Setelah kepergiannya yang membuat panik warga kampung, kecacatan menjadi satu-satunya hal yang ia rindukan. Masih segar di ingatannya dulu, padahal kecacatanlah yang membuat ia ragu untuk menerima atau menolak cintanya.

Serasa baru kemarin, bagaimana keluarganya marah dengan alasan malu, mempunyai menantu yang sering disebut manusia sepotong oleh warga. Namun, kebahagiaan terus menyelimutinya. Sampai-sampai ia lupa, kapan batas itu datang. Ia tidak lagi memperdulikan semuanya, kecuali hanya mencintai seutuhnya sepotong manusia itu.

Sekarang, ia begitu marah, bercampur sedih yang hampir membuatnya tak berdaya. Semua orang, seantero warga, mulai anak kecil, pemuda, petani, guru ngaji, pemabuk, tukang bakso, pengangguran, pejabat, tukang bangunan, pemetik cabai, pengupas bawang putih, semuanya sama saja. Baginya, mereka semua bersalah, karena sempat menertawakan kematian suaminya tercinta.

Ketika pengumuman lelayu bergema, di sana-sini terdengar lamat-lamat tawa-tiwi orang-orang yang menurutnya sungguh tak berprikemanusiaan. Tapi apalah daya, saat itu ia hanya bisa menerjunkan air mata di hadapan  manusia tak sempurna paling dicintainya yang sekarang sudah terbujur kaku. 

Orang-orang yang menghadapnya, termasuk keluarganya, kompak mengucapkan belasungkawa. Namun di balik air matanya, ia bisa merasakan. Sangat tahu dan paham. Dari gelagat dan air muka mereka, semuanya tidak pernah bersedih atau minimal merasakan kesedihannya: drama, ketusnya dalam hati.

Aku yakin, semua orang memainkan drama, seolah mereka bersedih. Keluargaku sama saja. Apa kalian tidak cukup menghinanya sewaktu hidup!? Apa salahnya sampai-sampai kalian begitu senang menghinanya bahkan setelah ia tiada!? Oh ya Tuhan, ampuni hamba. Perasaan yang begitu jelas ini tidak lain karena hamba sangat, benar-benar sangat mencintainya. Ampuni hambamu yang... .

Lelehan air mata terasa hangat di pipi. Ratapannya tak mungkin ditumpahkan pada sesiapa yang datang mengucapkan belasungkawa. Kecamuk dalam dada hanya mampu dilukiskan air mata. Ah, siapa yang akan mengerti, semua baginya sama saja.

Rombongan takmir masjid yang biasa mengurusi bab kafan-mengafani orang meninggal, kini datang sambil cengengesan. Ia tahu, bahwa setiap kali ada orang meninggal mereka selalu begitu. Mungkin karena sudah biasa atau supaya wafatnya seseorang tidak begitu menjadikan keluarganya larut dalam kesedihan yang mendalam. Tapi kali ini berbeda. Ingin rasanya ia pingsang saja, karena pasti sikap mereka akan sangat menyakitkan.

Sejurus ia berpikir lagi. Jika pingsan, kapan akan bangun? Ia sadar jika melewatkan semua prosesi pengurusan sampai pemakaman, itu akan lebih menyiksanya setelah ia sadar. Terlebih ketika membayangkan bagaimana orang-orang akan sangat lepas, tidak lagi malu kepada siapapun untuk menertawakan jenazah itu.

 “Ceu, jenazah ini tidak mungkin bisa diluruskan lagi kakinya, badanya, Euceu pasti tahu. Jika dipaksa tulang-tulangnya akan patah, ini akan menyakitinya, meskipun ia telah tiada. Bagaimana menurut Euceu?” Tanya Pak Kamal yang selalu bersedia meluangkan apa saja demi mengurus sesiapa yang meninggal di kampung itu.

“Euceu mah ikut saja,” bergetar bibirnya sembari menahan tangis dan rasa yang terus semakin tidak aruan. Setelah hanya mampu mengatakan itu. Ingin sekali sebenarnya, ia berdiri dan bicara kepada semua orang, atau jika bisa di speaker masjid. 

Ingin memaksa atau apalah, mengiba meminta tolong, supaya tidak ada lagi yang menertawakan sang suami. Atau, ingin rasanya ditinggalkan semua orang di sana. Perkara memandikan, mengafani, bahkan menggali kubur ia merasa lebih mampu dari pada menanggung apa yang sudah terbayang.  

