Hubungan antara Indonesia-Mesir dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan. Berdasarkan historisitasnya, Mesir adalah negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya itu, Mesir juga salah satu negara yang hadir dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Bandung.

Atas peristiwa demi peristiwa yang pernah terjalin antara kedua negara. Indonesia-Mesir juga menjalin hubungan diplomatik yang erat. Kerjasama di pelbagai bidang juga menjadi kesepakatan keduanya. Bahkan, kerjasama Indonesia dengan Mesir yang paling signifikan yakni terkait bidang pendidikan.

Institusi pendidikan yang menjadi rujukan para mahasiswa Indonesia di Mesir, yakni universitas Al-Azhar. Al-Azhar juga memberikan beasiswa untuk mahasiswa yang belajar dan kuliah disana. Hubungan inilah yang mempererat kerjasama antara kedua negara. 

Selain itu, sektor lain yang memperkuat hubungan diantara keduanya, yakni persoalan pariwisata. Beberapa tempat wisata kuno di Mesir masih menjadi tempat menarik bagi wisatawan Indonesia untuk menjelajahi sejarah Mesir di masa lalu.

Kerjasama Indonesia-Mesir: Peluang dan Tantangan 

Kerjasama Indonesia-Mesir yang telah terjalin sejak lama membuat hubungan keduanya tidak terpisahkan. Melalui penguatan kerjasama tersebut, kedua negara terus mendorong kemajuan dan perkembangan berbagai sektor penting. 

Misalnya saja, dalam sektor investasi, Mesir tengah menjalankan berbagai proyek pembangunan infrastruktur dalam merealisasikan visi 2030. Hal ini merupakan target potensial bagi outbound investment Indonesia di bidang konstruksi dan transportasi.

Sedangkan, di sektor lain, Mesir juga tengah menjajaki kembali pembahasan Mandatory Consular Notification (MCN) untuk meningkatkan perlindungan warga negara Indonesia di Mesir. Sebagai langkah awal misalnya, kedua negara sepakat untuk membentuk tim dialog kekonsuleran dalam membahas isu-isu yang menjadi perhatian bersama.

Potensi Mesir sebagai mitra Indonesia di Timur Tengah dapat dilihat dari data ekspor ke Indonesia. Mesir adalah mitra ekspor tersebesar ke-26 bagi Indonesia. Misalnya saja, pada tahun 2018, total nilai perdagangan RI-Mesir mencapai US$ 1,10 Miliar, dengan surplus sebesar US$ 893.808,40 bagi Indonesia. Warga negara Indonesia di Mesir berjumlah 7.991 orang, yakni 6.229 diantaranya adalah mahasiswa dan 463 pekerja sektor informal.

Melihat kondisi demikian, maka kerjasama Mesir-Indonesia tidak bisa dianggap sebelah mata. Peran kerjasama kedua negara juga tercermin dalam upaya menjaga perdamaian dunia. Mesir-Indonesia juga perlu menggali lebih jauh kerjasama yang dapat dikembangkan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi penciptaan perdamaian, keamanan dan stabilitas dunia. 

Beberapa isu yang dapat dijajaki untuk penguatan hubungan bilateral lebih lanjut adalah di bidang kebudayaan, dialog lintas kepercayaan, penanggulangan terorisme dan mengenai perjuangan kemerdekaan Palestina.

Beberapa sektor penting yang disebutkan diatas, mengindikasikan bahwa kerjasama Indonesia-Mesir harus diperkuat. Kerjasama yang menguntungkan antar kedua belah pihak harus dijaga, meski ada beberapa tantangan yang mesti dihadapi.

Tantangan di Era Global

Di tengah tantangan global yang semakin kompleks dan heterogen. Hal ini harus disikapi dan direspon dengan baik. Melalui kajian dan kerjasama komprehensif antar negara, maka akan ditemukan titik tengah dan temu, sehingga hubungan pun bisa terjalin erat. Kasus kerjasama Indonesia-Mesir juga patut dicermati lebih dalam. Mengingat hubungan Mesir-Indonesia juga terbangun sejak lama.

