Salah satu hal yang paling membingungkan di dunia ini adalah kesenangan sebagian besar manusia membedakan mana sesuatu yang harus ditinggalkan dan mana yang mesti dipertahankan.

Pertentangan antara dua kutub ini hampir terjadi di semua sisi. Mulai dari barang, praktik keagamaan sampai ideologi atau paham tertentu.

Contoh paling umumnya yaitu mobil-mobil bermoncong kodok dan kotak, guci-guci dari dinasti X, motor-motor klasik.

Bagi sebagian orang, barang-barang di atas sangat ketinggalan jaman, namun sebagian yang lain menganggapnya barang berharga dan antik yang mesti dipertahankan. Tak heran, ada beberapa orang mengorbankan banyak waktu dan uang demi memuaskan kecintaan, yang sepertinya, tak punya alasan ekonomis dan praktis.

Seiring berkembangnya zaman, kepraktisan memberi nilai jual tinggi pada barang dagangan. Dan sebaliknya kekurangpraktisan adalah musuh yang siap dihajar hingga babak belur.

Bagi para penjaja produk yang mengusung paperless, misalnya, kertas adalah salah satu hambatan yang mesti disingkirkan karena kekurangpraktisanya.

Bukan hanya kantor-kantor modern yang menjadi target besar, sasaran kecil seperti penulis atau pemikir (yang dulunya sering menggunakan kertas konvesional untuk mencatat konsep, kerangka tulisan dan gagasan) kini menjadi target berikutnya melalui produk kertas dan tinta elektronik.

Kertas dan tinta elektronik yang dikembangkan itu memiliki karakteristik yang sama dengan kertas konvensional—meski tak bisa dilipat dan tinta elektronik ini tak bisa membuat tangan kecipratan. Tapi fungsi dasar yang mengawetkan tulisan tangan, coretan tertentu dan gambar-gambar persis sama dengan kertas biasa.

Meski masih terus melalui masa pengembangan, tak menutup kemungkinan, bagi orang-orang kota yang dituntut serba cepat dan efisien, kertas dan alat tulis konvensional semakin dekat dengan senjakalanya.   

Di antara mayortitas orang yang semakin akrab dengan kepraktisan dan gaya hidup yang serba cepat, ada beberapa orang yang memilih berdiri di sisi yang mempertahankan kecintaan pada benda-benda—yang akan segera dianggap—kuno.

Saya adalah salah satu di antara orang-orang yang tetap mencintai buku fisik, kertas dan alat tulis konvensional. Saya masih tetap coba memaknai apa yang di muat kertas dan dampaknya yang tak akan tergantikan produk penantang.

Ada beberapa hal yang menjadi alasan saya. Berikut saya paparkan!

1. Bau Kertas yang Bikin Rindu

Bagi beberapa orang, bau kertas novel punya bau unik tersendiri.  Bau buku cetak yang khas tersebut berasal dari kombinasi berbagai senyawa yang menyusunnya. Dan karena hidung kita terhubung dengan otak, bau tertentu dapat memicu emosi tertentu.

Hape cerdas atau tablet baca mungkin bisa menampung ratusan hingga ribuan judul buku dan ringan dibawa ke mana-mana. Tapi hidup bukan hanya soal kepraktisan dan segala macam kemudahan. Kadang kita menikmati nilai sentimentil dari suatu benda yang tak perlu diberi penjelasan lebih lanjut.

2. Suasana Perpustakaan yang Tak Ada Duanya

Perpustakaan konvensional tetap menguarkan aroma pengetahuan, sejarah, warisan intelektual dan semangat pemikir-pemikir masa lalu. Kesan khas perpustakaan konvensional tak akan mampu di saingi perpustakaan digital.

Selain itu, di zaman ini, hampir tak ada tempat lagi di mana seseorang dapat menikmati kesunyian dan keinginan tenggelam dalam lautan pengetahuan. Di perpustakaan, seseorang masih bisa merasakan ketenangan dikelilingi buku-buku.

3. Kesukaan Manusia Memiliki Benda yang Punya Bentuk Fisik

Sampai kapan pun, manusia senang memiliki beberapa benda yang memiliki bentuk fisik, yang bisa disentuh.  Buku adalah salah satunya. Tak jarang kita temui orang yang mengoleksi buku cetak dan memenuhi rak perpustakaan pribadinya dengan itu.

Memandangi jejeran lemari penuh buku memenuhi hasrat manusia terhadap benda fisik. Perasaan ini tak akan didapatkan dari memandangi jejeran berkas elektronik buku di hape cerdas atau tablet baca.

4. Membantu Fokus

Mengetik dengan keyboard adalah kebiasaan kebanyakan orang saat ini. Itu lantaran, mengetik lebih praktis dan cepat sedangkan menulis dengan pulpen dan kertas membutuhkan banyak waktu.

Kepraktisan dan kecepatan yang ditawarkan teknologi mungkin membuat manusia terbiasa dengan yang instan. Kebiasaan hidup yang selalu instan tak selalu baik. Misalnya dalam pembelajaran. Buku elektronik merangsang manusia malas mencatat karena menganggap sewaktu-waktu dapat membukanya. Padahal, mencatat poin-poin penting pelajaran di atas kertas dengan bahasa sendiri mampu meningkatkan memori dan kemampuan otak memahami sesuatu.

5. Membaca Buku Fisik sebagai Bentuk Terapi Mental

Memilih buku cetak dengan isi yang tepat dapat menjadi cara menurunkan stres dan mengurangi depresi.

Dalam novel dan autobiografi, misalnya, kita dapat menemukan masalah-masalah dan kebangkitan-kebangkitan tokoh-tokohnya yang dapat menjadi cerminan bagi kita.

Fiksi dan  kisah hidup manusia secara umum mampu merangsang empati, mempertajam intuisi dan dan mengarahkan pada refleksi atas diri sendiri. 

Pemilihan buku cetak dibandingkan buku elektronik memiliki alasan khusus. bau khas serta sensasi memegang buku membantu pikiran lebih rileks dan santai.

6. Buku Fisik, Kertas dan Alat Tulis Konvensional yang Tak Perlu Listrik

Di daerah-daerah terpencil, yang akses listrik masih sangat terbatas, buku fisik, kertas dan alat tulis konvensional masihlah barang-barang yang sangat berharga. Itu lantaran buku fisik, kertas dan alat tulis konvensional tak memerlukan listrik untuk dipakai di pagi, siang dan sore hari—dan hanya perlu dijauhkan dari air dan rayap.

Di daerah yang jauh dari hingar bingar kemajuan, buku, kertas dan alat tulis konvensionallah yang sanggup bertahan dan menjadi sahabat setia.

Karena itu, buku-buku fisik, di mana kertas-kertas masih menjadi wadah menampung gagasan dan ide, belum akan tergantikan dalam urusan membawa perubahan berarti di suatu tempat yang ‘terlupakan’.

Jika Anda salah satu orang yang menganggap buku, kertas dan alat tulis konvensional tak lagi cocok untuk zaman ini, donasikanlah semua yang Anda anggap ketinggalan zaman kepada mereka yang belum berkesempatan menikmati hidup dengan kemudahan, kecepatan dan kepraktisan setiap hari yang ditawarkan tekknologi.