“Kang, coba lihat apa yang mereka lakukan. Akang pasti tahu. Aku tahu arwah orang meninggal tidak langsung ke alam sana. Semua kebaikan yang tidak pernah terbayangkan mampu dilakukan selain Akang kepada orang lain, tapi lihat! 

Bagaimana mereka membalasnya!? Bagaimana mereka membalasnya lewat kematianmu Kang!?” Ceracau batinnya yang tak tertahankan, kini buyar setelah Pak Kamal memberitahukan waktu memandikan jenazah sudah siap. Ia lantas sadar sesadar-sadarnya. Siapalah ia. Apalah daya.

“Kita mandikan dan kafani saja dalam keadaan seperti ini. Insya Allah dosanya sedikit, sehingga bakal enteng dibawa. Dan jangan takut corona Ceu...”

Mendengar itu, semua tamu yang takziyah tertawa sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Hatinya kini bagai disayat silet-silet yang sudah tak tajam. Ia tahu, tawa mereka semua itu bukan pada bagaimana suaminya akan enteng dipanggul ke makam atau karena corona. 

Tapi tawa itu karena bentuk tubuh suaminya atau karena bentuknya setelah dikafani nanti. Sudah lama, semenjak suaminya sakit, ia banyak mendengar lelucon orang-orang tentang hal itu.

Pernah suatu ketika, sehabis belanja di warung, ia berjalan di gang-gang sempit rumah perkampunganya. Di gang sebelum belokan ke Pos Ronda, ia mendengar beberapa pemuda dan bapak-bapak sedang membicarakan lelucon tentang suaminya.

“Bagaimana kira-kira jika dia meninggal? Tubuhnya tidak bisa diluruskan lagi, kakinya terus dalam keadaan bersila!”

“Jadi praktis kalau Pak Kamal mengafani, tinggal bungkus saja seperti membungkus tumpengan. Jadi tali pocongnya satu di atas kepala,” seloroh yang lainnya disambut tawa teman-temannya.

“Apa bedanya dengan kursi yang dikafani?” Mereka terpingkal-pingkal dibuatnya.

“Nanti Mang Atung, jadi bukan gali kubur dong.”

“Emang gali apa jadinya?” tanya yang lainnya sambil menahan tawa.

“Gali sumur... kotak...”

Saat itu, ia tidak berani melanjutkan perjalanannya melewati Pos Ronda. Dengan hati perih, badanya berbalik arah, mencari jalan lain. Gang lain menuju rumah, meski dengan jarak lebih jauh.  

Mang Atung dan anak buahnya tukang gali kubur, kini datang membawa sebilah bambu. Dengan wajah berseri-seri, Mang Atung merangsek masuk kerumunan orang-orang yang menunggu di halaman rumahnya yang sempit. Ia masuk, dan sambil tersenyum lebar langsung menghampiri jenazah yang berada di tengah ruangan. Sekujur tubuhnya ditutupi samping kebat bercorak batik.

Dijulurkannya bambu itu, kemudian ditandai, “Alhamdulillah suami Euceu insya Allah akan banyak pahalanya. Semoga di musim kemarau ini, penggalian kalau segini, enteng. Semoga Ceu... aamiin,” senyumnya semakin lebar ketika melihat tanda di bilah bambu yang jadi ukuran.

Untuk kedua kalinya, semua tamu yang hadir tertawa lebih lepas dari yang pertama tadi. Di ujung tawa itu terselip kata “amin” mengikuti Mang Atung. Otomatis, bibirnya ikut menyebutkan “amin”, meskipun perasaanya semakin kusut bak mau melahirkan di hadapan dukun beranak yang kejam. Ia tahu, tawa semua orang itu bukan tawa bahagia karena suaminya akan mendapat pahala yang banyak karena ini dan itu. Ia sangat tahu.

Air matanya bercucuran semakin deras. Ia ingat bagaimana dulu suaminya berkali-kali mengajari untuk tidak memperdulikan apapun yang akan membuat kebahagiannya hilang. 

Di sisi lain, sakit makin menjadi ketika membayangkan apa yang telah dilalui suaminya itu. Bagaimana cemoohan yang diterimanya sewaktu kecil, sewaktu remaja, sepanjang hidupnya? 

