Ketika kita disodori pertanyaan, “pentingkah membaca?”, pasti sebagian besar diantara kita akan menjawab, “penting!”, atau “penting sekali”, dan kata-kata spontan bernada urgensi lainnya. Lalu, ketika pertanyaan dilanjutkan, “apa saja yang dibaca?”. Maka, sebagian besar orang pun akan menghubungkan dengan media seperti buku, majalah, atau surat kabar. Barulah kemudian menyinggung bentuk media e-paper dengan kekiniannya.

Jika merunut jauh ke belakang, memang tak salah bila aktivitas membaca dikategorikan sebagai aktivitas bernada urgensi. Sebab, Nabi Muhammad SAW yang membawa ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin) pun menerima wahyu pertama kali dengan kata berawalan : Iqro’ atau bacalah. Meski memang, membaca tak melulu pada konteks membaca teks tapi juga “membaca” fenomena yang ada di sekitar kita.

Membaca fenomena pun tentu memerlukan serangkaian penginderaan, analisis, maupun data. Semua bahan untuk mempermudah orang membaca itu perlu dituliskan dalam sebuah media sehingga pesannya tersampaikan. Tak heran, peradaban mencatat banyaknya peninggalan teks atau tulisan, dan bahkan kitab suci Al-Qur’an yang ditulis di atas batu, kulit binatang, kulit kayu (papyrus), hingga penemuan kertas yang kita kenal saat ini yang berawal dari Cina, menuju daratan Arab, kemudian baru masuk ke Eropa.   

Saat ini, membaca memang (masih) identik dengan buku. Dan, seringnya bahkan dikaitkan dengan aktivitas pembelajaran dalam dunia pendidikan. Tak salah memang, sebab ada sebuah ungkapan populer yang juga mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki masyarakat pembelajar. Pertanyaan besarnya adalah : Sudahkan Indonesia memiliki masyarakat pembelajar yang salah satu indikatornya adalah memiliki minat baca yang mumpuni?


Minat Baca dan Kertas, Masih Berkaitankah?

 

Buku sebagai media utama dalam menyampaikan pesan yang erat kaitannya dengan aktivitas membaca, secara fisik dapat didefinisikan sebagai kumpulan kertas yang dirangkum menjadi satu bagian utuh. Buku seringkali juga menempati posisi “agung” karena dampak yang diberikan dapat membawa perubahan yang signifikan bagi pembacanya.

Seorang ahli membaca bernama Edward L. Thorndike mengatakan reading as thinking dan reading as reasoning. Artinya, bahwa proses membaca sebenarnya tak berbeda jauh dengan proses ketika seseorang sedang berpikir dan bernalar. Dalam proses membaca, dapat ditemukan aspek-aspek berpikir seperti mengingat, memahami, membedakan, membandingkan, menemukan, menganalisis, mengorganisasi, dan pada akhirnya menerapkan apa-apa yang terkandung dalam bacaan.

Selain itu, berbagai kecerdasan dalam psikologi seperti kecerdasan bahasa, logika, visual, auditoris, kinestetis, komunikasi verbal, spiritualitas, dan lainnya juga dapat dirangkum, dimunculkan, dan ditumbuhkan, dikembangkan, sekaligus direkam oleh buku. (Budi Susilo, Gunawan : Buku dan Budaya Membaca : Indonesia yang Tertunda).

Tak dinyana jika para pelaku intelektual banyak menempatkan buku sebagai benda kesayangan atau harta yang paling berharga. Tentu, semua buku yang dimaksud adalah berbahan dasar kertas (paper based). Sebab, buku kian memiliki esensinya saat ia bisa diraba, dipegang, digenggam, dan ditekuri dengan mata telanjang secara nyata. Buku tetap memiliki penggemarnya sendiri.

Terbukti, pertumbuhan komunitas literasi yang menggaungkan budaya baca juga sedang hype beberapa tahun terakhir. Sebut saja dari 1001Buku, Forum Taman Bacaan Masyarakat, berbagai taman baca, sudut baca, kampung baca, stasiun baca, komunitas baca, saung baca, dan sederet sapaan akrab yang sengaja dikenalkan untuk melawan phobia terhadap buku dan aktivitas membaca.

