Adakah ruang dan waktu kehidupan kita yang tak disinggahi oleh duka? Sejak masih dalam rahim sampai tua renta, duka nihil alpa. Nahasnya, duka tidak selalu menyertai peristiwa-peristiwa di mana kenyamanan hidup terkoyak, rasa aman terancam, kebahagiaan terusik.

Fakta selalu menunjukan, duka juga setia menanti di ujung setiap peristiwa gembira, derai tawa dan kelak mengungkapkan keberadaannya di akhir, sesaat suka cita bergulir reda. Kegembiraan yang mengiringi kelahiran seorang anak, berganti tangis dan ratapan ketika sang anak berpulang. Lalu mengapa kaget bila dengar kabar duka?

Sebut saja mulai di awal hingga penghujung Januari lalu, rentetan kabar duka sampai kepada kita. Seorang artis yang bertahun-tahun berjuang sebagai penyintas kanker tutup usia di subuh buta. Disusul sebelas hari kemudian, ibu kandungnya, yang juga seorang tokoh di dunia perfilman nasional dan artis kawakan, wafat seolah hendak menemani kepergian putrinya. Kita tersentak kaget.

Belum lagi pulih batin dari guncangan kabar itu, legenda bola basket dunia bersama delapan orang yang berada di dalam helikopter, termasuk putrinya, tewas dalam kecelakaan. Bukan saja atlet dan penggemar olah raga bola basket seantero yang shock, terguncang dan kaget dibuat, publik secara umum juga ikut meratapinya.

Lebih dari separuh Februari ini kita jalani, lagi jantung kita seperti henti sesaat selagi pagi tengah bergelia. Seorang aktor yang kita kenal gemar berolah raga, bergaya hidup sehat, pengusaha dan suami dari seorang artis, dingin teringkuk di kasur, serangan jantung dicurigai jalan kepergiannya keharibaanNya.

Batin kita kaget bahkan shock bukan saja oleh peristiwa-peristiwa yang dialami secara pribadi di mana hati menjadi susah, dan sedih. Mulai dari peristiwa kehilangan barang sampai kehilangan orang yang amat disayang. Tetapi batin kita juga ikut menjadi lunglai oleh resonansi kesusahan hati dan kesedihan yang dialami orang lain, entah yang kita kenal baik secara pribadi ataupun karena ia seorang tokoh masyarakat dan publik figur.

Apakah lantaran seperti yang kita dengar dari para bijak, bahwa sejatinya tidak ada peristiwa pribadi dalam alam semesta ini. Aku adalah kesadaran semesta, sebaliknya semesta adalah kesadaran aku. Konseuensinya, apa yang tengah aku alami berpengaruh langsung pada kehidupan lainnya, dan apa yang terjadi di luar pribadi juga berpengaruh langsung pada individu. Dukanya adalah dukaku, dukaku adalah dukanya.

Atau, karena sifat dasar manusia yang resisten dengan apa pun yang berbau kesusahan hati, kesedihan diri. Tidak mau susah hidupnya. Sehingga peristiwa kaget itu sesungguhnya lebih kepada  ekspresi penolakan individualnya langsung atas peristiwa yang membawa penderitaan hati dan duka cita. Betapapun kita menyadarinya bahwa menolak peristiwa yang membawa kedukaan sama artinya menolak kehidupan.

Tanpa penderitaan dan kematian, hidup manusia tidak sempurna, kata Viktor E. Frankel. Jika hidup benar-benar memiliki makna, maka harus ada makna di dalam penderitaan. Karena penderitaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. (Man’s search fo meaning –Viktor E. Frankel).  

Memahami duka, dan keseimbangan menghadapinya

Mungkin lantaran begitu dekatnya kita manusia dengan duka membuat ia jadi tidak mudah dilihat dan diketahui keberadaannya. Sebagaimana dekatnya wajah dengan dua mata kita, membuat sulit bagi mata untuk langsung menatapnya. Untuk itulah kedatangan duka dalam kehidupan, baik pada pribadi maupun orang lain, selalu terasa seperti sontak menyentak!