Bahkan, ketika ia sudah meninggal. Air matanya tak terbendung membayangkan kesakitan suaminya menanggung itu semua. Padahal ia kerapkali tidak sabar terhadap orang-orang yang menghina suaminya. Namun, seperti tanpa kenal lelah. Justru sang suamilah yang terus mengajarinya untuk selalu berlapang hati. Belajar meluaskan hati.

Ia ingat, ketika keluarganya menjadikan kecacatan suaminya sebagai bahan candaan—sebagaimana orang-orang jahil. Sampai-sampai ketika pulang ke rumah, ia mengeluarkan sumpah serapah untuk tidak lagi berhubungan dengan keluarganya. Tak peduli ayah atau ibunya. Lagi-lagi, suaminya begitu teguh.

“Dek, menurutmu apa ciptaan Tuhan yang paling luas?”

Mendengar pertanyaan suaminya yang tenang itu, nafsunya mulai mereda, deru nafasnya mengendor, mungkin karena pikirannya mulai berjalan.

“Pastinya alam semesta, kan?” jawabnya ragu sambil kedua tangannya mengusap pipi. Berharap suaminya senang jika ia berhenti menangis atau menyumpahi orang-orang yang menghina lelaki luar biasa yang duduk di hadapannya.

“Hati dek, hati. Alam semesta, mana sanggup menampung Tuhan. Tapi hati, satu-satunya ciptaan Tuhan yang sanggup menampung Tuhan.”

“Tapi mereka keterlaluan Kang!”

“Memang butuh hati seluas samudra Dek, biar tak mudah keruh oleh kotoran segenggam,” ia menoleh kepadanya, dan dipeluknya lama-lama lelaki yang selalu menjadi pahlawannya itu. Air matanya yang tadi hampir kering, kini meleleh bangga.

Melihat ia menangis terus-menerus, beberapa sanak familinya datang, memeluknya, mengusap-usap punggugnya sambil membisikan, “sabar ya Ceu, kita doakan semoga almarhum tenang di alam sana.”

Kini jenazah mulai dipangku ke tempat pemandian oleh tiga orang, termasuk Pak Kamal. Orang-orang di luar semakin penuh sesak. Wajah penasaran mereka yang ingin menyaksikan makin terlihat ketika jenazah sampai di palang pintu rumah. Prosesi pemandian akan dilakukan di teras rumah yang sudah dihalangi oleh terpal. Berember-ember air sudah sedia, lengkap dengan sabun batang dan beberapa teko yang sebagiannya berisi air panas.

Pak Kamal kemudian masuk kembali ke dalam rumah. Berharap barangkali sang istri sudi ikut memandikan meski hanya menyiramnya dengan satu atau dua gayung air hangat. Di balik terpal, ketika mulai menyiram wajah suaminya lembut, ia masih mendengar suara tawa tertahan, sambil suara lainnya menyebut-nyebut nama kata ganti nama yang ia yakin, itu kepada suaminya.

Ingin ia mengambil teko penuh air panas yang berada di pinggir ember, dan menyiram mereka yang menertawakan suaminya, “mungkin alangkah lebih baik sekalian saja bantingkan teko itu ke mukanya sekeras-kerasnya,” gumamnya pelan.

“Bagus Ceu, terus seperti itu, hati-hati, bagus terus sambil berdoa,” Pa Kamal mendampingi dengan takzim.

Kini jenazah siap dikafani. Beberapa orang mengangkatnya kembali ke dalam rumah. Di sana, Pak Kamal sudah siap dengan lembaran-lembaran kafan yang putih bersih lagi lebar. Sesampainya jenazah di tempat yang dinstruksikan, Pak Kamal menempelkan kapas di beberapa bagian tubuh jenazah. Akhirnya, jenazahpun berhasil dikafani dengan bentuk yang mungkin agak lain dari biasanya.

Minyak air mata duyung dikucurkan olehnya sambil sebelah tangannya membekap mulut sendiri. Menahan tangis. Dua lapis samping kebat kemudian dijulurkan untuk menutupinya. Wajah suami tercintanya sudah tak mampu ia saksian lagi.

Orang-orang banyak sekali berdatangan menyampaikan belasungkawa. Termasuk yang tidak ia kenal sekalipun. Mereka terus bergantian seperti tidak ada habisnya. Dan selalu, setelah melihat jenazah, raut wajah mereka berubah. Sembari tersenyum-senyum mereka pun akhirnya keluar dan tertawa sambil berbincang dengan teman-teman yang dijumpainya.