“Usang dan kurang relevan”. sering di hujatkan atas pemikiran Karl Marx. Benarkah demikian? Semoga saja opsi pemikiran itu tidak terbelenggu oleh hegemoni politik atau pemikiran yang parsial dan kurang mendasar untuk menyatakan kritik.

Belum lagi ancaman tanpa dasar dengan julukan “kamu komunis” akan memberangkus dan menenggalamkan semangat pencarian. Nalar sudah takut dan terbelenggu oleh ketakutan-ketakuan yang diakibatkan oleh kekuatan-kekuatan pada waktu itu hingga menciptakan kecelakaan kemanusian.

“kita sudah memasuki era postmodern, lebih baiknya kamu fokus untuk menggali substansi pemikiran postmo”. Celotehan itu aku tangkap dari kawan yang keduanya membuat lingkup kecil untuk membicarakan relevansi pemikiran marx hari ini.  

Memahami ilmu dalam filsafat ilmu mempunyai tatanan menjadi tiga bagian; Epistemologi, aksiologi dan ontologi. Penalaran secara parsial memberangkus nalar sehat, hingga lupa sebenarnya susbtansi pemikrian postmodern terlahir dari dialektika atas pemikiran Marx secara fair.

Bukan berarti kita menggali dan menyelami dunia pemikiran Marx, kita adalah pengagum marx yang fundamen. Akan tetapi proses pencarian ilmu ini sebagai bentuk pencarian untuk mencari jalan penentuan proses berfikir menciptakan pemahaman yang lebih bijak dan terukur, walaupun saya sendiri belum bijak.

Karlina Supeli menyampaikan bahwasannya tidak ada kebenaran yang mutlak, selama ada akal yang terus menggali untuk mendapatkan sebuah kebenaran-kebenanran alternatif. Kebenaran itu didapatkan dari proses aktif subyek untuk menggali dan mencari suatu ilmu pengetahuan.

Tulisan ini, mencoba untuk mendedah dinamika pemikiran Marx yang mampu memberikan efek berupa pertaruangan pemikiran hingga menciptakan opsi pemikiran baru, hingga menciptkan beberapa pemikiran dari Marxian klasik hingga neo marxis yang mengangkat tokoh seperti; Horkheimer, Thodore Adorno, Hingga habermas.

Awal Mula

Sosialisme, Marxisme, Neo Marxis hingga munculnya pemikiran Modern, mempunyai korelasi dan keterkaitan dengan pola pemikiran sosialisme. Kondisi sosial pada waktu itu di Eropa menciptakan goncangan kuat karena maraknya industrialisasi.

Liberalisme yang identik dengan kebebasan tidak bisa dipungkiri menciptakan pengembangan dan penguatan individu untuk berkreasi tanpa batas. Walhasil individu berlomba untuk menciptakan mesin produksi untuk mendapatkan aliran dana atau terpaksa dan dipaksa oleh sistem industry pada waktu itu.

Kerusakan lingkungan dan sengangnya individu karena konstruk industri ini, merenggangkan substansi manusia untuk bisa hidup layaknya manusia yang identik dengan gotong royon dan saling menyokong satu sama lain.

Kompetisi yang tidak sehat rentan terjadi pada waktu itu di Eropa. Orang miskin dan tak berdaya dilupakan hanya untuk sebongkah emas dan kekayaan yang digunakan untuk kemakmuran individu tertentu.

Robert Owen (1771-1858) pengagas epistemologi sosialisme mengkritik terkait intrik kapitalisme yang tidak sinkron hingga menyengsarakan masyarakat. Dalam bukunya Owen A New View Of Society (1816) menyatakan intinya bahwa transformasi hakikat manusia menciptakan sebuah perubahan dalam lingkungan.

Situsi kebudayaan di Eropa pada waktu mengalami perubahan yang drastis hingga kehidupan Eropa klasik dihujam oleh kerasnya kapitalisme. Owen memberikan sebuah rekomendasi agar membangun gerakan bersama yang kolektif dalam menciptakan sebuah perubahan sosial.

