Di Abad XXI, orang-orang mulai meminggirkan kertas (buku). Kebanyakan orang, menganggap kertas itu dokumen ketimbang buku. Akta kelahiran, sertifikat, Kartu Keluarga (KK), dan arsip penting lainnya.

Karena itulah, ketika dokumen rusak orang jadi merasa sedih, kecewa, kehilangan, pusing, hingga kalut. Dokumen itu tak hanya bertaut dengan urusan penting semata, tapi juga membawa kenangan dan menyimpan memori. Dokumen itu nyawa. Ketika hilang dokumen, maka orang seperti sudah mati.

Kita tentu ingat di tahun 2005 di masa SBY, Istana negara terendam banjir. Kita tentu bisa membayangkan betapa pusingnya pemerintahan kala itu menghadapi ujian kearsipan yang rusak atau hilang. Kita pun demikian halnya, akan merasakan pusing, gelisah, dan kesal saat data pribadi kita hilang atau rusak. Ada nilai dibalik selembar kertas yang hilang itu. Akan tetapi hal itu tak terjadi saat kita kehilangan buku.

Buku tak diposisikan seperti dokumen penting dalam keluarga kita seperti ijazah dan semacamnya. Buku lebih mirip seperti kertas bekas yang kemudian dijual di pemulung dan kembali kepada kita menjadi bungkus tempe. Peristiwa itu seperti bukan peristiwa heroik, dan penting. Orang jadi merasa tak memiliki hasrat untuk mendokumentasikan perasaan kehilangan, lemas, atau bahkan pusing saat mereka kehilangan buku.

Ada banyak kisah menarik tentang bagaimana orang-orang di masa lampau memperlakukan buku. Para pendiri republik ini memahami benar makna buku bagi kehidupan dan peradaban di masa mendatang.

Simaklah pengakuan dari Meutia Farida Hatta tentang bagaimana Hatta memperlakukan buku. “Koleksi bukunya menyebabkan Bung Hatta termasuk dalam “kelompok langka orang Indonesia” yang memiliki buku hampir 10.000 judul.

Namun yang membuat kagum kami, anak-anaknya, ialah cara Ayah memelihara buku-bukunya. Termasuk di sini adalah buku-bukunya yang digunakannya pada tahun-tahun pertama kuliahnya di Negeri Belanda, antara 1921-1924, yang hingga kini masih kami simpan baik-baik. Kondisi fisik buku-buku itu, meskipun kini sudah berusia hampir sama dengan usia beliau sendiri, merupakan bukti nyata dari sifat rapi dan penghargaannya terhadap ilmu pengetahuan, yang jarang ditandingi orang”.

Pengakuan dari anaknya itu memberi bukti bahwa buku dirawat atas kesadaran diri, kesadaran biografi sebagai pencinta pengetahuan. Buku dirawat, ditata, dielus, dijaga agar tak rusak seperi juga manusia. Bahkan istrinya sendiri pun memberi pengakuan mengejutkan.

Pengakuan itu terbit di Majalah Berita Buku Edisi Oktober 1995 : “Saya ini sebenarnya adalah isteri ketiga dari Hatta. Ketika ditanyakan dengan penuh keheranan oleh para juru warta, Ibu Hatta memberi penjelasan, Isteri pertama buku, kedua ibadatnya, sedang ketiga adalah saya sendiri”.

Hatta memang dikenal sebagai manusia buku. Ia berpolitik, berekonomi, dan berkeluarga tak bisa dilepaskan dari memori berbuku. Mulai dari mas kawin berupa buku, sampai buku koleksinya yang harus rela ia tinggal demi menyelamatkan nyawa seorang anak ketika di Banda Neira. Goenawan Mohamad menuliskannya di buku berjudul Tokoh dan Pokok (2011): Ketika di Banda Neira di tahun 1942, hanya ada waktu sekitar satu jam.

Hatta tergopoh-gopoh mengepak buku-bukunya, ke dalam 16 kotak. Sjahrir memutuskan untuk membawa ketiga anak angkatnya, meskipun salah satunya masih berumur tiga tahun. Sesampai mereka di pesawat, sebuah problem dipecahkan; ruang di Catalina itu terbatas. Enam belas kotak buku tak jadi dibawa—untuk selama-lamanya—kecuali Bos Atlas yang sempat diselipkan Hatta ke dalam koper pakaian.

Empat puluh tahun kemudian, Hatta masih menyesali kehilangan itu. Bagi Hatta kehilangan buku itu seperti kehilangan nyawa, rasa nyerinya masih terasa sampai kapanpun.

Memori tentang buku memang hadir berproses, tidak tiba-tiba. Orang-orang di masa lampau sering menggunakan tablet, daun, hingga tanah sebagai bagian dari cara mereka merawat ilmu pengetahuan. Orang biasa mengenal kertas dalam biografi intelektual mereka melalui lembaga formal berupa : sekolah.  

Biografi kita adalah biografi kertas. Ia turut serta mendampingi proses belajar kita dari pendidikan PAUD sampai dengan perguruan tinggi. Mulai dari menebalkan huruf-huruf, menyambungnya, hingga menuliskannya satu persatu. Kita juga mengenali kertas lewat masa kecil kita saat kita senang mencorat-coret, menuliskan angan-angan kita, sampai dengan menggambar apapun.

Kertas ikut serta memberikan jejak dan riwayat. Riwayat kita, kenangan kita ada di kertas. Akan tetapi berapa orang yang kemudian merawat, menyimpan dan menjaga memori itu?. Semakin dewasa orang menjadi semakin lupa pada peranan kertas dalam biografi intelektual mereka.

Orang kemudian merasa sesak, sumpek dan jengah manakala kertas memenuhi rumah-rumah mereka. Lebih mudah membuang buku dan menjualnya kepada tukang sampah ketimbang membelikan rak, menata ulang dan merawatnya baik-baik. Gambaran tentang kecintaan pada buku tak seperti yang digambarkan dengan penuh emosional seperti di novel Rumah Kertas (2016) : Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya.

Dengan mereka kita terikat pada pakta kebutuhan pengabaian, seolah-olah mereka menjadi saksi bagi momen hidup kita yang takkan pernah terjumpai lagi. Namun, selama buku-buku itu masih ada, momen itu pun tetap menjadi bagian dari diri kita. Sedikit sekali orang yang merasakan bahwa di buku, di kertas-kertas itu bertumpuk memori, kenangan, ingatan dan biografi kita. Orang lebih memandang kertas dan buku-buku itu sebagai benda mati. Riwayat kita ada di kertas dan di buku-buku itu, tapi seolah kita abai terhadapnya.

Ada baiknya kita merenungi apa yang menjadi kegelisahan Khaled Abou El Fadl di bukunya Musyawarah Buku (2002) saat merenungkan masa depan kertas, masa depan buku. Adakah peradaban yang menghormati buku lebih baik dari peradaban kita? Dan adakah peradaban yang mengkhianati buku yang lebih buruk dari peradaban kita?.

Tindakan menyimpan, merawat, serta menjaga buku kita, merupakan tindakan merawat biografi, serta usaha mengekalkan ingatan yang ada bersamanya. Begitu pula sebaliknya tindakan membuang, menghancurkan, serta mengabaikannya, adalah wujud dari sikap kita yang abai terhadap memori, serta ingatan yang ada bersama buku-buku itu.

Menjaga, merawat kertas dan buku-buku adalah usaha merawat peradaban. Sedangkan membuang, membakar, dan mengabaikannya  merupakan usaha menguburnya.