Gerakan Literasi Sekolah pertama kali diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, pada bulan Agustus 2015. Peluncuran Gerakan Literasi Sekolah itu dilakukan secara simbolis dengan penyerahan buku paket bacaan untuk 20 sekolah di DKI Jakarta sebagai bahan awal kegiatan literasi. Gerakan Literasi Sekolah tersebut diluncurkan dalam rangka mendukung Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Tujuan dari Gerakan Literasi Sekolah adalah membiasakan dan memotivasi siswa untuk mau membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti. Ada dua kegiatan utama yang diharapkan muncul pada diri siswa dalam Gerakan Literasi Sekolah, yaitu membaca dan menulis. Dua kegiatan yang tak bisa dilepaskan dari peranan kertas sebagai wahana kegiatan. Sehingga kertas dapat disebut sebagai rohnya Gerakan Literasi Sekolah.

Dalam dua tahun terakhir, telah banyak kegiatan yang diselenggarakan pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kubudayaan, dalam rangka mendukung Gerakan Literasi Sekolah. Mulai dari lomba-lomba menulis bagi siswa, lomba-lomba menulis bagi guru, serta penyediaan dan pendistribusian buku-buku sebagai bahan bacaan literasi sekolah. Tidak hanya pemerintah, berbagai lembaga non pemerintah juga menyelenggarakan berbagai lomba literasi. Semuanya tentu semakin mengokohkan fungsi kertas sebagai roh Gerakan Literasi Sekolah.

Banyak sekolah yang menyediakan pojok-pojok baca pada beberapa sudut kelas dalam mendukung Gerakan Literasi Sekolah. Isi pojok-pojok baca tersebut adalah buku-buku bacaan yang cukup menarik. Semua itu menunjukkan bahwa kertas adalah bagian terpenting dari Gerakan Literasi Sekolah. Demikian pula halnya dengan majalah-majalah dinding yang ada di beberapa sekolah. Semuanya berisi tempelan lembaran-lembaran kertas, baik yang bertulis tangan maupun yang diprintout dari komputer atau laptop.

Dalam Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 juga disebutkan bahwa setiap sekolah wajib untuk melaksanakan kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Naskah yang dibaca adalah naskah buku selain buku pelajaran. Semua kegiatan membaca tersebut dilakukan melalui media buku cetak, yang tentunya terbuat dari lembaran-lembaran kertas.

Tidak Cuma siswa, guru-guru pun dituntut untuk terus mengasah kemampuannya dalam menulis, berbagai lomba diselenggarakan untuk memperkaya bahan bacaan literasi sekolah. Ada Diseminasi Literasi yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Dasar, ada lomba menulis cerita anak usia dini pada Direktorat PAUD, ada lomba penulisan artikel ilmiah Sekolah Dasar, dan sejumlah ajang perlombaan menulis bahan literasi lainnya. Tidak hanya di pusat, kantor-kantor Bahasa di daerah pun juga menyelenggarakan lomba menulis bahan literasi bagi guru-guru.

Semua perlombaan itu ditujukan untuk menambah koleksi buku-buku sebagai bacaan dalam kegiatan literasi sekolah. Semakin banyak bahan bacaan yang tercetak, maka akan semakin banyak pilihan bahan bacaan yang akan bisa siswa pilih sesuai dengan selera masing-masing. Tentu juga akan semakin menambah wawasan siswa tentang banyak hal dalam kehidupan ini.

Keberadaan buku-buku sebagai bahan literasi dalam Gerakan Literasi Sekolah adalah sangat mutlak adanya. Semua buku-buku itu tercetak rapi dengan menggunakan lembaran-lembaran kertas. Walau ada banyak juga buku-buku elektornik yang bisa dibaca melalui laptop, komputer maupun tablet, namun keberadaan buku-buku cetak adalah hal wajib yang diupayakan pemerintah dan sekolah-sekolah dalam Gerakan Literasi Sekolah.

Pemerintah juga terus memfasilitasi sekolah-sekolah untuk menyediakan buku-buku sebagai bahan bacaan siswa. Melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), pemerintah mewajibkan sekolah untuk membeli buku-buku pelajaran untuk setiap mata pelajaran dengan rasio 1 berbanding 1. Artinya seorang siswa harus memiliki satu buku untuk semua mata pelajaran.

Sekolah juga terus mengadakan pembelian buku-buku selain buku pelajaran sebagai bahan bacaan siswa. Berbagai pihak lain yang peduli dengan masalah literasi siswa juga turut membantu menyediakan bahan-bahan bacaan bagi siswa. Semua buku-buku tersebut adalah buku-buku cetak dan buku-buku elektronik dalam bentuk file.  Sehingga semuanya memanfaatkan kertas sebagai bahan pembuatannya. Bisa dibayangkan berapa banyak kertas yang diperlukan untuk pembuatan buku-buku perlajaran bagi sekolah-sekolah yang ada di seluruh wilayah Indonesia saat ini.

