Pertama-tama tulisan ini tidak bermaksud untuk mengintervensi agar memberontak terhadap negara, sama sekali tidak. Tulisan ini bertujuan untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan serta memperlebar ruang dialektika.

Kedua, tulisan ini tidak bermaksud untuk menghilangkan keyakinan akan negara sebagai organisasi terbesar dalam mengorganisir manusia secara matang, namun tulisan ini bertujuan agar pemerintah sebagai controlling negara mampu bekerja secara optimal sesuai bentuk konstitusi negara itu sendiri. Dan tulisan ini merupakan semangat dalam memberikan peringatan bahwasannya terdapat hal-hal yang dianggap “remeh” namun imbasnya sangat signifikan di masa yang akan datang.

Ada tiga hal yang menjadi fokus terbesar dalam tulisan ini yang menjadi ancaman yang dinilai mampu meniadakan negara secara perlahan. Yang pertama ialah kekecewaan rakyat kepada pemerintah terhadap pengelolaan negara yang jauh dari kata adil serta praktek kotor dalam pemerintahan yang telah menjadi budaya dan dianggap suatu hal yang biasa saja.

Hal tersebut merupakan suatu akar permasalahan yang telah menjadi sumber utama dalam beberapa sejarah akan pengalihan dan pemberontakan yang terjadi di beberapa negara. Memang segala bentuk upaya telah dilakukan untuk mengantisipasi dan meminimalisir hal tersebut, akan tetapi selalu berujung sia-sia. Padahal pemerintah selalu dipandang sebagai patokan rakyat untuk bernegara.

Maka dari itu, jika pemerintah melakukan penyelewengan yang berkelanjutan tanpa memerdulikan aspirasi rakyat, maka rakyat akan melalukan pengambilan sikap secara revolusioner untuk merubah sistem yang dinilai tidak adil, dan membuat sistem negara sesuai kehendak amarah rakyat tersebut.

Faktor kedua ialah mobilitas manusia yang semakin tinggi, luas, dan tak terbatas. Di tengah zaman digital seperti ini, teknologi menjadi kebutuhan tersendiri. Bahkan saat ini, untuk memenuhi kebutuhan primer(sandang, pangan, dan papan), manusia dituntut untuk menguasai teknologi terlebih dahulu. Maka dari itu, kemampuan dalam menguasai teknologi saat ini menjadi faktor pembeda manusia dalam berkehidupan. Siapa yang lebih menguasai teknologi, maka hidupnya lebih mudah, dan begitu dengan sebaliknya.

Ketergantungan manusia dalam teknologi tidak dapat terkontrol lagi, mobilitas yang tinggi memaksa manusia yang saling berbeda latar belakang untuk saling berinteraksi. Manusia telah beradaptasi dengan teknologi secara sempurna-lah yang merupakan penyebab utama dalam mobilitas yang tinggi.

Lalu apa korelasinya mobilitas manusia yang tinggi dengan tidak butuhnya negara sebagai “controlling” dalam bermasyarakat? Jawabannya sederhana, dengan mobilitas yang tinggi menjadikan manusia sebagai individu yang utuh. Maksudnya ialah dengan mobilitas manusia yang tinggi, manusia dituntut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik primer, sekunder, dan tersier secara mandiri.

Kita bisa melihat realitanya saat ini bahwa negara hanya menjadi perantara administrasi masyarakat serta alat yang digunakan oleh masyarakat sebagai identitas warga negara. Faktor kedua ini juga didorong oleh faktor pertama tadi, bahwa ketika pemerintah mengecewakan masyarakat secara terus terang, maka masyarakat mengambil sikap dengan berusaha dalam memenuhi kehdiupannya secara mandiri tanpa perlu bantuan pemerintah.

Dengan ditunjang teknologi yang berkembang secara pesat, manusia telah memanfaatkan hal tersebut secara sempurna yang membuat mobilitas manusia antar benua, negara, dan wilayah yang berbeda latar belakangnya saling berinteraksi, bahkan memenuhi segala kehidupannya secara matang tanpa perlu bantuan negara.

