Pengalaman sebagai terapis di sekolah inklusi menyadarkan saya bahwa terapi terpadu akan mendukung dan menguatkan kemampuan anak di bidang akademis. Salah satu kegiatan belajar-mengajar yang cukup kompleks dan menjadi tantangan bagi siswa berkebutuhan khusus adalah menulis.

Sebagai ilustrasi, saya memberikan terapi terpadu pada 27 siswa, dengan rentang usia pra-sekolah sampai dewasa muda, dengan beragam diagnosa medis. Sebanyak 65 persen dari siswa tersebut mengalami kesulitan yang sama, yakni menulis. Mulai dari posisi tangan yang kurang tepat saat memegang alat tulis, tidak melihat buku, tulisan tak terbaca, kesulitan menulis sesuai bidang yang diberikan, kesulitan dalam menjiplak huruf, kesulitan dalam menyalin, dan sebagainya.

Sayangnya, setahu saya belum ada standar khusus tentang pengukuran kemampuan menulis siswa di tempat saya bekerja. Kemampuan menulis anak pada setingkat sekolah dasar hanya diukur dari kemampuannya menyalin huruf, dan menjawab pertanyaan di lembar soal.

Lain halnya di luar negeri, yang mengukur kemampuan menulis anak melalui beragam alat ukur terstandar. 5 yang paling banyak digunakan menurut Feder dan Mejnemer pada tahun 2009, antara lain Minnesota Handwriting Test, Children’s Handwriting Evaluation Scale-Manuscript, Test of Legible Handwriting, serta Diagnosis and Remediation of Handwriting Problems.

Kemampuan menulis sebenarnya merupakan suatu kemampuan motorik halus yang cukup kompleks, karena melibatkan beberapa aspek perkembangan. Pada serial buku Nakita, Belajar Membaca, Menulis dan Berhitung tahun 2008, menyatakan bahwa ada 6 wilayah keterampilan prasyarat untuk belajar menulis, yaitu perkembangan otot kecil, koordinasi mata dan tangan, kemampuan memegang alat tulis, kemampuan membuat coretan dasar, dan kemampuan dalam mempresepsi huruf.

Sehingga, jika salah satu prasyarat tak terpenuhi, bisa dipastikan anak berkebutuhan khusus tersebut kesulitan untuk menulis. Anne Trubek, penulis The History and Uncertain Future of Handwriting berpendapat, pelajaran menulis terutama menulis halus mendorong kemampuan gerak otomatis, yakni menuntaskan suatu tugas dengan sempurna dan melakukannya tanpa berpikir.

Selama proses terapi berlangsung, latihan menulis dimulai dengan merangsang perkembangan otot kecil dengan cara memijat untuk pelemasan otot tangan, latihan gerakan penguatan otot tangan, dilanjutkan dengan latihan konsentrasi serta koordinasi mata dan tangan. Baru kemudian, dilanjutkan dengan latihan memegang alat tulis dan mencoret.

Seusai terapi, diberikan pula saran kegiatan yang bisa dipraktikkan dan dibiasakan di rumah menggunakan alat dan bahan yang bisa ditemukan di rumah. Salah satu media yang sering kami rekomendasikan adalah kertas. Karena kertas mudah didapatkan dan harganya cukup terjangkau serta bisa digunakan untuk melatih kemampuan prasyarat menulis.

Setiap bulan, tim terapi yang berjumlah 13 orang bisa menghabiskan persediaan kurang lebih 1 rim kertas baru untuk latihan prasyarat menulis ini, di luar buku latihan masing-masing siswa, kertas lipat, serta kertas bekas kalender atau majalah yang kami gunakan.

Pada prasyarat perkembangan otot kecil dan koordinasi mata dan tangan, kegiatan yang bisa dilakukan menggunakan kertas antara lain:

  • Meremas dan meratakan kembali lembar kertas atau koran; anak diminta meremas lembaran kertas/ Koran sampai seukuran kepalan tangan dan mengenggamnya, kemudian meratakan kembali bola atau gumpalan kertas itu.
  • Menggulung; melatih gerakan menggulung kertas dengan seluruh telapak tangan, mengubah bentuk lembaran kertas menjadi seperti sedotan
  • Merobek; meminta anak memegang bagian atas kertas dengan telunjuk dan ibu jari, kemudian mengarahkannya ke bawah untuk merobek kertas tersebut menjadi dua bagian. Hal ini terus dilatihkan sampai kertas benar benar robek karena proses gerakan tangan dari atas ke bawah, bukan robekan karena tarikan. Jika telah berhasil, latihan ditingkatkan untuk merobek ukuran kertas menjadi lebih kecil, lebih kecil, dan lebih kecil.
  • Menjimpit; hasil robekan kertas ditempelkan pada lembar kertas yang lain. Anak dilatih untuk mengambil robekan kertas yang tersebar dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya
  • Menggunting; meminta anak memegang gunting dengan posisi yang benar dan menggunting kertas. Diawali menggunting tanpa panduan garis, kemudian dilanjutkan dengan panduan garis. Mulai dari garis vertical berukuran 1 cm, dilanjutkan ke garis melingkar, dan pada tingkat selanjutnya menggunting mengikuti bentuk bangun datar seperti lingkaran, segitiga, dsb.
  • Meronce; menggunakan hasil dari kegiatan menggulung, dilanjutkan dengan mengguntingnya sesuai dengan instruksi atau sebaliknya menggunting sesuai pola lalu menggulungnya sampai berbentuk tabung, yang dilanjutkan dengan meroncenya menggunakan benang.

Seluruh kegiatan di atas disuaikan dengan kemampuan anak. Misalnya saja pada salah satu siswa saya, sebut saja namanya Wawa dengan diagnosa medis Mikrocephali (ukuran lingkar kepala lebih kecil daripada ukuran kepala normal).

Secara fisik, postur tubuh Wawa cukup tegap, namun kedua tangannya pada saat kondisi santai terlihat dalam  posisi menguncup. Hal ini menjadikan Wawa kesulitan dalam mengontrol gerakan halusnya.

Saat diminta untuk melambaikan tangan dengan jari terbuka, Wawa masih kesulitan dan cenderung mengibaskan tangan. Wawa mampu mengenggam dan memegang benda berukuran besar, namun kesulitan dalam memegang benda berukuran kecil. Oleh karena itu, fokus latihan gerakan halus pada Wawa adalah meningkatkan kemampuannya dengan meremas, merobek, dan menjimpit.

Latihan sederhana menggunakan media kertas ini bertujuan merangsang dan menstimulus koordinasi gerakan halus Wawa yang akan mendukung kemampuan akademiknya dalam menulis  Saat menulis, Wawa masih belum bisa memegang alat tulis dengan sempurna, dan memerlukan bantuan serta pendampingan penuh untuk memegang pensil dengan tripoid (menggunakan tiga jari tangan, ibu jari, telunjuk serta jari tengah).

Saat diidentifikasi, Wawa dibantu memegang pensil dan saat evaluasi tiap 6 bulan. Kemampuan Wawa tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Wawa masih kesulitan memegang pensil secara tripoid dan kemampuan mencoretnya sebatas menggesekkan alat tulis ke atas kertas tanpa diarahkan.

Usut punya usut, kesibukan orang tua menjadi salah satu faktor penyebabnya, orangtua sibuk bekerja, pengasuhan dilakukan bersama dengan kakek neneknya, serta ada adik bayi yang baru lahir, mengakibatkan program Latihan Wawa di rumah tak pernah dilakukan.

Kegiatan penguatan kemampuan gerakan halus dan menstimulus gerakan halus hanya dilakukan oleh guru dan terapis di sekolah. Tak heran, pada tahun ketiganya di sekolah dengan usia yang kini sembilan tahun, Wawa masih mengalami keterlambatan wicara, gangguan motorik  halus dan gangguan motorik kasar.

Sebagai perbandingan, kemampuan gerakan halusnya masih setara anak usia 7 bulan, kemampuan komunikasi aktifnya masih setara anak usia 12 bulan, dan kemampuan berbahasa pasifnya setara anak usia 6 tahun.

Sedangkan temannya yang juga menderita microcephali dan mengalami gangguan perkembangan motorik dan wicara, menunjukkan perubahan yang cukup baik saat dievaluasi, dikarenakan orangtua konsisten mengulangi kegiatan yang diberikan di sekolah dan ruang terapi. Selain itu, orangtua juga rajin berkomunikasi untuk bertanya tentang kegiatan putranya hari ini.