Berbicara tentang kertas, tentu hal ini tidak terlepas dari peranannya yang sangat bermanfaat. Media yang dihasilkan dari kompresi serat yang berasal dari pulp ini, ternyata banyak melengkapi seluruh sendi-sendi kehidupan manusia, tidak hanya sebagai media tulis menulis dan pertukaran informasi, akan tetapi juga sebagai pelengkap kebutuhan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Bila menengok sejarah sebelum kertas ditemukan, orang-orang terdahulu memanfaatkan batu, papirus, bilah bambu, potongan sutra atau Chih, kulit domba, dan juga pelepah pohon. Benda-benda inilah yang digunakan layaknya media kertas, sebagai alat  pertukaran informasi dan komunikasi, baik dengan cara dipahat, diukir maupun digambar dengan simbol-simbol tertentu.

Disinilah mulai dikenal huruf ataupun simbol gambar yang melambangkan makna tertentu, walaupun masih sederhana dan dikenal dengan sebutan piktograf. Tidak hanya itu, bentuknya beragam, mulai dari Cunei Form, Hieroglif dan Demotik. Dalam perkembangannya, huruf alphabet yang kita kenal sekarang, merupakan hasil perkembangan bentuk huruf Cunei Form yang dimodifikasi dari peradaban Mesopotamia dengan peradaban Funisia.

Untuk pertama kalinya, tulisan digunakan oleh bangsa Sumeria dengan menggunakan simbol-simbol yang dibentuk dari piktograf sebagai huruf. Simbol atau huruf ini mempunyai bentuk bunyi yang berbeda sehingga mampu menjadi kata, kalimat dan bahasa (Wikipedia Indonesia, 2017). 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, piktograf adalah grafik informasi biologi yang menggunakan lambang bergambar. Dari definisi diatas dapat dimaknai bahwa piktograf adalah tanda berupa gambar dalam sistem tulisan kuno. Piktograf sudah ada di zaman peradaban Lembah Sungai Nil, Lembah Sungai Eufrat-Tigris (Mesopotamia) dan Lembah Sungai Kuning.

Hal ini dapat dilihat dari contohnya, Codex Hammurabi yang merupakan prasasti yang berisikan undang-undang atau hukum tertulis di kerajaan Mesotamia pada zaman pemerintahan Raja Hammurabi dan Batu Rosseta yang merupakan batu bertulis yang ditemukan di daerah Rosseta.  

Sekedar mengingatkan, bahwa jauh sebelum kertas terbentuk, begitu banyak informasi-informasi berharga baik itu tentang hukum-hukum tertulis maupun budaya, telah diwariskan secara turun temurun, sehingga dapat dijumpai pada prasasti, arca maupun peninggalan budaya lainnya hingga sekarang.

Sebelum media kertas berwujud seperti sekarang, secara tidak langsung diperlukan tinta sebagai pelengkap tulisan. Apa jadinya kertas tanpa tinta dan tinta tanpa kertas. Dua hal yang saling membutuhkan, terikat satu sama lain. Jauh sebelum kertas muncul, tinta sudah lahir. Anggapan ini berdasarkan peninggalan-peninggalan sejarah, jauh sebelum kertas ditemukan, berupa manuskrip kuno di Timur Tengah yang berisikan ajaran agama.

Menurut Wikipedia Indonesia (2016), tercatat dalam sejarah bahwa peradaban China yang menyumbangkan kertas bagi dunia. Tsai Lun yang menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seantero China pada tahun 101 Masehi. Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea pada awal abad ke tiga. Pada abad ke-12 mulai menyebar ke Eropa dan secara bertahap ke seluruh dunia.

Dari penjelasan dan fakta-fakta diatas, dapat diamati perkembangan kertas dari waktu ke waktu. Mulai dari asal muasal kertas sebelum ditemukan sampai menuju masa sekarang yang begitu kompleks.

Kertaslah sebagai agen perubah zaman, perubah peradaban. Dengan kertas, semua cakrawala ilmu dan juga budaya seolah-olah dalam genggaman. Ahli matematika, fisika, kedokteran, sastra maupun ilmuan lainnya, mencatat dan merekam semua penemuannya dan menuangkan teori-teori ilmu serta membubuhkan tulisannya lewat kertas.