Ini tentu merupakan angin segar meski “doktrin” yang muncul sedari awal berdasar hasil penelitian berbagai lembaga, minat baca anak Indonesia sendiri tergolong rendah. Contohnya, seperti riset lima tahun sekali oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) yang melibatkan siswa SD, Indonesia hanya lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan.

Saya sendiri berpikir ini hanyalah soal angka-angka yang tentu tidak bisa digeneralisir mengingat luas Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Akses mendapatkan bahan bacaan yang tak merata seringkali menjadi tantangan utama, selain sistem pendidikan yang terus menimbulkan keruwetan tersendiri setiap kali berganti pimpinan. Belum lagi jumlah perpustakaan milik pemerintah yang semestinya menjangkau di setiap daerah kabupaten di negeri ini.

Jadi, kalau berbicara tentang minat, semua tergantung pada bagaimana lingkungan sekitar merangsang tumbuhnya minat tersebut.

Dan, untuk menjawab pertanyaan, masih berhubungankah antara minat baca dan kertas? Kita tentu akan menemukan jawabannya sendiri jika sampai saat ini buku dan bahkan majalah atau koran bekas masih dianggap “barang mewah” oleh sebagian besar masyarakat Indonesia di daerah terpencil. Ini banyak didokumentasikan oleh para pengajar muda dalam program Indonesia Mengajar, misalnya, atau geliat relawan yang turun hingga ke pelosok.

Apalagi, menurut banyak penelitian, orang akan lebih antusias dan mudah memahami dengan membaca melalui media cetak atau buku daripada e-paper semacam e-book. Beberapa temuannya, peneliti dari West Chester University menemukan fakta bahwa siswa memiliki pemahaman membaca lebih rendah saat membaca e-book, karena mereka melewatkan plot atau peristiwa penting yang ada dalam e-book. 

Selanjutnya, studi dari Harvard University juga mengungkapkan bahwa e-book dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti mengalami tidur yang kurang nyenyak bila dibaca sebelum tidur dan mengurangi hormon penting bernama melatonin dalam proses tidurnya. Paginya, bisa ditebak, bangun tidur akan terasa lebih lelah.

Terakhir, sebuah studi tahun 2005 dari Swedia menemukan bahwa membaca digital memerlukan beban kognitif lebih tinggi daripada membaca di atas media manual berupa kertas.  


Kertas vs Peradaban Modern yang Serba Digital

 

Dari fakta-fakta di atas, tentu kita bisa menyimpulkan bahwa kertas sebagai media untuk menyampaikan pesan berupa bacaan yang kemudian menjelma menjadi buku, masih menjadi sesuatu yang dibutuhkan. Meski, tak dinyana banyak perusahaan penerbitan yang kini beralih ke media digital karena oplah menurun.

Tentu, ini erat kaitannya dengan peradaban modern yang meminimalisir ruang dan waktu dengan tekonologi yang serba digital. Dimulai dari era komputer, penemuan jaringan internet, hingga era big data dengan berbagai aplikasi modern yang saat ini kita temui. Orang berbondong-bondong seperti dijangkiti “virus” baru atas nama modernisasi. Kadang, tak semua orang yang menggunakan teknologi mengerti apa manfaat dari gaya hidup baru yang menyeruak itu.

Apalagi dalam lingkup masyarakat Indonesia yang cenderung memiliki budaya latah atau ikut-ikutan tren. Teknologi terbaru disinyalir menjadi representasi dari sebuah gengsi dan prestise seseorang. Padahal, bila kita telisik, loncatan dari awal yang menggemari budaya lisan (dengan gaya penyampaian pesan bertutur atau dari mulut ke mulut sejak zaman nenek moyang), kemudian menuju budaya baca yang belum selesai tahapannya, meloncat ke budaya digital. 

Melihat latar belakang yang tidak begitu kokoh pondasinya ini, kertas masih sangat memungkinkan menjalankan peran anggunnya sebagai pemimpin peradaban. Asal, manusia sebagai pelakunya dapat adaptif dan menempatkan kertas sebagai media penyampai pesan sesuai zamannya.

