Beberapa waktu belakangan ini, dunia dihebohkan atas kematian wartawan Saudi, Jamal Khassoggi, yang diduga dibunuh dan dimutilasi oleh agen kiriman Arab Saudi di dalam gedung Konsulat Arab Saudi, di Istanbul, Turki. Sebelum dinyatakan hilang, Khasoggi terakhir terlihat pada 2 Oktober lalu saat memasuki gedung konsulat Arab Saudi di Istanbul untuk mengurus sejumlah dokumen pernikahan. Ia memang berencana menikahi tunangannya asal Turki, Hatice Cengiz.

Jamal Khassoggi adalah seorang kolumnis Washington Post yang lahir di Madinah, Arab Saudi pada 13 Oktober 1958 silam. Khassoggi adalah seorang figur yang cukup kompleks. Ia lahir dari keluarga kaya yang cukup berpengaruh di Arab Saudi dan dekat dengan keluarga kerajaan Saudi. Sepanjang karirnya, ia juga dikenal akrab dengan bangsawan Saudi, termasuk dengan putra mahkota kerajaan Saudi saat ini yaitu Mohammed bin Salman (MBS). Karena kedekatannya dengan keluarga kerajaan, Khashoggi pernah ditunjuk menjadi penasihat media untuk Pangeran Turki bin Faisal, mantan kepala Direktorat Jenderal Intelijen Saudi dan Dubes Saudi untuk AS dari tahun 2005 hingga tahun 2006.

Kedekatannya dengan keluarga Saudi, tidak lantas membuatnya enggan untuk mengkritik setiap kebijakan kerajaan. Salah satu tindakannya yang menjadi puncak kerenggagangan hubungannya dengan kerajaan adalah ketika dia menjadi pemimpin redaksi Al Arab News, televisi milik Pangeran Alwaleed bin Talal pada 2015. Televisi tersebut menyiarkan soal politisi oposisi Bahrain yang menyebabkan kurang dari 24 jam mengudara, stasiun televisi tersebut ditutup dengan alasan masalah teknis.

Dari sinilah, karir Khashoggi mulai redup, hubungannya dengan kerajaan mulai renggang, dia sulit mendapatkan pekerjaan, hingga akhirnya ia kabur ke AS. Di AS, dia bebas menulis kritikannya terhadap pemerintah Saudi melalui The Washington Post. Kritikannya terutama ditujukan untuk MBS yang disebutnya sebagai diktator. Menurut Khashoggi, Saudi di bawah kepemimpinan MBS menjadi sangat represif dan antikritik.

Kematian Khashoggi menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat dunia. Sikap labil seperti pernyataan yang berubah-ubah pemerintahan Saudi pun dipertanyakan akan kematiannya. Pada awal kematian Khashoggi, pemerintah Saudi menyangkal bahwa Khashoggi tewas dibunuh. Sehari setelah dinyatakan hilang, seorang pejabat Saudi bersikeras bahwa Khashoggi telah meninggalkan Konsulat tidak lama setelah mendapatkan dokumen. Kemudian Konsulat mengeluarkan pernyataan bahwa mereka bekerja sama dengan pihak berwenang Turki untuk mengungkap kejadian hilangnya Khashoggi.

Setelah itu, pihak Saudi mengeluarkan pernyataan yang berbeda dengan yang sebelumnya. Mereka menyatakan bahwa Khashoggi tewas akibat pertengkaran hebat dengan beberapa orang yang ditemuinya di Konsulat Saudi di Istanbul yang berlanjut pada kontak fisik yang menyebabkan kematiannya.

Versi jawaban Saudi pun diubah lagi setelah mendapat banyak desakan dari berbagai pihak dan kali ini dikatakan bahwa ia meninggal dunia dalam operasi liar dan menegaskan siapa pun yang terlibat akan bertanggung jawab dan dihukum. Perubahan ini disusul dengan kesediaan Arab Saudi menggelar investigasi bersama Turki.

Pengungkapan operasi liar didukung dengan ditangkapnya 18 warga Saudi dan memecat dua pejabat senior, termasuk wakil kepala badan intelijen Ahmad al-Assiri dan penasehat senior Pangeran Mohammed, Saud al-Qahtani. Ditambah lagi dengan adanya pernyataan bahwa pihak kerajaan tidak tahu-menahu akan peristiwa pembunuhan itu.

Sikap pemerintah Saudi ini pun membuat geram masyarakat internasional. Turki sebagai negara dimana Khasshogi dinyatakan hilang, cukup aktif menyuarakan sikap mereka atas pembunuhan ini. Turki menganggap bahwa kejadian ini mengganggu kedaulatan negaranya, tak hanya karena kasus tersebut terjadi di negaranya, tetapi insiden yang menimpa Khashoggi disebut sebagai kesempatan bagi Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk membuktikan kebusukan Arab Saudi ke dunia internasional.

Seperti yang telah diketahui bahwa hubungan Turki dan Arab Saudi tidak lagi harmonis semenjak Turki mengirim pasukan mereka ke Qatar tahun lalu sebagai dukungan mereka ke negara tersebut setelah mereka diembargo oleh Arab Saudi. Semenjak kasus kematian Khashoggi mencuat, Turki dengan cepat membuka penyelidikan dan segala kemungkinan yang ada atas insiden tersebut.

Turki berasumsi bahwa pembunuhan Khashoggi di dalam gedung konsulat Saudi adalah sebuah konspirasi “nakal” yang diperintahkan oleh negara, karena dapat terlihat dari pernyataan yang tidak konsisten  pihak pemerintah Saudi dan usaha mengelak mereka dari keterlibatan pembunuhan ini. Turki memiliki  banyak bukti yang bertentangan dengan versi Arab Saudi terkait pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, salah satunya rekaman audio yang Turki miliki.

Turki melalui pernyataan Erdogan, telah membagikan hasil rekaman proses pembunuhan Khashoggi yang mereka temukan kepada beberapa negara seperti Arab Saudi, Amerika Serikat, Perancis, Kanada, Jerman dan Inggris. Rekaman ini juga bisa membuat posisi Arab Saudi semakin tersudut. Arab Saudi memang mengakui bahwa Khashoggi dibunuh, namun tetap mengelak adanya keterlibatan putra mahkota Mohammed bin Salman (MBS).

Erdogan tidak pernah menuduh secara gamblang keterlibatan MBS, namun tetap bersikeras membongkar motif di balik pembunuhan ini. Apalagi, MBS memiliki kedekatan dengan  seluruh pria yang diduga terlibat. Media-media pro-pemerintahan Turki juga sangat gencar memberitakan rincian kematian Khashoggi.

 Tindakan Turki atas pengungkapan kematian Khashoggi ini adalah tindakan yang benar karena bagaimanapun sebuah negara harus bertanggungjawab atas kehidupan warga negaranya. Tetapi, gencarnya tindakan Turki ini beresiko tinggi yang semakin memperburuk hubungan kedua negara yang sama-sama memiliki kepentingan terhadap Timur Tengah.