Asap kopiku mengambang ringan ke udara. Halus dan tenang. Aromanya yang samar-samar pun terasa nikmat bila kita resapi. Ku lepas kacamataku yang mengembun tipis karena asap kopi. Perlahan ku seruput dan ku rasakan kenikmatannya yang aduhai, seakan-akan aku lah pemilik dunia. Dengan sensai kehangatan yang menyelimutiku di dinginnya malam penghujan. Perlahan ku sadari ada seorang pemuda di sampingku dengan tumpukan-tumpukan buku dan berlembar-lembar kertas bercorat-coret sana sini. Ah pejuang skripsi, batinku. Tak sedikit memang pejuang-pejuang seperti dia yang menenangkan dirinya dari tumpukan ribuan kertas memuakkan dengan sejuta saran-saran si pembimbing yang kadang amat sangat susah dicerna.

Kadang aku tak habis pikir. Karya-karya anak bangsa yang seperti itu dikemanakan. Apakah sebatas disimpan, disembunyikan, atau mungkin dikaji ulang ?. Tapi itu tak terlalu kufikirkan, yang amat kukhawatirkan sebenarnya adalah tumpukan-tumpukan kertas itu. Kertas sebanyak itu, setebal itu, selebar itu, dan se-se yang lainnya apakah tidak mempengaruhi ekosistem bumi?, mengingat banyaknya pohon yang harus ditumbalkan demi kertas-kertas itu. Lantas apakah kertas hanya ada sebagai wadah dari buah pikir manusia saja? Atau mungkin ada fungsi lain yang masih tersembunyi. Padahal di mana pun dan kapan pun kita selalu menemukan kertas dengan berbagai wujud dan rupa. Di perpustakaan, kelas, kamar tidur, bahkan di tolet pun kita menemukan kertas.

Berbicara tentang buah pikir manusia. Kertas merupakan piranti yang cukup berpengaruh di awal kehadirannya. Kertas hadir di momentum yang sangat tepat. Ia hadir di masa-masa aktifnya ilmuwan-ilmuwan dunia dalam menemukan berbagai macam ilmu. Entah itu ilmu agama, ilmu pengetahuan, teknologi, astronomi, juga filsafat. Di situlah peran kertas pada awal kelahirannya.

Kertas hadir sekitar tahun 101 Masehi. Di daratan Cina seorang pegawai kerajaan bernama Tsai Lun berhasil menemukan kertas dari bahan utama kayu. Awalnya metode pembuatan kertas yang mereka temukan sangat dirahasiaan oleh bangsa Cina. Karena, mereka ingin menguasai perindustrian kertas di dunia. Pertama kertas terdistribusi ke tanah Jepang dan Korea hingga akhirnya suatu hari informasi tentang metode pembuatan kertas tersebut bocor ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah ketika kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam perang Talas di tahun 751 Masehi. Sehingga pada zaman itu muncullah pusat-pusat perindusrian kertas di daerah Baghdad dan Samarkand.

Tidak hanya perekonomian, ilmu pengetahuan di masa Kekhalifahan Abassyiah berkembang pesat karena kehadiran industri-industri kertas di sana. Pada masa itu lahir berbagai macam ilmuwan yang sangat berpengaruh dalam perkembangan dunia. Di antaranya Al-Jahiz seorang ilmuwan yang menggeluti bidang zoologi. Ia berhasil merumuskan taksonomi makhluk hidup yang dirangkumnya dalam kitab Al-Hayyawan. Selain itu ada Ibnu Sina atau yang dikenal Aviccena oleh bangsa barat berhasil menuliskan satu buku yang sampai sekarang menjadi kitab utama para calon sarjana dokter. Kitab tersebut berjudul Kitab Al-Shifa’ dan Qanun fi Thib dengan jutaan kopi sudah diterbitkan hingga sekarang. Ada juga Al Biruni, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, dan masih banyak lagi ilmuwan Timur-Tengah dengan berbagai karyanya.

Selain di bagian Timur-Tengah. Kertas juga berpengaruh penting terhadap kebudayaan Barat. Ilmuwan-ilmuwan Barat pun tidak sedikit yang berperan aktif dalam perkembangan dunia dengan kertas di sisinya. Seperti, Isaac Newton si penemu gaya gravitasi. Kemudian, Wright bersaudara yang berhasil menyempurnakan model pesawat terbang yang hingga kini menjadi salah satu alat transportasi penting bagi jamaah haji di seluruh dunia. Selain itu, ada Thomas Alfa Edison, Albert Einstein, dan masih banyak lagi orang-orang berpengaruh dengan berlembar-lembar kertas yang berperan penting terhadap buah pikir mereka.

Ku seruput lembut kopi hangatku. Pemuda di sampingku sekarang sedikit tersenyum lembut ketika melihat salah satu lembaran di tangannya. Rasa ingin tahuku pun muncul. Sedikit ku condongkan badan dan mencari celah untuk melihat. Ah, rupanya hanya tulisan alfabet A dengan tinta merah. Hanya A, batinku. Tapi tak apalah, itu sudah lebih dari cukup mengingat usaha pemuda ini dengan kantong matanya yang sedikit membengkak.