Hasil studi yang sudah dipaparkan sebelumnya, dapat menjadi added value bagi kertas. Kampanye tentang bahaya membaca secara digital bila dilakukan secara kontinyu dengan menatap layar gadget bisa dilakukan. Aktivitas membaca digital dapat melelahkan mata dan otak.

Ditambah, bagaimana mungkin hasil pencarian yang singkat lewat banjir informasi di dunia maya dan tulisan yang cenderung apa adanya itu dapat memuaskan hasrat membaca sebagai bagian dari reading as thinking dan reading as reasoning ? 

 

Aktivitas membaca secara digital melalui layar elektronik tidak akan mencapai manfaat maksimal seperti meningkatkan fungsi otak manusia yang terlahir dengan 100-200 milyar sel otak yang siap dikembangkan untuk menentukan intelegensi, kepribadian, dan kualitas hidup seseorang. Produksi sel neurogial yang terdapat pada unit dasar otak yang harusnya berkembang lebih tinggi karena aktivitas membaca yang menuntut akselerasi proses berpikir hanya bisa dicapai maksimal bila kita membaca secara konvensional melalui media kertas.

Menyikapi digitalisasi yang banyak diterapkan berbagai perusahaan dewasa ini ataupun gaya hidup masa kini dengan memanfaatkan semua kecanggihan teknologi (e-book, e-jounal, e-mail, e-money, e-banking, e-chat, dan sebagainya) merupakan bentuk dari pergerakan zaman untuk mempercepat efisiensi waktu dan tenaga saja. Soal biaya justru relatif, karena banyak juga perusahaan yang membutuhkan dana tak sedikit untuk bisa menggunakan berbagai aktivitas penyimpanan dan pengoperasian, hingga analisis untuk membantu pemasaran produk maya seperti e-storage, mobile application, sampai jasa artificial intelligence. 

 

Tak perlu menjadikan era digital sebagai momok, tapi jadikan itu sebagai bagian dari perubahan zaman dan bagaimana kertas sebagai media pemula peradaban tetap bisa memiliki eksistensi dengan proses adaptasinya. Misalkan, tak hanya membuat buku yang berisi lembaran teks saja, kita bisa menggabungkannya dengan sentuhan grafis yang pada prosesnya juga menggunakan teknologi. Atau menelurkan bentuk baru semacam buku audio visual. Atau juga paket bundling buku dan film, atau bentuk-bentuk repackaging yang lainnya. Toh, memasarkannya, juga dibutuhkan peran dari media digital seperti social media, atau website dan blog.  

Hitung-hitung, menggabungkan media semacam kertas dengan gaung peradaban modern yang serba digital juga merupakan bentuk lain dari penghematan kertas agar meminimalisir penggunaan pohon-pohon di hutan sebagai bahan kertas. Upaya lain, penghematan juga bisa dilakukan dengan tidak membuang kertas yang belum terpakai dua sisi, maupun mengumpulkan sampah kertas tersendiri untuk diserahkan kepada pemulung atau pengepul sampah yang kemudian menyerahkan kertas-kertas itu untuk didaur ulang.

Faktanya, di dunia digital pun, dimana minat orang berbelanja menggunakan layanan online shop, tetap menggunakan media kertas kan dalam pengiriman proses ekspedisi barangnya? Karena tak mungkin bentuk fisik sebuah barang saat ini ikut di-digitalisasi. Ia masih memerlukan ruang dan waktu yang mampu mewadahinya. Belum lagi aneka kemasan makanan siap saji, dan sebagainya, penggunaan bahan kertas masih dinilai lebih ramah lingkungan daripada penggunaan plastik dan material lainnya. Apalagi kalau kertas yang digunakan juga merupakan hasil daur ulang.

Jadi, semodern apapun peradaban, ia tetap membutuhkan induk peradabannya. Begitulah kertas bagi gaung peradaban modern dalam fungsinya menyampaikan pesan tertulis maupun mewadahi sebuah benda yang masih membutuhkan ruang dan waktu.