Siapa dari kita yang masih tidak mengenal kertas? Siapa sangka benda yang seringkali dipandang sepele ini, memiliki andil yang besar dalam sejarah kehidupan manusia. Sudah berabad-abad lamanya manusia mempercayakan kertas sebagai media utama baca-tulis, penyimpanan gagasan-gagasan berharga dari tiap-tiap masa dan peradaban, hingga sebagai media informasi dan komunikasi baik antar individu hingga lintas generasi. Mengapa demikian? Karena berkat kehadiran kertas, penyebarluasan berbagai penemuan berharga, sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan dapat dipelajari dan dikembangkan oleh generasi selanjutnya. Inilah mengapa, penemuan kertas diakui sebagai salah satu tonggak bersejarah dalam perkembangan peradaban manusia.

Maka dari itu, tak salah jika kita menyebut kertas sebagai g(old), karena semakin tua peradaban manusia ini, semakin berharga pula kehadirannya ditengah-tengah kehidupan manusia layaknya emas. Sejak penemuannya, kertas telah menjadi “kanvas kehidupan manusia” yang mewadahi manusia untuk berkreasi, menarasikan ilham, dan memberi warna bagi hidupnya. Akan tetapi, kini muncul masa dimana era digital dan teknologi informasi-komunikasi meminimalisir peran kertas. Hal ini memang maklum adanya, karena manusia memang selalu berkembang dan berinovasi, namun bukan berarti kisah kertas sang g(old) berhenti sampai di sini.


Inovasi Kertas dan Meningkatnya Peradaban Manusia

Penciptaan kertas mulanya dimaksudkan untuk menulis, baik menulis perjanjian politik, dagang, hukum, hingga pendidikan. Sejak dahulu telah muncul cendekiawan-cendekiawan dari berbagai disiplin pengetahuan, namun karena keterbatasan media penyebarluasan pemikiran, hanya segelintir orang yang mampu mengakses pengetahuan dari mereka, sehingga peradaban manusia belum secara global tercerahkan pengetahuan. Hingga muncul pemahaman bahwa agar pemikiran-pemikiran dan pengetahuan itu tidak “menguap di udara” mereka perlu menyimpannya sebagai bekal bagi generasi selanjutnya.

Di era sebelum ditemukannya kertas, bangsa–bangsa terdahulu menjadikan prasasti dan gulungan perkamen sebagai medium informasi mereka. Indonesia sendiri memiliki prasasti, daun lontar hingga sabak (alat tulis wajib siswa di Indonesia pada tahun 1960-an, merupakan lempengan batu karbon segi empat mirip tablet dan ditulisi menggunakan grip sebagai pensilnya) sebagai media tulis-menulis sebelum digunakannya kertas. Namun, para pendahulu kertas ini dinilai masih kurang efisien digunakan sebagai medium utama penyampaian informasi dan ilmu pengetahuan, sehingga setiap bangsa berusaha menginovasikan medium yang tepat dan praktis dalam penggunaan. Hingga pada akhirnya inovasi kertas muncul di peradaban manusia, dan mempermudah laju informasi-komunikasi pengetahuan.

Sepanjang sejarah, tercatat bahwa penginovasian kertas telah dilakukan oleh berbagai bangsa di dunia. Bangsa Mesir Kuno mulai menggunakan papyrus (asal mula kata paper dalam bahasa Inggris) sebagai media tulis menulis. Tsai Lun (48-121 M) mewakili Bangsa Cina, berhasil menemukan kertas jenis baru yang nantinya mengalami perkembangan hingga seperti kertas modern kini, dan secara bertahap penggunaannya menyebar ke seluruh dunia.

Seiring waktu, kertas memegang peranan penting dalam pembangunan peradaban dan intelektual manusia. Ditambah dengan penemuan teknologi percetakan (photocopy) Johannes Gutenberg, mempercepat laju berkembangnya ilmu pengetahuan dan komunikasi melalui buku dan surat kabar. Era dimana kertas dan teknologi percetakan berpadu inilah yang diyakini sebagai batu loncatan bagi kebangkitan peradaban manusia. Arus informasi dan ilmu pengetahuan mengalir ke berbagai penjuru dunia, dan menciptakan kebangkitan pengetahuan secara massal.