Sejauh ini, umumnya kita menganggap reaksi kaget yang terekspresi saat didapat kabar duka adalah tanda adanya kehidupan dan sehatnya jiwa seseorang. Bagi saya, justru hal itu menunjukan isi batin orang yang hidup dalam keadaan terancam (insecure), selalu terguncang dan tidak stabil. 

Kecenderungannya pada peristiwa suka cita dari pada peristiwa kebalikannya sebagai pangkalnya. Attitude mengejar suka dan menghindari duka. Yang demikian menunjukkan tidak saja artinya ia lupa sifat asasi kehidupan, bahkan boleh jadi  memungkiri sifat kehidupan, dan mengingkari keberadaan.

Barangkali kita memerlukan satu pendekatan sebagai alat bantu (sebagai cermin) untuk dapat bisa melihat dan menghadapi duka, sehingga kita dapat bereaksi secara lain dari biasanya, suatu reaksi yang cerdas, dewasa dan menyehatkan fisik terutama mental. Salah satu pendekatan yang dapat ditawarkan adalah melihat duka secara meditatif.

Dalam tradisi ajaran meditasi Budhhis, seorang yogi bermeditasi bukan untuk menghindari peristiwa duka cita dan menggantikannya dengan peristiwa suka cita. Juga bukan untuk menghindari atau larut bersama emosi kesedihan hati. Tetapi untuk melihat serta memahami sifat alamiah kehidupan, yakni ketidakkekalan. Praktik meditasi yang dilakukan bertujuan mengembangkan batin kearah yang seimbang dalam melihat sifat alamiah hidup.

Makin seimbang batin (tidak ada kecenderungan pada duka/suka), maka makin terampil dalam mengenali peristiwa dan bereaksi atas peristiwa. Bagi seorang yogi, duka cita atau suka cita dikenali sebagai Dukkha. 

Duka yang muncul karena penyakit, kematian dan semua penderitaan emosional seperti kemarahan, ketakutan, rasa tidak aman dan tidak nyaman, kekecewaan dan keputusasaan, ditinggal orang yang dicinta, harus menerima orang lain yang tidak disuka, tidak mendapat dan tidak menjadi apa yang di inginkan, adalah duka  ditingkat  yang paling dasar dan kasar. Untuknya dikenal dengan istilah dukkha-dukkha.

Sementara keadaan suka cita; segala bentuk kegembiraan mental, kenikmatan sensual bahkan kebahagiaan apa pun adalah juga duka dengan istilah viparinama dukkha, lantaran keadaan-keadaan perasaan tersebut tetap mengalami berakhirnya.   

Duka dan suka ada seiring keberadaan. Perasaan atau sensasi adalah manifestasi darinya yang memiliki watak alamiah sebagai timbul-tenggelam, datang dan pergi, rapuh dan tidak kekal.

Memahmi dukkha (duka cita/suka cita) dengan benar akan berimplikasi pada adanya pandangan yang benar akan kedua keadaan dalam kehidupan kita. Sayadaw Ahsin Tejaniya, seorang guru meditasi dari Myanmar mengatakan:

Setiap pemahaman kecil mengenai dukkha membuat batin mampu untuk melepaskannya, sehingga mengalami lebih banyak kebebasan. Memahami dukkha akan membawa kita pada kondisi batin yang sehat, dan membuat batin lebih kuat. (Buku Hanya Kesadaran Saja Tidak Cukup-Ahsin Tejaniya).

Batin yang kuat dan seimbang adalah batin yang tergambar dalam pitutur jawa “ojo kagetan, ojo gumunan”. Tidak mudah kaget atau shock dengan apa yang terjadi. Duka maupun suka adalah keberadaan alamiah (sankhara dukkha). Pepatah Sunda mengajarkan, ”amun meser piring, sareng pecahna” jika membeli piring, beli juga pecahnya.

                                                                    (Kang abi-Penggagas komunitas duduk diam)