Benarkah masa depan umat manusia tak membutuhkan kertas ? Seperti yang pernah diramalkan oleh Frederick Wilfrid Lancester pada 1978 dengan masyarakat tanpa kertas (paperless society). Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kiranya perlu bagi kita juga untuk menjawab pertanyaan lain yang lebih mendasar lagi, yaitu; “Relasi apa yang mendasari manusia dengan kertas ?”.

Pertanyaan tersebut penting untuk dijawab, agar kita tahu posisi kertas dalam kehidupan manusia. Terbukti dan tidaknya ramalan Lencester diatas tergantung pada jawaban atas pertanyaan tersebut.

Kertas Di Zaman Tanpa Kertas

Ancaman terbesar terhadap keberadaan kertas hari ini adalah kemajuan teknologi internet. Kemajuan tersebut tak bisa dihindari, sebuah keniscayaan sejarah dalam perjalanan peradaban manusia. Sejak dunia internet berkembang pesat, yang dibangun dengan banyak pintu masuk (logika jaringan), bahwa dari manapun kita datang semua merupakan ujung terbuka yang siap menyambut kita memasuki dunia tanpa batas.

Keluasan jaringan, kecepatan, dan efisiensi menjadi ciri khasnya, sekaligus menjawab keterbatasan lokalitas, kelambanan, dan  inefisiensi pada ruang nyata keseharian manusia.

Keterpesonaan manusia pada ciri khasnya menjadi solusi, yang memungkinkan manusia untuk keluar dari keterbatasan dunia sehari-hari menuju dunia tanpa batas. Disambut dengan keharusan manusia untuk selalu terhubung dengan manusia lain dalam membangun sebuah relasi sosial, menjadikan internet memiliki daya tarik yang kuat untuk terus digunakan.

Dalam prosesnya, keunggulan internet ini menggeser posisi kertas dengan sendirinya sebagai medium tulis, baca dan pertukaran informasi. Sebuah proses yang wajar bagi manusia untuk hijrah  memilih yang lebih efisien dalam memenuhi kebutuhan kesehariannya. Kekurangan kertas telah dijawab oleh teknologi internet.

Kendatipun demikian, tak serta merta fungsi kertas diambil alih oleh teknologi internet. Keunggulan internet hanya pada dunia informasi. Menjawab kebutuhan manusia pada efisisensi, kecepatan dan keluasan pertukaran informasi. Selebihnya, teknologi ini tak mampu berbuat apa-apa ditengah multi fungsinya bahan kertas dalam kehidupan manusia.

Bukan juga bermakna, internet tak memiliki kekurangan dalam posisinya sebagai medium pertukaran informasi. Pada faktanya, justru karena kemudahan dan kebebasan informasi yang melampaui lokalitas, sering kali membawa manusia pada tumpukan informasi yang tidak berhubungan langsung dengan keprihatinannya. Sebuah informasi akan segera dilupakan, karena setiap informasi segera tertindih dengan informasi baru yang lainnya.

Kekurangan tersebut dapat diisi oleh kertas  dalam bentuknya seperti buku, majalah, surat kabar dan lain-lain. Selain informasi tersebut dapat difokusi (karena tak segera tertindih dengan informasi yang lain), juga tak serumit informasi dinternet dalam menelusuri validitasnya.

Keadaan demikian  ‘memaksa’ industri kertas untuk terus ber-evolusi. Bukan dalam makna takut akan kehilangan eksistensi kertas dalam kehidupan manusia, tetapi lebih kepada kesadaran akan keterbatasan kertas pada sisi tertentu yang hanya dapat diisi oleh teknologi internet. Demikian juga sebaliknya, kekurangan teknologi internet dapat diisi oleh media kertas.

Soal efektifitas, kertas lebih efektif untuk digunakan sebagai media baca dan tulis, bahkan juga sebagai medium pertukaran informasi. Tetapi, soal efisiensi, internet lebih efisien untuk dimanfaatkan seperti diatas. Efektifitas kertas karena lebih dapat memberikan efek bagi penggunanya, baik dalam soal fleksibilitasnya maupun dalam soal kualitasnya. Dibandingkan internet, efektifitasnya masih lebih merupakan cita-cita dibandingkan fakta.

Keselarasan antara kertas dan internet sangat membantu manusia untuk mencapai kehidupan yang terbaik. Dinamika yang terlibat antar keduanya dapat melestarikan hubungan koherensi yang dengan sedemikian rupa dalam batas-batas tertentu dapat saling melengkapi satu sama lain.

