Aku sudah lama tidak makan kertas secara rutin. Terakhir kali waktu kuliah dan untungnya sekarang tidak lagi. Aku sangat lapar. Setelah berjam-jam duduk di bangku, perut mulai berbunyi. Sangat memalukan. Tisu yang kumakan diam-diam di kamar mandi tidak membuatku kenyang, tapi perut tidak lagi mengganggu. Duitku tidak cukup untuk pergi ke kantin sekolah, aku pergi ke kamar mandi. Biasanya di tengah kelas, pura-pura kebelet mau kencing. Aku tidak mau ketahuan siapapun. Setiap kali ini terjadi aku kehilangan lebih dari sepuluh menit pelajaran – untuk menelan tisu kita perlu cukup banyak air liur dan waktu – tapi kalau perutku tidak berhenti keroncongnya, mahasiswa lain pasti terganggu.

Setelah lulus kuliah aku pernah jatuh cinta dan kadang-kadang terima surat dari kekasih. Suratnya dibungkus amplop dengan namaku ditulis pakai tinta. Tapi tidak lama demikian, setelah dua bulan kotak posku kembali kosong. Aku masih tidak tahu kenapa. Jumlah surat yang kukirim kepadanya beberapa kali melampaui yang kuterima. Mungkin dia bingung yang mana harus dijawab. Atau dia bingung saja.

Pada awalnya tulisan dia penuh baris-baris ala Pablo Neruda edisi nekat, tapi kemudian stoknya sepertinya habis dan diksinya tidak menjengkelkan lagi. Pernah, sekali, aku benar-benar mencintainya. Ketika aku mau naik pesawat dia menyelipkan secarik kertas ke dalam buku yang kupegang. Baru setelah beberapa jam di udara aku berani membukanya. Isinya dua kalimat yang langsung terasa di sudut mataku. Saat itu aku tahu dia ada di dalam diriku, lebih dekat dari hati, lebih dekat dari urat leherku. Ketika air mata mulai menetes di pipi, aku takut kekasihku akan ikut keluar. Aku menelan surat itu biar dia tetap di dalam.

Barangkali ada sesuatu antara aku dan selulosa. Pernah juga aku makan buku. Aku lapar ilmu dan cemburu. Ada buku-buku yang membuat kita iri, tapi bukan karena kita mengagumi pengarangnya atau ketika kesadaran akan keterbatasan kita sendiri terlalu menyiksa. Kita cemburu karena kita bukan satu-satunya yang punya hak untuk membaca buku itu. Aku sangat membenci orang yang berkesempatan membelinya. Tapi tidak mungkin aku menyerang mereka semua, karena dalam bahasa ibuku saja sudah ada belasan ribu eksemplar buku itu yang dimuat oleh dua penerbit. Coba bayangkan berapa banyak sudah dicetak dalam lingua franca seperti Inggris, Spanyol dan lain lain. Tidak mungkin aku membinasakan semuanya. Aku harus mendekati buku itu dengan cara yang istimewa.

Katanya lebih susah dari hanya membaca adalah internalisasi isi sebuah tulisan. Katanya ia bisa memberikan pengalaman batin. Aku tidak tahu itu, tapi kelaparanku berhasil membawa pengalaman itu ke tingkat yang lumayan harafiah.

Selama hampir satu dekade aku tenang. Menjelang tahun ke-sepuluh, suatu hari rasa getah pohon menghidupkan kenangan dari masa laluku. Masa lalu yang sangat jauh. Aku kaget. Ini terjadi ketika aku makan pohon. Pohon pinus itu tidak terlalu gede, tapi sudah cukup besar untuk bisa dijual sebagai pohon Natal.

Mendadak di depan mataku ada hutan di Semenanjung Hel. Musim panas di Polandia utara. Bersama nenek, tante yang wajahnya aku sudah lupa, dan anjing pertamaku, kami sedang melihat bagaimana matahari pelan-pelan masuk ke dalam air Laut Baltik. Aku sangat menyukai matahari terbenam... Tapi ketika aku sadar ini semua adalah bayangan dari tiga puluh tahun lalu, badanku menggigil.

Pada awalnya aku pikir ini pengaruh getah, tapi tiba-tiba mulai merasa sangat bersalah, seolah aku membunuh pohon itu. Matahari tidak lagi tenggelam di laut, tapi dalam samudra darah. Serpihan kayu di mulutku menjadi daging berulat. Bau terpentin memenuhi paru-paruku, membuatku susah bernafas, gelisah. Aku tahu ini tidak akan berhenti.

Aku telah masuk lingaran kerakusan, sudah takkan kenyang lagi. Gairah terhadap selulosa akan semakin menyiksa badan dan jiwaku.

Aku terpaksa membangun Asia Pulp & Paper untuk menahan hidup. Meskipun jumlah kayu yang ia berikan setiap tahun tak mampu menyelesaikan kerakusanku, paling tidak perutku tidak berbunyi. Kekasih, ilmu, bayangan masa kecil dan persaan bersalah takkan meninggalkanku lagi melalui air mata. Aku akan memproduksi jutaan ton tisu untuk mengeringkannya semua.