Kertas Dalam Budaya Masyarakat Indonesia

Tidak hanya dalam ranah Ilmu pengetahuan dan informasi, kertas juga berperan penting dalam berlangsungnya kebudayaan masyarakat di dunia, khususnya di Indonesia. Kertas menjadi sarana utama para founding fathers kita untuk menuangkan gagasan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Layang-layang, salah satu permainan tradisional anak-anak Indonesia yang familiar di telinga masyarakat, menggunakan kertas sebagai bahan pembuatannya. 

Dan berbicara soal kertas tradisional khas dari suatu negara; kita akan temukan washi sebagai kertas tradisional Jepang, hanji dari Korea, papyrus dari Mesir, dan ada daluang dari Indonesia. Kertas Daluang adalah salah satu warisan budaya Indonesia. Terbuat dari lembaran kulit kayu pohon Saeh dan dibuat secara tradisional oleh masyarakat Indonesia.


Beritasatu.com (Tedi Permadi)


Di Jawa, Daluang dimanfaatkan sebagai bahan untuk merekam kisahan atau cerita pewayangan Wayang Beber. Selanjutnya, daluang digunakan dalam berbagai tradisi tulis di Indonesia, mulai dari tradisi pesantren sampai dengan pemanfaatan untuk keperluan administrasi di zaman kolonial hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Selain kertas daluang, pemanfaatan kertas dalam ragam budaya Indonesia lainnya hadir di kampung penghasil kerajinan payung, Desa Kwarasan-Juwiring. Sejak tahun 1800-an, Juwiring menjadi sentra penghasil kerajinan payung lukis berbahan kertas dan kain. Kerajinan payung  lukis ini digunakan masyarakat Bali dalam berbagai upacara keagamaan dan juga telah digunakan selama berpuluh-puluh tahun dalam Upacara Suronan serta Muludan Kekeratonan Yogyakarta dan Surakarta.


Era Digitalisasi dan Tumbuhnya Kerinduan Akan Kertas 

Dimulai dari meningkatnya kualitas peradaban manusia di bidang ilmu pengetahuan, tak kalah pesat kemudian perkembangan teknologi mulai dari permesinan standar hingga perindustrian canggih. Ditambah kehadiran komputer dan internet yang sangat pesat kini, tidak menafikkan fakta bahwa era digital kini telah meresap ke dalam tiap lini kehidupan.

Manusia mulai gempar menciptakan peradaban baru, yaitu peradaban masyarakat tanpa kertas (paperless society). Kejadian ini mulanya merupakan sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh Frederick Lancester untuk menggambarkan bagaimana kondisi masyarakat yang kedepannya tidak lagi menggunakan kertas sebagai medium baca-tulis, dan pertukaran informasi. Tetapi kini masyarakat modern ingin mewujudkan gagasan itu. Semua hal yang berhubungan dengan kertas mulai di eliminir dengan alasan yang beragam, mulai dari alasan isu kerusakan ekologis, hingga efisiensi. E-ticketing, e-mail, e-money, e-book, dan sebagainya, ditawarkan sebagai alternatif pengganti kertas.

Ditengah merebaknya tawaran fitur-fitur elektronik, kerinduan akan kertas justru tumbuh. Tumbuhnya kerinduan akan kertas sendiri sangat terasa khususnya pada dunia pendidikan. Dunia pendidikan kita telah sejak lama hidup berdampingan dengan kertas. Namun, kini telah jarang kita melihat anak-anak dengan riang memberi sampul buku tulis baru mereka. Mereka akan lebih senang mendapat gadget baru sebagai hadiah kenaikan kelas dibandingkan buku dan alat tulis, atau perlengkapan sekolah lainnya.

Mengoperasikan fitur Microsoft Office inovasi Bill Gates di gadget, sudah menjadi keahlian wajib dan dasar bagi anak-anak muda kini. Kehadirannya sangat membantu untuk meminimalisir penggunaan kertas dan coret-coretan yang terkesan kotor dan kurang rapih. Jika dahulu menulis di atas kertas memerlukan kerapihan, dan kecermatan agar tulisan yang diberikan dapat dibaca, maka saat ini dengan Microsoft Word, kita bisa menulis dalam metode yang berbeda. Kita bisa memilih font dan format tulisan yang kita inginkan. Sekilas nampak begitu efisien dan membantu, namun akankah muncul kemudian kondisi dimana masyarakat kehilangan kemampuan menulisnya?


pinterest.com // Christopher Rodriguez


Keinginan menulis diatas kertas anak-anak masa kini cukup memprihatinkan, mereka lebih mahir dan cekatan dalam mengetik tombol keyboard daripada menulis di atas kertas. Kini tulisan tangan memang nampak sepele.

