Dilema memang saat alam sudah mulai meneriaki kita untuk berhenti, sedang peradaban masih membutuhkannya. Alam tidak pernah meminta banyak, namun manusia juga perlu menyadari bahwa ia tak mampu memberi balik, bahkan kadang tak mampu berterima kasih dengan baik. Seperti ibu pada anaknya, mungkin begitu analogi alam terhadap manusia. Ketimpangan ekosistem yang muncul, umumnya terjadi karena eksplorasi tanpa persiapan mengganti. Teknologi selalu jadi superstar dengan dalih mempermudah hidup manusia. Namun, teknologi kadang lupa bahwa manusia akan selalu membutuhkan alamnya. Mutlak. Tanpa bisa ditawar lagi.

Nusantara dengan budaya oral telah berlangsung berabad-abad. Bukan tanpa bekas. Seni, olah raga, sistem pertanian, astronomi, sampai resep masakan turun menurun pun masih kita lakukan sampai hari ini, meski mungkin beberapa hal tidak tersampai dan tak pernah tercatat.

Melihat lagi jauh ke belakang, usia budaya tulis tentu lebih tua dari pada kertas itu sendiri. Tulisan pada batu atau kulit kayu misalnya, meski saat itu tulisan hanya bersifat mometum semacam prasasti, atau hal-hal penting lainnya. Setelah kertas menjadi media tulis, kerajaan dan orang-orang kelas atas mulai menulis sastra, perundang-undangan dan dokumen-dokumen penting diatas kertas. Tersimpan dan pelan-pelan kita telusur lagi hari ini, meski kadang hanya sebagai rekreasi waktu saja.

Jika kita mencoba menelisik kehidupan masyarakat adat khususnya pada masyarakat Baduy di Sunda, tulis menulis bukan sebuah prioritas. Bahkan mereka menolak tulisan, apalagi digital karena kepintaran bagi mereka cenderung akan melukai alamnya. Bagi mereka, kemajuan peradaban ditandai dengan kearifan terhadap semesta. Alam, dan tanah adalah ibu yang menyusui kehidupan, maka sudah seharusnya ditinggikan. Teknologi-teknologi disampaikan melalui tutur baik teknologi dalam seni, astronomi atau pun sistem pertanian dan teknologi dalam menjaga semesta.

Sementara, kertas dan industri kayu lainnya menurut data dari worldbank.org menyumbang kurang lebih 14 persen pencemaran air dan kerusakan alam di Indonesia. Meski sebenarnya jumlah tersebut tidak sefantastis industri-industri lain seperti tekstil misalnya, yang menyumbang pencemaran air dan lingkungan jauh lebih tinggi. Dari sinilah, masyarakat kertas dengan sadar harus segera mencari solusi.

 

Kertas Budaya Menguasai Dunia

Kertas tidak bisa dipukul rata tentang penting dan tidaknya pada sebuah bidang. Jika dipisahkan berdasar fungsinya, ada kertas yang digunakan sebagai media tulis menulis dimana kertas memberi asupan kearifan, pengetahuan dan kekayaan pemikiran. Fungsi lain adalah kertas untuk industri dan keseharian seperti kerajinan tangan, papper bag, kardus, kemasan produk-produk, termasuk juga uang kertas.

Menangkap kembali fungsi kertas dalam peradaban, di beberapa negeri pengalaman mempelajari jilidan kertas-kertas suci sejak dini tidaklah aneh. Kertas berjilid yang mewadahi kisah suci ratusan tahun lalu, dan hingga kini masih apik dijaga. Meskipun bukan kertasnya, namun muatannya yang terpenting. Kita jelas berhutang besar pada kertas untuk iman yang sudah mengakar di diri manusia modern.

Begitu juga dengan pemerataan ilmu pengetahuan. Kertas ilmu-ilmu yang sifatnya rahasia menjadi lebih mudah dilacak, asal tidak dihancurkan. Kertas pengetahuan membuka kemungkinan bagi banyak bangsa untuk menjadi besar sebagaimana bangsa lain yang lebih dulu mampu membahagiakan warganya dengan pengetahuan. Telah pernah ada masa dimana setiap manusia di dunia memegang kertasnya, seperti manusia hari ini memegang smartphonenya.

Kertas-kertas musikal bahkan telah ada saat suara belum mampu direkam. Kertas-kertas mampu merekam karya-karya Ferdinand Carulli, Carcasi atau musisi-musisi populer seperti Bach atau Mozart. Hingga kini, nyanyian kertas itu masih dapat dipresentasikan oleh instrumen bahkan instrumen musik digital sekalipun. Bisa dibayangkan jika nyanyian itu disampaikan tanpa kertas, mungkin saja beberapa not nya akan hilang atau berubah dari satu generasi ke generasi lainnya. Dengan tercatatnya karya, maka seorang komposer dapat membuat karya baru, sebaru-barunya tanpa dibebani untuk mengigat-ingat terus karya lamanya.

Kertas bukan hanya menampung tulisan, namun juga cerita-cerita visual. Gambar hasil tangan maupun kamera yang mencetak gambar nyata dari negatif film, semua dicetak di atas kertas. Belum lagi setelah printer ditemukan, kebutuhan kertas makin meningkat. Kertas-kertas bukan hanya tentang menulis, namun juga karya-karya seni, gambar sejarah kenangan keluarga yang sangat berarti bagi anak cucu. Kertas ada bukan hanya untuk kata-kata. Dia juga mampu untuk menjagai nyanyian dan gambar.

