Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. 

Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [Ali Imran: 110]

Pada dasarnya kepemimpinan memilik arti sebagai seni untuk memengaruhi orang lain. Namun, seorang pemimpin bukan hanya memengaruhi orang lain semata, tetapi pemimpin yang memimpin dengan memiliki konsep kepemimpinan yang membebaskan penghambaan kepada manusia , hanya kepada Allah SWT. 

Kepemimpinan seperti ini dikenal dengan kepemimpinan profetik. Kepemimpinan Profetik dikelan dengan Kepemimpinan yang membawa misi humanisasi, misi liberasi, dan misi transendensi. Dengan kepemimpinan ini , Indonesia  perlahan akan jauh lebih baik.

Fakta yang terjadi sekarang adalah pemimpin-pemimpin yang ada di Indonesia belum ada yang mampu menerapkan konsep kepemimpinan profetik. Melainkan sebagian besar penguasa menggunakan kekuasaannya hanya untuk kepntingan pribadinya. Hanya sebagian kecil yang peduli dengan tuganya yakni menjadi penyambung lidah rakyat.

Kenapa harus Kepemimpinan Profetik?

Menurut Alm Prof. Dr. Kuntowijoyo menyatakan bahwa kepemimpinan profetik membawa misi humanisasi, liberalisasi dan transendensi. Misi Humanisasi yaitu misi yang mengajak manusia pada kebaikan atau ta’maruna bil ma’ruf. Misi liberalisasi yang membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan dan penindasan atau tanhauna anil munkar

Sedangkan misi transedensi yaitu tu’munina billah, yaitu misi yang me-manifestasi-kan misi humanisasi dan misi liberasi, kesadaran ilahiyah yang mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan. 

Dari misi inilah, dapat dipahami berbagai kisah nabi dan rasul. Misalnya, dari kisah Nabi Musa kita belajar tentang kepemimpinan yang revolusioner yang menumbangkan Fir’aun. Dari kisah Nabi Yusuf kita belajar kepemimpinan  yang reformis, Nabi Yusuf berhasil menguasai pemerintahan Mesir. 

Dan yang paling di agung-agungkan adalah Nabi Muhammad yang menagajrakan Kepemimpinan Transformative secara bertahap dan dalam jangka waktu yang lama. Beliau memimpin umatnya dari zaman yang tertindas ke zaman yang penuh dengan kemerdekaan. Sehingga beliau biasa disebut sebagai sang revolusioner sejati.

Beradasarkan Q.S Al-Baqarah: 151, seorang pemimpin profetik memiliki tugas yakni, pada tahap yang pertama adalah Membaca, dengan membaca kita mampu menguasai konsep, teori dan paradigma dasar tentang sesuatu hal. 

Tahap Kedua adalah penyucian, yakni penyucian pikiran dan perasaan dari muatan-muatan negatif Tahap ketiga yaitu pengajaran, tahap ini seorang pemimpin harus menguasai epistemologi dan metodologi untuk mengajarkan ilmu kauniyah dan ilmu kauliyah. 

Tahap keempat adalah seorang pemimpin harus mengetahui pengetahuan-pengetahuan yang populer dan masalah masalah baru yang bersifat dinamis.

Momentum Pilpres

Pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang bangsa Indonesia kembali dihadapkan pada momentum untuk menentukan nasib 5 tahun yang akan datang dan tentunya Indonesia akan kembali menentukan pemimpinnya. Diharapkan pada Pilpres ini akan melahirkan pemimpin profetik yang akan menjalankan misi-misi kenabian dalam menyelenggarakan pemerintahan. 

Bukan hanya melakukan gebrakan dalam konteks duniawi, tetapi juga ukhrawi.  Sehingga masyarakat Indonesia dapat diberikan keberkahan dunia akhirat. Oleh karena itu, momentum ini merupakan wadah terbaik untuk mengasah nyali dari kontestan Pilpres untuk menjadi pemimpin yang profetik. 

Dimana pemimpin ini mengarungi kepemimpinannya senada dan seirama dengan misi kenabian, misalnya mengayomi seluruh golongan, tidak mementingakan kepentingan pribadi atau  golangan tertentu, ramah dan penuh kelembutan terhadap rakyat karena merupakan bagian dari rakyat itu sendiri. 

Berinovasi untuk  mengejar ketertinggalan dri berbagai aspek kehidupan baik dari segi pendidikan, ekonomi, agama, dan sosial-budaya.

Inilah pentingnya seorang pemimpin menerapkan konsep kepemimpinan profetik melihat Indonesia semakin terancam dari berbagai ancaman baik itu ancaman moral, ideologi, maupun ancaman yang lainnya . Dengan misi-misi kepemimpinan profetik maka Indonesia akan mengalami perubahan yang signifikan.

Sesungguhnya kita dilahirkan untuk mengelola perubahan dengan Allah memberikan hati, pikiran, dan panca indra untuk memperjuangkan ideologyiislam diatas ideologi-ideologi lain. Perubahan merupakan sifat dari kehidupan. Setiap yang hidup akan mengalami perubahan. 

Perubahan ini memberikan tanda-tanda dan arahan perubahan melalui serangkaian catatan historis tentang peradaban bangsa. Oleh karena itu, untuk melakukan suatu perubahan perlu mempelajari sejarah agar kesalahan yang pernah terjadi pada masa lalu tidak terulang lagi. 

Arah gerak perubahan haruslah terorganisir dengan baik. Karena yang terorganisir akan mengalahkan yang tidak terorganisir sekalipun itu adalah kejahatan. Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. 

Melihat kondisi Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja maka generasi millennial harus mengalahkan generasi-generasi sebelumnya yang telah duduk di kursi kepemimpinan sekarang ini. pemuda yang sedang duduk di bangku sekolah sampai dengan perkuliahan harus menerapkan sistem profetik pada dirinya mulai sekarang. 

Agar ketika terjun di dunia yang begitu mencekam yakni dunia politik, maka mereka bisa mengendalikan dirinya dan mampu mengingat misi-misi yang harus di jalankan sebagai pemimpin Indonesia.