LATAR BELAKANG

Sejak peradaban Mesir kuno tahun 4000 SM, manusia menyadari pentingnya media untuk menuliskan ide-ide mereka. Di jaman tersebut, mereka menggunakan kulit binatang (papirus) untuk menuliskan ide-ide mereka. Dengan mengabadikan ide mereka dalam bentuk tulisan di atas papirus, maka ide tersebut memiliki peluang untuk dibaca, direnungkan, dan dipelajari oleh banyak orang. Sebut saja Papirus Turin, yang sangat terkenal mencatat sejarah nama raja-raja dan waktu pemerintahan mereka di Mesir. Papirus Ebers yang berisi ilmu kedokteran dan berisi 700 resep obat tradisional. Juga Papirus Rhind yang berisi catatan matematika Mesir kuno.

Signifikansi penulisan ide-ide untuk mengembangkan dunia pendidikan ini terus berkembang, namun media untuk menulis masih jauh dari sempurna. Papirus sulit dibuat, serta harganya mahal. Pada tahun 105M, Cai Lun, seorang kasim Cina dari Dinasti Han mencoba membuat kertas dalam bentuk sederhana. Ia membuat kertas dari kulit kayu murbei yang direndam dalam jala ikan, rami, dan kain bekas. Tentu bahan pembuatan kertas ini lebih murah daripada membuat papirus. Sejak saat itu, semakin banyak karya-karya dihasilkan dalam bentuk buku. Kertas-kertas mulai diproduksi secara massal, sampai Eropa, Amerika, dan seluruh dunia. Saat itu tampaknya dunia pendidikan sangat bergantung kepada kertas.

Tetapi perkembangan teknologi yang begitu pesat telah membuat kertas seakan-akan tersingkir dari kebudayaan. Sejak munculnya era digitalisasi khususnya di abad 20, buku telah banyak diubah menjadi versi digital, baik itu sekedar buku tulis, buku-buku pelajaran, novel sastra, filsafat, bahkan Kitab Suci. Ini menimbulkan pertanyaan, masihkah kertas dibutuhkan untuk pendidikan di era digital ini?


KERTAS UNTUK PENDIDIKAN

Dalam psikologi pendidikan, kertas ternyata memiliki fungsi lebih daripada sekedar media tulis-menulis. Sebuah penelitian yang dimuat di Daily Mail mengatakan, “Anak-anak yang menulis dengan tangan belajar lebih baik daripada mereka yang hanya mengetik.” Ketika menulis dengan tangan di sebuah kertas, ternyata otak akan terangsang untuk mengingat huruf demi huruf yang kita tulis, bentuk huruf-huruf tersebut, dan bahkan isi dari tulisan itu sendiri, sehingga membuat otak bekerja dengan maksimal. Ini membuktikan bahwa kertas memiliki fungsi pendidikan yang lebih dari sekedar media tulis-menulis, melainkan juga mengembangkan kemampuan otak untuk menerima informasi pendidikan.

Sebagai seorang dosen, saya mengerti benar fungsi kertas sebagai alat pendidikan. Dalam kelas-kelas saya, saya selalu menganjurkan mahasiswa mencatat perkuliahan saya, walaupun nantinya saya juga akan memberikan bahan pelajaran saya secara digital. Menulis di atas kertas membantu meningkatkan konsentrasi mahasiswa dan menghindarkan mereka dari keinginan untuk memainkan laptop, handphone, atau berbincang dengan teman sebangku.

Demikian juga kertas yang digunakan dalam buku cetak memiliki fungsi yang masih relevan dalam dunia pendidikan. Ketika membaca buku cetak, mata kita tidak akan cepat lelah, sehingga ketika kita membaca buku cetak maka waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah buku akan lebih cepat. Saya membuktikan sendiri bahwa untuk menyelesaikan sebuah buku cetak berjumlah 150 halaman, saya hanya membutuhkan waktu setengah hari. Sedangkan untuk buku digital dengan jumlah halaman sama, saya membutuhkan waktu dua hari karena mata saya lelah dan membutuhkan istirahat. Selain itu, buku cetak juga lebih mudah dibawa kemana saja, serta tidak membutuhkan listrik.

Di sisi lain, saya sebagai dosen sadar sekali bahwa pemakaian kertas di unversitas telah mencapai angka yang mengerikan. Misalkan saja saya memberikan tugas kepada mahasiswa saya untuk membuat laporan sepanjang 12 halaman, dan satu kelas ada 50 orang, maka jumlah kertas yang terbuang adalah 600 lembar. Itu baru satu kelas saja. Bayangkan jika di sebuah universitas ada ribuan kelas, maka kertas yang terbuang hampir satu juta lembar untuk satu tugas laporan. Lalu di akhir semester, semua kertas itu dibuang. Tentu pembuangan kertas yang sia-sia ini membuat kita bertanya-tanya tentang berapa banyak pohon yang harus ditebang untuk membuat kertas sebanyak itu?


PENDIDIKAN UNTUK KERTAS

Seperti alam telah memberi sumbangsih untuk meningkatkan pendidikan melalui kertas, kini saatnya pendidikan “membalas budi” terhadap kertas dan terhadap alam. Dengan berkembangnya pendidikan di bidang sains dan teknologi, dewasa ini telah ditemukan cara membuat kertas tanpa harus menebang pohon. Di luar negri sudah beberapa pabrik yang menerapkan cara ini, yaitu membuat kertas dengan cara mengganti pohon dengan serat rami dan serat tumbuhan alami.

