Kertas merupakan salah satu produk turunan selulosa yang memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan pulp dan kertas Indonesia terus mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kemajuan aktivitas yang berhubungan dengan pemakaian kertas (Anonim, 2008).

            Kertas mempunyai peran penting dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat di dunia maupun di Indonesia secara luas. Namun sepertinya, keberadaan kertas semakin terancam oleh media digital (paperless era). Padahal banyak fungsi kertas yang masih tidak dapat digantikan oleh media digital, seperti buku digital (e-book). Selain itu, ada beberapa penelitian terhadap kertas menunjukan bahwa membaca dari media cetak lebih aman terhadap lingkungan, jika dilihat dari penggunaan energinya (2014, APKI).

            Fenomena paperless yang saat ini sedang merebak disinyalir tidak akan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan industri pulp dan kertas di dunia maupun di Indonesia. Permintaan akan produk kertas untuk jenis-jenis tertentu ada yang terus bertumbuh dan tidak dipengaruhi oleh pertumbuhan teknologi yang semakin berkembang. Produksi kertas ditentukan dari ketersediaan sumber bahan baku, terutama kayu yang dihasilkan dari hutan produksi yang telah memiliki Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) (2014, APKI).

            Indonesia merupakan negara yang memproduksi gas emisi rumah kaca ketiga terbesar di dunia, setelah Cina dan AS dengan 85% emisi berasal dari kerusakan dan berkurangnya jumlah luas hutan di Indonesia. Hutan alam merupakan penyimpan karbon terbesar di dunia (2014, bbc.com).

Industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri yang memegang peranan penting bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan data FAO (2013) total nilai ekspor Indonesia pada tahun 2011 untuk produk pulp sebesar 1,554 juta dolar, sedangkan untuk produk kertas sebesar 3,544 juta dolar. Berdasarkan data tersebuh, menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam kelas yang cukup baik, seperti tahun 2002 Indonesia menempati peringkat 12 sebagai eksportir kertas dan meningkat ke peringkat 9 pada tahun 2011. Sementara untuk produk pulp, Indonesia mempertahankan peringkat 6 sebagai eksportir pulp dunia dengan total ekspor pulp tahun 2002 sebesar 2.25 juta ton dan tahun 2011 sebesar 2.93 juta ton (FAO 2013) (Wulandari, 2013).

            Untuk menggapai cita-cita sebagai produsen pulp dan kertas terbesar kedua dunia, produsen terus meningkatkan kapasitas produksi guna mengejar tingkat efisiensi. Industri kertas di Indonesia sudah dapat bersaing di dunia. Untuk tingkat Asia, Indonesia berada di peringkat tiga di bawah Cina dan Jepang. Sedangkan di ASEAN, Indonesia berada di peringkat pertama (2016, economy.okezone.com). Artinya, kebutuhan pulp dan kertas negara-negara ASEAN sangat bergantung pada Indonesia. Tahun 2013, Indonesia mengekspor pulp dan kertas ke Malaysia dengan volume 363,4 ribu ton, Vietnam 356,1 ribu ton, Filipina 163,16 ribu ton dan Thailand 125,86 ribu ton (2014, antaranews.com).

            Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki negara lain. Di antaranya, lahan yang luas serta Sumber Daya Alam (SDA). Namun belakangan ini, industri kertas menghadapi persoalan kebijakan terkait regulasi ekspor-impor maupun isu lingkungan hidup (kemenperin.go.id). Memasuki kuartal II/2016 pelaku industri pulp dan kertas di Indonesia lebih mengandalkan pasar domestik karena pertumbuhannya lebih tinggi yaitu mencapai 30%, ketimbang ekspor akibat harga yang anjlok di pasar global (2016, m.tempo.co).

            Dalam hal pengembangan industri kertas, Pemerintah memang perlu mendorongnya dengan kebijakan yang kondusif, baik itu untuk pengusaha di tingkat hilir (industri) maupun hulu (hutan), karena bahan baku pulp dan kertas adalah kayu. Namun semua itu, pemerintah tidak boleh mengabaikan faktor kelestarian alam.

