Kasus kekerasan seksual dalam lingkungan pendidikan semakin banyak bermunculan akhir-akhir ini dan meramaikan pemberitaan nasional. Memunculkan banyak pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi dalam lingkungan pendidikan kita.

Fenomena gunung es yang bisa diibaratkan dalam fenomena ini memang benar adanya, yang selama ini ada di permukaan hanyalah sebagian kecil dan masih banyak kasus yang selama ini terbungkam. Ada beberapa faktor yang membuat kasus ini tidak dapat muncul ke permukaan dan menjadi permasalahan tersendiri bagi penyintas/korban untuk menyuarakan apa yang dialaminya.

Faktor yang dapat dilihat dari kacamata hukum yakni (1) substansi hukum yang berkaitan dengan peraturan perundangan yang berlaku, (2) budaya hukum yang berkaitan dengan bagaimana kita sebagai masyarakat yang ada di sekitar korban dan pelaku bersikap, dan (3) struktur hukum yang berkaitan dengan pemerintah dan aparat penegak hukum dalam menangani kasus kekerasan.[1]

Pemahaman mengenai seks seharusnya didapatkan anak semenjak mereka kecil dengan presentase yang berbeda-beda sesuai umur, namun tidak semua orang tua dapat dengan mudah untuk menjelaskan mengenai pendidikan seksual pada anak. Ketika anak mulai bersekolah, setidaknya peran orang tua digantikan oleh guru untuk memberikan pemahaman mengenai pendidikan seksual.

Persoalannya apakah sekolah telah memberikan pemahaman mengenai pendidikan seks yang cukup terhadap peserta didik? Atau sebenarnya mereka paham mengenai pendidikan seksual dari belajar sendiri di luar sekolah? Hal ini akan sangat berkaitan dengan sikap terhadap kemungkinan terjadinya kekerasan seksual yang menimpa atau terjadi di sekitar kita.

Di dalam mata pelajaran yang diajaran di sekolah menengah tidak secara khusus memberikan mata pelajaran pendidikan seks, akan tetapi menjadi salah satu bagian dari mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan dan beberapa bagian dalam mata pelajaran Biologi. Hal ini juga termasuk salah satu cara mengenalkan siswa dengan pendidikan seks.

Di beberapa sekolah, materi pendidikan seks mungkin memang diajarkan secara baik, juga dengan pengenalan berbagai bentuk kekerasan seksual dan cara menghadapinya. Akan tetapi di sekolah-sekolah yang ada di pinggiran, guru tidak memberikan penjelasan mendalam mengenai pendidikan seks dan lebih menekankan pada persoalan untuk menjauhi pergaulan bebas yang menjerumus pada seks bebas, yang itu berbahaya, merusak moral bangsa, menghancurkan masa depan dan cita-cita, dan sebagainya.

Pendidikan seks menurut UNESCO (2009)[2], bertujuan untuk membekali anak-anak dengan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai mengenai hubungan seksual dan sosial sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang bijak. 

Alasan-alasan logis dan ilmiah di balik larangan untuk menjauhi seks bebas sebenarnya lebih dibutuhkan siswa. Seks bebas secara umum dapat dikatakan sebagai perilaku yang menyimpang dari norma kesusilaan.

Kebanyakan penyimpangan yang dikatakan masuk dalam seks bebas tidak semata-mata terjadi karena saling suka, namun pasti ada bentuk manipulasi seperti rayuan dan janji palsu sehingga membuat seseorang menjadi terpedaya untuk melakukan penyimpangan. Bentuk manipulasi-manipulasi ini termasuk dalam salah satu penyebab untuk membuat kekerasan seksual menjadi bias karena sangat halus dan orang akan melihatnya bukan sebagai sebuah bentuk kekerasan seksual.

Diskusi terbuka antara siswa dan guru merupakan cara lain dalam membantu siswa memahami pendidikan seks. Diskusi terbuka di dalam kelas dapat memberikan peluang lebih besar kepada para siswa untuk menyampaikan pendapat atau gagasan yang dimilikinya.

Guru juga dapat memberikan pemahaman mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kemungkinan terjadinya kekerasan seksual di sekitar tanpa bersifat menceramahi siswa, berbagai cara dan sikap yang seharunya dilakukan ketika bertemu teman atau orang yang mengalami kekerasan seksual, bagaimana cara melaporkan kasus, apa yang harus dilakukan jika kemungkinan terburuk kekerasan seksual menimpa diri sendiri, dan sebagainya.

Peningkatan kepercayaan pada guru BK atau Bimbingan Konseling oleh para siswa. Kebanyakan murid akan merasa bermasalah atau dipandang bermasalah jika di panggil oleh guru BK. Sebenarnya guru BK di sekolah-sekolah memiliki peran yang penting dalam menjembatani siswa untuk memahami pendidikan seks dan kerentanan akan adanya kekerasan seksual di sekitar.

Ketika menjumpai anak didiknya yang mengalami kekerasan seksual, guru BK-lah yang paling potensial untuk membantu menguatkan penyintas agar tidak depresi dengan cara percaya terhadap ceritanya akan membuat penyintas/korban tidak merasa sendiri.“Bagaimana jika yang diceritakan oleh penyintas/korban itu bohong? Bagaimana jika ada motif lain di balik pelaporan yang dilakukan oleh penyintas/korban? Bagaimana jika malah membela yang salah?” Ketidak percayaan akan membuat korban semakin terpojok.

Secara garis besar, tidak akan bisa jika hanya menuntut sekolah atau pemerintah memberikan peraturan atau membuat kurikulum yang memuat pengajaran pendidikan seks dan pengenalan kekerasan seksual di sekolah. Banyak faktor lain yang berpengaruh di dalamnya.

Kita tahu, dalam masyarakat kita sesuatu hal yang berkaitan dengan seks masih dianggap sebagai hal yang tabu dan orang melihatnya sebagai persoalan yang bersifat personal. Sehingga pembahasan diruang-ruang publik masih menjadi sesuatu yang tidak biasa. Namun disisi lain, anak-anak sangat membutuhkan pendidikan seks dan hal ini sangat berkaitan erat dengan persoalan kemungkinan terjadinya kekerasan seksual, mangkanya pendidikan seks sangat penting untuk didapatkan oleh siswa.


[1] Harsono, I., Mukarramah, E., Soeprapto, E. dan Tridewiyanti, K. (eds)(2017). Membangun Akses ke Keadilan Bagi Perempuan Korban Kekerasan: Perkembangan Konsep Sistem Peradilan Pidana Terpadu Penanganan Kasus Kekerasan terhadap Perempuan (SPPT - PKKTP). Bab 3 - B. Pengaruh Komponen Sistem Hukum dalam Penanganan Kasus Kekerasan terhadap Perempuan, pp. 28. Jakarta: Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Diakses dari https://komnasperempuan.co.id pada 1 Desember 2018 08:18 WIB

[2] UNESCO. 2009. International technical guidance on sexuality education: An Evidence-informed approach for schools, teachers, and health educators. Paris: UNESCO. Diakses dari http://unesdoc.unesco.org  pada 1 Desember 2018 08:20 WIB.