Kertas pada masa kini adalah sebuah media yang masih menjadi hal yang bisa dikatakan “primer” bagi keperluan umat manusia. Betapa tidak, beberapa lini keperluan kita masih sangat tergantung oleh fungsi kertas. Di tengah perkembangan era digital yang dianggap mengikis peran dan fungsi kertas, ternyata kertas tidak serta merta menjadi material sekunder bagi keberlangsungan peradaban manusia.

Esksitensi kemajuan peradaban manusia modern pada masa kini, sampai di era globalisasi dan digitalisasi yang ditandai dengan maraknya teknologi digital, tidak bisa dipisahkan begitu saja dari peran penemuan tulisan yang disempurnakan dengan penggunaan kertas sebagai media tulisan.

Awal Munculnya Kertas

Adanya penemuan kertas mungkin menjadi sebuah inovasi penting dalam perkembangan kemajuan peradaban modern manusia. Dimana fungsi dasar kertas yang menjadi media menulis sehingga mampu menjadi pengantar peradaban manusia melalui pesan ilmu pengetahuan yang bisa dirasakan oleh semua golongan di penjuru belahan dunia. Dimulai oleh Ts’ai Lun, sang penemu kertas. Ya, berdasar buku Michael H. Hart (100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia), Ts”ai Lun merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan kertas sebagai media untuk menulis. Pada abad kedua (sekitar tahun 105 Masehi), Ts’ai Lun yang merupakan pegawai negeri di pengadilan kerajaan, kemudian memperkenalkan contoh kertas kepada Kaisar Ho Ti. Atas penemuannya tersebut Ts’ai Lun mendapat gelar kebangsawanan sekaligus menjadi orang paling berpengaruh ketujuh dalam daftar buku Michael H. Hart tersebut.

Penggunaan kertas meluas di China selama abad kedua dan beberapa abad setelahnya, China bahkan mengekspor kertas di beberapa wilayah di Asia. Sebelum kertas digunakan, segala data dan informasi disimpan dengan cara dipahat di dinding batu atau logam sampai pada masa penggunaan lembaran kulit. Dimana sebelum kertas ditemukan, orang Mesir kuno menggunakan Papirus (Papyrus) yang merupakan tanaman Cypirus Papyrus sebagai media untuk menulis. Penggunaan kertas papirus sudah dimulai sejak 4.000 tahun sebelum masehi

Di Dunia Barat, sebelum kertas diperkenalkan, kebanyakan buku atau catatan dibuat dari kulit domba atau sapi yang diolah secara khusus yang dinamakan perkamen (vellum). Sedangkan orang China kuno menggunakan media sutra, namun karena kelangkaan media ini menyebabkan biaya yang mahal untuk menggunakannya. Sampilah pada masa Ts’ai Lun memperkenalkan kertas.

Pada masa Ts’ai Lun, kertas dibuat dari bahan bambu dimana proses produksinya dimulai dengan merendam bambu di dalam air lalu memotongnya menjadi bagian yang lebih kecil. Kemudian dilumat sampai halus atau berbentuk bubur bambu, selanjutnya dicampur dengan kapur hingga seratnya tersisa pulp kertas yang diratakan sampai proses pengeringan atau pengepresan hingga menyerupai kertas yang ada sekarang untuk bisa digunakan, bahkan ada pula produksi sampai mewarnai kertas tersebut.

Dengan adanya penemuan kertas oleh Ts’ai Lun, maka peradaban China sudah mulai berkembang khususnya dalam hal kebudayaan dan administrasi, yang menyebabakan peradaban China kuno bisa menyaingi Dunia Barat. Sampai akhirnya kertas bisa berkembang di belahan Dunia Arab dan juga Daratan Eropa di abad ke 12 melalui Italia dan berkembang di Jerman pada pada tahun 1320 M.

Masa Kejayaan Kertas, Respon Penemuan Kertas Dalam Mengawal Peradaban 

 Respon dari penemuan kertas oleh Ts’ai Lun tersebut, kemudian mampu mengawal sebuah proses peradaban panjang yang dilakoni manusia sampai pada fase digital. Kamajuan peradaban yang mungkin tidak akan sampai di masa milenial ini ketika peran dan fungsi kertas ditiadakan. Bayangkan ketika semua pencatatan dan dokumen tidak mampu diarsipkan melalui kertas, maka segala inovasi dan kemajuan tidak akan mampu seakurat dan secanggih saat ini. Tetapi hal ini akan sangat sulit untuk membuat peradaban menjadi lebih cepat berkembang ketika semua proses tulis menulis dilakukan secara manual.