Ilmuan generasi selanjutnya melengkapi dan menyempurnakannya dengan ide-ide mutakhir, juga menggunakan peran kertas. Disinilah dikenal dengan teori Phytagoras, teori Relativitas Enstein, hukum Pascal, hukum Archimides dan masih banyak lagi.

Tidak hanya itu, warisan budaya nenek moyang juga tak luput dari peranan kertas. Beragam kesenian daerah, mulai dari tari-tarian, wayang, lagu-lagu tradisional, senjata tradisional maupun tempat-tempat bersejarah lainnya, semuanya tercatat dengan baik memanfaatkan peran kertas.  

Amatilah sejarah bangsa kita, betapa banyak kertas yang menjadi saksi bisu perjuangan rakyat dalam meraih kemerdekaan. Beragam pertemuan yang dilakukan tokoh-tokoh penting republik ini, mulai dari konfrensi meja bunda, konfrensi tingkat tinggi, perjanjian Linggarjati, Renvile dan masih banyak lagi.

Media kertaslah yang peranannya sangat dibutuhkan dalam pembuatan naskah-naskah penting itu. Tapi, yang paling penting dari semua itu adalah sebuah naskah proklamasi, saksi awal kemerdekaan negeri ini. Sadarkah kita, bahwa kertas juga menjadi tonggak perjuangan sejarah negara ini. Media kertaslah yang membuktikan semuanya, seakan-akan membuka mata dunia, bahwa bangsa kita telah merdeka.

Di masa era digital sekarang, dimana teknologi berkembang dengan sangat pesat, tentu semua ini erat hubungannya dengan kertas. Tak bisa dipungkiri, semua penemuan teknologi yang sifatnya modern, terbarukan berkat jasa kertas. Kertas bak pahlawan tak dikenal. Karena di dalam kertaslah, tertuang semua pengetahuan dan informasi penting. 

Handphone, laptop, drone adalah beberapa contoh model teknologi terbarukan yang proses penemuannya memerlukan riset yang tidak sebentar. Proses ini sebenarnya tak luput dari kertas. Kertas sangat berjasa bagi ilmu pengetahuan, teknologi dan juga manusia.  

Walaupun sekarang, peran teknologi internet sebagian telah mereduksi posisi kertas, namun jangan lupa internet juga ditemukan berkat peranan kertas. Perlahan tapi pasti, beberapa posisi kertas telah diambil, tetap saja peran kertas masih mutlak diperlukan dan menyebar ke seluruh penjuru  bidang kehidupan manusia.

Lihat saja contohnya seperti paper bag. Sejak kali pertama kertas ditemukan, perannya hanya berfungsi sebagai media tulis menulis dan pertukaran informasi. Namun, lihatlah sekarang, kertas telah merambah ke dunia fashion, sebuah dunia industri yang memadukan style dan seni, yang menandakan dunia berubah menuju peradaban maju dan modern.

Bukan hanya itu, lihatlah di sekeliling kita, betapa banyak kertas yang keberadaannya dekat sekali, tanpa kita sadari. Kotak sepatu, pembungkus makanan, tisue, kartu nama dan masih banyak lagi. Kertas telah memasuki suatu fase yang sangat mengagumkan. Mulai dari pembersih, packing, kotak penyimpan, pengenal dan lain sebagainya. Tidak hanya di bidang informasi, akan tetapi nyaris semua bidang, baik teknologi, industri, kuliner, fashion, medis, budaya dan lain sebagainya.

Satu kata untuk kertas di zaman era digital ini adalah luar biasa hebat. Tak pernah terpikirkan sama sekali, tak bisa dibayangkan, bagaimana mungkin secarik kertas mampu berubah bentuk, bertransformasi menuju ke suatu bentuk yang memesona.

Tidak hanya penampilan, akan tetapi intensitas manfaatnya di segala bidang terasa jauh luar biasa. Penampilannya sangat berbeda dengan yang dulu. Sekarang wajahnya telah dihiasi oleh berupa-rupa warna dan aroma yang menyenangkan. Seratus delapan puluh derajat, ia telah berubah total. Tidak menyangka hal ini bakal terjadi. Kertas telah berubah, bukan hanya fungsi maupun peran, namun juga seakan memberi lentera kepada dunia yang telah modern, dan kertas telah siap dengan beragam bentuk ajaibnya. Apa jadinya manusia tanpa kertas. Apa jadinya peradaban manusia yang tidak dilengkapi dengan kertas. Maka jawabnya, tunggu saja peranan kertas selanjutnya.