 Pola pemikiran sosialisme ini juga pernah digunakan oleh beberapa tokoh perjuang di Indonesia untuk melawan kolonialisme di Indonesia. Saripati sosialisme menurut Sjahrir berbeda dengan sosialisme di Eropa. Sjahrir menggunakan dasar pemahaman sosialisme yang disesuaikan dengan “kerakyatan” ala Indonesia pada waktu itu. PSI (Partai Sosialis Indonesia) pada tahun 1955 ini, sebagai bukti perjuangan Sjahrir walaupun akhirnya ia diasingkan karena faktor politik.

Pemikiran sosialisme mengalami perkembangan hingga menciptakan beberapa klasifikasi sosialisme seperti; Sosialisme Revolusioner dan Sosialisme Evolusioner. Perubahan kedua aliran itu lebih kepada bagaimana memandanga kapitalisme.

Sosialisme Revolusioner lebih kepada menentang secara keras dan radikal hingga tidak mau sedikitpun terciprat oleh pemikiran kapitalisme. Penggulingan rezim secara politik tidak lagi bisa dihindarkan untuk merebut kekuasaan kolonial dan para pemodal yang rakus.  

Gerakan itu berlangsung pada fase akhir perang dunia ke-2 yang banyak mendominasi pada wilayah Asia Tenggara dengan menggerakan opsi gerakan senjata untuk membredel kolonialisme di Vietnam, China, bahkan Indonesia.

Segmen sosialisme evolusioner lebih menekankan pada ekletik untuk menggunakan opsi baru pada jalan parlementer dan lebih demokratis. Salah satu tokoh yang memperjuangkan hal ini yaitu Fabian Society.

Fabian Society (1884), yang disokong oleh Beatrice Web (1858-1943) dan Sidney Web (1859-1947). Gerakan mereka bisa dikatakan sangatlah lembut untuk bermuka dua dalam membangun gerakan. Mereka tidak menggunakan gerakan yang berdarah dan bersenjata untuk merubah sebuah kondisi tertentu.

Salah satu alat yang digunakan kelompok Fabian Society yaitu dengan memakai kemasan politik untuk memberikan pengaruh secara luas dalam merubah sebuah sistem sosial. Pendidikan adalah target agar diperkuatkannya bibit-bibit pemikiran sosialisme.

Ketika kekuatan politik telah dikuasai, maka disitulah sumber menejemen dan regulasi dapat dibentuk berdasarkan ruh-ruh sosialisme. Bila kita bandingkan dengan sosialisme revolusioner. Pergerakan ini lebih lembut dan tenaga yang digunakan lumayan masif. 

Kapitalisme mengalami perubahan yang sangat begitu drastis. Mereka tidak stagnan seperti apa yang dikritik oleh Robert Owen, Bahkan Marx. Kapitalisme mampu merekontruksi diri dengan kepiawaian pengaruh modal terhadap regulasi.

Lahirlah pemikiran dari Karl Kautsky (1854-1938) yang menyampaikan bahwasannya kapitalisme itu suka menyuruh bukan lagi memerintah. Dalam hal ini ia lincah untuk menyuruh pemerintah ataupun penguasa atas hubungan timbal balik berdasarkan pada kesepakatan yang ditetapkan. Dan lagi rakyat lemah yang menjadi korban

Secara garis besar, opsi pemahaman sosialisme Robert Owen mengalami perkembangan karena munculnya gagasan baru atas dasar kritik yang dilakukan oleh Karl Marx dan Frederich Engels (1820-1895) di Jerman.

Marx dan Engels lebih menekankan pada ketidak sepakatan dengan kapitalisme apapun itu. Menentang dan menghancurkan adalah opsi paling konkrit menurutnya.

Pergulatan di mulai

 Karl Marx dan Frederich Engels dengan teorinya yaitu Materialisme dan Historis, mendedah realitas yang dimana pada waktu itu kapitalisme mempunyai kuasa yang sangat begitu kuat.

Materialisme Historis digunakan Engels dan Marx untuk menentang konsep pemikiran Hegel pada waktu itu. Walaupuan banyak yang tidak setuju terhadap pola konsepsi pemikiran Hegel, namun ada satu yang disetujui Marx dan Engels yaitu tentang dialektika.

Apa yang menyebabkan Marxisme muncul? Awal munculnya marxisme klasik dimulai dari kritik reformator Prancis, Saint Simon (1760-1825) mengenai sosialisme yang utopis. Memperjuangkan sebuah transformasi sosial tanpa adanya sebuah revolusi sangatlah mustahil menurut Marx.

