Kertas adalah lembaran berharga tempat berwadahnya gambaran dari imajinasi yang ada di otak manusia. Kertas tak pernah luput dari peran pentingnya di dalam perkembangan dalam memajukan kehidupan manusia khususnya dibidang informasi dan ilmu pengetahuan.  Penggunaanya memiliki banyak manfaat dalam penunjang kehidupan.


 Berdasarkan data yang diambil oleh U.S EPA (Environmental Protection Agency), dunia bahkan mengkonsumsi kerta sebanyak 300 juta ton setiap tahunnya. Bahkan perkiraan yang dikeluarkan oleh WWF menggambarkan jika China akan terus meningkatkan produksi kertas dari tahun 2010 sampai 2025 sebanyak 67 juta ton. Sementara itu berdasarkan data dari Leslie, Amerika Sendiri memproduksi 20 juta ton kertas ditahun 2013 dimana itu artinya membutuhkan sekitar 55 sampai 110 juta pohon dalam setiap tahunnya.


Kertas sebagai sebuah media penyebaran informasi yang dianggap efektif saat ini.  Namun kini kehadirannya mulai digantikan oleh kehadiran teknologi baru yaitu media digital. Buku, majalah dan koran mulai meninggalkan kertas dan merambah dunia digital yang mudah didapat dan tak mengenal batas dalam penyebaran. Dorongan kehidupan yang lebih praktis membuat manusia untuk giat dalam menemukan hal baru yang lebih mudah digunakan.


Sebagai seorang mahasiswa di era modern seperti sekarang ini, saya merasakkan jika kertas bukan lagi primadona utama dalam mengisi luang lingkup pendidikan di dunia kampus. Penggunaan buku yang berupa susunan kertas yang disatukan mulai ditinggalkan dengan munculnya jenis buku dalam bentuk digital atau yang biasa disebut dengan “e-book”. Mahasiswa tak perlu lagi membawa tas besar yang berisikan buku-buku tebal, pembelajaran dicukupkan dengan penyediaan gadget canggih yang berisi e-book dan e-reader. Media digital menggantikan peran media cetak dengan cepat, kertas bukan lagi pegangan utama dalam belajar.


Pew Research Center membeberkan bahwa pada tahun 2010 saja hampir semua masyarakat di Amerika Serikat memiliki e-reader. Dan jumlah penduduk yang telah membaca e-book meningkat dari 17 persen di tahun 2011, menjadi 28 persen ditahun 2014. Bahkan menurut Nielsen, di Inggris menunjukkan bahwa satu dari empat buku yang dibeli oleh konsumen adalah e-book.


Konsumsi kertas semakin menggeliat seiring meningkatnya kebutuhan dan kegiatan manusia. Namun ketergantungan pada kertas harus dibatasi. Segala sesuatu yang berlebihan akan berdampak tak baik tentunya. Penggunaan e-book dapat menjadi sebuah metode dalam penghematan penggunaan kertas didunia. E-book adalah jalan keluar yang dapat dipilih atas kekhawatiran manusia mengenai penggunaan kertas.


Selain itu penggunaan e-book dinilai sebagai metode yang praktis dan aman. Bahkan kita dapat membuat perpustakaan pribadi hanya dari satu gadget kecil. Penggunaan buku secara elektronik juga dapat menjamin keamanan. Tak perlu khawatir kehilangan atau rusaknya buku akibat penggunaan yang terlalu sering. Dalam perusahaan bahkan pengarsipan dapat berjalan lancar. Arsip-arsip penting yang dibukukan tak perlu lagi khawatir akan hilang atau mengalami pelapukan. Buku-buku ini akan aman tersimpan didalam media digital seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman.


Dari peningkatan penggunaan e-book, muncullah ketakutan yang berasal dari para agen  pencetak buku. Sikap seolah-olah tak menerima kehadiran media digital meruak di masyarakat. Penolakan kehadiran e-book ditakutkan mengancam penjualan buku secara fisik. Perpustakaan mungkin akan menjadi sepi pengunjung dan produksi kertas ditakutkan mengalami penurunnan.


Berdasarkan data dari World Top Exports, Eropa menduduki sebagai benua pertama sebagai pengekspor kertas nomer satu didunia pada tahun 2016 dengan persentase sebesar 56,1% dari jumlah kertas yang di ekspor secara global. Ekonomi dunia bisa saja hancur apabila harga kertas anjlok, Eropa bisa saja terpuruk karena kondisi ini.


Tapi memproduksi kertas tetap mutlak harus diturunkan. Mengerikan jika nanti hutan hilang hanya demi kita dapat menulis ide dan gagasan. Mengerikan jika gajah kehilangan rumahnya hanya demi kita dapat melukis hutan . Dan lebih mengerikan jika manusia punah hanya demi mendapatkan kertas.


Ketakutan mungkin muncul karena ketidaktahuan kita akan masa depan. Tetapi ketakuatan bukanlah sikap yang bijak dalam menyikapi perkembangan dan kemajuan. Kemajuan pada media digital bersifat mutlak. Satu-satunya cara menanggapinya adalah dengan ikut berperan dalam proses kemajuan itu.


