilitas alam. Homo safiens berkidung di titik kulminasi. Selebrasi atas prestasi menjarah pusaka alam.

Post-modernisme menjadi puncak fase perjalanan kecerdasan manusia. Menyajikan berbagai informasi  dalam bentuk digital. Lebih banyak berinteraksi dengan mesin. Suka duka dirapalkan di dalam layar. Jagat maya seolah buana yang nyata.

Karya cipta manusia mutakhir membuat segala sesuatunya menjadi terasa lebih efisien. Included menyimpan data perlahan tak lagi menggunakan berkas berbentuk kertas simpelnya hanya dalam bentuk file.

Kertas yang menjadi kebutuhan manusia modern beringsut tergantikan oleh digitalisasi dokumen. Pesatnya kemajuan di bidang teknologi informasi dan komputer menyebabkan manusia menemukan alternatif dalam menggunakan media baca yang berbentuk softfile. Mulailah mengintroduksi Going Paperless menuju masyarakat tanpa kertas.

Di sisi lain masih banyak yang terbiasa memperoleh informasi melalui media kertas. Lebih khusyuk membaca buku tidak dalam bentuk file dekumen. Jadi, untuk mengubahnya perlu edukasi dan sosialisasi yang signifikan. Karena mengubah habit tak semudah menyibak tirai jendela. Atau keduanya memungkinkan untuk digunakan?

Banyak orang mabuk dan ngantuk saat membaca buku dalam e-decument. Lain halnya ketika berbentuk lembaran kertas, nuansa yang berbeda sehingga pembaca nyaris terhanyut dan tenggelam di dalam teks. 

Oleh sebab itu mengurangi penggunaan kertas sebaiknya perlu. Mungkin pada hal-hal yang sifatnya tidak terlalu dibutuhkan. Namun untuk menghilangkannya secara totalitas juga tidak terlalu tepat.

Diskursus kertas mulai mengeras untuk diberantas. Keriuhan dipicu oleh tontonan dramatis berupa pohon yang terus dipotong, menggundulnya gunung, serta hutan yang makin menyusut. Lalu logiskah menyalahkan kertas atas alam yang sudah tidak utuh?.

Selayang pandang kertas diambil dari kayu yang diolah melalui teknologi modern jaman now. Sementara kayu yang paling banyak digunakan adalah jenis akasia tepatnya akasia mangium atau latinnya disebut acacia mangium Wild. Dilaporkan Luas areal hutan akasia mangium di Indonesia mencapai 67% dari total luas areal di dunia.

Disebutkan pula sekitar 80% dari areal hutan tanaman di Indonesia yang dikelola oleh perusahaan negara dan swasta terdiri dari akasia mangium. Lebih jauh lagi sekitar, 1,3 juta ha hutan tanaman akasia mangium telah dibangun untuk tujuan produksi kayu pulp, bahan yang digunakan untuk pembuatan kertas.

Tak ayal jika dinas kehutanan provinsi kepulauan Bangka Belitung merekomendasikan pohon akasia sebagai solusi terhadap polusi yang kian menghebat di sekitar kita. Akasia dilirik sebagai alternatif hutan alam terhadap labilnya ekosistem.

Selain sebagai payung teduh yang hijau merindang, yang terpenting mampu berperan sebagai penetral menyerap unsur-unsur polusi. Apatah lagi laju pertumbuhan pohon tersebut sangat pesat.

Kembali bicara kertas, berapa banyak pohon yang ditebang untuk menghasilkan satu buah buku?. Eksistensi pohon di dalam hutan berfungsi sebagai daerah resapan air, paru-paru dunia untuk menjaga kestabilan iklim. 

Barang kali pertimbangan ekologis sehingga paperless society marak disosialisasikan. Seberapa persen sumbangsih kertas terhadap kerusakan hutan?.

Argumen pragmatis kerap dijadikan dalil. Sebab faktor portable sehingga tidak mengindahkan penggunaan kertas. Bahwa ratusan file dalam USB flash drive lebih ringan dari satu buah buku. Inipun tidak menandakan adanya gerakan anti kertas.

Namun jika betul alasannya terkait persoalan ekologi, maka yang demikian patut dipertimbangkan. Dengan menyua fakta konkrit dan kevalidan data bahwa Akasia diambang kepunahan dan berpengaruh terhadap keanekaragaman bencana di berbagai daerah. 

Reaksi harus inheren dengan realitas. Justru persentase menunjukkan 88% kerusakan hutan disebabkan oleh illegal logging.

Banteras kertas bukan benang merah. Diagnosa illegal logging dengan resep obat Paperless society malah memperparah  suasana. Semacam defisit silogisme dalam menarik inferensi di tiap premis-premisnya.

Kuncinya terdapat pada bagaimana manusia mempersepsi alam. Terutama mereka yang menentukan kebijakan. Baik kepada kaum elit politik maupun  sistem yang diterapkan.

Makanya para penggergaji kayu masih eksis menutuh batang dan ranting. Menyulut belukar untuk ditukar. Di Sumatera 80 persen hutan dibumihanguskan lalu disubtitusi oleh industri kelapa sawit. Kekurangan informasi melahirkan arogansi untuk cepat-cepat menuduh kertas sebagai biang kerok segala kerusakan alam.

Di antaranya banyak yang terjebak  dalam kerangkeng ambivalensi. Senang dengan gaya hidup hijau namun mengkonsumsi informasi berbahan baku dari pohon yang telah ditebang. Ibarat mahasiswa yang kerap berpose di puncak, menghabiskan akhir pekan di ketinggian 2830 Mdpl.

