Aku bukanlah salah seorang penumpang yang datang ke stasiun untuk naik kereta menuju suatu tempat tertentu. Bukan, aku bukanlah salah satu dari mereka. Aku datang ke Stasiun Lempuyangan ini hanya untuk menunggu kereta. Aku ingin melihat kereta berjalan dan untuk itulah aku datang.

“Di mana?” tanya temanku. “Di mana kita akan duduk-duduk?”

“Aku tahu tempatnya,” balasku. “Jadi, santai saja.”

Di sisi sebelah timur stasiun, tepat di bawah jembatan layang kami berhenti. Aku butuh segelas kopi, lalu kupesan di angkringan, dan kubawa ke dekat rel kereta api. Duduk di atas rumput, kami menikmati suasana stasiun dengan segelas kopi beserta hiruk-pikuk lalu-lalang kendaraan dan orang-orang yang melintas bergegas seakan-akan tengah diburu waktu.

Beberapa orang juga datang ke tempat ini. Ada yang membawa anak-anak, ada yang sendiri. Kami sama-sama penunggu kereta, begitu juga para pengendara jalan yang mesti menunggu kereta melintas hingga palang jalan terbuka, lalu kendaraan yang mereka naiki bisa melaju. Mereka tampak gugup dan gelisah. Kebanyakan begitu—gugup dan gelisah—dan mungkin, mereka pun bertanya-tanya mengapa mesti menunggu dan menghormati kereta yang melintas sekilas.

“Yang terhormat, kereta api,” ucapku sendiri, “kami menunggumu melintas.”

“Apa?” tanya temanku.

“Yang terhormat, kereta api... Bukankah begitu?” Temanku tertawa. “Aku kira, kereta api adalah kendaraan paling terhormat di antara kendaraan lainnya. Bayangkan, semua pengendara jalan diminta berhenti, lalu mesti melihatnya melintas, seakan-akan saat itulah mereka pun mengangkat tangan tanda hormat di sisi kanan kepala mereka. Bukankah kereta api sungguh kendaraan yang terhormat?”

Saat kereta melintas, kami melihatnya dengan penuh antusias. Kereta itu melaju pelan, lalu tepat di stasiun, berhenti. Beberapa orang memotretnya dan membuat video-nya lewat handphone.

“Ayo,” ujarku seusai kereta itu melintas, “kita ke sana.”

“Ke mana?”

“Lihat, di sana ada penyewaan buku. Aku tertarik masuk ke sana.”

Di depan toko itu tertulis: KK VCD/DVD RENTAL. Buku-buku dan kaset film dipajang di dalamnya. Buku-buku yang sudah lama terbit dan saat ini sulit dicari tampak berjajar di rak. Aku melihat-lihatnya sekilas. Beberapa buku sangat ingin kupinjam dan kubaca. Aku tahu beberapa nama pengarangnya.

“Ah, aku lupa tidak bawa KTP,” ucapku. “Aku tidak bisa meminjamnya.”

“Bawa saja,” ujar temanku. “Mereka tidak lihat kok.”

“Chairil Anwar pernah melakukannya, tapi rasanya aku tidak bisa.”

“Kau bawa saja, lalu kapan-kapan ke sini dikembalikan lagi.”

“Kalau seperti itu... Ah, tidak usahlah.”

Kami keluar dari toko itu tanpa membawa buku. Suatu hari mungkin aku akan kembali ke sana.

“Ke mana?”

“Apa kau sibuk?”

“Tidak,” balasnya. “Aku kerja jam setengah empat.”

“Baiklah. Ini masih lama. Kita masih punya waktu sekitar satu jam lagi.”

“Kita akan ke mana?”

“Ayo,” kataku, “kita akan pulang.”

“Benarkah kita akan pulang sekarang?”

“Ya.”

“Aku masih ingin di sini. Di sini suasananya enak.”

“Benarkah kau masih ingin di sini?”

“Ya.”

“Kalau memang benar begitu, kita di sini dulu, tapi... aku tidak mau kau menyesal dan bertanya lagi seperti itu. Aku bosan mendengarmu bertanya begitu.”

“Tanya apa?”

“Kita akan ke mana? Kita akan ke mana? Kedengarannya kayak anak kecil saja.”

“Aku kayak anak kecil? Oke, oke, ayo naik odong-odong...”

“Ah, kau mulai lagi. Coba kau ajak adikmu itu ke sini, naik odong-odong, pasti senang sekali.”

“Nanti dia malah ketagihan. Tidak mau pulang-pulang.”

“Eh, sudah jam sekian. Kita harus pulang.”

Temanku menurut. Bagaimanapun, memang sudah waktunya kami pulang. Kalau tidak, bisa jadi dia akan terlambat datang ke tempat kerjanya.

“Lain kali kita ke sini lagi ya,” kata temanku. “Lumayan juga rasanya.”

“Boleh. Lumayan kalau bisa sampai sore, sekalian lihat matahari terbenam.”

“Sekalian sampai maghrib.”

“Sekalian saja sampai pagi. Tidak usah pulang.”

“Nanti kayak orang hilang.”

“Tidak apa-apa. Toh nyatanya kan memang begitu. Kau hilang, sedang dicari seseorang.”

“Siapa yang mencariku?”

“Seseorang yang mau menikah denganmu.” Dia tersenyum.

“Oh itu. Pastilah. Aku juga mencarinya.”

“Tidak perlu dicari, nanti kan ketemu sendiri.”

“Tidak perlu dicari, katamu?”

“Ya, tidak perlu dicari. Apa kau keberatan?”

“Keberatan bagaimana? Kau lihat kan, aku tidak bawa apa-apa.”

“Ya.”

Duduk di belakangku, sementara aku di depan mengendarai motor, temanku bilang, “Kepada Yth. Kereta Api... Terima kasih ya, karena kau sudah membuatku menunggu... Menunggumu melintas.”

“Kepada Yth. Kereta Api... Kepada Yth. Kereta Api... Kepada Yth. Kereta Api...”

Diulanginya kata-kata itu berkali-kali seakan-akan baginya itu sangat lucu, dan mungkin dia memang sedang gila hingga dia pun mengatakannya sambil tersenyum, disusul kemudian tertawa.