Keterkaitan antara substruktur dan suprastruktur merupakan sebuah teori pemahaman dari Marx dan Engels. Mereka lebih menganggap bahwasannya substruktur yang berupa kondisi perkonomian akan mempengaruhi suprastruktur sepert; Politik dan Ideologi.

Marx lebih menekankan bagaimana kekuatan perekonomian untuk bisa mempengaruhi kondisi sosial secara luas. Lebih dalam lagi, Marx menganalisis lebih kepada determinisme ekonomi. Menjadi pengaruh dasar atas beberapa suprastruktur seperti; politik, sosial dan kebudayaan yang akan dipengaruhinya.

Bila kita kontemplasikan pada kondisi hari ini, ekonomi masih menjadi dasar atas kondisi sosial. Ekonomi adalah pelumas atas masyarakat. Stabil ataupun kisruh kebanyakan diakibatkan oleh bagaimana kondisi ekonomi pada diri  individu atau kelompok.

Lihat saja kerusuhan atas penolakan UU Omnibuslaw yang menggambarkan secara nyata, gerakan yang diimpikan oleh Marx muncul dengan sifat yang lumayan anarkis untuk merubah sektor produksi atau hanya melampiaskan kemarahan mereka kepada regulasi yang menurut mereka tidak memiliki keberpihakan.

Kritik Marx yang mengklaim dirinya ilmiah untuk membuktikan bahwasannya terjadi sebuah kesenjangan yang membuat menderita para buruh. The Communist Manifesto (1881), Marx bersama sobatnya Engels menguliti faktor terburuk dari komodifikasi yang akan ditimbulkan oleh kapitalisme. Pertarungan antar kelas tak bisa dihindarkan.

Nilai lebih namanya. Marx mengartikan nilai lebih kepada penghisapan atas komoditas yang telah dibuat oleh si pemodal, akan tetapi secara hubungan timbal balik, buruh selalu digaji dengan nominal yang kecil. Belum lagi kepada Alienasi yang semakin mempersempit pola hubungan sosial.

Marx juga mengkritik pola kapitalisme yang mengakibatkan alienasi. Alienasi secara harfiah mengarah pada peralihan semangat ataupun substansi dari manusia untuk bergerak berdasarkan semangat kebersamaan yang tertanam didalam manusia itu sendiri.

Regulasi di dalam perusahaan ataupun lingkup komoditas memberikan konstruk secara tegas, agar para buruh mematuhi segala bentuk regulasi untuk mendapatkan gaji atau income yang ditetapkan.

Regulasi di dalam pabrik yang dimana sangatlah mekanistik, walhasil mereka akan bergerak dan bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan. Acuh kepada kondisi sekelilingnya menjadi hal yang lumrah. Memenuhi hidup untuk mendapatkan cuan belumlah cukup menurut marx.

Ada hak yang esensial yang dipaksa untuk dihilangkan karena regulasi yang lumayan sistematis itu. Bahkan Wiliam Blake (1757-1827) melukiskan bagaimana kondisi Inggris yang semakin hari semakin kotor karena faktor industrialisasi, berdampak untuk merubah mindset awal orang inggris yang mempunyai jiwa kolektif berubah menjadi kompetitif yang rakus.

Masyarkat menjadi acuh, kondisi biologis yang mulai terkena dampak, dengan di contohkannya spesies kupu-kupu putih menjadi kupu-kupu hitam di Inggris sebagian kecil gambaran terhadap kondisi ekologis di Inggris. Lalu lasih relevankah pola pemikiran Marx pada hari ini?

Kondisi populer hari ini dengan munculnya reaksi alam atas kerusakan yang dideritanya; Banjir, longsor dan kekeringan adalah cikal bakal dari eksploitasi ala kebebasan yang menghujam bumi ini. Karl Marx menyinggung perihal alam, bahwasannya alam adalah satu kesatuan dari manusia dalam satu konsep material yaitu bumi ini.

Pola pikir ini sering dianggap sebagai pemikiran tradisional oleh para liberalis dalam memandang dan memahami dunia. Berhektar-hektar lahan dibabat untuk memperluas lahan industry adalah hal biasa. Individu memiliki kebebasan untuk memberi kebijakan ini. Eksploitasi adalah bagian dari intrik-intrik liberal.

