“Ambil satu warna yang paling kamu suka, lalu torehkan di atas kertas kosong. Lakukan itu terus-menerus sampai kamu tahu bahwa dengan satu warna saja dunia bisa terlihat indah. Bagaimana jika selembar kertas kosong bertorehkan banyak warna?” 
Uwan Urwan

____________________________________________

Kutipan dari Uwan Urwan di atas menurut saya merupakan sebuah penggambaran untuk masa muda. Masa muda adalah kesempatan untuk mengumpulkan warna-warni kehidupan. Menikmati warna-warni yang disediakan oleh semesta. Warna-warni sebagai lika-liku kehidupan yang dihadirkan Tuhan untuk bisa kita rasakan.

Kala kecil dulu, salah satu cara untuk mengetahui sekaligus menghapal warna adalah dengan kegiatan menggambar serta mewarnai. Kita tak akan tahu betapa cantiknya warna-warna tersebut bila tidak kita torehkan di kertas, bukan? Baik menggunakan krayon, pensil warna atau cat lukis. Kegiatan menggambar dan mewarnai kerap dilakukan saat pelajaran di sekolah, buku mewarnai pribadi atau dengan iseng di dinding.

Teringat akan 2 keponakan saya yang kini berusia 3 dan 8 tahun yang mempunyai pengalaman masa kecil yang jauh berbeda dengan saya. Saya yang kala itu menikmati warna-warna dengan media kertas sedangkan mereka sekarang dapat menggambar sekaligus mewarnai di gadget yang menyediakan pilihan warna yang tidak terbatas.

Ekonomis, karena tidak membutuhkan kertas dan pensil warna sekaligus tidak mengotori lantai atau dinding. Saya tidak melihat ini sebagai kondisi yang miris, justru ini adalah hal yang hebat karena anak jaman sekarang dapat mengetahui dan mengeksplorasi diri bila dikontrol dan didorong secara benar.

Berbicara tentang warna, warna-warni kehidupan juga kerap diabadikan sebagai momen melalui media foto. Ibu saya kerap memajang foto yang mengabadikan momen anggota keluarga dari kecil hingga dewasa lalu dipajang di dinding rumah untuk dinikmati anggota keluarga itu sendiri, kerabat maupun tamu yang datang bertandang ke rumah. Foto dicetak menggunakan kertas. Kertas punya peranan penting dalam menghadirkan momen beharga keluarga saya.

Sekarang hal itu tidak berjalan sama lagi. Saya terenyak bagaimana teknologi berkembang dan mempengaruhi kegiatan rutin ibu saya. Kini mayoritas masyarakat menggunakan ponsel pintar yang dapat mengambil gambar dengan resolusi serta ketajaman foto yang tak kalah berkualitasnya dengan kamera. Namun cara penyampaian momen pun ikut berganti seiring perkembangan teknologi yang semakin maju, kini meletakkan momen tak lagi di dinding atau meja di sudut rumah.

Sekarang adalah jaman di mana menaruh momen di berbagai macam media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter dan lain-lain. Efeknya lebih dahsyat, tak perlu biaya tambahan untuk mencetak dan membeli bingkai foto, hanya dengan bermodal internet semua foto bisa diunggah ke media sosial dan semua orang bisa menikmati momen yang kita bagikan.

Berbeda dengan sebelumnya yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang main ke rumah. Lagi-lagi kertas terganti oleh kecanggihan abad ini. Namun adakah yang salah? Kemajuan ini justru membantu banyak. Mengabadikan momen lebih cepat dan ekonomis dan mudah membagikannya untuk dinikmati bersama.

Yang jadi persoalannya, apakah kita harus meletakkan kecanggihan ini sebagai kekhawatiran bahwa kertas akan tergeser penggunaannya atau senang bahwa penebangan pohon akan berkurang seiring minimnya penggunaan kertas?

Kita tak akan bisa menerka ke arah mana kecanggihan modern ini akan membawa kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah menikmati kemudahan dan manfaat yang ditawarkan dan memilah-milah mana yang tidak perlu.

Bagaimanapun, kertas tetap memiliki tempatnya, baik perjalanan sejarah maupun perjalanan dunia modern saat ini. Kertas punya andil yang sangat besar terhadap kecanggihan teknologi apapun yang hadir di dunia ini.

Di dunia sejarah katakanlah, bagaimana kita tahu apa yang terjadi di masa lampau bila tak ada yang pernah mencatatnya di kertas yang dahulu kerap menggunakan gulungan perkamen.

Sebut saja catatan seorang musafir terkenal Marco Polo asal Italia yang mempunyai andil melengkapi potongan-potongan cerita sejarah Indonesia atau berbicara bagaimana pejuang di masa kemerdekaan tepatnya para pemuda Indonesia yang kala itu berada di negri Belanda yang beruntung untuk menuntut ilmu dan menyebut diri mereka Indische Vereeniging. Mereka membuat sebuah majalah yang berjudul ‘Hindia Poetra’ untuk menggerakkan semangat nasionalisme para pemuda bedarah Indonesia di Belanda guna menimbulkan rasa cinta tanah air dan membela hak bangsanya atas kemerdekaan.

