Aku melanjutkan lagi membaca Manifesto Partai Komunis terbitan Ultimus, setelah sebelumnya mengkinikan status Path bahwa aku sedang membaca kitab buatan Marx dan Engels itu. Merebahkan diri di atas kasur, bersandar pada dinding kamar kos dengan ganjalan bantal di punggungku.

Radiohead sedang memainkan 'There There dari dalam laptop, yang kubiarkan menyala karena sedang mengunduh beberapa film juga software bajakan; Cinema Paradiso, Wristcutter: A Love Story, Tony Takitani, dan Adobe Premier CS5. Koneksi internet cepat, dengan paket tanpa batas, sungguh sayang kalau tidak diberdayakan. Sebagai tambahan, aku memutar daftar lagu bertajuk 'Alternative Rock' itu langsung dari laman Youtube. 

Aku tak merasa terganggu dengan suara berisik ketika membaca, malah aku suka jika ada musik yang mengiringi, satu hal yang kubenci adalah jika ada seorang dungu yang berusaha mengajakku mengobrol saat aku tengah masyuk membaca. Begitulah, aku masih membaca Manifesto Partai Komunis dan Thom Yorke masih asyik bernyanyi.

Sesekali menggeliat, aku masih setia membaca Manifesto Partai Komunis, sementara beberapa temanku di kampung halaman yang cuma lulusan SMP, pukul sepuluh pagi seperti sekarang ini, sedang asyik dengan pekerjaannya di pabrik tekstil; menenun, mencelupkan kain ke pewarna, mengguntingi, mengepak. T

erus berulang dan begitu, seperti Sisyphus yang ditugasi dewa untuk menggulirkan batu besar ke puncak bukit curam, dan batu tersebut kembali terguling ke bawah saat hendak mencapai bukit. 

Oh, aku mengasihani mereka, yang tak dibiarkan untuk memikirkan pertentangan kelas, dan diriku, yang beruntung belum masuk rutinitas menjemukkan macam begitu, sehingga aku masih bisa leha-leha dan berpikir ini-itu. Oleh sebab itu, satu yang bisa kulakukan: bersyukur dengan keadaanku sekarang. Dan aku kembali menikmati bacaanku.

Dasar kelas menengah! Sumpah mati aku mendengar seseorang berucap begini. Bahkan, aku bisa tahu kalau yang bicara barusan adalah seorang lelaki paruh bayu dengan rambut dan jenggot brewok panjang amburadul beruban seperti Sinterklas. Atau Karl Marx? Ya, pasti dia. Aku berhenti membaca sejenak, melihat ke sekeliling, dan membatin, Dasar hantu komunis! Kukira cuma gentayangan di Eropa saja.

Aku meneruskan membaca lagi, sementara di bagian bumi sana, tentara Israel membalas lemparan batu warga Palestina dengan rentetan peluru. Ah, maafkan, aku hanya bisa bersimpati, kalian terlalu jauh. Yang penting, aku tak berbuat jahat, meski memang tak berbuat adalah suatu kejahatan.

Yang pasti, aku tak sejahat orang yang menembaki orang lain. Aku benci perang, kecuali dalam film dan video game. Aku mulai suka komunis sejak kelas 5 SD, gara-gara memainkan permainan video perang-perangan, 'Command and Conquer:

Red Alert', yang waktu itu aku sering memilih Soviet. Bukan kenapa-kenapa, aku suka dengan bendera palu aritnya. Dan juga karena prajurit dan mesin tempur Soviet lebih gahar dan sadis ketimbang Alliance. Bayangkan, Soviet punya prajurit zombie sebesar Hulk.

Aku terus membaca dan berhenti di Bab III: Literatur Komunis dan Literatur Sosialis, karena merasa bosan dan ngantuk. Butuh rehat sejenak, kupikir. Bangkit dari kasur, mengambil gelas kosong, menyobek kemasan Kopi ABC Susu, menuangkannya, menyeduh dengan air panas dari dispenser, lalu menyimpannya di sisi laptop.

Kali ini, Losing My Religion-nya R.E.M. yang sedang terputar, aku mengecek aplikasi μTorrent, dan mendapati beragam unduhan tadi belum ada yang beres. Aku meraih ponsel, membuka Path, dan terlihat puluhan notifikasi, kebanyakan dari mereka memberi emoticon orang menganga, ada juga yang memberi komentar: Wih!

Dasar kelas menengah kekinian! si Karl Marx terdengar memprotes lagi. Hey, Marx, kukasih tahu ya, cara berbahagia paling mudah adalah dengan berhenti memikirkan orang lain, dan jika ingin lebih berbahagia, berhentilah berpikir.

Semoga kau berbahagia di sana, oh dan semoga materialisme dialektimu keliru. Semoga masih ada yang namanya surga, dan kau salah satu penghuninya karena baik hati memikirkan kemanusiaan saat di dunia, semoga Marx.

Surga membosankan, terlalu sempurna, keluh Marx.