Acara yang digagas oleh KBRI Kairo bekerjasama dengan Pusat Kajian Politik dan Media “Hewar” bertajuk “The Role of Indonesia and Egypt as Bridgebuilder in the Global Fora” pada Selasa, 13 Oktober 2020, kemarin, juga menjadi salah satu acara penting dalam menganalisa dan mendiskusikan bagaimana hubungan dan kerjasama Indonesia-Mesir terjalin.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh pejabat Tinggi Kementerian Luar Negeri Mesir, yaitu Deputi Asisten Menlu Urusan Asia Tenggara, Ambassador Hazem el-Tahry. Selain itu, acara tersebut juga mengundang narasumber dari para pakar hubungan internasional dan akademisi dari Indonesia dan Mesir yaitu Ketua Satgas Dewan Keamanan PBB, Kemenlu RI, Rina Setyawati; Ketua Pusat Kajian Politik Arab, Mesir, Prof. Dr. Mohamad Sadek; Ketua Program Studi S-1 Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Shofwan Al Banna Choiruzzad, Ph.D; Dekan Fakultas Studi Asia, Universitas Zaqaziq, Prof. Dr. Ahmed El Nadie; dan Anggota Dewan Urusan Luar Negeri Mesir atan Mantan Asisten Menlu Mesir, Ambassador Dr. Adel el-Saloussy. Diskusi ini bertujuan untuk mengidentifikasi peluang, tantangan dan potensi kolaborasi Indonesia dan Mesir kedepannya.

Selama ini, dalam konteks internasional, Indonesia telah berpartisipasi aktif di PBB yang ditunjukkan melalui keanggotaannya di berbagai organ PBB, seperti Dewan Keamanan PBB (Periode 2019-2020), Dewan HAM PBB (2020-2022) dan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (2021-2023). 

Pada saat Presidensi Indonesia di DK PBB bulan Agustus lalu misalnya, Indonesia mengadakan 50 pertemuan dan memimpin 12 di antaranya, mengadakan 3 signature event mengenai ancaman terorisme, mewujudkan perdamaian di tengah pandemi, dan ancaman keamanan siber terhadap infrastruktur sipil kritis. Selain itu, Indonesia juga mengajukan 2 draft resolusi, yakni terkait “Combating Terrorism on Prosecution, Rehabilitation and Reintegration (PRR)”, yang akhirnya diveto oleh Amerika Serikat, dan “Women Peacekeepers”.

Tidak hanya Indonesia, Mesir juga merupakan negara yang aktif berkontribusi di PBB. Misalnya saha yang terakhir, Mesir menjabat sebagai Anggota Tidak Tetap DK PBB pada tahun 2016-2017 yang merupakan keenam kalinya bagi negara tersebut. 

Peran Mesir di dunia internasional dapat dibagi ke dalam 3 lingkaran konsentris, yaitu: 1. Internasional, melalui kerjasama dengan sebanyak mungkin negara dan berkontribusi terhadap penciptaan perdamaian dunia melalui kontribusi terhadap Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB; 2. Arab, yaitu menyelesaikan tantangan yang dihadapi Dunia Arab, antara lain isu Palestina; dan Afrika, yakni dengan membantu penyelesaian konflik di sejumlah negara Afrika.

Atas dasar tersebut, para pembicara menggarisbawahi terkait penguatan hubungan Indonesia-Mesir, yakni utamanya saat bahu membahu membentuk Gerakan Non Blok yang didasari oleh Konferensi Bandung tahun 1955. 

Diharapkan ke depannya, Indonesia dan Mesir dapat mengulang kembali peran transformatif dimaksud dalam menjembatani dunia yang diwarnai oleh friksi dan perbedaan.