Di era terdahulu terutama di Eropa, tulisan dipandang sebagai cerminan diri seseorang, semakin indah tulisannya dipandang semakin beradab. Apalagi dengan kertas sebagai sarana komunikasi surat-menyurat, baik formil maupun pribadi. Mungkin ada di antara kita yang orangtuanya dahulu menggunakan surat-menyurat sebagai penghubung perasaan mereka? layaknya lagu “surat cinta” Vina Panduwinata, nuansanya indah terasa.

Meski alasannya nampak emosional, tetapi kenyataannya bidang Psikologi masih membutuhkan kertas sebagai metode pengukuran seperti psikotest menggambar atau melihat kepribadian lewat tulisan tangan.

Lebih dari dirindukan, tangan kita masih membutuhkan kertas sebagai “kanvas” untuk menunjukkan bakatnya.


warung disekitar kediaman penulis, menjual amplop kertas karena permintaan konsumen yang memerlukan amplop sumbangan untuk menghadiri hajatan.


Tantangan Dunia Produksi-Konsumsi Kertas Ke Depan: Problem Ekonomi Berkelanjutan

Kemajuan dunia digitalisasi ternyata tak membuat penggunaan kertas menurun. Konsumsi kertas dalam kehidupan sehari-hari masih sangat tinggi, utamanya dalam dunia pendidikan. Sejak kemunculannya, kertas menjadi kebutuhan efektif dalam membangun peradaban intelektual, kini sang kertas telah mewujud ke dalam berbagai bentuk (pembersih, pembungkus, hingga kotak penyimpanan) guna mempermudah kehidupan manusia.

Namun, maraknya gerakan penyelamatan lingkungan seringkali menunjuk aktivitas konsumsi dan produksi kertas sebagai biang keladi dari kerusakan alam, dan akhirnya menggadang-gadang gerakan paper-less lifestyle bahkan menyarankan untuk secara massive hijrah menuju era digitalisasi sebagai upaya penyelamatan alam.

Paperless lifestyle seringkali ditengarai pola pikir hitam-putih yang diartikan sebagai gerakan cinta lingkungan yang bebas penggunaan kertas, karena menggunakan kertas berarti menyetujui penggundulan hutan. Namun, perlu digaris bawahi bahwa untuk menyelamatkan ekosistem hutan, tidak sesederhana menerapkan pola hidup nir-kertas secara total, karena penebangan pohon tidak hanya dilakukan oleh industri kertas, tetapi juga industri sawit, lahan pertanian dan pabrik.

Namun yang perlu masyarakat kita pahami adalah bahwa persoalan ekologi masa kini sudah terlalu karut marut. Penyebab munculnya problem ekologi saling berkelindan dan kompleks. Kita tidak bisa hanya menunjuk penebangan kayu untuk pabrik kertas sebagai agen tunggal permasalahan ini, melainkan perlu mengurai masalah lain yang turut menyumbang seperti peningkatan karbondioksida kendaraan bermotor, pembangunan di sepanjang area sungai, meningkatnya produksi sampah.

Industri kertas seperti PT. Asia Pulp and Paper (APP) Sinar Mas Indonesia sebagai salah satu perusahaan besar yang bergerak dalam industri pulp dan kertas, merupakan salah satu sektor unggulan berbasis sumberdaya alam yang dipandang mampu memberikan kontribusi bagi negara secara ekonomi dan sosial, karena ia mampu menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu, keberadaan industri kertas di daerah akan menambah sektor keuangan pemerintah daerah. Masyarakat pun turut merasakan dana CSR, khusus untuk pengembangan masyarakat sekitar perusahaan, hingga untuk beberapa yayasan-yayasan sosial di berbagai daerah lainnya.

www.sinarmas.com


Membatasi produksi kertas akan sia-sia saja apabila industri berbasis sumberdaya kayu dan lahan masih cukup tinggi. Lagipula, Indonesia menerapkan sistem perlindungan hutan dengan menetapkan daerah-daerah kawasan hutan lindung dan hutan industri. Yang perlu kita jaga kemudian adalah supply and demand kita agar tetap seimbang dan berkelanjutan. Maka diperlukan disini regulasi kebijakan yang mempertimbangkan keadilan ekologi-sosio-ekonomi bagi industri kertas, serta penggunaan kertas oleh konsumen itu sendiri.

kepesatan teknologi digital tidak menghambat perkembangan industri pulp dan kertas karena sebagian besar masyarakat dunia masih mengunakan kertas untuk berbagai kebutuhan. Ditengah rasa kemenduaan kita untuk melindungi lingkungan dan kebutuhan akan kertas demi kenyamanan hidup pada sisi lain, kita dapat melihat bahwa perindustrian kertas masih mempunyai potensi yang besar dalam mewarnai perekonomian Indonesia dan dunia.