            Krisis ekonomi global akhir 2008 menyebabkan produksi kertas  di  Amerika Serikat dan Eropa secara umum turun 10%. Misalnya, Kanada mengalami penurunan 19%, Swedia turun 6% dan Finlandia turun 22%. Untuk kawasan Eropa.  Jenis kertas yang permintaannya masih bertumbuh untuk kawasan Eropa hanyalah hygiene paper (seperti tissue). Pasar pulp Eropa juga turut melemah, banyak produsen melakukan penghentian produksi dan penurunan harga untuk sekedar menghabiskan persediaan yang sudah menumpuk dari jadwal produksi sebelumnya. Namun sejak semester kedua 2009, level persediaan pulp sudah relatif “sehat” dan pasar pun terus bergerak membaik. Produk pulp berbasis softwood (yang di dominasi produsen asal Amerika Utara) cenderung menurun, sementara yang berbasis hardwood cenderung meningkat. Kalau melihat berdasarkan wilayah, pasar Eropa, Amerika Serikat dan Jepang mengalami penurunan, sementara China justru meningkat permintaannya lebih dari 40% karena dipicu terus bertumbuhnya kapasitas manufaktur kertas di negara tersebut. Total produksi kertas dunia didominasi oleh kawasan Asia (40%, atau sekitar 156 juta ton) walaupun sebagian besar produksi di kawasan ini terserap untuk konsumsi lokal. Kawasan Asia sendiri dengan keunggulan biaya operasional yang murah dan  luas lahan hutan yang relatif besar memberikan kontribusi besar terhadap total produksi pulp dunia (24%, atau sekitar 46 juta ton).

            Pasar kertas berkualitas tinggi relatif sudah mengalami over kapasitas baik untuk tipe coated maupun uncoated. Kertas kualitas tinggi banyak digunakan untuk buku, kertas fotokopi, katalog hingga laporan tahunan. Banyak produsen mengandalkan pertumbuhan konsumsi dari negara berkembang terutama China. Namun perusahaan dengan basis produksi dan terutama bahan baku di Brazil dan Indonesia adalah yang paling diuntungkan. Biaya produksi di kedua negara ini relatif sangat murah sehingga produk kertas ataupun pulp yang dihasilkan masih mampu bersaing di pasar dunia walaupun biaya transportasinya lebih mahal.

            Salah satu produsen kertas terbesar dunia, Asia Pulp & Paper (APP) yang notabene anggota grup Sinar Mas dari Indonesia, saat ini aktif memasuki  pasar China dengan membangun pabrik coated paper berkapasitas 700,000 ton  di  Dagang. Langkah membangun basis produksi di China juga diikuti UPM dari Finlandia dan Oji Paper dari Jepang yang bekerja sama membangun pabrik berkapasitas 500,000 ton. Teknologi yang dipakai pada pabrik-pabrik  di  China adalah yang terbaru untuk menyaingi produsen dari Eropa, Amerika Utara dan  Korea Selatan dengan memanfaatkan biaya produksi di China yang lebih rendah. Produsen Korea Selatan selama ini memang mengandalkan China sebagai target pasar utama.  Namun dengan semakin banyaknya peningkatan kapasitas  produksi  di China, Korea Selatan mengalihkan ekspor kertas mereka ke Amerika Utara dengan volume total sekitar 1 juta ton (3 - 4 persen pangsa pasar coated paper dunia). Kapasitas produksi kertas sendiri saat ini semakin elastis karena mesin produksi terbaru mampu menghasilkan baik coated maupun uncoated paper. Produsen asal Eropa adalah yang paling banyak menggunakan mesin jenis ini. Saat permintaan coated paper melemah misalnya, mereka dengan mudah “menukar” kapasitas produksi untuk menghasilkan uncoated paper. Ketika terjadi peningkatan permintaan coated paper, mereka tinggal melakukan “coating” pada uncoated paper yang sudah dimiliki. Intinya teknologi produksi mereka sangat fleksibel.