Hak asasi manusia, pluralisme, dan liberalisme yang utuh dengan dibarengi kesadaran yang bentuknya mendekati sempurna, mobilitas manusia tidak akan memerlukan negara lagi, bahkan secara tidak sadar, negara-negara saling berkompetisi dalam ekonomi maupun politik untuk memakmurkan rakyatnya meskipun membuat negara lain mengalami masa kesulitan.

Dengan melihat realitas saat ini bahwa negara saling berkompetisi satu sama lain dalam memenuhi kebutuhan negara akan melahirkan kesadaran bahwa negara merupakan organisasi politik etis dan suatu dinding raksasa yang menghalangi mobilitas manusia yang semakin tinggi, bebas, dan tak terbatas di masa yang akan datang.

Faktor ketiga(terakhir) ialah kapitalisme dalam bentuk swasta. Faktor ini dipengaruhi oleh dua faktor sebelumnya, dan merupakan faktor terkuat. Kewajiban negara untuk masyarakatnya saat ini dalam berbagai aspek kehidupan telah mampu dilakukan juga oleh pihak swasta, bahkan secara kemampuan lebih baik. Contohnya ialah seperti lembaga pendidikan negara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam hal edukasi juga dapat dilakukan oleh pihak swasta. Rumah sakit, transportasi, dan berbagai aspek penunjang kehidupan masyarakat, pihak swasta juga mampu menyediakannya.

Lalu bagaimana dengan hal-hal fundamental seperti keamanan, administrasi dan pengganti pemerintah “andaikan” bermasyarakat tanpa perlu negara? Untuk keamanan, pihak swasta dapat menyediakannya dengan tenaga keamanan yang berbayar dalam suatu wilayah tertentu untuk mengurus kriminalitas, bahkan aturan hukum dapat diadopsi oleh pihak swasta dengan bentuk yang lebih efisien daripada negara. Untuk aspek administrasi pun dapat berlaku demikian.

Namun untuk menjawab pengganti pemerintah agaknya jawabannya agak rumit, ada dua kemungkinan jika bermasyarakat tanpa negara benar-benar terjadi. Yakni yang pertama ialah bahwa pengganti pemerintah akan sama sekali tiada dengan mengikuti ketiadaan negara itu sendiri. Mengingat bahwa mobilitas yang tinggi akan membuat manusia menjadi individu yang mandiri, dengan kata lain, manusia menjadi “pemerintah” untuk dirinya sendiri sebagai individu yang merdeka dari negara.

Yang kedua ialah suatu wilayah memiliki sistem swasta sebagai penyedia “pemerintah” dalam bermasyarakat dengan menyediakan segala kebutuhan dalam bentuk pembayaran yang dilakukan oleh masyarakat sebagai timbal balik.

Perlu diingat dalam sejarah bahwa bermasyarakat dengan bentuk negara merupakan strategi kaum borjuis agar terbebas dalam kehendak raja, maka jika negara telah dikuasai oleh kaum borjuis merupakan hal yang lumrah, namun jika borjuis tidak puas dalam menguasai negara yang telah ideal untuk seluruh elemen masyarakat, serta negara menjadikan kaum borjuis terbatas dalam berkehendak, maka sekali lagi, kaum borjuis akan menginisiasi dalam bentuk masyarakat tanpa perlu sebuah negara.

Hal tersebut merupakan kemungkinan yang tak kasat mata, bahwa di masa depan terdapat sebuah sistem bermasyarakat tanpa perlu negara. Saat ini, kita menjaga negara terhadap hal-hal yang frontal seperti terorisme, agresi militer negara lain, dan lain sebagainya.

Namun tulisan ini berusaha untuk menyadarkan kembali ancaman-ancaman negara yang tak terduga. Maka dari itu, tulisan ini mengajak kepada para pembaca agar bersikap waspada serta mencari stimulan yang ampuh agar negara terhindar dari ancaman-ancaman lain yang mungkin luput dalam pembahasan tulisan kali ini.