Mau atau tidak, Indonesia terus melewati perubahan era perekonomian. Indonesia sudah ikut mewarnai andil dalam persaingan ekonomi era industri 4.0. Perubahan sistem perekonomian tersebut sangat signifikan.

Dalam hitungan detik, manusia bisa melakukan transaksi bisnis. Manusia, dari mana pun, bisa berkumpul dalam satu komunitas bisnis. Mereka bisa membicarakan transaksi bisnis tanpa perlu bertemu secara langsung.

Kecanggihan dunia digital telah mempermudah dan menghemat waktu. Begitu pula untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik primer, sekunder, maupun tersier, semua dapat diperoleh dengan mudah; cukup otak-atik gawai dan memainkan aplikasi.

Kebutuhan primer seperti makanan dapat diperoleh tanpa harus pergi ke warung; tidak repot untuk membelah lautan kendaraan yang makin memenuhi jalanan dan sesak macet menyita waktu.

Perkembangan teknologi memberikan banyak kemudahan bagi insan penyedia jasa dan barang, begitu pula dengan konsumen.

Tinggal klik, semuanya selesai tanpa harus meninggalkan kantor, tanpa harus mengurangi waktu bersama anak-anak bagi ibu yang mendedikasikan hidupnya untuk selalu berada di samping anak-anaknya dan tidak kehilangan talenta untuk terus mengetahui dunia luar dan menjadikan rumah sebagai ruang bisnis.

Perkembangan teknologi telah membuat pemekaran terhadap pasar. Pasar bisa ada di mana-mana, bahkan dalam gawai. Namun hal ini tidak mengurangi kebutuhan terhadap jasa angkut atau kurir antar. 

Dalam proses distribusi barang, tentu tidak ada pihak yang ingin dirugikan. Pembeli ingin barang sampai dengan baik, begitu juga penjual. Sebisa mungkin tidak terjadi kerugian pada kedua belah pihak; kerugian material ataupun hilangnya kepercayaan konsumen.

Untuk menghindari kerugian tersebut, barang dikemas sebaik mungkin. Pilihan tersebut jatuh pada kertas berupa kardus. Sampai saat ini, kardus masih menjadi alternatif utama dalam pengiriman barang selain wadah kayu dan plastik.

Hal ini juga ditunjang dengan ongkos kirim. Makin berat barang berakibat makin tingginya harga.

Kardus memiliki berat relatif ringan dibandingkan wadah lainnya. Keadaan ini memaksa produsen maupun konsumen memilih wadah pengiriman aman dan murah. Artinya, perubahan industri masih belum bisa meniadakan kertas dalam kehidupan, melainkan hanya berubah bentuk dan fungsi.

Kertas adalah alat komunikasi dari zaman dahulu hingga saat ini. Cikal bakal kertas sudah ada dari masa Firaun dengan sebutan papirus. Perkembangan dunia kertas terus meningkat sampai era industri 4.0 ini. Suatu saat, tidak tertutup kemungkinan akan hadir produk-produk kertas yang tak pernah kita bayangkan.

Kertas merupakan benda penting dalam kehidupan. Sejak dilahirkan hingga mati, manusia diwarnai kertas. Misalnya, surat keterangan lahir, akta lahir, ijazah, sertifikat tanah, sertifikat rumah, surat kesepakatan kerja sama, transkrip nilai, bahkan surat kematian. Semua benda tersebut adalah kertas. Tanpa adanya kertas, apa jadinya dunia?

Era industri 4.0 telah berhasil membawa manusia kepada dunia digital. Namun tidak dapat menghapus esensi kebutuhan terhadap kertas dalam banyak lini kehidupan. 

Tidak bisa dinafikan, tidak semua transaksi bisa terselesaikan menggunakan aplikasi digital, melainkan harus ada bukti autentik berupa berkas yang selalu mendampingi aktivitas-aktivitas digital tersebut.

Dunia digital mempermudah akses satu langkah lebih cepat. Namun sebuah bangsa atau sebuah peradaban memerlukan dokumen-dokumen yang bisa menjadi acuan bagi generasi berikutnya.

Soekarno pernah berkata dalam pidatonya, “bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah.” Sejarah yang disebutkan Presiden RI pertama itu tidak akan sampai pada generasi ini bila tidak ada kertas sebagai penghubung.

Apabila dokumen negara tidak ada, maka sejarah bisa diciptakan dan diceritakan sesuai dengan kepentingan. Tidak akan ada sejarah yang lurus dan memberikan informasi yang benar. Dokumen tersebut berupa kertas yang berisikan tentang catatan-catatan sejarah.

Kertas menjadi penyambung lidah dari pengukir sejarah kepada generasi mudanya. Kertas menjadi perantara pertemuan antara pejuang kemerdekaan dengan rakyat pengisi kemerdekaan. Kertas menyebabkan sebuah perjanjian menjadi kuat dan bernilai.

Informasi tentang sejarah dapat dipelajari melalui buku, dan buku terdiri dari kertas. Ketika sebuah buku diterbitkan dalam bentuk e-book, siapa saja bisa membacanya, sama halnya dengan buku yang terdiri dari kumpulan kertas. 

Namun memiliki keterbatasan, yakni buku berupa file elektronik tidak bisa dibaca atau dilihat, melainkan memerlukan alat berupa gawai atau komputer, dan itu mudah rusak.

Sedangkan untuk membaca buku yang merupakan kumpulan kertas, bisa dinikmati kapan saja, di mana saja, tanpa harus menggunakan alat-alat pendukung lainnya. 

Tidak hanya itu, kertas juga merupakan unsur penting dalam pemenuhan administrasi. Contoh kecilnya adalah ijazah. Dengan ijazah, itu dapat membuktikan status akademik seseorang dan akan diakui siapa saja. Lagi-lagi, kertas menjadi acuan dalam berbagai hal.

Jadi, perkembangan digital tidak justru menyebabkan harus ditiadakannya produksi kertas. Sebagai konsumen yang sadar akan keperluan hidup, manusia harus bisa mempergunakan sumber daya ini dengan bijaksana. Sebab kertas berasal dari fiber pohon dan pohon adalah sumber oksigen bagi kehidupan.

Sikap bijaksana tersebut akan menyebabkan industri dan alam tetap bisa bersinergi, di mana industri yang bergerak dalam produksi kertas terus melakukan penanaman hutan. Salah satu upaya tersebut adalah dengan adanya Hutan Tanaman Industri (HTI).

Sinergisitas dan kebijaksanaan tersebut harus selalu ditingkatkan, baik dari pemerintah, perusahaan terkait, dan juga masyarakat. Sebab, dengan kertas, banyak nilai-nilai kehidupan yang dapat diperoleh. Maka jangan sampai keberadaan kertas menyebabkan hilangnya paru-paru dunia.

Tanpa pohon, apa jadinya kehidupan? Tanpa kertas, apa jadinya peradaban?

Sampai saat ini, kertas adalah penyumbang pendapatan ekonomi masyarakat, baik karyawan yang bekerja langsung dengan perusahaan produsen kertas atau masyarakat yang mengembangkan usaha seperti Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan kemasan-kemasan kertas yang kreatif.