Sebagaimana sebelumnya dimana manusia sempat ditakutkan dengan ditemukannya nuklir yang bisa disalahgunakan, tetapi waktu membuktikan juga kemajuan dapat diarahkan kepada hal yang lebih baik jika memang dikelola oleh manusia yang baik. Sikap yang berani inilah yang harus kita ambil dalam menyikapi kemajuan. Dunia telah mengalami banyak hal. Jangan sekali-kali ragu dan menolak kemajuan.


Setiap tindakan tentunya akan memiliki dampak positif dan negatifnya masing-masing. Dan setiap langkah yang kita ambil takkan pernah terbebas dari resiko yang ada. Namun kenyamanan dalam kebodohan bukanlah jaminan jika kita akan baik-baik saja dimasa depan. Ikut serta aktif dalam mengikuti perkembangan adalah cara agar kita masih dapat berdiri dan tak terinjak-injak oleh masa depan.


Kesadaran harus dimunculkan dalam diri, kemajuan bukan untuk ditakuti. Kemajuam adalah dorongan bagi diri kita untuk meninggalkan zona nyaman yang selama ini kita tepati dan bergerak menuju kondisi yang lebih baik lagi. Penurunan penggunaan kertas harus dimasyarakatkan. Karena dari penurunan penggunaan ini nantinya timbullah nilai-nilai positif yang baik bagi kehidupan .


Meskipun penebangan kayu masih dilakukan untuk pembuatan tisu dan kardus, tetapi dengan berkurangnya penggunaan kertas maka pohon tak diprioritaskan lagi untuk ditebang. Hal ini kemuadian berdampak dengan produksi oksigen yang menjadi melimpah, hutan kembali sehat dan terbentuknya ekosistem dunia yang baik. Proses pemanasan global pun akan mudah untuk dikendalikan bahkan dihentikan.


Penurunan penggunaan kertas secara tak langsung akan memperbaiki kondisi hutan dan lingkunagn. Dengan hutan yang baik, kualitas kehidupan manusia pun akan meningkat seiring ketersediaan oksigen yang berasal dari paru-paru dunia yang semakin meluas. Hutan pun akan lebih banyak menyerap gas-gas buangan yang berasal dari hasil pembakaran minyak bumi. Udara menjadi semakin sehat dan efek rumah kaca akan terkikis dengan sendirinya.


Slogan kembali pada alam bukanlah mimpi jika manusia berani mengambil tindakan. Bukan mengenai hidup kita yang harus dihutan, tapi prilaku kita yang menyayangi alam sebagai tempat kita tinggal. Dengan berdampingan bersama alam maka sumber daya pun semakin bertambah. Kemakmuran dapat diraih siapa saja. Kemiskinan bisa saja dihapuskan. Semuanya bisa kita mulai dengan langkah kecil penghematan kertas dengan metode pemarakan e-book.


Sekalipun pemarakan dalam menggunaka e-book sebagai teknologi yang ramah lingkungan mengalami kegagalan bukan artinya penurunan penggunaan kertas tak dapat dilakukan. Dunia masih dirasa perlu mencari produk alternatif dari penggunaan kayu sebagai bahan utama pembuatan kertas. Sudah terlalu banyak kayu yang ditebang demi sebuah kertas. Kita harus ciptakan pembaruan. Mengingat kondisi alam yang tak lagi layak dijadikan sebagai tempat bagi kehidupan.


Penggunaan kertas daur ulang dapat digunakan sebagai alternatif lain. Kertas ini dapat pula menjadi jalan tengah yang meberi harapan agar bumi dapat hidup lebih lama lagi. Penggunaan kertas daur ulang adalah pilihan yang paling ramah lingkungan. Penggunaan kertas daur ulang ini sekaligus dapat mengurangi limbah kertas itu sendiri. Selain itu, energyiyang dibutuhkan dalam pemproduksian kertas daur ulang juga lebih sedikit disbanding dengan pembuatan kertas biasa.


Dalam website resmi Recycled Papers UK di katakan jika proses pembuatan kertas daur ulang menggunakan energi 31%  lebih sedikit dibandingkan dengan pembuatan kertas serat murni. Selain itu untuk memproduksi satu ton kertas daur ulang membutuhkan 35.000 liter air lebih sedikit dibanding pembuatan kertas murni dan diperlukan 1,2 ton serat daur ulang untuk menghasilkan 1 ton kertas daur ulang sementara 2,5 ton kayu untuk 1 ton kertas murni.


Dari pemaparan ini dapat disimpulkan jika kualitas dari lingkungan harus sejalan dengan perkembangan teknologi, lingkungan harus  membaik seiring dengan pesatnya perkembangan media digital. Manusia harus melangkah maju dalam mempertahankan kehidupan. Keselarasan hidup harus selalu dijalankan. Manusia bukan hidup untuk ciptakan kematian dan kiamatnya sendiri. Kesadaran akan bumi harus meningkat bersamaan dengan ilmu pengetahuan yang semakin banyak kita dapat.