Apa reaksi anda membaca judul tulisan ini? Dengan segala hormat, saya tidak bermaksud memancing perdebatan, sekedar ingin menggugah kesadaran kita bersama, melihat masalah hutan, dari sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang saya, seorang awam.

Hutan, menjadi sebuah topik bahasan yang tidak habis diperbincangkan. Kabar seputar pembalakan liar, kebakaran hutan, hingga konflik seputar pengelolaan hutan, seakan menjadi menu harian bagi kebanyakan orang. Menjadi topik hangat di obrolan warung kopi, hingga pembahasan serius kaum cerdik pandai, baik di pemerintahan, kalangan usahawan, maupun LSM.

Sebuah pertanyaan yang tak ada salahnya dipertanyakan, “Sejauh mana pengaruh kerusakan hutan pada kehidupan masyarakat pada umumnya?”

Masalah kerusakan hutan, bukanlah sekedar isu, bukan dongeng. Untuk bisa mengerti bahaya kerusakan hutan, ada baiknya kita membahas tentang fungsi hutan itu sendiri. Dan kita bisa membayangkan, bagaimana jika hutan itu tidak berfungsi seperti yang seharusnya.

Paru-paru dunia

Istilah ini mungkin terdengar terlalu umum, tapi kalau dipikir-pikir, sungguh menggambarkan situasi sebenarnya. Ada banyak jenis tumbuhan di hutan, dan umumnya memiliki kemampuan istimewa. Tumbuhan menyerap CO2, yang diperlukan untuk proses fotosintesis, dan mengeluarkan oksigen. Bayangkan anda berada di sebuah ruangan tanpa ventilasi, dengan banyak orang di dalamnya, kurang lebih seperti itulah bumi kita tanpa hutan.

Pengelolaan Air Alami

Air yang kita gunakan sehari-hari, baik untuk minum, kebutuhan rumah (cuci, mandi, dll), usaha pertanian, juga industri, sebagian berasal dari air tanah. Air tanah bisa diperoleh secara langsung (sumur, pengeboran) maupun tidak langsung, misalnya dari sungai, danau. Perlu diketahui bahwa sebagian besar air sungai adalah air tanah yang keluar ke permukaan. Dalam keseharian, kita biasa menyebutnya “mata air”.

Saat hujan, sebagian air tertahan oleh dedaunan, dan kemudian jatuh ke tanah, meresap dan tersaring bebatuan, mengisi kembali cadangan air tanah. Beberapa jenis tumbuhan bahkan punya kemampuan menampung air di batang, dan mengeluarkannya melalui akar, misalnya bambu.

Bayangkan kalau hutan yang menjadi “filter air” ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka ketersediaan air di bumi akan terancam. Dan artinya, kehidupan kita, baik secara langsung, maupun tidak langsung (perekonomian) akan berada dalam bahaya besar.

Pengendalian Bencana

Masih terkait dengan pembahasan nomor 2, hutan sangat berperan dalam pengendalian bencana. Yang sangat bisa kita rasakan, adalah dalam mengurangi dampak kekeringan di musim kemarau, serta banjir dan longsor di musim penghujan. Saat musim hujan, daun-daun tumbuhan berperan menahan air hujan untuk tidak langsung mengenai permukaan tanah, dan akar tumbuhan menahan air untuk tidak begitu saja mengalir di permukaan.

Dalam hal ini, hutan secara alami mengurangi erosi, dan mengurangi kemungkinan terjadinya longsor, karena akar tumbuhan besar membantu menahan pergeseran lapisan tanah. Dan di saat yang sama, terjadi proses penyimpanan cadangan air ke dalam tanah. Dan saat kemarau datang, cadangan air tanah akan sangat berguna, bukan saja bagi manusia, tapi bagi semua makhluk hidup.

Ketersediaan Pangan

Mungkin, kita tahu, kalau banyak saudara-saudara kita di pedalaman yang masih mengandalkan cara berburu dan meramu untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari. Namun dalam kenyataannya, kita pun sebenarnya masih membutuhkan hutan dalam menjaga ketersediaan pangan. Ketersediaan air, sangat besar pengaruhnya bagi produksi pertanian, terlebih tanaman padi. Selain itu, perikanan air tawar, baik alami maupun budi daya, sepenuhnya tergantung dari ketersediaan air yang layak.

Sumber Energi Terbarukan

Hutan memiliki peranan dalam penyediaan sumber energi terbarukan. Energi terbarukan, bukan saja ranting kayu kering yang banyak dimanfaatkan warga sekitar hutan. Kita sama-sama mengetahui, hutan tidak bisa dipisahkan dengan ketersediaan sumber air.

Aliran air, dalam skala besar maupun kecil, terbukti banyak dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Ini berarti, kerusakan hutan juga ancam bagi ketersediaan energi listrik. Perlu diingat, PLTA adalah salah satu jenis pembangkit listrik yang operasionalnya terbilang lebih murah dari sumber energi lainnya. Lebih dari itu, PLTA juga terbilang lebih ramah lingkungan.

Keanekaragaman Hayati

Hutan adalah salah satu benteng pertahanan bagi keanekaragaman hayati. Hutan menjadi “rumah” beragam spesies hewan maupun tumbuhan, baik yang sudah dikenal maupun belum dikenal. Hilang atau berkurangnya salah satu spesies, akan mengganggu keseimbangan alam. Sekedar contoh, menurunnya populasi burung berkicau akibat penangkapan berlebihan, bisa meningkatkan populasi ulat dan belalang, dan menimbulkan kerusakan parah pada tanaman pertanian.

Menurunnya populasi harimau di alam liar, bisa membuat populasi babi hutan tidak terkendali, dan akhirnya “meluap” hingga ke ladang-ladang penduduk. Tentu saja ini hanyalah contoh kecil, karena masih banyak lagi masalah yang bisa timbul jika keseimbangan alam terganggu.

Sumber Komoditi

Meski di zaman modern, manusia tidak bisa sepenuhnya lepas dari ketergantungan terhadap hasil hutan. Industri besar, kecil, maupun kerajinan berbahan baku kayo, bambu, rotan, dan hasil hutan lainnya masih menjadi salah satu penggerak perekonomian di negara kita, Lebih dari itu, hutan juga menghasilkan banyak komoditi lain. Hutan kita kaya akan buah-buahan langka, tanaman hias, dan juga tanaman berkhasiat obat.

Pemanfaatan hasil hutan, khususnya hutan tanaman industri, dan juga pada area hutan lainnya selain hutan lindung, bukan sesuatu yang salah. Yang salah adalah pengambilan hasil hutan secara membabi buta, tanpa memperhatikan kelestarian sumber daya hutan itu sendiri. Yang artinya justru mengancam keberadaan industri berbasis hasil hutan.

Setelah membaca uraian di atas, apakah anda masih berpikir kalau pelestarian hutan itu tidak penting ? Tuhan menciptakan bumi ini, termasuk hutan sebagai salah satu bagiannya, untuk semua makhluk, termasuk kita, manusia. Dan kita sebagai manusia telah diberikan hak paling besar dalam memanfaatkan alam. Kita semua hidup di alam ini, kerusakan yang terjadi atas alam ini, adalah ancaman yang nyata bagi kita semua.