Kelak, bahkan kini, orang makin paham bahwa ada sesuatu yang hilang manakala membaca. Jamak orang mulai beralih dan mencoba membiasakan diri membaca teks dari jagat digital. Mereka berargumen atas dasar efektivitas, terutama karena kecepatan akses hingga keterlengkapan pustaka. Membaca buku elektronik, karenanya, menjadi kebutuhan primer.

Tapi sebagian orang masih mempertahankan membaca buku ‘tradisional’ dalam rangka memegang erat tradisi: mendaras bukan soal menyerap informasi, melainkan juga tentang menikmati aroma kertas. Yang terakhir ini dianggap sebagai romantisme membaca yang mustahil disodorkan buku elektronik.

Terlepas dari perspektif narasi-narasi ekofenomenologis tentang berpindahnya kebiasaan membaca buku elektronik akan mengurangi ekploitasi pohon sebagai bahan dasar kertas. Buat sebagian orang, mempertahankan mendaras buku cetak tentu memiliki kenikmatan tiada tara. Hal ini merupakan komitmen mereka terhadap tradisi yang radikal.

Kecenderungan pilihan membaca buku cetak tak semata-mata kontra terhadap agenda konservasi hutan yang berangsur gundul. Namun, ia juga merupakan praktik-praktik kebudayaan sebagaimana dikonsepkan Stuart Hall. Dorongan membaca buku cetak adalah sebuah tanda-tanda semiotis yang dapat mencitrakan suatu resistensi terhadap industri buku elektronik yang tak jauh dari kepentingan kapitalisme digital.

Radikalisme mendaras buku cetak juga merupakan ketegasan sikap. Semacam apresiasi terhadap penulis yang acap dirugikan karena bukunya didigitalkan dan didistribusikan secara ilegal dalam bentuk elektronik di dunia maya. Realitas ini makin diperparah oleh ketidakbertanggungjawaban warganet yang dengan kesadaran hukum ‘rendah’ tak menghargai hak cipta penulis. Ini problem aktual yang dihadapi penulis buku.

Masih bertahannya kebiasaan membaca buku cetak berbanding positif dengan eksistensi penerbit buku yang seolah-olah seperti hidup segan mati pun tak mau. Betapapun kampanye serba digital mengemuka, menajam, dan memenuhi wacana percakapan kaum intelektual Indonesia, fenomena gulung tikar media massa cetak hingga percetakan buku menjadi keniscayaan yang tak terelakan.

Hal ini merupakan bentuk implikasi sekaligus konsekuensi dari disrupsi yang didenyutkan Revolusi Industri 4.0. Akan tetapi, peradaban cetak masih digandrungi masyarakat meski makin menyusut secara kuantitas—walaupun kesenangan itu diekspresikan sebatas nostalgia.

Menengok ke belakang, sebelum istilah buku digital ramah di telinga jamak orang, kertas menjadi media paling fundamental sebagai media distribusi pengetahuan. Konsep pengarsipan sedemikian penting dilakukan, baik individu, institusi, maupun industri surat kabar.

Tanpa kertas mereka tak mampu menjalankan pengarsipan suatu informasi. Kertas dalam hal ini tak sekadar dimaknai sebagai benda primer. Tapi juga sebuah medium yang mengarsipkan pengetahuan dan sekaligus merupakan pesan itu sendiri. Konsep Marshall McLuhan tentang The Medium is the Message penting diingat di sini.

Manusia Literasi

Banyak pengarsip yang rajin di Indonesia. Meskipun dapat dihitung dengan jari, salah satu di antara mereka, adalah Ragil Suwarna Pragalapati (1948-1990). Arsip-arsipnya dari tahun 70-an bukan hanya teks-teks ‘penting’, melainkan juga yang ‘remeh-temeh’ seperti nota, presensi, undangan, dan lain sebagainya. Ia seorang sastrawan dan pribadi yang menggandrungi jagat kertas. Sebagai sastrawan, kertas adalah media utama penuangan gagasan kreatif.

Bagi Suwarna, di atas kertas tak ada ‘yang serius’ dan ‘yang remeh’—suatu bentuk dikotomi yang ia hindari karena proyeksi atas kreativitas di atas kertas harus mendapat tempat. Pernah ia mengumpulkan kembali kertas-kertas yang tercecer yang tiada lain dari tulisan yang tak mendapat tempat di media massa. Ia menganggap, seberapa pun karya itu ditulis, maka harus diapresiasi. Buruk atau baik adalah persoalan lain.

Seorang apresiator kertas kelahiran Pati ini kemudian mengarsipkan tulisan-tulisan yang ditolak redaktur untuk diantologikan secara sederhana. Pada masa itu mesin ketik dan mesin cetak masih langka.

Agar para penulis yang karyanya ia kumpulkan tetap bersemangat dan konsisten berkreasi, Suwarna tak segan-segan mengomentari khusus tiap karya secara konstruktif. Seringnya ia mengevaluasi dengan tulis tangan. Coretan dan bubuhan tinta ‘merah’ kerap memenuhi naskah itu.

Ketekunan menyalin naskah juga acap dilakukan Suwarna. Ia melakukan itu sebagai bentuk habituasi yang menginjeksikan energi total agar rapi, teliti, dan estetis. Disiplin mencatat semacam ini konon merupakan metode paling komprehensif untuk mengingat suatu konsep keilmuan.

Ada langkah repetitif yang Suwarna lakukan demi mencapai totalisasi belajar autodidak. Kontinuasi tersebut membuat khalayak pada era itu mengenal Suwarna sebagai manusia multidisiplin: melek sastra, yoga, politik, kebatinan, budaya, dan lain sebagainya. Yang paling unik dari pembacaan laku literasi Suwarna adalah kebiasaannya untuk menyediakan presensi pada tiap pertemuan diskusi. Ia membuat kolom-kolom dengan judul yang diperlukan agar peserta mengisinya.

Suwarna adalah individu yang terlibat aktif di dalam komunitas sastra. Salah satunya Persada Studi Klub (PSK) asuhan Umbu Landu Paranggi (Presiden Malioboro). Komunitas itu melahirkan orang-orang hebat seperti Iman Budhi Santoso, Muhammad Ainun Nadjib (Cak Nun), Linus Suryadi Ag., dan puluhan anggota lain. Beberapa tahun setelahnya orang-orang itu dikenal luas di publik nasional, bahkan mancanegara, karena karya-karyanya.

Presensi yang Suwarna sediakan sekilas biasa, namun dari situ terlihat konsistensi peserta dalam mengikuti proses diskusi. Betapapun ia merupakan bukti sejarah bagi pembaca generasi setelahnya: sebuah presensi adalah citra autentik seberapa berkomitmen individu itu terlibat.

Keterlibatan di sana berarti menunjukkan kesungguhan belajar tiap peserta. Pada konteks ini proses belajar dengan tatap muka menjadi indikator penting keberhasilan pedagogis.

Arsip-arsip yang dahulu dikumpulkan Suwarna dengan spirit ketekunan total dapat ditemukan di Perpustakaan Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib (EAN). Kumpulan sejarah yang termediasi oleh kertas itu bebas akses untuk kepentingan penelitian. Bukankah penelitian tanpa data, dalam hal ini kertas-kertas sejarah, adalah pincang?

Kertas, betapapun, menawarkan postmemori yang berisi pengetahuan masa silam yang mustahil ditelisik tanpa keterampilan sekaligus ketekunan membaca. Bicara soal kertas berarti mengingatkan kembali tentang urgensi pengarsipan dalam rangka mengarpesiasi pengetahuan.