Saat ini, sesuai data yang ada di website Data Pokok Pendidikan Nasional, ada lebih dari 45 juta siswa seluruh Indonesia, mulai dari tingkat SD hingga SMA/SMK. Jika saja setiap siswa memiliki 10 buku cetak, maka ada sekitar setengah milyar buku pelajaran yang beredar di sekolah-sekolah se Indonesia.

Belum lagi buku-buku bacaan selain buku pelajaran yang jumlah tidak sedikit. Itu baru buku-buku yang disediakan sekolah. Sementara banyak siswa yang juga memiliki buku-buku bacaan sendiri, baik yang dibeli atas inisiatif sendiri bersama orang tuanya maupun yang dibeli atas kewajiban yang dibebankan sekolah sebagai bahan bacaan literasinya.

Semua buku-buku tersebut adalah buku cetak. Dan semuanya menunjukkan bahwa keberadaan kertas angat penting artinya dalam Gerakan Literasi Sekolah. Tanpa kertas, maka Gerakan Literasi Sekolah hanyalah hampa belaka.

Gerakan literasi ternyata tidak hanya menyentuh wilayah sekolah saja. Diberbagai fasilitas umum, seperti di bandara-bandara, juga terdapat pojok-pojok baca yang berisi buku-buku bacaan. Keberadaan buku-buku bacaan pada berbagai fasilitas umum tersebut juga menunjukkan bahwa kertas merupakan jiwa gerakan literasi.

Dalam dunia tulis menulis, kertas juga memegang peran sangat vital. Walau kegiatan tulis menulis saat ini sangat erat kaitannya dengan laptop atau komputer, tetapi kertas sangat penting artinya sebagai pengembangan konsep tulisan. Penulis-penulis besar banyak mendapatkan ilham dalam menghasilkan karya-karya besar lewat coretan-coretan kecil pada lembaran-lembaran kertas.

Kertas juga sangat penting artinya dalam mencetak hasil tulisan yang telah ditulis dalam laptop. Pencetakkan itu harus dilakukan untuk mengecek kesalahan-kesalahan dalam tulisan. Hal ini harus dilakukan, karena pengecekan melalui layar laptop sangat sulit dilakukan, di samping juga bisa merusak kesehatan mata.

Pengecekan dengan membaca hasil cetakan yang tertuang dalam lembaran-lembaran kertas lebih mudah dilakukan. Setiap kesalahan yang dibuat dalam tulisan bisa ditandai, sehingga memudahkan untuk melakukan perbaikan tulisan. Selain itu pengecekan melalui hasil cetakan juga tidak merusak kesehatan mata, karena tidak terganggu pancaran radiasi sinar laptop.

Setelah tulisan jadi pun, peranan kertas tetap sangat vital. Karena tulisan yang ada dalam layar laptop harus dicetak sebagai bukti karya tulisan. Apalagi jika karya tulisan itu berbentuk buku dan buku tersebut akan diterbitkan menjadi sebuah buku, maka peranan kertas menjadi bukti otentik adanya sebuah karya tulis.

Gerakan Literasi Sekolah sangat besar maknanya bagi siswa, terutama sekali dalam penumbuhan budi pekerti siswa. Melalui Gerakan Literasi Sekolah siswa harus memiliki motivasi untuk terus membaca dan membuat tulisan. Karena dengan terus membaca dan menulis akan membuatnya menjadi siswa yang memiliki kemampuan literasi yang tinggi. Dengan terus membaca dan menulis diharapkan siswa juga akan mampu menghasilkan karya besar melalui tulisan.

Tidak hanya siswa, guru pun dituntut untuk memiliki ketrampilan menulis. Ketrampilan menulis ini menjadi problema besar bagi banyak guru di Indonesia. Hal ini terbukti dengan banyak guru yang tidak bisa naik golong hanya karena tidak bisa menulis artikel ilmiah sebagai syarat kenaikan pangkatnya. Gerakan Literasi Sekolah bagai pedang bermata dua, satu sisi menuntut siswa untuk termotivasi untuk terus membaca dan menulis dan di sisi lain, seorang guru juga dituntut untuk memiliki ketrampilan menulis.

Dunia membaca dan menulis adalah kegiatan yang menggunakan kertas sebagai wadah utama. Gerakan Literasi Sekolah yang menggarap dunia membaca dan menulis tentu sangat bergantung pada kertas. Sehingga pantaslah jika kertas disebut sebagai roh Gerakan Literasi Sekolah.