Dunia pendidikan masa lalu dan masa kini mengalami sebuah perubahan. Seiring berjalannya waktu ada suatu hal yang tumbuh, berkembang, berkurang, bahkan menghilang. Suatu hal yang tumbuh dan berkembang yaitu teknologi.

Hadirnya teknologi dalam kehidupan manusia di Indonesia membawa pengaruh besar terhadap dunia pendidikan. Teknologi memberi kemudahan dalam mengakses internet untuk mencari segala informasi berkaitan dengan pendidikan. Hal tersebut sangat berdampak pada dunia pendidikan khususnya pola pembelajaran di sekolah.

Dahulu kala, teknologi internet diperuntukkan bagi kalangan militer. Seiring berkembangnya zaman, teknologi internet dapat digunakan oleh semua kalangan. Hal demikian memberi peluang besar dalam dunia pendidikan sebagai media pembelajaran (Idris, 2018).

Media pembelajaran adalah “alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah (Hamalik, 1989). Pembelajaran di sekolah menjadi lebih mudah dan praktis.

Meruntut Kurikulum 2013, kemudahan teknologi menjadi peluang untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam mendapatkan ilmu. Melalui teknologi yang ada di sekolah dan di luar lingkungan sekolah, siswa diharapkan dapat menimba ilmu dan informasi positif sebanyak-banyaknya.

Siswa diharapkan bisa lebih aktif, mandiri, inisiatif, dan inovatif melalui teknologi. Siswa juga diharapkan bisa mengembangkan dirinya menjadi lebih berkualitas, berwawasan luas, dan berpengalaman tanpa batas.

Terlepas dari hal positif yang bisa dinikmati, terdapat tantangan yang besar pula dalam dunia pendidikan. Tantangan yang dimaksud adalah tantangan bonus demografi yang sudah banyak diperbincangkan akhir-akhir ini.

Perkiraan bonus demografi akan melanda Indonesia pada tahun 2020-2030. Pada masa itu Indonesia akan memanen usia produktif. Diperkirakan jumlah usia produktif sebesar 70% dari seluruh penduduk Indonesia, dimana usia produktif yakni 15-64 tahun.

Ditegaskan oleh Renald Kasali dan Anies Baswedan, saat ini sudah bukan saatnya lagi untuk mengandalkan sumber daya alam. Sudah saatnya memanfaatkan sumber daya manusia melalui pendidikan untuk membentuk manusia beragama, berilmu, beretika, bermoral, dan manusia yang berkarakter (Marzuki, 2015).

Penduduk berusia produktif (15-64 tahun) merupakan penduduk yang berpeluang dalam dunia pendidikan. Merekalah tokoh yang memiliki peran penting pada era bonus demografi nanti. Maka, mereka harus siap memanen masa produktifnya dengan menjadi manusia yang berkualitas.

Meruntut pada tantangan selanjutnya sejalan dengan perkembangan teknologi yaitu fenomena disrupsi. Fenomena tersebut membawa pergerakan yang besar dalam dunia industri atau persaingan kerja yang tidak linear.

Pergerakan yang terjadi sangat cepat dan drastis dari pola tatanan lama menjadi pola tatanan baru. Cakupan perubahan akibat fenomena disrupsi sangat luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat, hingga pendidikan.

Pendidikan merupakan bekal untuk menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupan manusia, seperti halnya tantangan bonus demografi dan fenomena disrupsi. Maka, diperlukan sumber daya manusia yang berkarakter positif.

Karakter bisa berdampingan dengan istilah etika dan moral yang fokusnya pada perilaku, sifat, watak, dan kepribadian. Dalam kamus bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2008: 682).

Kata karakter bisa diartikan sebagai tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lainnya. Pendidikan karakter sangat penting untuk menciptakan manusia yang berkualitas dan siap menghadapi segala tantangan.

Menurut Thomas Lickona, pendidikan karakter memiliki unsur pokok yang harus dicapai, yaitu: mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).

Pendidikan karakter bisa dimulai dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar atau masyarakat. Ketiga elemen itu merupakan wadah seseorang dalam pembentukan karakter.

Lingkup keluarga adalah pendidikan non-formal yang merupakan tahap awal pembentukan karakter seseorang. Pada lingkup keluarga saya pernah merasakan pendidikan karakter dari orang tua. Saya diajarkan untuk melihat peluang dalam hidup.

Peluang dalam hidup seperti halnya memanfaatkan keadaan menjadi positif. Contoh ketika saya menempuh pendidikan di perguruan tinggi, orang tua mengarahkan saya untuk tekun berkembang di perguruan tunggi tersebut. Namun, juga berkembang dalam bidang lain, seperti organisasi.

Mengikuti organisasi kampus yang positif juga merupakan tindakan memanfaatkan peluang yang dapat mengembangkan diri sendiri. Bahkan, orang tua saya juga mengajarkan untuk mandiri secara finansial.

Mandiri finansial yang dimaksud orang tua saya adalah mencoba untuk kreatif mencari uang yang ringan dan mudah di waktu-waktu luang kuliah. Hal demikian juga mengajarkan saya untuk merasakan perjuangan mencari uang yang tidak mudah. Sehingga, saya berusaha menikmati hasil uangnya sebaik-baiknya.

Orang tua saya juga mengajarkan untuk menjadi pemimpin bagi diri sendiri dalam hal waktu, uang, dan lain-lain. Beliau mengajarkan bahwa semua berawal dari diri sendiri agar bisa memahami dan menghadapi orang lain di kehidupan nyata.

Pada lingkup sekolah tidak jarang menemukan berbagai perbedaan seperti etnis, suku, ras, agama, atau bahkan perbedaan pendapat. Hal tersebut sangat biasa terjadi ketika bersama-sama dengan orang lain. Dari situlah bisa diajarkan pendidikan karakter dengan mengetahui, memahami dan menghargai perbedaan.

Pada lingkup lingkungan sekitar atau masyarakat. Pendidikan karakter yang saya dapatkan adalah berani mengemukakan pendapat dan berani menjadi pemimpin orang banyak.

Menjadi pemimpin orang banyak tentu didasari oleh pendidikan yang dimiliki. Jadi, tetap saja bahwa pendidikan juga menjadi bekal dalam keadaan dan kondisi apapun.

Begitulah pendidikan karakter harus dimiliki, diresapi, dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari seiring perkembangan teknologi. Demikian akan memberi kesiapan dalam menghadapi tantangan era disrupsi, bonus demografi, bahkan tantangan-tantangan lain yang mungkin akan terjadi.

Referensi

Idris, H. (2018). Aplikasi Teknologi Pendidikan di Era Global. Jurnal Pendidikan Islam Iqra'.

Marzuki. (2015). Applied approach. Yogyakarta: UNY Press.

Qardhawi, D. Y. Konsep Pendidikan Karakter Menurut Thomas Lickona.