Dari respon penemuan kertas kemudian bisa berjaya setelah ditemukannya mesin pencetak kertas. Masih berdasar buku Michael H. Hart, bahwa peran tersebut diambil oleh Johann Gutenberg pada tahun 1400-1468 M. Gutenberg merupakan orang pertama yang mampu membuat cetakan dari campuran timbal, timah dan antimon yang mampu menghasilkan cetakan tahan lama. Penemuan fenomenal ini merupakan pengembangan penggunaan huruf cetak bergerak sehingga mampu mencetak banyak model tulisan secara cepat dan akurat. Dan lagi-lagi Michael H. Hart menobatkan Johann Gutenberg sebagai tokoh kedelapan dalam daftar bukunya sebagai tokoh paling berpengaruh di Dunia. Johann Gutenberg lahir di kota Mainz Jerman sekitar tahun 1400 M setelah kertas berkembang di Eropa (Jerman) pada tahun 1300 M.

Dengan respon positif tersebut, melalui mesin cetak kertas, membuat proses kemajuan peradaban bisa bergerak lebih cepat dan luas melalui media kertas atau tulisan. Karena dengan perpaduan tersebut, kemajuan peradaban lebih ekstrem melalui dua sumber, yakni pemindahan dan penyebaran ilmu pengetahun melalui media kertas (baca: buku) yang bisa dicetak massal dan tentunya menambah sumber ekonomi/produksi baru melalui pencetakan. Sumber industri ini mampu menjadi tonggak sejarah penyebaran informasi melalui kertas dan tentunya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan ke berbagai lapisan manusia yang menjadi cikal bakal peradaban.

Fungsi kertas Di Era Digital

 Di tengah maraknya kampanye atau penerapan paperless, kita patut bertanya. Kertas, bagaimana nasibmu kini? Tapi tunggu dulu. Saat ini penggunaan kertas masih menjadi primadona di tengah kampanye tersebut. Kampanye tersebut bukan berarti akan menjadi sebuah “genosida” dari fungsi atas keberadaan kertas. Tetapi adalah sebuah hal yang mengarahkan kita kepada fase penghematan kertas.

Peran dan fungsi kertas, seyogyanya tetap akan menjadi sebuah kebutuhan keberlanjutan peradaban manusia di tengah era digitalisasi dan kampanye Paperless Society. Saat ini masih begitu banyak penggunaan kertas yang masih belum mampu diminimalisasi. Beberapa kegunaan kertas yang kini dialihkan ke konsep digital seperti surat kertas yang bertransformasi ke surat digital seperti email, media koran, majala, dan buletin yang kini bersaing dengan konsep digitalnya yang kian marak. Namun di beberapa fungsi kertas masih mampu menjadi bahan pokok sebagai material kebutuhan manusia.

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian pada November 2016, konsumsi kertas dunia sebanyak 394 juta ton dan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada tahun 2020. Sementara konsumsi kertas dalam negeri dihitung dari perkapita masih jauh dari rata-rata negara lain. Data ini menggambarkan bahwa, tingkat konsumsi kertas, masih akan sangat potensial ke depan.

Pengunaan kertas sebagai mata uang masih menjadi alat tukar yang mampu dimaksimalkan di tengah globalnya penggunaan internet banking atau uang digital. Coba pikirkan bagaimana ribetnya berbelanja di warung atau pasar tradisional tanpa menggunakan uang kertas. Beberapa kertas perjanjian, surat-surat berharga semisal surat kendaraan, akta jual beli, sertifikat tanah atau sertifikat berharga lainnya tanpa menggunakan kertas, satu lagi, bagaimana susahnya Anda tanpa buku akad nikah.

Penggunaan transaksi digital saat ini justru melahirkan fungsi lain bagi kertas, semisal struk belanja, pembayaran air, listrik, struk ATM dan bukti transaksi lainnya. Selain beberapa hal tersebut, berbagai aplikasi yang coba dihadirkan ternyata belum mampu mendegradasi peran kertas bagi umat modern. Contohnya, sebagian besar umat beragama masih menjadikan kitab suci lebih terpercaya keotentikannya ketika dicetak manual/kertas dibandingkan dengan versi aplikasi/digital.