Menyadari akan posisinya masing-masing, sangat membantu manusia untuk tak salah kaprah. Kertas dapat menjawab soal efektifitas, sementara internet punya bagian sendiri, yaitu menjawab soal efisiensi. Dengan demikian, kita dapat sampai pada kehidupan yang terbaik.

Kertas Di Zaman Butuh Kertas

Sumbangsih kertas bagi peradaban manusia tak diragukan lagi, sejak zaman Yunani kuno sampai ‘zaman now’ kertas masih tegak berdiri menemani perjalanan umat manusia. Dengan kemajuan teknologi pula kertas telah sampai pada bentuknya yang paling sempurna dizaman sekarang.

Kertas telah banyak berubah bentuk menjadi bahan-bahan lain yang tak kalah bermanfaat, seperti pembungkus, pembersih, dan lain-lain. Walaupun pada kenyataannya, kertas tak benar-benar kehilangan peran sebagai media tulis, baca  dan pertukaran informasi  dalam keseharian kita.

Lebih jauh lagi,  selain dengan kelebihan – kelebihan yang dipaparkan pada bagian sebelumnya, kertas juga memiliki kelebihan yang tak kalah penting. Sampah kertas selain dapat didaur ulang juga tak terlalu memberikan efek yang membahayakan bagi lingkungan dibandingkan dengan bahan-bahan lainnya.

Ditengah isu lingkungan yang menjadi perhatian umat manusia saat ini, pengunaan bahan kertas masih disaranan. Terbuat dari serat kayu dengan sedemikian rupa, kertas lebih ramah lingkungan dan dengan mudah dapat diurai dalam waktu yang relatif cepat.

Mempertimbangkan dari sudut pandang keseimbangan ekologis tersebut, seakan meneguhkan kembali posisi kertas yang tak dapat digantikan dengan bahan lain. Bahkan, kertas telah mengambil alih fungsi pembungkus yang sebelumnya menggukanan bahan plastik (kantong kresek), karena pertimbangan yang sama. Paling tidak, sekarang telah ada kantong kresek yang diproduksi dengan campuran bahan kertas.

Kertas telah ada berabad-abad lamanya, dari generasi ke generasi. Hal ini membuktikan kertas cocok untuk kehidupan, baik efektifitas yang  diperoleh  manusia darinya maupun bagi lingkungan.

Dari sudut pandang ini pula, kita dapat mengafirmasi bahwa zaman kita zaman butuh kertas. Tidak menutup kemungkinan, dimasa-masa yang akan datang akan lebih banyak lagi produk-produk yang diproduksi dengan bahan dasar kertas.

Jika dipertanyakan kembali, benarkah kita tak membutuhkan kertas ? Sulit kiranya bagi kita untuk benar-benar menjadi masyarakat tanpa kertas (paperless society). Paling tidak, untuk menjawab pertanyaan tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berpikir, karena kita kesulitan untuk menemukan model masyarakat tanpa kertas selain kembali dizaman kuno.

Sebelum kertas diciptakan pertama kali, dalam perjalanan sejarah manusia, batu dan kulit-kulit hewan menjadi alternatif untuk kebutuhan akan informasi. Model masyarakat tanpa kertas hanya ada dizaman itu.

Kiranya apa yang diramalkan oleh Lencester tersebut masih jauh dari faktanya. Kendatipun masyarakat tanpa kertasnya (paperless society) dimaknai dengan sebuah masyarakat yang tidak lagi menggunakan kertas sebagai medium tulis, baca, dan pertukaran informasi, toh hari ini  peran kertas sebagai medium tulis, baca  dan pertukaran informasi masih relevan dengan konteks sekarang.

Relasi antara kertas dan manusia tak terpisahkan. Kendatipun hal ini bukan sebuah relasi ketergantuangan seperti kebutuhan manusia akan pangan (kebutuhan dasar), tetapi kertas juga telah ambil bagian menjadi sebab pelengkap untuk memenuhi kebutuhan pelengkap manusia lainnya.

Artinya, kertas tak benar-benar dapat hilang dari kehidupan keseharian manusia. Sejalan dengan industri kertas yang terus menghadirkan produk-produk baru dengan berbahan dasar kertas. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa kertas adalah ‘produk lintas zaman’.  Hal ini semakin menegaskan kekeliruan ramalan Lencester.

-----------

Referensi :

Karlina Supelli "Ruang Publik Dunia Maya" dalam Ruang Publik; Melacak 'Partisipasi Demokratis' dari Polis Sampai Cyberspace. Yogyakarta: PT. Kanisius, 2010.