Ada yang tahu kenapa harus ada rindu? Kapan rindu dapat menghilang dalam benak?

Rindu, dalam KBBI, berarti “memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu; sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu.” Rindu adalah hasil dari pemikiran cerita yang pernah ada karena perasaan mengharap kembali apa-apa yang biasa terjadi sebelumnya, yaitu hal-hal yang menyenangkan, suasana menggembirakan, keadaan yang nyaman, atau apa pun yang menajubkan di waktu yang lalu.

Rindu hanya menyisakan bayangan cerita hasil dari rasa yang berjarak. Sebelumnya ada makna pertemuan yang telah sekian lama tercipta, ada rasa yang tumbuh dalam hati, hal yang membahagiakan bahkan menyedihkan. Perasaan yang tiba-tiba datang dalam benak saat menginginkan cerita yang pernah ada kembali lagi dalam kehidupan sehari-hari, lalu dengan egois ingin memutar kembali yang pernah ada atau berharap waktu bergerak cepat mempertemukan rasa yang ada dan menyelesaikan masalah rindu.

Namun, tidak semua jalan cerita yang pernah ada akan terkenang menghasilkan rindu. Ada sebagian cerita terlupakan begitu saja. Kenapa? Karena kita tidak melewati momen tersebut dengan hal-hal istimewa atau terkesan biasa-biasa saja.

Sederhananya, rindu hadir karena kita telah jatuh hati sebelumnya. Ada pertemuan sebelumnya yang menyisakan kenangan. Ada rasa cinta, rasa kekeluargaan, rasa saling memiliki yang berujung nyaman meski kadang tercipta pertengkaran, selisih paham, dan sulitnya menahan ego diri masing-masing.

Sama halnya seperti nasi goreng. Jika garam tidak ada, bukan berarti nasi goreng tidak ada. Bisa jadi nasi goreng tetap ada, tapi tentu dengan rasa yang beda (hambar). Begitu pula dengan cinta. Jika rindu tidak ada, boleh jadi cinta tetap ada, namun dengan rasa berbeda.

Rindu kadang menyiksa dan menyakitkan, terutama rindu yang muncul disebabkan karena bentangan jarak yang terlampau jauh sehingga kata jarang menjadi semakin jarang. Mendorong kita ingin berjumpa kembali, padahal tidak semua perjumpaan kembali akan menghasilkan cerita sama seperti yang pernah ada sehingga tidak menyembuhkan, tidak sehangat pada masanya.

Ada rasa yang sudah berbeda. Bisa jadi karena faktor setelah kian lama berjarak oleh waktu. Hanya saling bercerita tentang cerita yang pernah ada hingga bosan mengulang cerita, hingga lenyap tanpa kabar karena faktor suasana lingkungan yang sudah berbeda, tidak sama lagi.

Ibaratnya seperti ini, apa ada yang salah dari nasi goreng keasinan? Apa karena garam?

Bukan karena garam, tapi karena porsi atau takarannya yang berlebihan. Sama halnya dengan rindu, porsi atau takaran yang berlebihan hanya membuat rindu semakin menyakitkan bahkan menyiksa benak. Allah telah menegaskan lewat Nabi-Nya, “Janganlah seseorang terlalu mencintai sesuatu secara berlebihan dan sebaliknya, karena bisa jadi di kemudian hari dia membencinya dan sebaliknya."

Baca Juga: Rindu Itu Asu

Intisari dari ungkapan tersebut adalah tentang porsi atau takaran. Di semua hal ada takarannya, ada porsinya masing-masing. Lebih dan kurang, ada konsekuensi atau akibatnya tersendiri. Hal tersebut rindu menguji kita. Jika terlalu berlebihan akan menyiksakan, jika kurang ia akan hambar atau biasa-biasa saja hingga terlupakan.

Rindu tidak dapat dikebiri. Semakin ditahan akan semakin menyakiti. Rindu hanya bisa diatur dengan skala prioritas atau diatasi dengan kesibukan-kesibukan. Dalam kondisi yang kosong tanpa kegiatan, biasanya lebih mudah memikirkan hal-hal cerita yang pernah ada. Jika dalam kondisi sibuk dengan berbagai kegiatan positif, maka berbagai pikiran cerita tersebut akan dengan mudah lenyap.

Jika rasa cinta tidak ada, apakah rindu ada? Analoginya, jika nasi goreng tidak ada, apakah garam tidak ada? Keduanya tetap ada dan ada dua kemungkinan. Digunakan untuk yang lain atau tidak digunakan sama sekali. 

Kemungkinan pertama, seseorang bisa saja tidak memiliki rasa cinta dengan demikian tidak ada rindu. Kemungkinan kedua, tidak digunakan sama sekali. Seperti apakah contoh rindu tidak digunakan? Kenapa harus ada rindu? Agar membuat sesuatu menjadi lebih berasa, baik berasa lebih indah atau sebaliknya, menyenangkan atau menyakitkan. Jika rindu tidak digunakan, maka sesuatu tidak berasa atau hambar (biasa-biasa saja) misal sering bertemu setiap hari. Rindu tetap ada, berdasarkan realitas namun tidak difungsikan.

Setiap manusia memiliki sebentuk perasaan hati. Hati membutuhkan apa-apa yang bisa membuat kita merasakan kembali sesuatu yang pernah dirasakan. Atau bisa saja sama sekali belum pernah dirasakan tapi sangat diidam-idamkan. Itulah kebutuhan, itulah keinginan. Karena kebutuhan dan keinginan tersebut menyebabkan muncul rasa yang berlebihan yang dinamakan rindu. 

Rindu ada karena ada yang dibutuhkan dari perasaan. Ada yang diinginkan mengisi hati yang kosong. Kekosongan bisa diwujudkan dengan keinginan tersebut, misal sibuk berbagai kegiatan positif atau berjumpa kembali, namun jangan terlalu berharap berlebihan.