Kekerasan dalam Agama dan Kisah Penciptaan

Agama itu ide dasarnya menghantar kita kepada satu tujuan yakni mendekatkan diri pada Tuhan. Kata religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare, artinya ‘mengikat kembali’. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat sekaligus mendekatkan dirinya pada Tuhan. Akan tetapi, alih-alih agama mendekatkan diri manusia pada Tuhan, malah muncul sebagai sumber masalah. Agama hari ini lebih sibuk mempersalahkan perbedaan di antara mereka. Manusia bahkan sampai saling membunuh satu dengan yang lain hanya karena agama.

Kalau begitu masih relevankan beragama hari? Masih mungkinkah berbicara tentang dialog antar agama di tengah maraknya kekerasan atas dasar agama?

Fakta Kekerasan dalam Agama

Di level internasional, kekerasan agama yang paling baru terjadi di Myanmar, manakala kelompok mayoritas Budha didukung kekuatan militer negara melakukan tindakan kekerasan serta pengusiran terhadap kelompok minoritas Muslim Rohingya. Kelompok minoritas ini diperlakukan secara sangat buruk justru oleh orang-orang beragama.

Di level lokal, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menunjukkan data bahwa sepanjang 2017 tercatat telah terjadi 75 peristiwa kekerasan berdimensi agama dan keyakinan. Wilayah yang dominan terjadi persekusi atas nama agama, antara lain Jawa Barat (17 kasus), Jawa Tengah (13), Jawa Timur (7), dan Banten (7).

Ketua Kontras Yati Andriyani, mengatakan penyerangan terhadap umat maupun pemuka agama yang terjadi belakangan ini telah mengoyak keprihatinan terhadap kebebasan beragama dan beribadah di Tanah Air. Tindakan tersebut merupakan bentuk teror yang secara psikologis dapat menimbulkan ketakuatan masif massa dalam mengembangkan dialog dan komunikasi dalam perbedaan agama, sehingga toleransi hampir pasti berada diujung jalan kematiannnya.

Bertolak dari kenyataan ini, kita perlu menelisik kenapa kekerasan dalam agama itu semakin meluas dan orang-orang beragama cepat sekali tersulut emosinya ketika ada pihak yang tidak bertanggung jawab mencoba memanfaatkan agama tertentu sebagai alat politik dengan membenturkannya dengan agama yang lain? Dalam perbenturan seperti ini perbedaaan antara agama yang sebenarnya tidak terlalu mencolok dan bisa didamaikan dalam dialog, dipaksakan kemudian dipermasalahakan seolah-olah tanpa solusi akhir.

Pada titik ini saya menilai, ada masalah kronis dalam cara penghayatan agama kita dan soal bagaimana kita mengolah perbedaan kita. Karena jika sekiranya kita menempatkan agama sebagai sumber moral kebaikan dan kebenaran, maka kita pasti akan lebih peka dan karena itu tidak akan terbuai dengan godaan kelompok oportunistik yang coba menghancurkan kehidupan bersama, dengan memanfaatkan sentimen agama.

Kekerasan dalam Agama: Menguatnya Dominasi

Akar dari maraknya masalah kekerasan agama adalah adanya ketakutan orang atau kelompok agama tertentu terhadap perbedaan. Bagi mereka perbedaan adalah ancaman. Karena itu perbedaan mestinya dihilangkan agar ketakutan pada diri sendiri, sebagai sumber dari ketakutan pada orang lain, dan sikap curiga terhadap orang lain, hilang. Dengan itu orang beragama lebih damai dan aman walau sebenarnya mengorbankan kepentingan kelompok lain. Dalam prosesnya ketakutan pada perbedaan berubah menjadi dominasi yang dilakukan oleh kelompok agama tertentu terhadap kelompok yang lain. Hasrat dominasi yang berlebihan ini dengan sendirinya menafikan dialog dan persuasi dalam perbedaaan sebagai salah satu metode untuk menciptakan integrasi sosial.

Tak bisa dimungkiri bahwa kekerasaan agama hari ini terus terjadi. Dan apa yang tersisa adalah pembelajaran dari kenangan penderitaan, untuk mendefenisikan kembali hakikat perbedaan dalam agama. Kalau sekiranya perbedaan sengaja diciptakan oleh Allah, maka apa kiranya makna dari perbedaan itu dan bagaimana agama mengantisipasi perbedaan, di tengah maraknya kekerasan agama, sehingga agama betul jadi jalan untukk menghantar kita lebih dekat pada Tuhan?

Menelisik Makna Perbedaan dalam Kisah Penciptaan

Berbicara tentang perbedaan dan rencana Allah melalui kenyataan ini, menghantar kita pada permenungan tentang kisah penciptaan manusia pertama. Dalam kisah penciptaan, Allah menciptakan manusia seturut gambar Allah. Ungkapan ‘gambaran Allah’ menunjukkan kesetaraan sekaligus kesatuan manusia. Manusia adalah setara sebab yang satu tidak lebih mulia dan tidak lebih jahat dari pada yang lain. Manusia membentuk satu kesatuan dan hanya dalam satu kesatuan itu mereka menjadi gambar Allah dan citra Allah.

Konsep manusia sebagai gambar Allah, dalam konteks kita di tengah maraknya kekerasan atas nama agama mestinya harus menjadi imperatif moral yang mengarahkan kita agar lebih menghargai kemanusiaan dan fakta perbedaan yang ada di dalamnya. Konsep manusia sebagai gambar Allah juga menuntut serentak mendesak kita kita untuk melepaskan kecendrungan dominasi dari keluhuran sebuah agama sekaligus mengembalikan fitrah agama sebagai jalan yang mengikat dan mengarahkan kita kepada Tuhan. 

