Di tengah berisiknya dan ingar bingarnya politik, ternyata ada sebuah kisah yang cukup menggelitik. Hus! Jangan dibaca keras-keras! Nanti six pack kamu. 

Ketika banyak yang mengatakan bahwa peci Kiai Ma’ruf Amin adalah peci yang penuh dengan Wi-Fi dan receiver canggih, kita melihat bahwa ada satu kejadian terpenting dalam sejarah manusia. Apa itu? Fashion techies.

Dulu sih pena yang ada di tangan Jokowi pun dicurigai karena memiliki aura tenaga dalam yang bisa mengakses pintu dan jendela dunia. Cetak, cetek. Nyit-nyit.. DUAR! Loh itu pena atau pengendali jarak jauh, Pulgoso?

“Ndak, Mas, ini beli di toko stationary. Ndak ada yang spesial kok dari pulpen itu.”

Dan mendadak, seluruh toko buku kehabisan stok pen yang mendadak viral itu. Saya pun kehabisan stok jualan di lapak yang onlen-onlen itu. 

Setelah peci, pulpen, ada satu lagi fashion tech yang mendadak viral. Apa itu? Tutup rambut.

Tutup rambut? Kok bisa? Ternyata pakai penutup rambut dan masker itu bisa memancing kecurigaan besar dari politisi. Menutup mosok bisa dicurigai sebagai intel, Ferguso? Curiga sih boleh, tapi kalau curiga ke pendukungnya, kok malah bikin dongkol, ya?

Memang hidup penuh halusinasi itu tidak menyehatkan. Hidup di dunia telenovela yang penuh dengan melodrama ini benar-benar mencengangkan. Maria Mercedes, Gilda Gonzales pun tersedu-sedu ketika menggunakan penutup muka saja dianggap intel.

Heh! You! Ya! You yang ada di sana! You kenapa pakai tutup wajah? Intel, ya?

Begitulah kecurigaan dari bapak yang masa lalunya penuh dengan kecurigaan itu. Entah karena curiga, atau memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan dengan sesuatu yang bersifat tertutup, bapak tua ini menanya kepada anak-anak muda yang polos. Kamu intel, ya?

Mendadak seorang muda lainnya pun muncul. Dengan suara setengah-setengah ngebass sambil berbicara, “Ehmm.. Uhuk.. Sebentar saya setting suara dulu… Ndak, pak. Saya cuman pembobol ATM.”

Mbelgedhes! Pantas saja! Kok dari tadi you celingak-celinguk saja lihat seperti ada yang kejar kamu. Tapi tidak apa-apalah! Daripada uang ATM itu dibobol asing, sebaiknya kamu saja yang bobol. Karena kamu nasionalis dan patriotis!

“Mas… Mas… Tapi, kan… Itu kriminal…”

“Kalau sudah tahu, kenapa masih bobol? Tak bobol sini muka temboknya!”

Percakapan pun berakhir absurd dan tidak karuan. Akhirnya semua orang pun terdiam, melongo dan ternganga melihat percakapan absurd nan nirmakna itu. Menjadi politisi itu satu hal, tapi menjadi dewasa itu lain hal. Apalagi menjadi pembobol ATM.

Seorang pria, berjenis kelamin pria dan memiliki anu, kok malah datang ke ATM sambil menggunakan tutup rambut, tutup muka, dan kerudung ala ukhti-ukhti? Sttt. Jangan keras-keras! Lagi mau bobol ATM!

Mengapa harus tutup muka saat membobol ATM? Apakah untuk menutup wajahnya? Ya pastilah. Kalau ketahuan, satu partai bisa dipermalukan. Satu sayap organisasi bisa dibikin heboh sampai keturunan ke-7, pun masih kaget waktu tahu generasinya tukang bobol ATM.

Ternyata tukang bobol ATM ini lupa bahwa ada teknologi canggih yang diletakkan di setiap ATM. CCTV. Apa itu CCTV? CCTV itu bukan berarti sesekali tivu-tivu. Tapi CCTV itu kependekan dari Closed Circuit Television. Artinya, alat perekam yang menggunakan kamera video, dan menghasilkan rekaman itu.

Manfaat CCTV jauh lebih melampaui pulpen Pak De, peci Kiai, dan penutup rambut pengecoh alat kelamin. Manfaat CCTV adalah untuk mengetahui apa yang terjadi selama proses berlangsungnya transaksi di ATM.

ATM itu bukan alat tutup muka, ya. ATM itu adalah anjungan tunai mandiri, atau automatic teller machine. Benar-benar istilah yang mencengangkan, bukan? 

CCTV itu tidak boleh sembarangan diletakkan. Karena kalau diletakkan sembarangan, ya tidak berguna, dan buang-buang uang saja. Ekonomi Indonesia sudah sulit, masih buang-buang uang!

CCTV diletakkan di tempat strategis. Misalnya di sebuah ruangan, atau sebuah tempat yang penting. Prioritas diletakkan CCTV ini harus ada. Misalnya di tempat publik, di ruang kelas, tempat parkiran, dan ATM. 

CCTV diatur dalam undang-undang, jangan diletakkan di tempat ekspos privasi seperti toilet. Kalau taruh CCTV di kamar kecil, bisa dituntut ente.

Gaya seorang pria menyamar menjadi perempuan untuk membobol ATM adalah upaya yang harus kita hargai. Hargai sebagai bentuk totalitas dalam berperan. 

Tapi saya kok curiga, ya, masih kurang total jadi perempuan? Apakah pembaca memikirkan hal yang sama juga seperti saya? Kalau mau total itu harus siapkan silet dan cabai. Loh? Buat apa? Pikir sajalah!

Penutup muka itu bukan tanda intel. Ternyata penutup muka itu tanda maling pembobol ATM? Bukan juga sebenarnya. Nah, dari kalimat sebelumnya, kita mulai sadar bahwa fashion dan tujuan dalam berbusana, ada yang dirusak di sini.

Berbusana untuk menjalankan akidah beragama dan berbusana untuk menutupi dosa, beda sangat tipis. Ada garis tipis yang membedakan antara beragama dan melakukan kejahatan. 

Ini yang harus kita sadari bersama-sama. Jangan sampai busana yang mencerminkan keagamaan malah dirusak oleh seorang pembobol ATM.

Percakapan absurd di atas menjadi sebuah cerminan bagi orang-orang yang selama ini merasa paling berjasa, tapi ternyata hanya sekadar lip service alias poles-poles bibir. Jangan jadikan kekuasaan untuk merusak dan melakukan segala sesuatu.

“Hey! Kenapa pakai-pakai penutup? You intel, ya?”

“Bukan, pak. Saya cuman pembobol ATM.”

“You siapa?”

“Astajim, Pak… Masa bapak lupa? Saya ini keponakan bapak. Masak lupa? Sa…sa…saya… Sebenarnya…”

Ketika popcorn sudah di ujung bibir sambil menonton adegan Ramyadjie ingin membuka topengnya, listrik padam. Telenovela pun berakhir gantung.

Sudah-sudah! Tidur sana! Buyar!