Kerja kemanusiaan, selama ini hanya dimaknai di dunia nyata saat ada bencana alam, atau konflik horizontal antaragama, kelompok, atau suku. Padahal era Revolusi Industri 4.0 ini, tantangan kemanusiaan yang paling tampak berada di dunia siber, daring, online yang kian membahana.

Tantangan kemanusiaan itu wujudnya berupa radikalisme, berita hoaks, palsu, ujaran kebencian, hingga perundungan siber yang justru merusak nilai-nilai kemanusiaan.

Ironisnya, media siber Islam kini dikuasi media-media mainstream yang gemar menarasikan radikalisme, doktrin jihat ngebom, dan antitradisi. Wilayah perjuangan mereka tak sekadar aspek fikrah (pemikiran), namun juga aqidah (keyakinan), amaliyah (ritual) dan harakah (gerakan). Cuci otak menjadi agenda utama melalui konten di media siber yang dikelola.

Radikalisme di dunia maya berupa gerakan takfiri (mengafirkan), tabdi’ (membidahkan), tasyri’ (menyirikkan), tajhil (menjahiliyahkan), dan tanfiq (memunafikkan) menjadi indikator kemanusiaan mulai redup.

Radikalisme menjadi indikator hilangnya kemanusiaan yang harusnya dilawan dengan kerja-kerja kemanusiaan yang nyata. Salah satu kerja kemanusiaan itu melalui dunia siber berbasis Islam yang menyajikan konten rahmatal lillalamin dan selalu berorientasi pada cinta NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika.

Hilangnya Kemanusiaan

Thomas Lickona (1991) (Martianto, 2002:2-3) merumuskan ada 10 indikator hancurnya suatu bangsa. Pertama, meningkatnya kekerasan pelajar. Kedua, penggunaan bahasa dan kata-kata buruk.

Ketiga, pengaruh peer group dalam tindak kekerasan. Keempat, meningkatnya perilaku merusak diri (penggunaan narkoba dan seks bebas). Kelima, kaburnya pedoman baik dan buruk.

Keenam, menurunnya etos kerja. Ketujuh, rendahnya rasa hormat pada orang tua dan guru. Kedelapan, rendahnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara. Kesembilan, membudayanya ketidakjujuran. Kesepuluh, rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Dalam Islam sendiri, dikenal istilah kerusakan dimulai dari jahiliyah (kasus akal), fasad (kasus moral), zulumat (kerusakan kompleks) dan qiamat (kerusakan dahsyat). Jika bencana radikalisme bergejolak di dunia siber, apakah hal itu menandakan Indonesia darurat kemanusiaan?

Tahun 2015, ada 22 situs web media Islam yang diblokir akibat dinilai menyebarkan radikalisme (Cnnindonesia.com, 31/3/2015). Ironisnya, sebagian dari situs-situs di atas kembali bisa beroperasi. Padahal, penetrasi mereka mengalahkan media-media siber Islam yang ramah seperti milik ormas Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah.

PSBPS dan PPIM (2017) mencatat, situs organisasi Islam kontemporer (Hidayatullah.com dan Suara Islam) menarasikan persoalan kelompok dan cenderung diam pada fenomena radikalisme agama. Sedangkan situs organisasi Islam non-afiliasi (Eramuslim.com dan VOA-Islam.com) kerap memproduksi narasi-narasi yang mendukung sikap serta tindakan radikal.

Dirga Maulana (2018) mendata, persentase jumlah pengunjung selama Juli-September 2017, untuk Eramuslim.com sekitar 9,5 juta lebih, Islam.id 8,3 juta lebih, dan VOA-Islam.com 5 juta lebih. Bandingkan dengan pengunjung NU Online yang 6,5 juta lebih dan Suara Muhammadiyah sekitar 388 ribu lebih.

Realitas ini sangat ironis karena sangat sedikit yang tertarik bahkan konsen menekuni kerja kemanusiaan dengan membesarkan media siber Islam. Membuat situs sangat mudah. Susahnya justru konsisten merawat, mengembangkan dan mengisinya dengan dasar ideologi Islam ramah.

Selain faktor dana, minimnya sumber daya yang berkutat pada penulisan, SEO, desain, hingga penguasaan media sosial menjadikan gerakan kemanusiaan melalui media siber pasung surut tak konsisten. Padahal, media siber kerja tanpa ukuran waktu karena harus di depan laptop 24 jam tiap harinya.

Saat ini hampir semua media siber Islam yang menarasikan Islam ramah hanya sebagian saja. Hal itu menjadikan radikalisme sebagai bencana kemanusiaan terus tumbuh subur.

Buktinya, dari tahun ke tahun, ada 15 bom bunuh diri terjadi. Mulai dari Bom Bali I yang terjadi pada 12 Oktober 2012 sampai Bom Surabaya dan Sidoarjo pada 13 Mei 2018 lalu (Kompas.com, 14/05/2018).

Bencana kemanusiaan ini harus dihentikan. Sudah saatnya kaum muda terjun ke dunia siber dengan menguasai situs, media sosial, dan layanan pesan yang mengampanyekan konten Islam ramah. Sebab, Tim Siber NU sampai 2017, mencatat hanya 93 media siber NU yang berfaham Islam ramah dan hanya sedikit yang konsisten.