Selain sebagai wadah bagi buah pikir para ilmuwan. Kertas kini sudah merambah ke berbagai produk. Mulai dari produk rumahan bernilai ribuan rupiah hingga sampai produk besar dengan nilai yang tak kalah mengagumkan. Diantara berbagai macam produk tersebut, ada kertas minyak yang tiap hari kita temui di rumah makan pinggir jalan, juga kertas tissue dengan berbagai macam fungsinya, ada juga kertas HVS yang paling banyak kita temui tiap hari, kemudian kertas duplex, karton hingga kertas corgated yang digunakan sebagai box mi instan, air mineral, dan sebagainya.

Pemberdayaan kertas juga tidak sebatas itu saja. Kertas-kertas yang sudah tidak terpakai dapat diolah lagi menjadi produk-produk menarik lainnya. Selain sebagai langkah pengembangan ekonomi, produk tersebut juga berpengaruh dalam mempertahankan ekosistem bumi dengan pemanfaatan kembali barang-barang yang seharusnya sudah menjadi sampah. Contoh dari produk tersebut ialah kertas daur ulang dengan berbagai macam warna, bingkai foto, coaster atau alas cangkir, vas bunga, dan masih banyak lagi. Selain modal dari produk tersebut terbilang murah, fungsi dan keuntungannya pun cukup menarik bila kita perhatikan.

Rupanya peran kertas di kehidupan kita sangat beragam. Dimulai sebagai media dari buah pikir manusia, hingga produk-produk yang berguna dalam kehidupan sehari-hari seperti tissue, kertas HVS, kertas karton dan sebagainya. Selain itu kertas juga berguna dalam perkembangan ekonomi dunia. Coba kita bayangkan, jika tidak ada kertas sejak dulu. Di mana kita akan menulis perjanjian-perjanjian dengan berbagai pihak terkait urusan tanah, hukum, hingga perusahaan?. Selain itu, bila tidak ada kertas bagaimana kita mencatat dan menulis semua ilmu yang didapat di bangku sekolah?. Bahkan di mana para calon sarjana, doktor, profesor menulis semua skripsi, disertasi, dan karya ilmiah mereka?. Apakah semua itu akan dilakukan dengan media kayu? Atau bahkan harus mengukir batu?.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu. Permasalahan yang ku tulis di awal cerita tadi kini mulai memprihatinkan. Industri kertas di dunia tidak seimbang dengan jumlah pohon-pohon yang tumbuh. Akibatnya tidak sedikit lahan-lahan yang gundul secara dini. Bahkan penumbalan pohon-pohon ini terlalu cepat dibandingkan kesadaran manusia itu sendiri. Manusia masih terhitung lamban dalam penanganan masalah ini. Mereka berfikir masih banyak hutan-hutan di dunia, terutama di Indonesia yang bisa dijadikan tumbal. Sehingga mereka lebih memilih menebang terlebih dahulu ketimbang memikirkan dampak kedepannya.

Menurut Muhammad Danuri dalam salah satu artikelnya, ia mengutip bahwasannya diperlukan satu batang pohon berusia lima tahun untuk memproduksi satu rim kertas. Selain itu P-WEC (Petungsewu Wildlife Education Center), menyatakan bahwa setiap lima belas rim kertas ukuran A4 akan memerlukan satu pohon. Setiap tujuh ribu ekslempar koran yang kita baca setiap harinya akan menghabiskan 10-17 pohon di hutan. Sedangkan bila kita luangkan waktu untuk merenungkan ini semua, dengan banyaknya penduduk bumi yang sudah menggunakan ribuan, jutaan, bahkan mungkin lebih dari triluyunan lembar kertas, sudah berapa milyaran pohon kita tumbalkan?. Memang penumbalan tersebut tidak sia-sia. Tapi, apakah kita rela jikalau anak cucu kita nanti kehabisan pohon untuk ditumbalkan demi kertas?.

Sekarang sudah marak aksi reboisasi hutan, penanaman kembali pohon-pohon untuk menyetabilkan ekosistem bumi. Selain itu penggalakan penghematan konsumsi kertas pun sudah ramai di sudut-sudut rumah tiap kota di bumi. Akan tetapi kita kembaikan semua masalah ini pada individu masing-masing, akankah kita masih memubadzirkan pohon-pohon yang sudah ditumbalkan, atau akan mengganti semua pohon itu dengan bibit-bibit baru. Mengingat juga bahwa fungsi dari kertas tidak sebatas sebagai media tulis, tapi juga produk-produk keseharian lainnya.

Dinginnya malam mulai menusuk tulangku. Jaket hoodieku sudah tak mampu menahan dinginnya malam. Kopi yang ku pesan sedari tadi juga mulai mendingin. Pejuang skripsi yang tadi sibuk beradu tatap dengan layar laptopnya pun sudah pulang. Pelanggan warung kopi malam ini tak seramai malam-malam biasanya. Aku berdiri dan berjalan pulang dengan sejuta perenungan akan kertas.