Salah satu fungsi dari berbagai dokumen kertas sehingga masih menjadi penting di semua level adalah ketika menggunakan dokumen yang membutuhkan legalitas. Beberapa contoh misalkan, ketika diperlukan stempel atau keabsahan lain, maka diperlukan sebuah kertas untuk dianggap sah. Beberapa akad kredit di bank, penerbitan sertifikat yang mewajibkan adanya tanda keabsahan menjadikan kertas tetap memiliki peran yang substansial delam mengawal jalannya peradaban modern manusia.

Kemudian bagaimana peranan kertas dalam hal media cetak yang berbahan utama kertas di tengah era digital? Keberadaan media cetak awalnya akan di anggap habis di tengah kepungan media digital. Tapi ternyata sampai saat ini hal tersebut tidak terbukti tepat walaupun cukup menguras tenaga media cetak untuk bisa bersaing. Mengapa? Hal sederhana yang membuat media cetak masih eksis, hal ini disebabkan terdapatnya perbedaan karakter media tersebut. Media digital menjual berita dengan konsep cepat dan singkat yang kurang merunut detail informasi. Sedangkan media cetak menjual dengan cara sebaliknya. Yakni menyampaikan berita yang lebih terurai secara konseptual dan lebih mendalam untuk para pembacanya. Dan perbedaan ini yang digunakan pelaku industri tersebut untuk tetap laku di market penikmat informasi.

Media cetak adalah salah satu sumber pengantar dan pengawal peradaban yang sangat berperan besar bagi revolusi kemajuan dalam semua hal di era modern. Dengan mengandalkan kertas, media cetak menjadi ujung tombak sampainya informasi dilapisan masyarakat.

Sinergi Kertas dan Papperless Society 

 Di tengah kampanye paperless society yang saat ini bukan hanya dikampanyekan, tetapi sudah mulai di terapkan di beberapa aspek, khusunya paperless office untuk perusahaan atau instansi. Keberadaan kertas masih menjadi media yang sangat mendukung segala aktivitas. Paperless office berakar dari fungsi untuk produktivitas, menekan opertional cost, kemudahan service  dan menerapkan manajemen resiko.

Tetapi penerapan di lapangan, peran kertas tetap tidak bisa didelegasikan sepenuhnya dalam sistem paperless office. Seperti pada uraian fungsi kertas di era digital, keberadaan kertas masih menjadi unsur pengawal perjalanan peradaban manusia.

Namun yang menjadi perhatian saat ini adalah bagaimana sinergi kertas dengan berbagai fungsinya yang masih bisa eksis sampai saat ini dengan industri kertas yang tetap menjajikan bisa saling berangkul dalam mengawal kemajuan kebutuhan manusia. Sebuah konsep yang bisa aktual adalah dengan sinergi positif oleh media kertas dengan sistem paperless society/office bisa berdampingan dan saling menutupi kekurangan masing-masing. Dimana kertas dengan segala unsur negatif dari kampanye pemanasan global dan paperless society dengan konsep yang belum mampu diterima secara maksimal dan masif oleh peradaban universal.

Efek kerusakan yang sering muncul dari penggunaan kertas yang terus meningkat adalah adanya kerusakan hutan akibat pohon yang banyak ditebang untuk menujang industri kertas. Sehingga di takutkan kedepan akan berpengaruh pada efek kerusakan lingkungan atau pemanasan global. Sehingga muncullah efek rumah kaca yang berakibat pada pengaruh cuaca.

Dengan sebuah sinergi antara fungsi kertas dan paperless society, akan bisa mengimbangi kerusakan lingkungan akibat kertas tetapi tidak menghilangkan fungsi kertas sendiri sebagai pengawal peradaban yang masih diperlukan. Langkah sederhana sebagai bagian dari sinergi kertas tersebut adalah konsep reduce (mengurangi penggunaan), reuse (penggunaan kembali), recycle (mengolah kembali) kertas agar bisa mengimbangi konsep paperless society/office. Dengan kolaborasi tersebut maka konsep ketakutan kita akan kerusakan lingkungan akan bisa ditekan dengan tidak mengurangi fungsi atau keberadaan kertas, tetapi dengan catatan pengunaan kertas yang tepat sasaran dan berdaya guna positif.

 Nah, tinggal bagaimana perilaku user yang mampu menerapkan konsep kolaborasi tersebut. Dengan tetap merawat fungsi kertas dan beriringan dengan penggunaan konsep paperless society secara tepat. Sehingga kedua hal tersebut bisa menjadi pijakan kita menyongsong kehidupan di era berkemajuan dengan tetap menjaga kearifan peradaban namun tetap menjaga bumi ini tetap sehat untuk kita wariskan kepada generasi kita.