Belakangan, pasca kabar virus mematikan tersebar di Tanah Air, membuat penulis banyak bergelut dengan diri, memikirkan terus-menerus tentang apa yang tengah terjadi. Hingga akhirnya penulis tiba sampai pada kesimpulan bahwa ternyata tidak hanya kesehatan dan ekonomi, tampaknya kemanusiaan juga tengah dalam keadaan krisis.

Jauh sebelum evolusi kognitif saphiens terjadi, manusia pada dasarnya tidak berdaya jika hidup sendiri. Bahkan di era ketika kita dikerumuni oleh benda-benda modern seperti sekarang, tetap, manusia selalu saling membutuhkan. Alasannya sederhana, karena setiap dari kita tidak ada yang merasa nyaman dengan apa yang kita sebut dengan ‘kesepian’.

Apalagi di tengah krisis, seharusnya empati akan mendorong kita untuk saling menguatkan, bukan mengambil kesempatan demi hasrat materil dan lupa akan tanggung jawab kemanusiaan. Iya, manusia selalu terdorong oleh orientasi nikmat dan menjauhi rasa sakit. Iya demikian adanya. 

Lantas di tengah krisis, apa iya bisa dibenarkan untuk mementingkan diri sendiri? Apa tidak ada hal esensial lain yang bisa kita temukan di tengah krisis? Tentu ada.

Bukan pertama kali umat manusia dilanda krisis. Pandemik, gempa, tsunami, dst. telah menjadi saksi bahwa kepedulian bersama membuat umat manusia mampu untuk melewati semua itu. 

Seharusnya kita belajar. Berbicara tentang ‘aku’ berarti mengakui bahwa tidak akan ada aku tanpa kesadaran yang lain. Aku sebagai bagian dari yang lain dan tak terpisahkan. Bukan ke-aku-an yang justru makin menjauh dari kesadaran hidup bersama.

Pepatah lama mengatakan bahwa ‘segala sesuatu terjadi bukan tanpa alasan’. Begitu juga dengan krisis. Mungkin, alasan krisis terjadi adalah untuk mengajak kita untuk beristirahat sejenak dari rutinitas dan lebih banyak bertegur sapa dengan tetangga.

Jika pengalaman adalah guru terbaik, maka krisis membuat kita menjadi murid yang cerdas. Mungkin, kita harus sedikit beranjak ke alam perspektif yang lebih luas. Sudah saatnya kita melihat dan peduli dengan sekitar.

Menurut beberapa penelitian, lapisan ozon juga semakin membaik. Beragam aktivitas manusia yang ditunda sementara juga memberikan kabar baik untuk bumi. Mungkin, bumi kita juga membutuhkan sedikit istirahat dan menghela nafas, sebelum aktivitas manusia membuat bumi sesak kembali.

Karantina membuat kita harus mengerjakan segala hal di rumah. Mulai dari orang kantoran, mahasiswa, dan bermacam-macam profesi lainnya tidak diperbolehkan bepergian jauh tanpa alasan penting. Sesudah rutinitas yang membuat kita jarang memiliki waktu luang dengan orang terdekat, apa iya dengan bekerja di rumah juga membuat kita tetap egois dan menutup mata dengan sekitar.

Ada beberapa pertanyaan yang begitu meresahkan, salah satunya adalah, “kenapa ada orang-orang yang memanfaatkan situasi untuk tujuan ekonomi, apalagi demi diri sendiri”. Kita tahu bahwa barang-barang tertentu yang penting untuk menjaga diri (contoh: masker) sangat sukar ditemukan. Hal ini mungkin adalah masalah, tetapi justru menjadi peluang bisnis bagi para penikmat segala.

Mereka menimbun dan menjual dengan harga mahal. Tidak manusiawi. Kejadian ini bukan pertama kali penulis temukan. Penulis mengingat betul kekacauan ketika gempa di Lombok tahun 2018 silam, justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk menjual terpal dengan harga berkali-kali lipat dari harga normal.

Kekuasaan dan kekayaan ternyata tidak pernah lelah. Mungkin krisis atau kekacauan adalah sumber penggerak utama mesinnya. Mungkin saja begitu.

Katanya, setiap manusia pada dasarnya selalu dalam keadaan terkoneksi, entah dengan sesama atau dunianya. Lantas, bagaimana dengan orang-orang seperti mereka? Oh mungkin jaringan internet mereka sedang tidak bagus.

Entahlah, mungkin mereka punya alasan rasional atas tindakan immoral itu. Yang jelas, dalam kondisi seperti sekarang, nilai materil atau untung rugi bukan lagi menjadi nilai berharga. Adalah manusia dan kemanusiaan: nilai tak terhingga di tengah krisis seperti sekarang ini.

Tentu apresiasi tanpa henti juga ditujukan untuk para pejuang, mereka yang bertarung di garda terdepan dengan bersentuhan langsung dengan pasien atau korban, mereka yang terpaksa tetap bekerja di jalan untuk menghidupi keluarga, dan mereka yang bermurah hati membantu mengurangi beban dengan sedikit merelakan harta miliknya.

Meski begitu, realitas mengatakan bahwa masih banyak di antara kita yang secara sosial tidak peka sama sekali. Bagaimana tidak, saat banyak di luar sana yang mengalami kesulitan finansial, yang mereka butuhkan adalah bantuan.  

Yang terjadi apa? Kita sibuk menimbun masker, sembako, dan berbelanja sebanyak-banyaknya. Si kaya enak, si miskin bisa apa? Bahkan ada yang ditemukan berbelanja menggunakan Alat Perlindungan Diri (APD) di saat para dokter berjibaku dengan alat medis yang terbatas. Waras?

Akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa, krisis ini adalah ujian bagi solidaritas manusia. Menjadi manusia berarti mengakui keberadaan yang lain. Jangan sampai, krisis kesehatan, ekonomi, berdampak juga pada krisis kemanusiaan. Mari kita lawan virus ini bersama-sama.

Terakhir, daripada menimbun masker, lebih baik menimbun informasi terpercaya untuk ditransformasi kepada orang-orang terdekat, dan menimbun empati agar peduli dan tahu diri sehingga sadar bahwa menjadi lucu itu juga harus pada tempatnya.