Konsep yang sama juga hendaknya menuntun kita untuk menerjemahkan imperatif moral ini dalam sikap dan tindakan memperlakukan fakta perbedaan – dalamnya manusia dari berbagai ras, suku dan agama- secara setara dan bijak serta terarah menuju integrasi sosial sebagai saudara dalam kemanusiaan sekaligus saudara dalam keindonesiaan.

Selain itu dalam kisah penciptaan Adam dan Hawa, manusia pertama, adalah sebuah kisah awal tentang perbedaan. Allah menciptakan dua anak manusia, Adam dan Hawa agar keduanya bisa saling melengkapi dan menolong. Karena itu membaca Kisah penciptaan dua manusia, pertama-tama dari sisi iman bukan hanya merupakan pengungkapan iman akan asal usul komunitas manusia tapi juga mengungkapkan dimensi sosial dari kisah penciptaan itu sendiri.

Kisah penciptaan mengajak semua kita untuk mengambil pembelajaran dan inspirasi dari kisah dua manusia pertama sebagai model untuk hidup dalam fakta pluralitas agama. Lewat penciptaan dua manusia pertama, sebagai laki-laki dan perempuan yang menegaskan ideal relasi dalam perbedaan, Allah sebenarnya juga menghendaki kita untuk menghormati perbedaan dalam kehidupan bersama. Perbedaan bukan wadah bersaing untuk menang kalah, saling mendominasi atau ujuk superioritas, tapi lebih dari itu perbedaan niscaya agar manusia dalam keunikannya bisa saling belajar untuk menerima kurang dan lebih, saling menerima, mengasihi dan menolong satu dengan yang lain tanpa membatasi diri pada syarat atau kondisi tertentu.

Komunikasi Merangkul Perbedaan

Bagaimana menerjemahkan ideal spiritualitas manusia pertama dalam fakta perbedaan agama? Bagi saya tidak ada jalan lain selain lewat komunikasi yang merangkul perbedaan.

Di tengah maraknya kekerasan antar agama, kita perlu kembali untuk melihat spiritualitas manusia pertama sebagai landasan etis-moral ideal menghidup perbedaan dalam komunitas manusia yang berbeda-beda agama, ras dan sukunya. Membangun satu konsep bersama dan komitmen untuk menerjemahkan ideal spiritualitas manusia pertama karena itu tidak berhenti hanya pada teori, tapi mesti diterjemahkan dalam satu komunikasi atau dialog iman. Dalam dialog iman ini, komunikasi mesti juga merangkul perbedaan dan mencoba memahami perbedaan bukan hanya demi dogma atau ajaran tertentu tapi dalam satu bingkai pengalaman manusia demi tegaknya agama yang memihak kemanusiaan.

Saya sendiri tergugah dengan dialog saya dengan Abba Rasyid, seorang tokoh senior Muslim di Kabupaten Sikka – Flores beberapa waktu lalu soal keberadaan Maryam dalam Alquran. Hampir semua kisah memiliki kesamaan dengan apa yang dikisahkan dalam agama Katolik. Memang ada sedikit perbedaan, tapi perbedaan itu hendaknya tidak boleh dipisahkan dan mestinya dikomunikasikan agar tidak terjadi kesalahpahaman serta masalah dalam kehidupan bersama. Sekali lagi, kesaksian ini menujukkan dialog, dalamnya komunikasi iman, efektif dalam membangun satu kesalingpahaman serentak toleransi dalam beragama yang sekaligus bebas dominasi.

Abba Rasyid juga mengatakan bahwa toleransi dan saling menghargai dalam kehidupan beragama dimulai dengan komunikasi. Beliau menegaskan bahwa komunikasi merupakan sarana orang untuk memperkenalkan diri serentak mengenal orang lain disekitarnya. Kalau kita sudah kenal orang, kita akan mudah untuk masuk dan memahami orang tersebut beserta perbedaan yang ada.

Memang sering kali komunikasi jarang terwujud karena konsep komunikasi kita dipahami secara salah dan malahan mendukung dominasi. Hal itu tampak dalam pemahaman model komunikasi yang lebih cenderung ingin mendominasi yang lain sekaligus menganggap orang lain sebagai lawan bukan partner komunikasi. Konsep ‘lawan’ sering dikaitkan dengan kompetisi yang meniscayakan kalah atau menang serentak superioritas dan inferioritas.

Dalam konteks keberagaman agama, komunikasi yang sehat dan konstruktif tidak bisa berjalan kalau kehidupan bersama selalu dibangun dalam iklim kompetisi yang berorientasi menang atau kalah, superior atau inferior. Tapi sebaliknya, komunikasi dalam perbedaaan agama akan berjalan baik dan efektif jika sekiranya konsep lawan ditransformasi menjadi partner/mitra. 

Konsep partner dalam komunikasi kompatibel atau cocok dengan ideal agama yang memungkinkan dialog atau komunikasi konstruktif. Sehingga hubungan sosial, dalamnya agama-agama berinteraksi satu dengan yang lain dibangun atas dasar kesetaraan, keterbukaan dan keinginan untuk saling paham, bukan atas dasar kepicikan, prasangka apalagi mendominasi untuk menyingkirkan kelompok lain.