Witka selalu tertawa dan menjerit kalau diminta cium bibir. Dia pura-pura enggan. Aku harus tiga kali mengucapkan "cium" dan menggelitiknya sebelum dia akhirnya setuju.

Dia baru bisa berhitung sampai tiga. Sukar sekali mengajarkannya matematika, dia akan lari ke mana-mana, tidak pernah mau fokus.    

Waktu masih kuliah, aku paling senang belajar di rumah — berjam-jam membaca di kamar, menulis sampai pagi-pagi, berdiam, termenung. Orangtua sering risau akan kesendirian itu, tapi mereka tidak berani menggangguku. Hanya kepada Witka aku tidak bisa marah, mereka tahu itu.

Ketika ibu tidak yakin aku masih hidup atau sudah layu dalam kamar, dia panggil si lucu: "kakakmu di mana, nak? Carikan dia". Langkah Witka langsung terdengar di lorong, dia melompat, berisik sekali. Di depan pintu kamar dia akan berdiri sebentar, lalu berjinjit masuk ke dalam.

Dia selalu membawa bonekannya dan aku selalu pura-pura tidak melihatnya. Setelah beberapa menit dia biasanya mulai bosan menunggu kehadirannya diakui; dia taruh bonekannya di tempat tidur atau pangkuku, dan pergi sambil bergumam sesuatu dengan nada kecewa.  

Aku pasti mengejarnya, minta maaf, cium keningnnya. Murah hati, dia langsung senyum, seolah yang tadi tidak pernah terjadi. Dengan semangat yang sama dia menawarkan boneka lainnya.

Witka tidak suka nonton, kecuali film dokumenter tentang rusa atau burung. Dia tentu terlalu kecil untuk menikmati Woody Allen, tapi karya Disney pun dia tidak doyan. Pertama kali dia ke bioskop menjelang usia sembilan tahun. Ayah mengajak dia nonton sebuah film Itali yang dapat resensi bagus-bagus dari para kritikus terkemuka. Setelah setengah jam Witka tertidur dan mengorok. Mereka berdua diminta keluar.

Pada saat bahagia Witka mengeluarkan air liur. Ada orang yang menakutinya lebih dari kiamat.

Mantan pacarku pernah dijilat Witka. Dengan ekspresi jijik di wajahnya dia lari cuci tangannya dengan tanah, berkali-kali, sampai lumpur menyumbat wastafel. Melihatnya sangat mengganggu. Merasa bersalah, aku langsung, di depan si mantan itu, cium hidung dan mulut Witka sampai air liurnya berlekat bibir, dagu dan pipiku. Menjijikkan? Coba...

Witka sendiri tidak tahu rasa jijik.

Bagi Milan Kundera anjing adalah penghubung kita dengan Surga — melainkan kita, mereka tidak terusir dari sana. Dan mereka tidak tahu dualisme badan dan jiwa, tidak mengenal rasa jijik.

Menurut Kundera juga, atau setidaknya salah satu tokoh Unbearable Lightness of Being, cinta antara dua kekasih derajatnya lebih rendah daripada rasa sayang antara manusia dan anjing. Pertalian ini membingungkan, aneh, barangkali tak terduga bahkan Sang Pencipta.

Aku percaya di Surga semua malaikat serupa Witka. Mengibaskan ekor terus-menerus, para malaikat bisa terbang ke mana-mana. Dengan baling-baling ekor mereka adalah minihelikopter bernyawa — helikopter yang hangat, empuk, berbulu, dan layak dipeluk.    

Kita mencintai anjing tanpa pamrih, tanpa pertanyaan-pertanyaan pahit "apa dia mencintaiku? Apa dia mencitaiku lebih dari yang lain? Apa dia mencintaiku untuk selamanya?" Kita tidak minta bukti, tidak perlu ujian, percobaan, dakwaan.  

Sebelum aku meninggalkan rumah dan pergi jauh, aku sering sekali menghabiskan waktu bersama Witka. Kapanpun aku sakit atau murung, dia akan duduk dekat, mendesak perutku dengan hidungnya, membuatku tertawa. Kalau dia yang sakit, dia akan minta dibelai, dipeluk, ditemani, seolah sentuhan bisa menyembuhkannya. Tidak selalu bisa.

Di klinik dokter hewan aku sering sekali melihat anjing atau kucing yang malu akan penyakit mereka. Witka juga, begitu lelah, dia tetap berusaha tampak baik-baik saja, siap pulang. Dia pasti takut, tidak mungkin dia mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya. Dia malu, tapi tidak akan luka yang jelek, cairan yang bau, kecacatan — karena dia bersatu dengan badanya, dia tidak menyadarinya; dia malu karena harus berganti peran dengan kami. Mendadak, dia tidak kuat menghibur kami, malah dia yang harus diperhatikan.

Berapa hari lalu Witka tidak bisa bangun. Ayah membawakannya ke dokter. Badannya besar, lembam, sangat sukar diangkat. Dia hanya mencium tangan ayah pada saat itu. Minta maaf. Mungkin.

Waktu Witka kecil, aku suka menggendongnya dalam selendang besar yang aku gantung di bahu. Dia Labrador — jenis anjing yang paling lucu, imut dan ramah. Semua orang tersenyum melihatnya. Tanganku waktu itu biasanya digigit atau dikulum.

Kemarin ayah berjam-jam menemani Witka di klinik. Kami khawatir dia tidak akan selamat, tapi ayah tetap berusaha, tidak mau melepaskannya. Bukan pertama kali. Dia pernah menyelamatkan Witka dari borreliosis, sebuah penyakit disebarkan oleh kutu yang sering wabah di Eropa pada musim panas. Setelah itu Witka tidak takut infus. Dia juga tidak takut ayah akan meninggalkannya di klinik. Berjam-jam, berhari-hari, setiap dia mendusin, ayah ada di sampingnya. Ketika Witka sembuh, aku pernah dengar ayah mengatakan kepadanya: "kamu waktu itu pergi jauh sekali dari kami, terima kasih kamu mau kembali".

Kemarin perjalanan itu berbeda. Witka lebih malu, dia tidak bisa bergerak. Begitu mereka sampai di klinik, dia pingsan. Pengobatannya mulai, ayah tunggu dia bangun dan tunggu dokter spesialis dari klinik lain untuk menolong. Malam-malam dokter itu datang, tapi dia mampu melakukan apa-apa. Witka tidak bisa diselamatkan. Dia harus dibiarkan pergi.

Mungkin karena ayah menangis, mungkin karena kaitan antara manusia dan anjing bisa begitu kuat, Witka yang tergeletak semaput tiba-tiba buka matanya dan mulai bergerak ke arah ayah. Dia mengibaskan ekornya seolah mau bilang "aku baik-baik saja". Dia sudah tidak bisa kembali lagi.