Meria dengan lingkungan natural, tapi aktivitas keseharian bergelut dengan kertas. Tidak sadar kalau kecintaan akan pohon yang bershaf-shaf  tereduksi oleh kinerja meracik perca-perca kertas. Mestinya keluar dari kontradiksi-kontradiksi tersebut.

Solusi urgen menjaga harmoni manusia dan lingkungannya adalah dengan memunculkan kesadaran. Baik kesadaran akan fakta kerusakan. Maupun kesadaran untuk mau memperbaikinya. Akan tetapi kesadaran paripurna harus lahir dari proses berpikir mendalam, yakni kesadaran teologis.

Mengkonstruksi kesadaran manusia dalam persfektif ilahia. Melakukan kontemplasi secara radikal mempertanyakan eksistensi manusia. Ada apa sebelum ada?. Manusia dari mana, untuk apa dan mau kemana?. Kenisbian manusia kerdil di hadapan Tuhan yang transenden. Maka problem solving­ mesti datang dari yang Maha benar.

Keresahan yang menjadi simpul besar itulah memantik manusia berlaku adil dalam berdampingan sesama makhluk. Kesadaran menyemburat dalam refresentasi. Menuntut perwujudan dalam bentuk tindakan. Baik kesadaran ekologis, maupun kesadaran teleologis sebetulnya derivasi dari awareness akan kebenaran Tuhan sebagai pencipta.

Dengan begitu fokalisasi dalam menilai konsepsi alam dan manusia bukan lagi sebagai dua entitas yang saling berkonfrontasi melainkan dua makhluk yang beriring-iringan bertasbih kepada Omnisains. “Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepadaNYA” demikian pesan yang termaktub dalam Kur-an.

Dalam falsafah islam dijelaskan manusia dan alam dipandang bukan sebagai subjek-objek. Menggunakan tools alam hakikatnya untuk menunjang dan memudahkan manusia dalam membangkitkan gairah ubudiah.

Begitu juga memanfaatkan akasia mangium harus dengan idrak semata-mata medium memantaskan diri menjadi pribadi yang eling. Bukan menjadikannya sebagai aparatus yang rakus. Kapitalis yang materialistis. Melainkan wasilah menapaki jejak-jejak spiritual menuju Tuhan.

Masih terngiang dalam benak bahwa kertas memberikan sumbangsih terbesar kepada peradaban dunia. Mengeja alif ba ta tsa dan a b c terilhami melalui teks-teks dalam kertas. Kertas hadir menjadi pelita terhadap tuna-aksara ummat manusia.

Oleh sebab itu dari sekarang mulailah beringsut mengaktifkan kesadaran. Senantiasa mengevaluasi diri berevolusi menjadi kesadaran kolektif. Kepentingan komunal mendahului keinginan individual. Altruisme menggusur egoism.

Memanfaatkan akasia mangium dengan nawaitu bukan untuk keserakahan melainkan investasi peradaban tidak akan menyebabkan malapetaka sebab kesadaran teologis akan menuntut untuk menuntun terus merawat hutan namun tetap menggunakan kertas.

Sebagaimana data disebutkan bahwa sponsor terbanyak akan kerusakan hutan 88 persennya akibat ulah tangan yang berlumuran dengan dosa dan faktanya 88 persen itu tidak datang dari industri kertas. Kenapa tidak mencipta suasana menghijau dengan kertas?. Manfaat kertas masih tetap dinikmati, demikian juga alam hijau kian lestari.

Depiksi hijau dalam masyarakat Islam sebagai simbol kesempurnaan hidup. Beberapa surah menjelaskan pakaian kelak di surga berwarna hijau. Maka bisa dimaknai menghijau identik dengan sikap takwa maksudnya bertakwa adalah terikat dengan hukum-hukum Tuhan secara kaffah.

Oleh sebab itu menghijau dengan kertas disimpulkan menggunakan kertas sebagai sarana dalam berislam secarah menyeluruh. Tentunya memakai kertas atas asas kesadaran teologis. Dengan demikian pohon yang menjadi bahan pembuatan kertas juga dialokasikan tanpa mengurangi kuantitas hutan yang berperan sebagai paru-paru dunia.

Alqur’an mengultimatum bahwa manusia  merupakan aktor perusak di laut dan di daratan. Mengutip adagium Rocky Gerung bahwa eksploitasi alam oleh manusia terjadi akibat eksploitasi manusia terhadap sesamanya. 

Dengan begitu solusi untuk menghijaukan bumi, terlebih dahulu hijaukan dulu manusianya. Dan manusia hanya akan menghijau lewat membaca dan talaqqi.

Menghijau secara literal adalah kampanye baik melalui media kertas maupun digital,  untuk berhenti meratakan hutan dengan orientasi kapitalistis. Bukankah indah menatap daunnya menjulang ke langit, akarnya menghunjam ke dalam bumi. Mekaran bunga yang kian mewangi. Hingga menyaksikan fenomena buah menguning meluruh dari tampuknya?.

Menghijau dari cara pandang skriptual yakni fi’il amr dalam kamus islam yang mengindikasi untuk mendawat kertas serta merawat hutan tapi semata-mata idrak kepada Allah. Karena inna sholati, manusuki, wa mahyaya, wa mamati lillahi rabbil ‘alamin (Sesungguhnya sholatku, perjuanganku, hidup dan matiku hanya untuk Tuhan semesta alam)

Hikmah kertas menjaga keotentikan teks sumber primer hukum islam kurang lebih 14 abad lamanya. Sejalan dengan itu, Islam memerintahkan untuk iqra’ tetapi juga menginstruksikan untuk tidak merusak keseimbangan alam. Was syajaru yas judan. Tetumbuhan dan pepohonan keduanya tunduk kepada-NYA.