Peranan kaum filantropis dengan memberikan sejenis CSR (Corportate Social Responbility) menambah rabun masyarakat betapa bahanya eksploitas semacam itu. Bisakah masyarakat sadar dengan hal ini? Itu semua didasari atas interes untuk memahami secara kritis akan segala ritme-ritme liberal.

Hasil dari pemikiran Karl Marx mengalami perkembangan dengan munculnya pemikiran baru seperti komunisme ortodoks dan Neo- Marxisme. Komunisme ortodoks didasari atas Vladimir Ilich Lenin yang menggunakan epistemologi pemikiran marx digunakan untuk kepentingan pertarungan politik.

Pada fase komunisme ortodoks dinilai berbeda total dari prototipe pemikiran Karl Marx dan Frederich Engels  –Marxian klasik. Memasuki abad ke-20 mereka menggunakan partai sebagai alat untuk memperjuangkan masyarakat yang tergabung dalam kepercayaan ideology berupa komunisme.

Sentralisme demokratik merupakan prototipe yang ditawarkan oleh V.I Lenin agar memiliki alat untuk mengawal para buruh demi kepentingan mereka. Dinamika kekuasan komunis ala lenin mengalami peralihan dengan digantikan pemimpin baru yaitu Joseph Stalin (1924-1935).

Joseph stalin menggunakan rencana taktis pembangun selama lima tahun dengan karakter kolektif untuk kepentingan masyarakat komunis ala Uni Soviet pada waktu itu. Tonggak revolusi kedua dimulai pada 1930-an dikenal revolusi oktober.

Namun konsep pemikiran yang ditawarkan oleh Joseph Stalin sangatlah jauh dari semangat juang kolektivisme. Naas, yang terjadi malah berupa pembredelan secara brutal, oleh beberap tokoh yang diindikasi tidak sejalan dengan rezim kala itu. Yang terjadi malah kekolotan dan kesaklekan.

Perjalan panjang dengan menggunakan epistemologi pemikiran marx belum berakhir. Neo- Marxis belum kita dedah. Bagaimana pola pemikiran dari pemikran Neo- Marxis? Mari kita dedah!

Aliran Neo-Marxis muncul atas reifikasi pola pemikiran marx yang mengalami kritik karena disesuaikan dengan kondisi yang disesuaikan dengan waktu. Aliran neo marxis ditandai dengan berdirinya Mazhab Frrankfurt yang memberikan kritikan terhadap pola pemikiran marx.

Max Horkheimer (1895-1973), memulai pergulatannya dan dinobatkan sebagai tokoh angkatan pertama dalam Mazhab Frankfurt. Salah satu yang mendasari Horkheimer yaitu tentang kriti pola piki marx yang harus direifikasi.

Lantas apa yang ditawarkan oleh Horkheimer untuk koreksi pemikiran Karl Marx? Horkheimer mengkiritisi tentang gerak revolusioner buruh sebagai bentuk perlawanan konkrit terhadap kapitalisme.

Merebut sistem pasar yang dimiliki kapitalisme menurut horkheimer harus dirubah dan diperbarui karena konteks waktu yang berbeda. Tidak hanya Max Horkheimer yang berkontribusi di era Neo- Marxian ini.

Ada beberapa tokoh lainnya seperti Theodore Ludwig Wisenground Adorno (1903-1969), Herbert Marcuse (1898-1979), Erich Fomm (1900-1980) dan Jurgen Habermas (1929-sekarang).

Peranan Mazhab Frankfurt sebagai bentuk rasionalitias instrumental terhadap kondisi sosial hari ini. Rasionalitas instrumental diartikan sebagai alat bedah untuk menguliti kondisi soial untuk kepentingan mendapatkan sebuah konsepsi dan arti.

Salah satu yang dikritisi oleh kelompok Frankfurt ini yaitu tentang pengaruh keilmuwan yang terlalu terpaku pada aspek empiris yang membawa kepada jurang positivistik. Manusia yang hidup selalu dijadikan objek yang ahsitoris.

Menurut Max Horkheimer  (1895-1973) lebih menkankan korelais antara ilmu dan kehidupan. Ketika positivisme sudah masuk dan mendaging di kehidupan manusia, maka yang terjadi subjek sebagai manusia yang akan menyesuaikan dari output ilmu.

