Banyak perusahaan penyedia pinjaman kesulitan dalam mendeteksi kuantitas pinjaman yang dilakukan oleh peminjam saat mendaftarkan pinjaman baru kepada mereka, diberitakan oleh beberapa perusahaan penyedia pinjaman online lewat Reuters.

Situasi ini menjadi masalah bagi industri terkait, beberapa yang beroperasi secara Internasional, LendingClub, OnDeck dan Prosper Marketplace, dikarenakan pemberi pinjaman seringkali dengan mudah meloloskan permintaan kredit konsumen sehingga terjadi banyak pinjaman yang tidak sehat.

Lubang ini dimanfaatkan banyak peminjam dalam kurun waktu yang singkat dapat kembali mengajukan kredit baru, tanpa adanya perhitungan tambahan akan kemampuan konsumen terkait dalam memenuhi cicilan dari hutang sebelumnya.

“Rentetan hutang seperti ini memberikan masalah kepada industri kita,” kata Brian Biglin, kepala manajemen resiko di LoanDepot, perusahaan peminjam Internasional yang sudah beroperasi selama 6 tahun dan sejak dua tahun yang lalu melebarkan bisnis mereka ke rambah pinjaman online kepada pribadi dan bisnis kecil.

Hal ini menjadikan investor ragu-ragu untuk menanamkan uang mereka terkait resiko di industri ini. Dimana tahun lalu menghasilkan lebih dari 200 triliun omset, mengalami penurunan minat dari beberapa bank termasuk Citigroup.

Beberapa perusahaan pemberi pinjaman sudah mengerti akan bahaya ini namun mereka menganggap remeh akibat yang dapat ditimbulkan terkait efek domino dalam industri keuangan, namun sebagian lainnya sudah berupaya untuk dapat mengecek sejarah kredit peminjam sebelum memberi pinjaman.

Pemilik salah satu Café di US, Edward Hanson, mengatakan sudah gali lubang tutup lubang sejak lima tahun yang lalu untuk dapat mempertahankan bisnisnya. Dimana sebagian besar dari penyedia pinjaman meloloskan aplikasinya untuk meminjam dengan mudah.

Namun setahun berikutnya, OnDeck sebagai penyedia pinjaman yang sudah mengetahui bahwa mereka memiliki banyak pinjaman lainnya menolak aplikasi pinjaman Hanson berikutnya. Dimana bunga pinjaman sudah mencapai 40% dari jumlah pinjaman.

Dilema Bagi Para Investor

Para investor besar belakangan sudah mulai hati-hati terkait industri pinjaman setelah sebelumnya mendukung pinjaman online sebagai pemecah dominasi bank dan perusahaan kartu kredit. Di US sendiri kebanyakan investor berasal dari pasar saham, Wall Street.

Citigroup menyudahi kerjasama mereka dengan Prosper, awal tahun ini. Bank tersebut memindahgunakan uang modal yang ditanamkan pada Prosper ke dalam lembar saham setelah bekerja sama selama satu tahun terakhir.

Bill Kassul, partner di Ranger Capital Group, dimana sudah berinvestasi sebesar 4,5 triliun rupiah dalam pasar pinjaman online bagi pribadi dan bisnis kecil, mengatakan bahwa multi-pinjaman yang dilakukan banyak peminjam dapat menjadi masalah bagi para investor kelak.

Blue Elephant Capital Manajemen berhenti menanamkan uang mereka di Prosper sejak beberapa bulan terakhir dikarenakan lemahnya administrasi perusahaan dan juga keuntungan yang tidak menyentuh ekspektasi. “Pasar pinjaman harus dapat memperlambat proses pinjaman mereka sehingga dapat fokus dalam penjaringan informasi terkait kredit calon konsumen,” kata Brian Weinstein, kepala permodalan di Blue Elephant.

“Jumlah pinjaman yang berlipat-lipat menjadi salah satu alasan mengapa kita mengira adanya deteriorasi kredit musim lalu saat kita menghentikan program pasar pinjaman perusahaan,” lanjutnya.

Blue Elephant bulan lalu mengumumkan rencana untuk meneruskan memodali Prosper, platform penyedia pinjaman online lainnya, sebagai bagian misi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan dalam bunga pinjaman yang lebih besar.

Regulasi Di Indonesia

Di Indonesia sendiri sudah mulai ada pendekatan terkait regulasi keuangan tentang platform penyedia layanan pinjaman online seperti Monily.id dan Uang Teman (Baca: https://indonesiana.tempo.co/read/117801/2017/10/12/azlans.ac/regulasi-bisnis-pinjaman-online-di-indonesia). 

Efek yang dapat ditimbulkan lembaga keuangan terkait sangat besar, dimana dapat muncul efek domino yang akan berpengaruh kepada lembaga-lembaga keuangan lainnya termasuk bank-bank di Indonesia. Karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini sedang mengambil langkah sigap terkait formula terbaik dalam meracik undang-undang dalam pinjaman P2P. 

Regulasi yang jelas menjadi sangat penting dimana akan menguatkan kepercayaan diri investor dan menghindari mismanajemen dari platform yang beroperasi dimana dapat mengancam reputasi dan kredibilitas industri yang masih sangat belia ini. Tanpa adanya undang-undang yang sah di Indonesia bagi sektor pinjaman P2P, banyak pihak sudah mencoba untuk memperkirakan regulasi yang dapat menjadi hambatan terutama bagi penyedia platform pinjaman online. Karena cukup beresiko bagi sektor keuangan sendiri.

Pada akhirnya sebelum adanya regulasi yang jelas mengatur batasan kedua belah pihak, resiko keuangan masih sangat rentan terjadi dan hal ini membuat investor menjadi ragu-ragu untuk menanamkan modal mereka dalam sektor penyedia pinjaman online.

Walaupun beberapa lembaga penyedia pinjaman online terbesar di Indonesia sudah diawasi oleh OJK, masih saja dilemma baik bagi investor maupun pihak-pihak terkait didalamnya belum mendapat kepastian keamanan keuangan selayaknya lembaga-lembaga keuangan lainnya di Indonesia.

Penulis berpengalaman dalam bidang keuangan dan partner Monily.id sebagai salah satu platform penyedia kredit online di mana mulai dikembangkan di Indonesia pada Juli 2017.