Tidak diragukan lagi bahwa kertas merupakan salah satu penemuan terbesar dalam sejarah peradaban umat manusia, sudah berabad-abad lamanya kertas menjadi kebutuhan masyarakat bahkan pemakaiannya selalu meningkat setiap tahunnya hal tersebut yang menjadikan kertas sebagai barang potensial untuk masuk kedalam kegiatan industri. Di Indonesia sendiri industri kertas telah lama dikenal dan sudah menjadi seperti mata tombak kemajuan ekonomi, namun muncul sebuah polemik baru karena bahan utama dari pembuatan kertas ialah batang pohon sehingga muncullah statement yang mengatakan bahwa industri kertas lah yang bertanggung jawab dalam hilangnya kawasan hutan di Indonesia.

                Industri kertas menjadi industri yang menggiurkan, meskipun kita sekarang berada di era digital namun kebutuhan masyarakat akan kertas tetap tidak berubah, bahkan penulis tidak pernah mendengar atau melihat kawasan yang tidak terdapat kertas di dalamnya. Pertumbuhan industri kertas di indonesia cukup signifikan mengingat negeri ini memiliki hampir semua barang baku yang diperlukan, sebagai produsen pulp dan kertas negeri ini telah dikatakan mengalami persaingan yang cukup keras di kancah dunia, dan menurut Kementerian Perindustrian Indonesia menempati peringkat ke-9 untuk produsen pulp terbesar di dunia dan ke-6 untuk produsen kertas terbesar di dunia. Di Asia sendiri, industri pulp dan kertas kita berada di peringkat ke-3 di bawah China dan Jepang, sedangkan di ASEAN kita di peringkat pertama maka hal ini bukankah sudah pantas jika industri kertas dikatakan sebagai mata tombak perekonomian Indonesia di dunia.

                Dengan potensi luar biasa yang dimiliki Indonesia bukan berarti industri kertas Indonesia tidak memiliki tantangan, industri kertas nasional masih memiliki beberapa tantangan dari luar negeri. Salah satunya ialah pada awal tahun 2016 terjadi perdagangan kertas di pasar luar negeri dengan harga lebih rendah dari harga pasar dalam negeri (normal) kertas pada umumnya atau yang kita kenal dengan istilah dumping yang dilakukan oleh China. Produk kertas asal China menyebabkan pasar domestik menjadi terganggu akibat oversupply (kebanjiran) kertas impor. Produk kertas nasional kehilangan pasar nya di negeri sendiri. Memperluas pasar ekspor juga tidak mudah karena produk kertas dari China juga semakin agresif di pasar global.

                Tidak berhenti disitu perjuangan industri kertas nasional, mendekati akhir tahun 2016 produk kertas Indonesia terkena dampak dari aksi dumping yang dilakukan beberapa negara, mengakibatkan produk kertas kita dikenakan bea masuk anti-dumping di sejumlah negara yang menjadi tujuan pasar ekspor, seperti Turki, Amerika Serikat, Australia, dan Jepang, bahkan yang paling tinggi di China mencapai 10–17%. Sementara di dalam negeri, bea masuk impor hanya 5–10%, dan tidak ada rencana kenaikan dari pemerintah, dengan alasan supaya dapat mendorong iklim investasi di Indonesia. Kebijakan yang diterapkan oleh negara lain terkesan mempersulit produk unggulan kita adalah bukti bahwa produk kehutanan dalam negeri memiliki daya saing yang sangat tinggi di kancah dunia. Jika negara lain saja merasakan kalau produk kertas dalam negeri menjadi pesaing besar bagi mereka bukankah hal itu menunjukkan kalau produk kertas negeri ini dapat menjadi mata tombak ekonomi kita di mata dunia. Tetapi jika kita umpamakan industri kertas sebagai mata tombak maka mata tombak itu akan menjadi tumpul jika dari dalam negeri banyaknya terpaan mengenai isu-isu yang belum jelas asal-usulnya.

