Kepergian sang sastrawan di hari Selasa, 4 Desember 2018, akibat kecelakaan lalu lintas, seperti mengentakkan kita kepada suatu kesadaran yang lain. NH Dini, selama ini namanya mungkin luput bagi generasi milenial dan hanya akan diingat oleh mereka yang berkecimpung di dunia sastra. Kematiannya yang begitu mendadak, di usia senja, menorehkan kesedihan berkepanjangan di dunia sastra Indonesia, dunia kepenulisan novel, dan dunia yang selama ini mengenal partisipasi NH Dini di dalamnya.

Sejujurnya, meski saya adalah alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, saya belum membaca satupun karya NH Dini. Namun, tidak berarti saya buta terhadap keberadaan karya-karyanya. Sejak duduk di bangku sekolah menengah, nama wanita kelahiran Semarang itu kerap menghiasi buku cetak pelajaran Bahasa Indonesia beserta novel-novelnya yang paling legendaris: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, dan Keberangkatan.

Pastinya setiap orang memiliki selera sastra yang berbeda, termasuk juga saya yang mungkin bukan pembaca dan penikmat buku beliau. Namun, mendengar kabar kecelakaan tragis yang merenggut nyawanya membuat saya tertegun dan kembali membuka memori lama ketika pertama kali saya mengenali nama beliau, dari bangku sekolah menengah hingga ke bangku kuliah.

Kebetulan, saat ini saya seorang script writer di sebuah stasiun televisi swasta. Kebetulan selanjutnya, saya kedapatan tugas untuk menulis berita mengenai kronologi kecelakaan yang menewaskan NH Dini, hingga mengulas fakta-fakta unik dari wanita berusia 82 tahun itu. Pada akhirnya, tulisan saya, yang membawa saya menyelami dunia NH Dini yang lain, yang mungkin baru diketahui orang setelah raganya sudah berpulang tiga hari lalu.

Demi Hidup Mandiri, NH Dini Tinggal di Panti Jompo

Tidak ada yang bilang bahwa kehidupan sastrawan atau seorang novelis itu kaya raya atau bergelimang harta. Ya, jangan bandingkan dengan profesi pengusaha, karyawan IT, atau karyawan muda di masa kini yang hobinya menghabiskan uang untuk secangkir kopi. 

Akan tetapi jangan ditampik pula, dengan novel-novel populernya kala itu, pastinya NH Dini memiliki cukup banyak aset. Walaupun itu hanya terkaan saya saja, karena melihat di masa sekarang banyak novelis muda yang kariernya cukup melejit dan memiliki pundi pundi tidak sedikit.

Saya cukup terkejut ketika mengetahui beliau memutuskan untuk menjual seluruh asetnya. Selain karena ia ingin hidup mandiri, NH Dini juga adalah seorang wanita berpikiran terbuka dan mencintai alam. Ia tergabung dalam sebuah organisasi greenpeace, yang berujung pada pembuatan surat wasiat super unik di tahun 1991.

Mengapa saya katakan surat itu unik? Pasalnya, dalam surat wasiat NH Dini tersebut, ia meminta saat dirinya meninggal dunia, agar tidak dikuburkan melainkan dikremasi saja. Alasannya, tanah kuburan bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti bertani misalnya. 

Selain itu pula, makin tumbuh suburnya penduduk Indonesia dan pembangunan, membuat tanah kuburan menjadi sulit dan berkurang. NH Dini, yang saat itu usianya 52 tahun, merasa bahwa lebih baik tanah kuburannya digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat bagi alam dan manusia. Surat wasiat NH Dini itu pernah dimuat oleh majalah Tempo, edisi 20 Juli 1991.

Keunikan NH Dini, tidak berhenti sebatas keinginan kremasi saja. Kendati memiliki dua orang anak dari hasil pernikahannya dengan pria Prancis bernama Yves Coffin, novelis bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin itu rupanya memilih tidak tinggal bersama kedua anaknya. Ia memilih untuk tinggal di sebuah panti jompo atau wisma lansia di wilayah Semarang, Jawa Tengah. Keponakan NH Dini, mengaku alasannya memutuskan tinggal di Wisma Lansia karena “tidak ingin merepotkan orang lain”.

Sang Putra yang Sukses di Hollywood dan Tidak Bisa Bahasa Indonesia

Di hari jenazahnya disemayamkan sebelum dikremasi, di rumah duka di Wisma Lansia Harapan Asih, Semarang, terlihat sosok putri NH Dini, Marie Claire Lintang, yang datang dari rumahnya di Bandung. Lintang, begitu selama ini NH Dini memanggil putrinya, terlihat berusaha menutupi kesedihan di kedua matanya dengan mengenakan kacamata hitam. 

Berbicara dengan bahasa Inggris yang fasih, Lintang menyebut saudara laki-lakinya, Pierre Louis Coffin Padang, berhalangan hadir lantaran tidak dapat tiket pesawat dari Prancis menuju Indonesia.

Mungkin, sejak kesuksesan film Despicable Me 2, beberapa waktu lalu dengan karakter minionsnya yang lucu, beberapa generasi milenial mulai menyadari sosok NH Dini. Pasalnya, sutradara film Despicable Me 2 saat itu menjadi sorotan publik tanah air, karena berdarah Indonesia, dan bernama Pierre Louis Coffin Padang. 

Pierre Coffin adalah putra NH Dini dan Yves Coffin yang kini menetap dan berkarier di Prancis. Padang, panggilan kesayangan NH Dini untuknya, adalah sutradara sekaligus pencipta bahasa kartun Minions, yang akhirnya banyak menyerap kata dari bahasa Indonesia.

Namun, fakta lain yang tak kalah mengejutkan, dalam sebuah wawancara dengan VOA Indonesia, tahun 2013 lalu, Pierre mengaku tidak bisa sama sekali berbahasa Indonesia. Suatu kenyataan yang unik, namun sekaligus miris bagi saya. 

Saya berpendapat, mungkin Pierre kecil besar dengan lingkungan asing bersama ayahnya, sehingga lebih banyak menghabiskan waktu dengan berbahasa Inggris. Apa yang ada di dalam benak kalian, ketika mengetahui anak seorang sastrawan Indonesia tidak mampu berbahasa Indonesia?

Karena tidak kemampuannya berbahasa Indonesia, Pierre sampai tidak pernah pula membaca karya-karya novel sang Ibunda. Dari situ saya baru tahu, bahwa novel sekeren “Pada Sebuah Kapal”, ternyata tidak pernah diterjemahkan ke bahasa asing.

Terlepas dari fakta itu, Pierre tetap bangga bisa menjadi anak seorang NH Dini. Saya pun yakin sekali, NH Dini bangga memiliki anak seperti Pierre.      

Sama seperti keinginan yang selama ini didambakan Pierre, saya juga ingin segera membaca, minimal satu karya milik NH Dini. Saya ingin sekali membaca Pada Sebuah Kapal, tidak hanya sekadar membaca, tetapi mengarungi samudera pemikiran-pemikiran beliau yang begitu kembara.

Selamat jalan, NH Dini. Tulisanmu tetap hidup walaupun ragamu telah lebur dan kembali ke pangkuan Tuhan.