Sedangkan media Islam yang cenderung berfaham Salafi, Wahabi, dan radikal justru melebihi jumlah media-media siber Islam yang ramah. Sampai 2017, ada 109 media Salafi - Wahabi yang mendominasi media Islam lainnya (Tabayuna.com, 20/8/2017). Dikarenakan media siber Islam didominasi yang radikal, maka wajah Islam yang menjunjung tinggi kemanusiaan, toleransi, perbedaan, justru yang tampak sebaliknya.

BNPT (2015) mencatat ada empat kriteria sebuah situs web media ke dalam beberapa aspek. Pertama, ingin melakukan perubahan cepat dengan menggunakan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Kedua, takfiri (mengkafirkan orang lain). Ketiga, mendukung, menyebarkan, dan mengajak bergabung dengan ISIS/IS. Keempat, memaknai jihad secara terbatas.

Situs-situs dengan indikator di atas harus dilawan. Sudah saatnya Indonesia merayakan perbedaan dan menjunjungtinggi kemanusiaan yang harus digapai melalui kerja kemanusiaan di media maya. Tentu ini tak mudah, sangat susah dan berdarah-darah karena kerja di media maya tak kenal ruang dan waktu. Apalagi, kita harus berhadapan dengan mereka yang lihai teknologi dan memiliki modal materi melimpah.

Kerja Kemanusiaan

Kemanusiaan di era Revolusi Industri 4.0 sangat diutamakan. Maka solusi menurut Kemenristekdikti (2018), harus ada implementasi literasi baru yang berisi “literasi data, teknologi, dan literasi manusia”. Literasi baru menjadi pelengkap literasi lama yang aspeknya hanya membaca, menulis, dan berhitung.

Semua media siber Islam harus memiliki dua modal, mulai dari “kebenarana beragama” dan “kebenaran bernegara”. Wujudnya, mereka tetap beraktivitas di media siber dengan menyuguhkan agama sesuai keyakinan masing-masing dan nasionalisme sebagai wujud kebenaran bernegara.

Pengelola media siber Islam harus belajar dengan guru bangsa seperti seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, Gus Dur, Nurcholish Madjid.

Mereka yang selama ini berjuang di wilayah agama, ideologi, pemikiran harus menjadi rujukan aktivis media siber Islam. Dikarenakan rujuan tokoh keislaman di Indonesia cenderung mengimpor faham transnasional, maka yang terjadi justru mencerabut Islam dari Indonesia.

Akan tetapi tokoh-tokoh di atas justru sebaliknya. Mereka sangat islami namun juga nasionalis. Seperti contoh Nurcholish Madjid. Rachman (2008) berpendapat, ada dua inti pemikiran Cak Nur tentang Islam dan Indonesia. Pertama, Cak Nur mendukung Islam yang Indonesia. Kedua, Islam yang modern, terbuka, plural untuk mendukung perkembangan Indonesia yang lebih modern.

Islam di Indonesia kini terbelah dua, yaitu kubu radikal dalam Islam dan kubu yang khawatir dengan keberadaan Islam sehingga memunculkan sekularisme. Dua kubu itu muncul karena “gagal paham” dan keluar dari rel pluralisme. Padahal, Islam itu agama yang rahmat, toleran, terbuka, mengutamakan keadilan dan menebar kasih sayang.

Perubahan pola pikir ini menjadi awal untuk melawan media siber Islam radikal. Maka harus ada terobosan kerja kemanusiaan secara teknis dalam mengembangkan media siber Islam. Pertama, mewakafkan diri membuat, mengelola, dan mengembangkan media siber Islam dengan misi menjaga Islam dan Indonesia.

Kedua, media siber Islam harus mengedepankan sikap tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus), tasammuh (toleran), tidak mengafirkan, menghargai perbedaan, dan merawat keberagaman. Ketiga, tidak menyebarkan ideologi radikal dan mengutamakan kemanusiaan. Sebab, apa gunanya beragama namun justru media yang dikelola justru mengadudomba, menyebar faham sesat, menyeru jihat ngebom? Justru, media siber Islam seperti ini yang meruntuhkan bangunan kemanusiaan.

Keempat, media siber harus dikelola dengan berporos pada edukasi, informasi, dan pelurusan ideologi yang islami sekaligus nasionalis. Otomatis, Pancasila menjadi ruh media siber Islam tersebut. Mengapa ini penting? Karena saat ini rusaknya bangsa sangat ditentukan pengaruh media yang selalu mempertentangkan Islam dan Indonesia.

Mentalitas luar pagar ini harus diluruskan dengan peran media siber Islam yang tidak hanya utak-utek masalah fikih, syariah, namun juga kemanusiaan. Sebab, beragama tidak hanya masalah ibadah mahzah, namun juga muamalah yang berhubungan dengan manusia.

 Media siberi Islam bukan segalanya. Namun kokohnya kemanusiaan dan membangun peradaban bangsa sangat ditentukan dari bersihnya media siber Islam dari virus radikalisme. Kerja kemanusiaan tidak hanya pada yang fisik-fisik saja, namun yang saat ini dibutuhkan justru media siber Islam yang ramah, toleran, menghargai perbedaan dan kemanusiaan. Jika tidak dimulai sekarang, lalu kapan lagi?