Limbah Kertas + Kreativitas = Solusi Cerdas dan Berkualitas

Sebelum menjadi sampah, kertas diproduksi dengan membutuhkan banyak energi dan air. Untuk menghasilkan satu kilogram kertas, dibutuhkan air sebanyak 324 liter yang artinya dibutuhkan seliter air untuk menghasilkan tiga lembar kertas. Satu rim atau 500 lembar kertas A4 membutuhkan satu batang pohon berusia lima tahun. Belum lagi limbah yang dihasilkan dari produksi kertas, tak main- main mencapai satu ton limbah padat dan 72.200 liter limbah cair. Selain itu, produksi satu ton kertas juga menghasilkan gas karbondioksida sebanyak kurang lebih 2,6 ton, setara dengan emisi gas buang yang dihasilkan oleh mobil selama enam bulan.

Dengan proses yang sedemikian panjang dan begitu banyak mengorbankan sumber daya, kita perlu solusi memanfaatkan kertas secara optimal dan membuatnya tidak sia sia. Besarnya dampak kertas bagi manusia dan lingkungan menujukkan bahwa perlu adanya rasa bijak dalam penggunaan kertas, salah satunya dalam mengelola limbah kertas menjadi barang baru yang indah, bahkan bernilai jual tinggi.

Berbekal kreativitas, kita dapat meraup untung dari limbah kertas. Ada beberapa pengrajin yang memanfaatkan limbah kertas sebagai usaha yang cukup menguntungkan. Misalnya Bapak Watno, seorang pembuat terompet di Brebes, memanfaatkan bekas kalender, poster, maupun sampul buku. Kemudian ada Bapak Amir Hendi dari Bengkulu menjadikan limbah kertas menjadi lukisan 3D yang unik dan bernilai tinggi.


http://www.mongabay.co.id/2016/03/01/kreatif-lelaki-ini-membuat-lukisan-3-dimensi-dari-sampah-kertas/


Penulis pribadi, kini tengah berusaha merintis usaha kecil “K(ART)AS” dengan memanfaatkan limbah kertas koran, sebagai bahan baku pernak-pernik rumah dan aksesoris remaja. Meski masih skala kecil, penulis berharap ini menjadi bentuk harapan positif penulis bagi kertas dimasa depan. Tetap berharga di kala gempuran teknologi digital menerpa.


limbah koran menjadi aksesoris penghias rumah // pinterest.com


---

Pada akhirnya cerita tentang kertas tidak bisa dihentikan begitu saja. Ia masih melanjutkan tugasnya sebagai kanvas bagi warna-warni kehidupan manusia. Meski segala kontroversi dan wacana paper-less lifestyle yang mengeliminir kertas sebagai media pertukaran informasi dan baca-tulis ala Lancester mengiringinya, tetap tidak menutup kemungkinan bahwa kertas eksis di area kehidupan manusia lainnya. Mungkin untuk persoalan pendidikan seperti literatur, buku, dan informasi kertas bisa jadi tergantikan oleh elektronik, namun masih banyak area lain yg kurang mampu dijamah teknologi digital seperti pembersih, pembungkus, hingga kenangan abadi manusia akan kertas.



Referensi:

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/10/11/indonesia-akan-banyak-hemat-energi-pada-tahun-2045-jika-terapkan-daur-ulang-sampah-kertas

http://www.mongabay.co.id/2016/03/01/kreatif-lelaki-ini-membuat-lukisan-3-dimensi-dari-sampah-kertas/

http://m.liputan6.com/news/read/254634/limbah-kertas-jadi-terompet-tahun-baru

http://www.beritasatu.com/kesra/347170-daluang-kertas-khas-indonesia.html

www.kangmasroer.com

Berbagai sumber