Contoh lain penggunaan kertas adalah naskah proklamasi kemerdekaan negara kita. Kala itu, proklamator dan perancang naskah proklamasi merancang kalimat-kalimat kemerdekaan di sebuah kertas lalu diketik rapi oleh Sayuti Melik. Kertas di sini sangat berperan dalam kemerdekaan kita.

Bayangkan bila tak ada kertas? Bagaimana Bapak Soekarno dan rekan-rekannya akan merancang proklamasi kemerdekaan kita? Sedang kala itu, belum berkembangnya kecanggihan teknologi seperti laptop selain mesin pengetik yang sederhana.

Kertas juga berpengaruh banyak terhadap kecanggihan teknologi yang menggantikan kertas itu sendiri. Kita mulai bagaimana sejarah ilmuwan terhebat sepanjang masa, Albert Einstein, akan menuangkan ide briliannya bila tak ada kertas? Bagaimana penyair-penyair dunia akan membagikan karyanya tanpa kertas?

Bila ingin dikupas semuanya, inti yang kita dapatkan adalah semua yang terjadi pada kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan di permukaan bumi ini berawal dari kertas. Semua ide yang didapatkan dituangkan di kertas sebelum semuanya dicapai.

Lantas kembali ke pertanyaan. Haruskah kita senang atau khawatir? Sebagai manusia yang hidup di era digital, patutlah kita bersyukur. Bila kertas dapat menghemat dan membantu pelestarian pohon dan meminimalisir dampak pencemaran global, mengapa harus khawatir ?

Yang perlu dikhawatirkan adalah penggunaan kertas yang belum bisa digantikan oleh teknologi sekarang. Contoh kecilnya adalah tisu. Tisu digunakan untuk mengelap keringat, mengelap permukaan meja yang basah, membersihkan debu dan lain hal sebagainya.

Tisu dikemas berbagai bentuk. Ada yang dengan kemasan plastik berukuran saku, atau berukuran sedang untuk diletakkan di meja atau didesain khusus untuk diletakkan di kamar mandi. Penggunaan kertas seperti itulah yang patut kita pikirkan bagaimana cara menggantinya. Penggunaan sapu tangan yang tak lagi efektif dan dianggap kuno tidak dapat mengurangi pemakaian tisu.

Tisu bukanlah satu-satunya. Dan bukan berarti kecanggihan teknologi ini memusnahkan penggunaan kertas pada barang-barang sehari-hari kita. Kita masih meggunakan buku secara fisik walaupun sekarang sudah banyak yang berubah menjadi electronic book atau yang sering disebut dengan e-book. Namun faktanya hal itu tidak membuat kertas kehilangan penggemarnya karena kertas mempunyai nilai keunggulannya sendiri dalam memberi kenyamanan ketika sedang membaca buku.

Kertas entah bagaimanapun tak kan ketinggalan eksistensi dirinya. Karena di zaman sekarang kertas bukan hanya sekedar media mewarnai,mencetak foto dan mencatat. Kertas belumlah hilang kegunaan sepenuhnya seperti buku fisik dan tisu seperti yang sudah dipaparkan di atas tetapi bukan berarti harus terus dilestarikan.

Bayangkan betapa banyaknya ilmu pengetahuan yang harus dirangkum dalam sebuah buku untuk memenuhi kebutuhan siswa dan mahasiswa diseluruh dunia yang tak terhitung jumlahnya,tisu setiap harinya, koran dan majalah, kardus, kertas kado dan lain-lain.

Lantas mengapa kita harus masih membebankan hutan-hutan untuk ditebang pohonnya guna memenuhi kebutuhan kita akan kertas ? Mengapa kita harus khawatir akan penggunaan kertas yang berkurang bila dapat membantu hutan bernafas lebih lepas? Sedangkan kecanggihan dapat menggantikan kertas tanpa masalah seperti yang sudah diuraikan sebelumnya.

Jawabannya adalah tak harus mengganti penggunaan kertas dalam segala hal tetapi bukan berarti mengabaikan kecanggihan tekonologi dalam menghemat kertas. Kembali pada ungkapan Uwan Urwan di atas, warna yang indah sekarang tak lagi hanya bisa dinikmati di kertas, kecanggihan ikut andil dalam memberi warna baru pada kehidupan manusia sekarang.

Tugas kita bersama untuk memikirkan bagaimana cara  mengganti barang-barang yang merugikan bumi kita yang berbahan baku semacam kertas dan menggunakan kertas secara bijaksana sebagai bentuk menghargai bumi dengan sederhana. Dengan begitu kita secara tidak langsung sudah berterimakasih kepada kertas akan andilnya yang telah membantu membawa maju peradaban dibumi.