Ilmu sosial dan kehidupan sosial sangatlah berbeda dengan sistem yang dimiliki oleh prinsip sains. Titik terparah apabila positivisme mulai merasuk diri manusia, yang terjadi manusia berupa pemisahan antara pikiran dan kepentingan manusia antara ilmu dan dunia praksis yang menyebabkan modernitas tanpa rasio.

Thodore Adorno (1903-1969), menekankan peranan fikir yang harus diperkuat untuk membendung hegemoni pemikiran kapitalisme yang berkembang lebih masif dan lebih taktis. Korelasinya lebih ditujuan bagaimana kebudayaan terkikis oleh konstruk kapitalis.

Istilah trend adalah substansi yang ditanamkan oleh para kapital agar menjadi seperti apa yang mereka mau, pemikiran Theodore Adorno akan berlanjut pada konsumerisme berskala besar. Peranan nalar kritis yang ditanamkan melalui pergulatan edukasi dan pemikiran sebagai jalan utama untuk menangkalnya.

Herbert Marcuse dalam teorinya mengenai one dimensional man, mendedah kasualitas kapitalisme dengan buruh dan rakyat sebagai objek komoditas mereka. Saripati dari pemikirannya menggarisbawahi tentang kondisi sosial yang tak lagi sama seperti pada kehidupan di era pemikiran Marxisme klasik.

Pertarungan antara ploteriat dan borjuis sudah mengalami perubahan dan perkembangan. Menurut Marcus, kaum bawah telah mati dan digantikan dengan kaum tengah yang disatukan dengan produk dan aturan dari raksasa kapitalis yang sangat licin dan kuat.

Sublimasi. Marcuse menganalogikan manusia hari ini telah mengalami sublimasi dari peranan kapital yang kuat dan licin untuk membuat tertidur manusia karena kepiawaian para kapital untuk terleha dengan apa yang diberikan oleh para pemodal.

Kaum-kaum filantropi yang mampu menyampaikan pencitraan terbaik misal saja memberikan bantuan secara masif, kepada beberapa subjek masyarakat, secara langsung akan ada empati dan perasaan mendukung segala bentuk aktivitas yang akan mereka lakukan. Dengan harap mendapat bantuan lagi dan lagi walaupun para pemodal membabat lahan beribu-ribu hektar besarnya.

Menyinggung sedikit pemikiran Wiliam Hoogendijk dalam bukunya The Economy Revolution: Towards a sustainable future by freeing the economy from money making (1996). Wiliam merasionalisasikan peranan pemodal yang terpatok pada angka –uang sehigga akan timbul spiral kerakusan yang menyebabkan kerusakan ekosistem.

Kembali pada Marcuse. Kondisi sosial dan ekonomi yang mencekik masyarakat, merabunkan manusia sehingga terjerumus pada perihal praktis. Segala kritik tengan pembangunisme dianggap sebagai hal bodoh hingga mereka merasakan efek fatalnya.

Jurgen Habermas melengkapi pada akhir pembahasan artikel ini. Habermas menekankan kepada penguatan dalam penguatan kepentingan teknik, kepentingan praktis dan kepentingan emansipatoris.

Dalam sebuah esainya yang berjudul “Labour and interaction Remakrs on Hegel’s Jena Philosophy of Mind”. Habermas menekankan bagaimana menguatkan kepentingan komunikatif untuk masyarakat untuk menyadarkan ilmu kepada manusia..

Komunikatif disini ditafsirkan untuk memberikan gambaran dalam mendedah realisme semu manusia, sehingga mereka tenggelam dalam pola pemikiran yang tumpul dan terdampak dengan ganasnya kapitalisme.

Kerusakan alam menjadi sebuah topik yang tak akan ada habisnya apabila interest masa lebih ditujukan kepada style dan hingar bingar belaka. Perlu ada sistem support untuk insan yang lebih kritis dan transformatif. Sekian.

Sumber;

Bottomore, Tom. 1984. Mazhab Frankfurt: Gagasan dan Kritik. Yogtakarta: Penerbit Indpenden.

Hoogendijk Willem. 1996. The Economics Revoluition; Towards a suistainable future by freeing the economy from money-making. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.

Heywood Andrew. 2016. Politics Ideologies. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.