Kertas dalam peradaban dunia barat nampaknya sangat mempengaruhi kearifan dan pengetahuan manusia. Maju mundurnya keilmuan, seni dan hampir seluruh praktik kehidupan sangat dipengaruhi oleh lembar-lembar kertas yang berisi. Sedangkan bagi nusantara di masa lalu yang sarat budaya oral, kertas bukanlah satu-satunya cara untuk menjadikan manusia lebih arif. Namun bagi kita yang hidup di nusantara hari ini, tanpa kertas akan sulit melacak kebudayaan leluhur ataupun menyamakan langkah dengan kemajuan.

Kertas bermuatan budaya atau sebut saja kertas budaya, dialah yang dapat menjadi terang-terang baru.Tak pernah bisa disangkal bahwa kertaslah yang membuat sesuatu menjadi pemenang. Kisah-kisah yang paling dikenal dunia adalah kisah-kisah yang dituliskan dan digandakan secara besar-besaran. Kepercayaan yang banyak diikuti manusia, adalah kepercayaan yang rumusannya telah dicetak dan digandakan. Kertas juga hasil teknologi yang membuka jalan bagi tumbuhnya teknologi-teknologi lain. Teknologi mustinya turut menggerakkan seluruh kehidupan dengan bijak, membentuk peradaban, budaya di semesta ini.


Sifat Digital dan Alam

Berangkat dari kertaslah ilmu disebarkan, diperdalam, lebih jauh. Kertas dapat menjadi media komunikasi budaya, saling merespon antar manusia di berbagai belahan bumi. Kertas juga menjadi media penyebarluasan paham, life style namun juga sebagai media penjajahan selera masyarakat. Meski persoalan-persoalan tersebut akhir-akhir ini telah digantikan pula oleh media-media digital.

Jika dulu tanpa dunia digital kita dapat menahan diri mempublish tulisan-tulisan yang masih pendek, sekarang banyak sekali muncul tulisan pendek dimana-mana. Meskipun kalimat cantik dan puitik, namun sifatnya yang pendek, banyak dan prosesnya yang mudah biasanya agak jauh dari makna yang dalam pula. Pengetahuan yang kita akses menjadi sangat banyak dan bersifat hanya sebatas tahu. bukan pemahaman mendalam yang akan melahirkan kesadaran nyata.

Kemudahan dalam mempublikasikan info-info semakin menumbuhkan ketidaksabaran kita dalam menyimpulkan, menyebarkan kesimpulan yang mungkin saja dangkal. Sekali tekan enter, artinya tulisan sudah final dan dapat diakses siapa saja. Kita makin rapuh untuk menahan diri. Tak mampu berpikir lebih lama dan lebih dalam, selalu bertanya atas semua hal dengan kata kunci di search engine. 

Begitu banyak sifat-sifat lain yang ditimbulkan oleh digital. Sifat yang nantinya akan melahirkan masalah-masalah besar. Banjir informasi akan semakin membuat kita merasa punya banyak harta, padahal hanya tumpukan sampah dan penyesalan. Serba instan, like dan dislike, follow dan unfollow hampir tak ada lagi kemungkinan yang muncul di tengah-tengahnya. Peralatan yang makin ringkas, menjadikan tulisan yang juga kita baca dalam kotak-kotak kecil berpengaruh pada ruang berpikir yang mungkin juga akan makin sempit. Meski sisi positifnya adalah cepatnya arus informasi dan keluasan persebarannya

Wacana Dunia tanpa kertas menjadi solusi yang terlihat cerdas. Namun, sifat-sifat digital yang makin hari makin nampak, membuat saya menjadi ragu bahwa perpindahan dari kertas menjadi papperless hanya sebuah perpindahan media. Paperless bukan hanya memindahkan kertas pada dunia digital, namun hal itu memungkinkan hal lain yang mengikutinya.

Kertas-kertas yang bermuatan pemikiran, makna-makna, bagi masyarakat dunia masih sangat diperlukan. Setidak-tidaknya, justru untuk memagari sifat-sifat kita diantara laju teknologi. Di era ini, emosi kita makin tak terkendali oleh diri sendiri namun mudah dikendalikan orang lain. Manusia sudah seharusnya mampu memikirkan dampak atas apa yang dilakukannya, maka tanggungjawab untuk menjaga keseimbangan alam ini harus terus-menerus dilakukan secara menyeluruh. Bukan dengan memindahkan kertas-kertas pengetahuan ke papperless, namun lebih bijak dalam pengolahan kertas, penjagaan alam dan penggunaan kertas.

Papperless masih harus lebih dulu dipikirkan matang-matang. Ini bukan hanya persoalan perpindahan media, namun berbuntut panjang pada sifat manusia, keadaan tubuh dan emosi manusia jika terus-menerus harus bersetubuh dengan piranti digital. Digital dengan alasan untuk menghemat penggunaan kertas bisa jadi benar. Namun kita tidak bisa menjamin bahwa alam terus akan lestari dan manusia lebih humanis dengan berpola pikir digital.