          Struktur industri pulp dan kertas sangat kuat dibandingkan dengan industri lainnya yang ada di Indonesia. Industri ini tidak mengalami ketergantungan impor bahan baku, bahkan bahan baku dalam bentuk Akasia dan Eucalyptus tersedia dalam jumlah yang banyak untuk jangka waktu yang pan-jang. Dengan demikian membuat sektor industri ini memiliki keunggulan komparatif, dibandingkan industri dari negara pesaing seperti Amerika Serikat (AS) maupun Eropa. Di AS atau Eropa untuk mengadakan bahan baku produksi pulp dan kertas membutuhkan waktu 40 sampai 80 tahun, sedangkan di Indonesia hanya membutuhkan waktu enam tahun. Kekuatan inilah yang membuat penetrasi pasar industri kertas Indonesia ke pasar ekspor. Sektor industri pulp dan kertas menyumbang 50% dari total penerimaan ekspor sektor kehutanan. Sampai dengan tahun 2006 posisi industri pulp Indonesia menduduki peringkat kesembilan di dunia, dengan menguasai 2,4 persen pangsa pasar. Sementara industri kertas indonesia men-duduki peringkat ke-12 dengan pangsa pasar 2,2 persen dari total produksi kertas dunia (Kompas, 2006). Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 1998 perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan –13,68%. Padahal tahun-tahun sebelumnya pertumbuhan selalu positif, yakni 4,91% pada tahun.

            Untuk produk pulp, Fibria dari Brazil adalah produsen terbesar di  dunia dengan kapasitas produksi 5.5 juta ton. Tetapi para produsen besar kertas dunia pada umumnya juga memiliki kapasitas produksi pulp diatas 1 juta ton. Saham Fibria diperdagangkan di bursa saham São Paulo dan New York. Keunggulan perusahaan ini terletak pada tingkat produktivitas dan kualitas. Pengelolaan bisnis mulai dari kultivasi pohon eucalyptus hingga distribusi produk akhir dijalankan dengan praktek modern yang ramah lingkungan. Akibatnya,  Fibria menjadi satu-satunya perusahaan kehutanan yang terdaftar  dalam  the Dow Jones Sustainability Index pada bursa saham New York, yang khusus mengelompokkan perusahaan yang dipandang paling berkomitmen dalam mengelola bisnis secara berkelanjutan.

            Kunci sukses di masa datang dalam industri pulp & paper ialah memiliki strategi yang berbasis efisiensi biaya, produktivitas tinggi dan kepemilikan  sumber bahan baku strategi. Mengambil fokus sebagai produsen untuk jenis produk yang terbatas dengan peralatan dan proses bisnis yang  dirancang  khusus bisa juga ditempuh. Contohnya adalah Sonoco yang memilih berkonsentrasi menghasilkan produk kemasan berbasis kertas. Sementara untuk mengambil strategi biaya rendah kepemilikan atau akses atas bahan baku murah adalah prasyarat. Bahan baku murah bisa saja berasal dari kertas bekas (daur ulang) yang saat ini sudah menjadi bahan baku pulp utama dunia

            Pabrik pulp & paper modern juga sudah dapat mengurangi emisi karbon secara radikal melalui kombinasi perubahan proses produksi dan penggunaan  alat purifikasi. Saat ini, pabrik pulp & paper modern bahkan mengolah 95% limbahnya dalam 3 (tiga) tahapan baik secara mekanis, biologis maupun kimiawi. Teknologi saat ini juga sudah memungkinkan untuk tidak lagi memakai gas chlorine dalam produksi pulp. Demikian pula penggunaan air, teknologi terbaru bahkan memungkinkan pemakaian air dalam produksi pulp hanya sebesar 25 m3 per ton. Padahal di masa lalu pemakaian air bisa menghabiskan 150 m3 per ton produksi

            Menurut Haryopuspito (2001) perkiraan pertumbuhan konsumsi dan permintaan pulp dan kertas terlalu optimis, mengingat adanya fluktuasi permintaan pulp dan kertas yang tinggi. Diperkirakan konsumsi kertas dunia mencapai 100 juta ton per tahun dan mengalami pertumbuhan rata-rata 1 – 2% setiap tahun (Comtrade, 2007).

            Industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri di Indonesia yang memiliki prospek yang cerah di masa mendatang yang dapat memberikan kontribusi yang cukup besar dalam perekonomian Indonesia. Dengan latar belakang Indonesia yang merupakan negara dengan hutan hujan tropis kedua terbesar setelah Brazil yang dapat mendukung ketersediaan bahan baku untuk industri pulp dan kertas, terlebih lagi melalui keberadaan Hutan Tanaman Industri (HTI) dapat mendorong pertumbuhan industri pulp dan kertas Indonesia. Selain itu juga tersedianya sumber daya manusia (SDM) untuk melakukan proses produksi secara efisien yang disertai dengan biaya upah yang relatif rendah turut mendukung berkembangnya industri pulp dan kertas Indonesia.

            Industri produk kertas yang juga termasuk dalam industri stasioneri adalah salah satu industri manufaktur yang mengolah kertas menjadi barang dari kertas seperti buku, block note, buku hard cover, writing letter pad, dan lainnya. Industri ini tidak secara spesifik terdefinisi oleh Kementrian Perindustrian. Dalam pohon Industri Pulp dan Kertas yang dipublikasikan oleh Kementrian Perindustrian Republik Indonesia, industri turunan kertas yang lebih condong ke industri produk kertas ini adalah penerbitan, percetakan, karton box, kemasan dan filter paper. Kemasan kertas juga sudah mampu menahan temperatur  sangat tinggi dan mampu menjaga umur produk makanan hingga 2 tahun.

            Pada mulanya fungsi kemasan hanya sebatas untuk melindungi barang dan mempermudah waktu membawanya agar tidak rusak sampai tujuan. Dengan ada kemasan, konsumen mendapat layanan dalam menyelamatkan barang yang dibeli dan mempunyai jaminan yang ada kepuasan tersendiri dari barang produk yang akan menjadi milik dirinya, yang akhirnya terselamatkan dari hal yang tidak diharapkan selama di perjalanan sampai tujuan. Kemasan kertas merupakan kemasan fleksibel yang pertama sebelum ditemukannya plastic dan aluminium foil. Saat ini kemasan kertas masih banyak digunakan dan mampu bersaing dengan kemasan lain seperti plastic dan logam karena harganya yang murah, mudah diperoleh dan penggunaannya yang luas. Selain sebagai kemasan, kertas juga berfungsi sebagai media komunikator dan media cetak. Kelemahan kemasan kertas untuk mengemas bahan pangan adalah sifatnya yang sensitive terhadap air dan mudah dipengaruhi oleh kelembaban udara lingkungan.

Salah satu merek yang menjadi pesaing kuat produsen buku tulis dalam industri produk kertas adalah Sinar Dunia. Buku tulis yang diproduksi oleh PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia ini memiliki keunggulan dari sisi harga, dikarenakan rantai nilainya dalam memproduksi buku memiliki efisiensi. PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia merupakan anak perusahaan dari Asia Pulp & Paper (APP) dan juga merupakan bagian dari Sinar Mas Group. Sinar Mas Group merupakan salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia yang bisnis utamanya adalah pulp dan kertas, agribisnis dan makanan, properti dan jasa keuangan. Efisiensi pada rantai nilai dapat diraih Tjiwi Kimia karena proses produksi dari hulu (produksi bubur kertas) sampai ke hilir (distribusi ke konsumen) dijalankan oleh perusahaan di bawah Sinar Mas Group yang merupakan perusahaan terintegrasi. Potensi usaha berbasis kertas di Indonesia juga akan terus meningkat. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan middle class di Indonesia dimana daya beli mereka akan memicu pertumbuhan di berbagai sektor, termasuk industri kertas