                Lalu bagaimana dengan statement yang menyebar di masyarakat yang mengatakan Indonesia kehilangan kawasan hutan tiap tahunnya karena industri kertas, apakah benar statement tersebut? Jika kita kaitkan dengan hilangnya kawasan hutan di Indonesia yang berdasarkan catatan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, sedikitnya 1,1 juta hektare atau 2% dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya. Data Kementerian Kehutanan menyebutkan dari sekitar 130 juta hektare hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektare diantaranya sudah habis ditebang. Berdasarkan catatan Kementerian Kehutanan tersebut apakah benar yang bertanggung jawab akan hal itu adalah industri kertas? Memang benar jika bahan utama dari pembuatan kertas terdapat di hutan, namun kita jangan semata-matanya menjadikan industri kertas sebagai pelaku utama, mari kita kembali mengingat akan berita yang pernah booming di masyarakat mengenai kebakaran hutan yang melanda kawasan Indonesia terlepas dari disengaja atau tidaknya, kebakaran itu membuat berhektar-hektar kawasan hutan menghilang begitu saja, lalu apakah yang bertanggung jawab akan hal tersebut ialah industri kertas? Ayo kita berfikir logika jika hutan terbakar artinya pepohonan di sana juga ikut terbakar yang artinya kualitas bahan utama pembuatan kertas yaitu pohon akan berkurang, jika memang benar Industri kertas yang bertanggung jawab untuk apa mereka melakukan hal yang dapat menurunkan nilai jual barang dagangan mereka.

Jika kita mengambil contoh lain di negeri kita ini masih maraknya illegal logging atau pembalakan liar yang masih terjadi di daerah pedalaman, penebangan tanpa adanya penanaman kembali akan mengakibatkan hutan gundul dan para pelaku illegal logging itu tidak peduli akan kelangsungan hutan yang mereka tebang meskipun sudah jelas tercantum dalam UU No. 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (UU P3H), bagi yang melakukan larangan tersebut akan dikenakan ancaman Pidana: jika dilakukan oleh individu orang, ancaman pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah). Entah kurangnya sosialisasi terhadap UU tersebut sehingga masih banyak kasus penebangan liar diluar sana atau terlalu luasnya kawasan hutan yang harus diawasi sehingga pemerintah kekurangan SDM.

Melihat hal diatas, apakah industri kertas dan hutan dapat berjalan beriringan? Tidak ada yang mustahil jika dilakukan dengan niat yang baik, demi kepentingan bangsa, untuk memajukan perekonomian bangsa Indonesia dan kembali menajamkan mata tombak perekonomian bangsa Indonesia di kancah Internasional maka seharusnya bisa. Meskipun begitu bukan berarti kita membesar-besarkan industri kertas tanpa adanya pengawasan dan kebijakan. Kebijakan yang baik perlu ada untuk memajukan industri kertas dalam negeri tanpa adanya rasa kekhawatiran akan kawasan hutan yang terus menghilang, maka perlu adanya pengawasan yang serius terhadap kawasan hutan yang terus menghilang tersebut, dan kita sebagai warga Indonesia harus turut membantu dalam pengawasan tersebut jika terdapat hal yang mencurigakan maka laporkan ke pihak berwajib.

Pada tahun 2011 silang telah ditemukan sebuah formula bahan kertas tanpa menggunakan kayu oleh Peneliti bioteknologi Institut Pertanian Bogor, hal ini bisa mendukung produksi ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan kayu. Pembuatan kertas itu memanfaatkan proses fermentasi dengan mikroba untuk membentuk selulosa murni sebagai bahan baku(regional.kompas.com). Teknologi tersebut jika dikembangkan dengan baik maka bukan tidak mungkin dapat menjadi salah satu solusi terbaik negara Indonesia bahkan dunia dalam menghadapi permasalahan bahan utama produksi kertas.