SERAT RAMI

Sebenarnya, metode membuat kertas dari serat rami (hemp) sudah ditemukan sejak tahun 1883. Karya-karya klasik terkenal Mark Twain dan Thomas Paine dicetak menggunakan kertas rami. Metode ini pun terbukti lebih efisien dibanding menggunakan serat pohon. Sejak tahun 1916, USDA telah melaporkan bahwa tumbuhan rami sebanyak 1 hektar memproduksi serat yang sama seperti 4 hektar pepohonan. Tapi nyatanya, fakta ini diabaikan dan para pengusaha kertas membabat habis 70% hutan di Amerika.

Pertanyaannya mengapa penelitian ini diabaikan? Pertama, hal ini disebabkan karena tumbuhan rami berasal dari spesies yang sama dengan mariyuana. Namun sebenarnya rami sama sekali berbeda dengan mariyuana karena tidak memiliki efek yang negatif seperti mariyuana. Rami mengandung 0% tetrahydrocannabinol (THC), yang merupakan zat adiktif dalam tumbuhan mariyuana. Pelarangan atas penanaman rami diperdebatkan sejak tahun 1937, sampai pada tahun 1970 penanaman rami benar-benar dilarang oleh pemerintah Amerika. Namun karena terus berkembangnya pendidikan, maka wawasan masyarakat makin terbuka, bahwa rami sama sekali tidak mengandung zat adiktif. Justru rami sangat berguna dalam kehidupan khususnya untuk membuat kertas. Tahun 2015, beberapa Negara bagian Amerika telah mengijinkan penanaman tanaman rami, yaitu di Kolorado, Kentucky, dan Oregon.

Kedua, metode membuat kertas dari serat rami diabaikan karena membutuhkan waktu yang lebih lama daripada menggunakan serat pohon. Memang memproduksi kertas menggunakan serat pohon jauh lebih cepat dan menguntungkan, tetapi itu tidak sebanding dengan kerusakan alam yang ditimbulkan. Dalam teknologi pembuatan kertas menggunakan serat pohon, bukan hanya pohon yang jadi korban, melainkan juga air, energi, dan bahan kimia, sehingga mengakibatkan polusi udara dan air yang dapat menimbulkan banyak penyakit (seperti kanker).

Oleh sebab itu, pendidikan harus mengembalikan jasa kepada alam dengan mempergiat edukasi mengenai pentingnya memelihara alam dan cara menanggulangi kerusakan alam kepada generasi muda. Para calon pengusaha dan pengusaha muda diedukasi agar tidak hanya mengedepankan keuntungan pribadi, melainkan juga kepentingan alam dan sesama. Lebih lagi, pendidikan sains dan teknologi harus terus berkembang, sehingga ke depannya akan ada teknologi-teknologi yang bisa membuat kertas tidak dengan cara menebangi pohon. Contohnya dengan teknologi serat rami yang dikembangkan, sehingga bisa lebih cepat dan efektif. Beberapa ilmuwan di Kolorado telah mencoba mengembangkan teknologi ini (referensi lihat: https://www.youtube.com/watch?v=IQd45wA4S-k).

Kedua, diajarkan agar tidak membakar kertas yang sudah pernah dipakai, melainkan lebih baik menyerahkan kertas-kertas bekas kepada pabrik kertas atau pendulangan limbah sehingga kertas yang sudah pernah dipakai bisa diproses kembali menjadi kertas tanpa harus menebang pohon. Para pendidik, baik guru maupun dosen, bisa menerapkan cara ini kepada hasil ujian maupun tugas mahasiswa yang bertumpuk di meja. Para pengusaha dan pekerja kantor juga dapat menerapkan hal ini untuk dokumen-dokumen yang sudah tidak dibutuhkan lagi.


PENUTUP

Sydney J. Harris mengatakan, The whole purpose of education is to turn mirrors into windows.” Pendidikan yang telah kita dapatkan di jaman modern ini tidak boleh menjadi sesuatu yang bermakna bagi diri sendiri, tetapi tidak bermakna bagi sesama dan bagi alam semesta. Oleh sebab itu pendidikan juga harus menjadi jawaban bagi alam. Pendidikan tentang alam harus merupakan pendidikan untuk alam. Sebagaimana kertas membangun budaya dan pendidikan sejak ribuan tahun yang lalu, sekarang saatnya pendidikan membalas budi pada “kertas” melalui ilmu-ilmu yang diajarkannya.


Sumber-sumber online:

http://www.hemphasis.net/Paper/paper_files/hempvtree.htm

https://id.wikipedia.org/wiki/Cai_Lun

https://id.wikipedia.org/wiki/Kertas

https://www.amazine.co/21743/sejarah-papirus-arti-papirus-bagi-peradaban-mesir-kuno/

https://www.leafly.com/news/cannabis-101/hemp-101-what-is-hemp-whats-it-used-for-and-why-is-it-illegal

https://www.nhs.uk/news/lifestyle-and-exercise/does-typing-make-learning-harder/

https://www.quora.com/Does-paper-production-kill-trees-or-are-there-technologies-that-make-it-possible-to-produce-paper-without-killing-trees

https://www.youtube.com/watch?v=CVEy14hv3qk&t=212s